Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
022. Mimpi = Berharap Untuk Jadi Nyata


__ADS_3

Sesaat sebelumnya, gadis kecil itu menghampiri Sima dengan tubuh gemetaran. Ia melangkah ragu akan tindakan yang dilakukan olehnya. Sekilas Sima seperti melihat dirinya sendiri yang dulu. Pengecut dan hanya bisa berlindung di balik punggung seseorang dewasa.


Setelah Sima mengejar gadis yang mencuri dompetnya, tiba-tiba saja ada Dendi di depan. Karena terkejut, ia sampai jatuh terpeleset dan membentur dinding. Ia pun tak sadarkan diri di tempat.


Kilas balik ingatan Sima yang terpendam. Bukan tidak sengaja dilupakan justru ia memendamnya dalam-dalam karena itu adalah ingatan yang buruk.


Ini terjadi selama beberapa tahun yang lalu.


Di mana saudari kembar yang sangat mirip parasnya. Cantik jelita bagai bidadari. Misa dan Sima. Namun, perbedaan di antara mereka adalah sifatnya. Seperti yang telah diketahui bahwa Sima yang sekarang adalah wanita bermuka dua dengan sifat asli mudah marah dan kasar bermain tangan. Kalau Misa adalah sebaliknya, berbanding terbalik dengan Sima yang sekarang.


Orang-orang sekitar seringkali menyebut mereka sebagai yang baik untuk Misa dan yang lemah untuk Sima.


Misa sudah seperti kakak bagi Sima. Misa adalah orang yang bertanggung jawab, mandiri, murah senyum dan pribadi yang baik lainnya. Layak menjadi contoh untuk anak-anak yang lain.


Suatu hari, Misa tertarik pada segala obat-obatan. Ia pun bertemu dengan seorang profesor bernama Pratama. Keahliannya dalam meramu obat membuat Misa semakin tertarik. Mengikuti jejak Pratama, Misa merasa bangga akan hal itu hingga Pratama mendirikan sebuah perusahaan dan namanya pun terkenal luas.


Misa amat bahagia dan terkadang mengajak Sima, karena siapa tahu ia tertarik. Tetapi Sima sama sekali tak tertarik dengan hal itu. Sima yang dulu pengecut itu justru tertarik dengan ilmu bela diri.


Lihat, 'kan? Mereka sangat berbanding terbalik. Namun meskipun begitu, mereka tetaplah sangat akrab sebagai saudari. Di manapun mereka pasti akan selalu bersama kecuali saat keduanya mulai disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.


Nyaris mereka tak mengenal waktu, saling sapa juga jadi semakin jarang. Keduanya yang merasa lelah pun akhirnya berlibur di hari yang sama. Kebetulan hakiki membuat Misa dan Sima kembali tertawa bersama setelah sekian lamanya mereka tak saling tegur sapa di rumah.


Tetapi, setelah berlama-lama mereka bekerja. Suatu hari Sima mendapati Misa yang tertidur di bawah kolong ranjang. Terlihat wajahnya sangat pucat dan terkadang suka melantur yang tidak-tidak.


Saat Sima bertanya ada apa, Misa hanya menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Sima merasakan sakit di dada dan mengerti bahwa yang sedang ia rasakan ini adalah perasaan Misa.


Sekali lagi Sima bertanya, dan sekali lagi Misa hanya menggelengkan kepala. Mulutnya terbuka dan hendak ia membicarakan sesuatu tetapi selang beberapa saat, ia kembali menutup rapat mulutnya lalu menangis.

__ADS_1


Melihatnya begitu, Sima memanggil Ayahnya. Wajah Ayah mereka, Sukma terlihat sangat dingin. Ia sedang duduk dan menatap foto keluarga, mungkin sedang merindukan mendiang istrinya itu.


Bagi Sima, Sukma adalah pria yang tidak bisa diajak bicara. Sesungguhnya ia sangat benci untuk meminta tolong apalagi Sukma terlihat tak peduli.


“Dia menyentuh tubuhku.”


Tapi berkat Sukma, akhirnya Misa berbicara. Walau hanya sebaris kalimat saja, setidaknya mereka berdua memahami bahwa Misa telah dilecehkan.


Sukma hampir menindaknya dengan kekerasan, berkat Misa yang bilang akan mengurusnya karena ia sudah dewasa. Lalu akan mengurung orang yang telah melecehkannya itu ke jeruji besi.


