
Enji, nama yang tidak pernah muncul di kota D.
Sima yang terus memikirkan nama ini, terus menjadi sangat gelisah. Sampai kedua anak yang sampai saat ini masih belum diberi nama pun ikut khawatir memikirkan Sima yang sejak tadi menatap kue dengan serius.
“Mbak Sima benar nggak apa-apa?” tanya Dendi yang sama mencemaskannya. Ia menatap Sima lebih dekat.
“Huah! Dendi!” teriak Sima terkejut.
“Ah, maaf. Aku nggak bermaksud mengagetkan. Hanya saja Mbak Sima ..daritadi ...,” Kalimat Dendi tersendat sebab ia juga bingung harus bagaimana menghadapinya.
Sementara Sima membutuhkan banyak waktu untuk sadar, terlebih setelah dirinya nyaris terjatuh dari bangku.
“Maafkan jika membuat kalian semua khawatir. Aku hanya penasaran apakah ada nama Enji di kota D ini?” tanya Sima berbisik, namun tidak menatap Dendi, ia justru hanya menatap kue dengan perasaan gelisah.
Dendi mengernyitkan dahi, matanya sedikit menjadi sipit. Ia berdeham pendek seraya mengingat-ingat nama itu.
“Enji ...?”
“Ya, sebenarnya aku khawatir dengan orang itu.”
“Nama laki-laki ya? Hah,” ujar Dendi mendesah lelah. Tampaknya Dendi memperlihatkan wajah cemberut untuk yang pertama kalinya.
Ketika Sima sadar ekspresi yang telah ditunjukkan Dendi saat ini, ia pun langsung mengutarakan sesuatu.
“Tidak!” Seolah menyangkal.
“Aku khawatir bukan karena dia orang yang penting. Aku cuman penasaran tentangnya karena nama itu jarang terdengar,” lanjut Sima.
“Oh, jadi begitu. Syukurlah!” ucap Dendi bersemangat sambil menepuk kedua tangannya.
“Kenapa kamu terlihat sangat senang hanya dengan itu?” tanya Sima heran.
“Bagaimana aku nggak senang? Karena Mbak Sima belum menjawab lalu bertanya tentang nama laki-laki lain, aku cemas dan begitu Mbak menjawab itu bukan orang penting ...,” Seterusnya Dendi hanya tersenyum ceria.
“Eh?” Namun Sima yang sedang banyak pikiran jadi tidak bisa memahami arti kata-kata dari Dendi. Ia bingung harus bagaimana menanggapi di saat pikirannya sedang beralih ke nama seorang lelaki lainnya.
“Ya sudah, aku akan kembali bekerja ya Mbak. Jangan terlalu dipikirkan nama itu. Mungkin saja nama itu milik nama karakter cerita atau game,” ujar Dendi.
Kedua anak yang masih sibuk mencicipi sisa-sisa manisan di mulut serta jari mereka lantas terdiam, untuk sesaat mereka tercengang karena perhatian Dendi yang sepenuhnya hanya untuk Sima seorang.
__ADS_1
“Kakak pacaran?” tanya si kakak perempuan.
“Dari mana kamu tahu sebutan itu? Sudah, berhentilah mengada-ngada, cepat selesai makannya,” jawab Sima menatap khawatir pada mereka.
Generasi anak-anak muda jaman sekarang sudah mulai kacau. 5 tahun usia yang sangat muda saja sudah mengetahui sebutan pacaran. Bagaimana jadinya jika mereka berdua sudah bersekolah nanti.
“Aku bingung harus bagaimana, tapi mungkin Gura mengetahui sesuatu tentang hal ini.”
Sima mengirim pesan singkat pada Gura mengenai nama Enji, menyuruh untuk menyelidikinya. Namun tak berselang lama kemudian ia mendapatkan pesan dari Gura, tentu isinya tak sesuai harapan Sima.
'Jadi benar nama Enji tidak ada di kota ini. Lalu di mana? Jika berada di luar jangkauanku, maka mustahil mencarinya. Sebenarnya siapa dia? Apakah dia ketua Faksi Pertama?' pikirnya membatin.
Selain Gura, tentunya Han sudah berusaha keras untuk mencoba mengetahui sesuatu tentang "Enji", tetapi tentu saja takkan semudah membalikkan tangan. Han juga butuh waktu, terlebih ini permintaan yang sulit.
“Yah, selama tidak ada yang mengawasi hari ini. Aku cukup tenang. Lain kali aku akan menegurmu lebih keras, benar?” ucap Sima sembari tersenyum pada seorang wanita yang berada di seberangnya.
