Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
057. Yang Terjadi Dua Kali


__ADS_3

Hati sudah mulai merasa tenang sejenak ketika Sima memandangi langit malam ini sendirian. Namun, setelah ia kembali ke kamar, ia mendengar kalimat tak terduga dari Dendi.


“Sudah aku duga Sima akan menyelinap pergi.”


“Ya ampun. Ternyata kamu tidak tidur?”


“Hehe.”


Dendi menyembunyikan sesuatu yang aneh, itulah yang Sima rasakan. Namun entah apa itu, Sima takkan tahu tanpa menyelidiki atau bertanya langsung kepadanya.


“Dendi, boleh aku bertanya padamu sebentar?” tanya Sima.


Dendi menjawab dengan menutupi wajah dengan selimut, “Boleh saja. Apa pun itu.”


“Sejak kapan kamu mencintaiku?” To the point akan mempermudah segalanya.


“Sejak aku sadar bahwa Sima menaruh perhatian padaku.”


“Sainganku untuk merebutmu itu banyak sekali. Dan kamu hanya sadar tentang diriku saja?”


“Iya, begitulah. Karena Sima adalah wanita yang sudah lama aku incar,” lirih Dendi.


“Apa?” Penasaran dengan apa yang dibicarakan Dendi, karena tidak mendengarnya jelas, Sima lantas menyingkirkan selimut itu dari Dendi.


“Coba jelaskan lebih detail lagi. Dan aku tidak mendengar apa yang kamu bicarakan ...”


Dendi sama sekali tak terkejut, ia justru menyunggingkan senyum tipis lantas meraih wajah Sima.


Berbisik, “Kalau aku katakan nanti jadi tidak asik.”


“Hah? Apa?” Sima mendadak jadi kebingungan. Ia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Dendi, dan sekarang justru bermain tebak-tebakan.


“Dendi, apa maksudmu? Jangan bercanda di saat begini.”


“Nanti akan ada waktunya.”


Setelah itu Dendi kembali terbaring tuk menuntaskan tidur yang telah lama tertunda.


Semakin cemaslah Sima ketika mendengar setiap kalimat Dendi malam itu. Sama sekali ia tidak bisa berpikir mengenai maksudnya lantas kemudian terdiam dengan banyak pertanyaan.


***

__ADS_1


Keesokan pagi harinya, cuaca sudah kembali normal dan jemputan sudah datang. Waktunya chek-out agar segera pulang kembali ke rumah masing-masing. Tetapi, sesampainya di rumah Sima, Dendi sama sekali tak mau melepaskan pelukannya dan itu membuat seisi rumah jadi canggung.


Termasuk pada anak-anak yang menginap di rumah Sima hari ini.


“Wah, wah, apa sekarang mereka jadi pasutri?” tanya Gura, agaknya ia berdecak kagum karena perkembangan hubungan di antara mereka berdua.


“Ti-tidak! Mana ada!”


“Ya, kami berdua sudah saling mengungkapkan rasa maka itu artinya kami berdua menjelang ke hubungan selanjutnya.”


“Dendi!”


Sima benar-benar tidak tahu apakah ada yang salah dengan Dendi sampai cara bicaranya pun berubah. Bahkan Gura dkk juga ikut terkejut karena perubahan drastis Dendi. Lantas Gura merasa curiga, ia kemudian melirik bos-nya.


Sima menggelangkan kepala sebagai isyarat yang mengatakan, “Aku tidak tahu apa pun.”


Seisi rumah jadi canggung. Namun tidak dengan Dendi.


“Dendi, kenapa kamu tidak pulang saja? Ada dia yang akan mengantarmu, tapi maaf ya karena aku sendiri tidak bisa mengantarmu.”


“Maaf, Sima.”


Semuanya kembali tercengang dengan cara Dendi memanggil Sima hari ini. Yang biasanya memanggil Mbak kini hanya namanya saja, siapa pun akan terkejut apabila mendengar hal tersebut.


“Dendi, baiklah. Hubungan kita berlanjut. Apa kamu senang?” Akhirnya Sima memilih menyerah.


“Serius?” tanya Dendi tak percaya.


“Ya. Aku serius, Dendi. Jadi ...bisa tolong lepaskan pelukanmu ini? Ada banyak orang di sini,” pinta Sima dengan wajah memerah.


“Ah, maafkan aku Mbak! Maksudku Sima!”


Dendi melepas pelukannya lantas ia bergegas pergi dari sana. Tak lupa ia berpamitan dengan Sima dengan cara menggandeng tangannya sebentar.


