Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
056. Tangan Berlumur Darah


__ADS_3

Hubungan berlandaskan cinta yang ambigu. Banyak orang membicarakannya, jika cinta karena kebetulan maka akhirnya tak ada yang tahu namun akan ada perasaan janggal ataupun aneh yang menyertai hubungan tersebut.


Khususnya seperti mereka.


Baik Sima maupun Dendi, meski keduanya bilang saling mencintai namun lihatlah? Ada rahasia yang tidak diketahui satu sama lain dan itu membuat keduanya saling memaksakan diri.


Berpagutan memang melupakan hal itu, namun bagaimanapun itu tetaplah nikmat sesaat saja.


“Hentikan, Dendi. Aku bilang berhenti.”


Sima akan tetap menolak meski kewarasannya sedikit demi sedikit terenggut. Ya, sebab pria ini yang membuatnya tak waras, ia berniat untuk mengontrol dirinya sendiri.


“Aku tidak akan berhenti sampai Sima sendiri bilang untuk menyetujuinya.”


“Kamu tidak bisa memaksaku.”


“Lalu katakan apa yang menjadi penyebabnya?”


“Itu ...juga tidak bisa aku katakan. Dendi!”


Sima mendorong Dendi agar menjauh darinya, dan sesaat keduanya kemudian tersadar. Ada perasaan aneh yang mengalir pada mereka berdua. Hasrat yang datang entah dari mana.


“Aku tidak mau melakukannya. Maksudku, kamu sadar apa yang barusan kamu lakukan?”


Sima mencoba untuk tenang meski kedua tangannya saat ini bergetar. Tak lama setelah itu, ia turun dari ranjang dan Dendi kembali menahan langkahnya dengan menarik lengan Sima.


“Hatimu sedang tidak karuan. Aku tahu hal itu. Lantas apakah hanya karena itu hubungan kita menjadi terhambat?”


“Dendi, bukan bermaksud aku mempermainkanmu atau apa tapi kamu jelas ingat apa pesan Ayahku 'kan?”


“Ya, aku ingat betul. Karena itulah aku takut.”


“Takut, kenapa?” Sepertinya Dendi berpikir hal lain. Sima kemudian bertanya.


“Kebanyakan orang akan frustasi. Menyerah akan masalah yang mereka miliki. Depresi yang kemudian membuat mereka mengakhiri hidupnya. Dan entah kenapa aku merasa bahwa Mbak ...Sima akan melakukan hal seperti itu.”


Dendi mengatakannya dengan tanpa menatap langsung Sima. Ia menundukkan kepala namun tetap memegang lengan Sima agar tidak pergi lebih dulu.


“Oh, jadi itu yang kamu khawatirkan?” Sima tersenyum, nampaknya ia terlalu berpikir jauh mengenai Dendi.

__ADS_1


Benar, Dendi hanyalah pria polos yang Sima kenal. Takkan melakukan hal tak senonoh hanya karena hal sepele dan demi mengabulkan keinginan egoisnya tersendiri.


“Tapi aku takkan lengah padamu sedikitpun,” gumam Sima sesaat sebelum akhirnya ia membalikkan badan dan kemudian terduduk di dekat ranjang.


Sima menatap Dendi lekat-lekat, ia pula membelai wajah Dendi terutama di bagian bawah matanya yang terdapat tanda hitam yakni tahi lalat. Bulu matanya yang sedikit lentik, agaknya membuat Sima tergoda.


“Kenapa?” tanya Dendi tak mengerti.


“Tidak ada apa-apa. Selain aku takkan melakukan hal konyol seperti yang kamu pikirkan barusan.”


Dendi tersentak, ia lantas mengangkat wajahnya, menjauh dari tatapan Sima.


“Ma-maaf.”


“Aku tahu kecemasanmu. Terima kasih kamu melakukannya untukku, Dendi. Tapi tenanglah, aku tidak sebodoh itu kok.”


“Aku nggak bermaksud mengatai Mba ...Sima begitu,” lirihnya.


“Baiklah, baiklah.”


Sima menarik wajahnya. Berdiri lantas berjalan menuju arah pintu. Ketika Dendi menanyakan ke mana ia akan pergi, Sima hanya menjawab bahwa ia hanya ingin ke lobi sebentar untuk urusan sesuatu.


Yang sebenarnya pun tidak ada sesuatu yang seperti dikatakan oleh Sima.


***


Sima tidak memiliki alasan apa pun, ia hanya beralasan agar dirinya bisa sendiri untuk beberapa waktu.


