Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
058. Firasat


__ADS_3

Ia sudah meniup api di dalam hati yang telah lama terpendam akan kebencian ini.


***


Di suatu tempat, musim badai bersalju datang. Sesosok pria yakni Sukma Papuana tengah terduduk di sebuah bar kecil dengan minuman di atas meja. Wajahnya terlihat sangat gelisah, bahkan anak buah yang ikut bersamanya pun merasakan kegelisahan itu.


“Sepertinya aku merasa aneh.”


Firasat buruk itu Sukma rasakan, tak lain adalah karena rumahnya ludes terbakar. Sementara putrinya, Sima sedang bersenang ria bersama sang kekasih.


“Anda sedang tidak enak badan?” pikirnya.


“Mana mungkin aku cepat masuk angin. Sudahlah, hentikan candaan ini.” Sukma menggelengkan kepala secara berulang.


***


Beberapa menit sebelum pertemuan kencan. Di suatu pinggiran jalan, dengan pakaian serba panjang dan mengenakan topi ia sedang menghubungi seseorang.


“Han, apa yang kamu katakan benar?” tanya Sima.


[“Ya, tidak salah lagi. Seharusnya aku sudah mengatakan ini jauh-jauh hari tapi ada apa dengan bibi yang tiba-tiba memutuskan sambungan tetepon. Bahkan keberadaanmu sempat tidak terlacak selama beberapa hari ini dan aku pikir bibi sudah tewas.”]


“Oh, itu. Aku sedang bersenang-senang dengan pacarku. Jadi aku tidak ingin kau mengangguku, mengerti?” ledek Sima.


[“Huh, harusnya bibi menikah saja. Kasihan, nanti sesudah pacaran selama beberapa tahun, mendadak putus.”] Nampaknya Han membalas ejekan Sima.


“Berisik sekali kau, anak muda. Bocah sepertimu tidak perlu tahu apa urusan pribadiku.”


Sima kembali melangkahkan kakinya tuk segera pergi. Sesaat sebelum menutup panggilan, ia sempat mengatakan beberapa patah kata yang terdengar serius.


“Sesuai yang kau katakan, bocah. Aku melihatnya berubah, entah orangnya yang berubah atau memang sifatnya sendiri, kita berdua sama-sama tidak tahu mana yang benar.”


[“Aku juga sudah bilang pada bibi.”]


“Terima kasih atas bantuanmu. Mulai sekarang tinggalah di lokasi yang sudah aku kirimkan lewat pesan. Kerja sama kita sudah berakhir,” tutup Sima.


Sedikit lagi hal yang sudah lama Sima tunggu telah datang. Sebuah pembalasan dendam kah ataukah merubah definisi diri sendiri, sampai saat ini jalan Sima yang berapi masih bisa dikatakan abu-abu.

__ADS_1


Namun, itu tak berbeda dengan yang terjadi pada Dendi. Dendi yang sudah berubah, itu fakta yang sudah lama terlihat semenjak malam itu.


“Dendi!” Sembari memanggil, Sima melambaikan tangannya dan tersenyum pada sosok pria yang berdiri di depan sebuah toko.


“Sima!” Mereka saling bertukar sapa lantas menghampiri satu sama lain.


Tak lama setelah itu, kedua anak keluar dari toko dan menghampiri mereka dengan antusias.


“Kakak!” Serentak mereka memanggilnya bersamaan lalu memeluk mereka berdua.


“Eh, tunggu! Kenapa kalian berdua ada di sini?” Sima bertanya. Seingatnya kedua anak ini berada di rumah.


“Maaf, Sima. Sepertinya mereka menyelinap keluar dan secara tidak sengaja bertemu denganku makanya aku mengajak mereka. Tidak masalah bukan?” ujar Dendi.


“Oh, ternyata begitu. Sudah kuduga ini akan terjadi.”


“Kakak-kakak mau berkencan? Ya?” Si anak perempuan, Rani agaknya tengah meledek Sima.


“Ya, kalau memang benar begitu lalu kenapa?” balas Sima seraya berkacak pinggang.


“Ini aku pakai karena ...terlalu panas,” kata Sima yang sembarangan beralasan.


“Bohong!” Mereka berdua serentak mengucapkannya lagi.


Kencan berdua jadi berempat. Ngomong-ngomong anak-anak ini sudah diberikan nama. Kakak bernama Rani sedang si adik bernama Raka. Cukup bagus walau memberikannya secara mendadak.