***


Kejadian tak terduga telah terjadi. Hubungan Sima dan Dendi berlanjut namun dengan perasaan Sima yang aneh. Sima akui dirinya sangat menyukai Dendi, pernah beberapa kali ia berharap namun ketika Dendi menerimanya, ia jadi ragu.


Dan penyebabnya tak lain adalah karena masa lalu yang terkuak, ingatannya kembali meski tidak ada perubahan sedikitpun terlihat dari Sima saat sadarkan diri saat itu. Lalu alasan yang kedua adalah Dendi sendiri. Dendi bersikap aneh dan Sima bingung karenanya.


Pria yang biasanya polos, periang dan suka malu-malu, kini berubah drastis menjadi orang yang romantis, terkadang agresif dan juga suka blakblakkan.

__ADS_1


Sampai saat ini juga, Dendi selalu ingin bertemu dengan Sima dan ada beberapa patah kata yang pernah diucapkannya itu terdengar sedikit aneh dan janggal.


'Tatapannya berubah. Saat menciumku dia juga begitu,' batin Sima seraya menyentuh bibirnya yang rapat.


Kini ia sedang terduduk di sebuah taman bersama Dendi. Dan karena Sima sedang melamun, ia sampai tak sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Dendi dengan lebih dekat. Bahkan sengaja berdiam diri sampai Sima benar-benar sadar dari lamunannya.


“Dendi!” Terkejut, Sima reflek berdiri dari tempat duduknya.


“Akhirnya sadar juga. Kali ini ada apa lagi?” tanya Dendi yang seolah tahu bahwa Sima tengah memikirkan masalahnya.


“Hm, tidak. Aku hanya berpikir kenapa kamu bisa berubah drastis seperti ini?” Penasaran, ia sengaja menanyakannya begitu untuk melihat bagaimana ekspresinya.


“Aku berubah karena Sima. Sima yang merubahku, dan aku takkan pernah melupakannya,” ungkap Dendi.


Sekali lagi Sima merasa aneh. Perkataannya kali ini terdengar seperti dirinya sedang menyindir Sima akan sesuatu.


Lantas Sima menyahutnya dengan sedikit tertawa, “Haha, begitu 'kah?”


3 hari berlalu, hubungan mereka terlihat baik-baik saja. Lalu, kediaman Papuana telah terbakar, ulah dari kejadian itu tak lain adalah Sima sendiri.


“Sima? Kenapa rumahmu terbakar?” tanya Dendi yang saat ini berdiri mematung di depan gerbang yang terbuka.


“Aku melakukannya karena aku ingin.” Sima menjawab lantas membalikkan badan dari rumah itu.


“Oh, begitu rupanya.” Tidak sedih atau menanyakan alasan yang sebenarnya. Dendi hanya diam-diam tersenyum di balik punggung Sima yang kian menjauh.


Arti senyumannya masih belum dipastikan apa itu sebenarnya.


Semua bawahan yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri akhirnya bertempat tinggal di suatu rumah yang cukup luas. Itu adalah rumah mendiang Ibunya sebelum menikah dengan Sukma, Ayah Sima. Yang juga berarti rumah alharhum Erik.


“Anda yakin tidak masalah?”


“Kalian semua sudah menyetujuiku sudah lama, dan tentunya aku harus melakukan persiapan. Rumah itu sudah sangat kotor jadi aku berharap kalian bisa tinggal di sini dengan nyaman,” ucap Sima sembari mengulas senyumnya.


“Baiklah. Apa Anda akan pergi?” tanya Gura.


“Ya, bersama Dendi. Tolong titip kedua anak itu lagi ya, Gura,” kata Sima.


“Baiklah, Nona Sima. Mohon berhati-hatilah di jalan,” ucap Gura dengan kepala tertunduk.


Alasan Sima membakarnya tak lain adalah membersihkan nama Papuana dengan arti yang berbeda yakni menghapuskan. Ayahnya mungkin akan terkejut, tapi itulah reaksi yang diinginkan oleh Sima.

__ADS_1


“Demi mengingatkan Ayahku tentang kejadian hari itu. Kebakaran adalah insiden yang mencolok. Camkan dengan baik, ingat itu baik-baik Ayah,” gumamnya lirih-lirih.


Kini, sadar atau tidaknya. Sima telah berjalan di aspal yang panas bagai percikan api di neraka maka itu berarti ia sudah meniup api di dalam hati yang telah lama terpendam akan kebencian ini.


__ADS_2