“Ha, beruntungnya aku menyukai pria polos. Ya, polos bukan?” gumam Sima seraya ia duduk berjongkok.


“Nona, Anda baik-baik saja?” Nampaknya karyawan hotel menyadari kegelisahan Sima.


“Tidak apa-apa. Saya hanya ingin mencari angin segar sebentar.”


“Baiklah, saya akan pergi.”


Tiada pengganggu, adalah suatu yang diinginkan Sima sejak lama. Keinginannya tuk menyendiri.


Tetapi, belum lama ia pergi sendiri, tiba-tiba saja ia dirangkul dari belakang dan seketika membuat Sima terkejut. Nyaris ia menyikut orang tersebut, karena ternyata orang itu adalah Dendi.

__ADS_1


“Dendi? Apa yang kamu lakukan? Tidak baik memeluk seorang wanita di depan umum kamu tahu,” celoteh Sima.


“Aku tidak mau sendirian di kamar. Rasanya sepi dan menyeramkan,” keluhnya seraya menyandarkan dagu ke pundak Sima.


Spontan Sima kembali menjadi kaku, nampak ia berusaha untuk melepaskan diri dari kemanjaan Dendi yang tak terhitung skala besarnya ini. Namun, karena merasa nyaman, ia akhirnya menyerah.


'Seberat inikah ujianku untuk mencintai seseorang. Salah sedikit aku bisa menodainya lebih dalam!' jerit Sima dalam benaknya yang berisi keluh kesah akan tindakan Sima yang memang sulit dikontrol apabila pemicunya menjadi lebih besar.


“Mbak ...bukan, Sima. Ayo kembali ke kamar saja. Katanya mau beristirahat?” Dendi akhirnya melepaskan pelukannya, dan Sima lantas bersyukur.


“Hm, ya. Baiklah.”


Berpura-pura untuk tetap tenang bukanlah kebiasaannya. Senyum pun jarang ia lakukan namun ini semua hanya demi Dendi seorang.


Kembali ke kamar mereka, seperti biasa ini akan berlanjut dengan rasa canggung. Padahal Sima duluan yang mengatakannya bahwa mereka akan tidur satu ranjang namun Sima yang lebih kaku sekarang.


“Belum bisa tidur?” tanya Dendi.


“Iya. Apa kamu juga?” balas Sima bertanya.


“Kita berdua sama-sama tidak bisa tidur sekarang. Sebenarnya kenapa ya? Apa memang belum waktunya untuk tidur,” pikir Dendi.


“Bukankah kamu pernah mengatakannya, di atas jam 8 kamu sudah harus tidur seperti yang Ibumu katakan.”


“Oh, itu benar.”


Selang beberapa menit, Dendi benar-benar tertidur dengan rapi. Matanya yang terpejam dengan santai menjadi sebuah tanda bahwa dirinya sudah tertidur amat pulas.


“Lebih baik aku akan pergi sekarang.”


Karena Dendi sudah tertidur maka Sima akan mengambil kesempatan ini untuk pergi dari kamarnya. Ia pergi dengan alasan, agar dapat mengingat semua ingatan itu karena setiap pecahan memorinya masih belum tertata dengan benar. Jadi hanya sekadar potongan-potongan.


“Kalau apa yang aku ingat ini benar, maka wajar saja kalau hatiku menjadi gelisah. Aku bahkan tidak bisa menjawab perasaan Dendi juga karena itu. Dan tidak hanya itu, aku masih bimbang karena mantan pacarku itu.”


Hubungan percintaan memang tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Itulah yang dipikirkan Sima semenjak putus cinta dari Adrian karena perselingkuhan berkedok pengkhianatan.


“Ponselku sengaja aku matikan agar menghindari penyadapan. Ini mungkin hanya perasaanku saja, semenjak melihat mimpi sesudah kecelakaan, aku menjadi sangat waspada pada Dendi.”


Hal yang membuatnya resah, tak lain adalah mimpi singkat itu. Mimpi di mana Dendi mengacungkan senjata ke arahnya. Itu mimpi yang mengerikan dan tak terbayangkan. Belum lagi mimpi itu saling bertumpang tindih dengan masa lalu yang kelam.

__ADS_1


“Tangan ini.” Sima mengangkat kedua telapak tangannya ke depan. “Sudah berlumur darah bahkan sejak kecil,” tuturnya.


“Jadi, tidak mungkin bagiku memikirkan cinta sejati seperti kebanyakan orang normal di luar sana,” pikirnya.


__ADS_2