Dengan begitu, mereka pergi untuk berjalan-jalan di sekitaran perkotaan. Terkadang pula mampir ke suatu tempat rekreasi di siang hari, tempat di mana semua orang akan bersenang-senang. Banyak wahana yang bisa mereka naiki, hari ini dipenuhi dengan rasa kebahagiaan yang takkan pernah dilupakan.


Selanjutnya, tempat makan. Dendi dan Sima sama-sama puas ketika melihat Raka dan Rani menikmati hari mereka. Mau bagaimanapun mereka tidak pernah merasakan kebahagiaan semacam ini.


“Aku senang, karena mereka menyukai semua tempat yang kita kunjungi.”


“Selanjutnya ingin ke mana?”


“Dendi, kamu menraktir kami semua dengan uangmu. Seharusnya kamu tidak usah melakukan hal itu,” kata Sima.


“Tidak perlu merasa bersalah. Lagi pula aku mendapatkan banyak uang setelah diundang ke beberapa stasiun. Ini juga berkat Sima,” ucap Dendi.

__ADS_1


“Kue yang kamu buat semalaman pun habis dimakan mereka hanya kurang dari setengah jam. Sudah bisa dibayangkan seenak apa kue buatanmu sampai diundang di berbagai acara,” kata Sima memuji.


“Ya. Kalau begitu, bagaimana kalau kita mencoba wahana permainan di mall? Semua permainan yang melibatkan digitalisasi katanya menarik, loh. Ayo!” ajak Dendi.


“Baiklah, terserah kamu saja.”


Bersenang-senang seperti ini pun pasti ada akhirnya. Ada awal maka ada akhir. Akhir dari penderitaan maupun akhir dari kesenangan. Semua masa depan yang tertulis tak akan ditampakkan begitu jelas, tetapi satu-satu dari miliaran orang akan mengetahuinya secara sekilas.


Bahwa, "Inilah akhir hidupku. Akhir dari segala yang kupunya." Seperti ia mendengungkannya sendiri, Sima pun jelas tahu bahwa jalan yang berada di bawah saat ini adalah jalan menuju neraka terdalam.


Bruk!


Berada di main center game dalam mall, tak sengaja Raka terjatuh di lantai yang terasa licin. Sima yang duduk di dekat sana, lekas menolongnya. Membantu Raka berdiri lalu membuatnya duduk di kursi.


“Apa ada yang terluka?” tanya Sima.


“Nggak. Cuman agak sakit,” kata Raka sambil menggelengkan kepala.


“Lain kali berhati-hatilah. Di mana kakakmu dan Dendi?” tanya Sima, ia melirik ke segala arah namun tak dapat menemukan keberadaan mereka berdua.


“Oh, mereka sedang bermain-main di ...yang tembak-tembakan,” jawab Raka. Ia kemudian menunjuk ke arah belakang Sima.


Namun bukannya langsung menoleh ke belakang, Sima hanya terdiam saat mendengar jawaban Raka. Sekilas ia merasa bersalah, lebih tepatnya setelah mendengar kata "tembak". Secara tak sadar hal itu telah membuatnya teringat kejadian yang sama.


“Hah ....!” Ia menghela napas kasar. Dengan posisi duduk berjongkok di depan Raka, Sima memijat kening yang berdenyut merasa kesakitan.


“Kak Sima?” Raka jadi kebingungan. Ia cemas dan juga panik. Lalu pergi guna menemui kakaknya dan Dendi.


Sementara Sima merasa sakit luar biasa di bagian kepalanya. Seakan isi kepalanya akan meledak keluar.


“Ingatan itu sudah terputar berulang kali dalam kepalaku selama tiga hari ini, tapi kenapa? Kenapa baru kali ini aku merasakan rasa sakitnya, kenapa?” gerutu Sima seraya berpengangan pada kursi.


Seluruh tubuhnya, tangan, kaki dan pupil matanya bergetar tak karuan. Ia merasa dirinya sebentar lagi akan tumbang karena sakit tak tertahankan ini. Ia takut apabila dirinya akan tumbang, karena itulah ia selalu mencoba untuk bertahan bahkan hingga detik ini juga.


Keramaian di sini pun memengaruhi Sima, yang perlahan hanya menimbulkan sakit pusing namun justru semakin bertambah dengan mual seolah sedang mabuk kendaraan dan sejenisnya.


“Argh, kenapa sangat sakit?!”

__ADS_1


__ADS_2