Naas, tak semua berjalan lancar. Ketika Sima hendak menghampiri tempat di mana Misa bekerja, ia kemudian bertemu dengannya yang saat itu sedang bersama dengan Pratama. Terlihat mereka membawa tumpukan berkas-berkas yang nampak penting.


Di jalan di mana itu ada di dekat rel kereta api. Mereka berdua melewati jalan itu, sepertinya sedang membicarakan sesuatu hal yang penting.


Sima hendak memanggil Misa namun itu tertahan karena suatu tak terduga. Misa mendorong tubuh Pratama ke jalur kereta api hingga semua berkas-berkas itu jatuh berserakan ke mana-mana.


Alasan Misa mendorongnya adalah karena Pratama menyentuh sesuatu yang tidak pantas pada Misa. Sima dikejutkan oleh suara kereta api yang semakin mendekat.


Misa saat itu tahu kalau kereta api akan melintas, namun ia berniat meninggalkan Pratama seorang diri. Ketika berpikir begitu, rambut Misa dijambak olehnya lalu ia dimarahi hingga suaranya sangat nyaring terdengar.


Sima sebagai saksi atas kecelakaan itu. Entah mau bagaimana menyebutnya namun sulit untuknya berpikir sampai-sampai melupakannya dengan paksa.


***


Perlahan-lahan Sima membuka kedua mata yang masih terasa berat. Langit-langit yang rendah, hawa sejuk melewati cepat jendela pun ia rasakan.


“Dompetku!” teriak Sima dengan mata terbelalak, ia terbangun dalam kondisi kebingungan.

__ADS_1


Gubrak! Dendi terkejut dan tak sengaja ia terjatuh. Matanya mengerjap-ngerjap, menatap Sima yang juga membalas tatapannya.


Sima lantas mengalihkan pandangan, tampak ia sedang mencari-cari sesuatu dengan meraba-raba tubuhnya. Pakaian yang ia kenakan berubah, semuanya berubah hingga kemudian ia sekali lagi menatap Dendi yang masih terduduk di sana.


“Apa yang kau ...”


“Ti-tidak! Maksudnya ...bukan aku Mbak! Sumpah! Yang menggantikan baju Mbak Sima itu tetangga wanita, kok! Aku juga nggak ngintip,” ujar Dendi dengan suara meninggi karena panik seraya menggelengkan kepala.


Hanya dengan melihat pakaiannya yang berubah, tentu Sima akan berpikir bahwa Dendi lah yang menggantikan pakaiannya. Tapi Dendi berkata bukan dia melainkan orang lain.


Sima menghela napas lega. Sesaat ia berpikir yang tidak-tidak sampai wajahnya memerah. Kemudian turun dari ranjang pendek itu, perlahan menghampiri Dendi seraya mengulurkan tangan.


“Jangan terus duduk seperti itu. Maaf, aku berpikir bahwa kamu lah yang melepas pakaianku,” ucap Sima sambil tersenyum.


Dendi agaknya tercengang dengan perilaku Sima hari ini. Setelah menerima uluran tangan darinya, tiba-tiba saja Sima teringat sesuatu. Sima bangkit dan kemudian menampar wajahnya beberapa kali.


“Oh, ya ampun! Dompetku! Ponselku juga ada di sana! Ah, ya ampun!!!!” teriak Sima dengan keras sampai telinga Dendi berdenging.


Tampak Sima melupakan kejadian memalukan sebelumnya. Sima hanya teringat dengan sebuah dompet yang telah dicuri dan sekarang entah ke mana.


“Dendi! Ke mana anak itu?” tanya Sima dengan wajah gelisah, panik hingga berkeringat. Seraya ia menggenggam kedua pundak Dendi dengan erat, berharap Dendi tahu jawabannya.


“Untuk saat ini tenang dulu ...”


“Bagaimana aku bisa tenang jika dompetku saja dicuri! Tanpa itu, aku tak bisa ke mana-mana. Sudah begitu ponselku juga ada di sana!! Bisa-bisa hancur!” teriak Sima membuat Dendi terdiam mematung.


Melihat Sima histeris begini, Dendi merasa tak berguna karena tak tahu bagaimana cara menenangkannya. Sima telah kehilangan dompet dan ponselnya, jika bisa diganti atau dicari dengan mudah pun tentu ini tidak akan menjadi masalah yang panjang.

__ADS_1


Dendi pun menghela napas.


Lalu berteriak, “Mbak Sima tenang! Tenanglah sebentar!”


__ADS_2