Wanita yang barusan diliriknya spontan memalingkan wajah. Lalu pergi tiba-tiba. Sima yang masih duduk diam sembari melihat punggungnya kian menjauh, tersenyum penuh arti.
“Gura, kemarilah.” Sima menghubungi Gura dan memintanya untuk segera masuk ke dalam toko.
Ia meminta Gura untuk menjaga dua anak itu, sementara Sima akan mengejar wanita yang barusan ia curigai. Sima menduga bahwa wanita tersebut bagian dari Faksi Pertama.
“Mustahil dia bisa tahu kalau aku ini Faksi Pertama. Tapi jika selain itu maka apa lagi?” gerutunya yang terus berjalan cepat dengan gelisah.
“Astaga!“ Segera ia berlari ke belakang, namun ternyata sudah dicegat oleh bawahan Sima.
“Kamu tidak bisa melarikan diri dariku ataupun mereka. Katakan, tujuanmu memata-mataiku?” tanya Sima, berjalan menghampirinya.
Sedang wanita itu ketakutan, ia tersandung kakinya sendiri sampai jatuh tersungkur.
“Tolong, jangan bunuh aku!”
“Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu melainkan bertanya apa tujuanmu?” ujar Sima.
“Bos! Bukankah kita harus menyeretnya pergi dari sini?” tanya anak buah Sima.
Sima hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.
“Tadi aku bilang 'kan? Aku hanya ingin bertanya, kalau diseret ...juga, tidakkah ada kata-kata lainnya?” ujar Sima mengangkat bahu.
__ADS_1
“Ba-baiklah. Tapi ini mungkin tidak akan memuaskanmu. Karena aku hanya disuruh membaur dalam Toko Kue Sima,” jelasnya.
“Hanya itu? Yakin?” Sima mendekatkan wajahnya lebih dekat, berharap ada jawaban lain tapi sayang sekali karena benar-benar tidak ada.
Wanita yang kini sudah tidak berdaya, hanya bisa menggelengkan kepala setelah menjawab pertanyaan Sima terkait tujuannya memata-matai Sima.
“Oh, begitu.”
Karena sudah cukup puas dengan informasi Han, Sima memutuskan untuk segera pergi meninggalkan wanita tersebut.
“Anda yakin membiarkannya?”
“Kenapa banyak sekali pertanyaanmu,” ketus Sima.
“Karena Bos Sima jarang bersikap begini. Saya jadi khawatir.”
Pesan susulan dari nomor tak dikenal, sudah pasti itu adalah Han. Segera ia memeriksa isi pesannya.
[Aku berhasil mendapatkan berkas kasus yang sudah lama ditutup dari publik. Kematian Ibumu, dan satu hal lagi saudara kembarmu, Misa. Mau aku tunjukkan?]
Setelah pesan pertama yang cukup panjang telah dibaca, tak berselang lama pesan kedua muncul.
[Aku mendapatkannya dari hasil meretas laptop Ayahmu secara langsung.]
“Dia itu! Benar-benar berani!!”
Sontak saja Sima terkejut, ia lantas berlari meninggalkan area pertokoan menuju ke kediamannya yang tersusupi oleh orang asing.
Bawahan Sima segera mengikuti langkah majikan mereka yang nampak tergesa-gesa. Gura hanya diam memperhatikan karena memiliki tugasnya sendiri. Sementara Dendi, ia kembali gelisah karena melihat kepergian Sima saat itu.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada Mbak Sima?” Dendi bertanya-tanya lagi pada dirinya sendiri.
***
Sesampainya ia berada di rumah tanpa kehadiran seorang kepala keluarga, berani-beraninya Han menyelinap masuk ke dalam kamar sang Ayah. Sima yang takut apabila Han mengacaukan segalanya, segera pergi ke sana.
“Hoi, hacker!! Jangan sentuh apa pun!” teriak Sima, membuka pintu kamar Ayahnya dengan cepat.
Berpikir bahwa Han masih ada di dalam ruangan, nyatanya tidak ada siapa-siapa. Kamar pun tampaknya tak terlihat ada tanda berupa jejak-jejak orang lain. Laptop yang tersimpan di laci meja pun masih tersimpan di sana.
__ADS_1
Jendela kamar maupun pintu, sama sekali tidak terlihat ada bekas kerusakan sedikitpun.
“Ha? Serius? Di mana dia?”