Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
013. Kencan Buta Dengan Ketua Faksi Pertama?


__ADS_3

Dendi hanya tersenyum sebagai jawaban, "Jangan terlalu berharap."


“Terima kasih, Mbak. Ngomong-ngomong jangan lihat ponsel untuk sementara waktu,” ucap Dendi.


***


Dendi kembali ke kafe Dadi Muncul dengan wajah sumringah. Sekitarnya terlihat bercahaya serta berbunga-bunga seolah baru saja dapat hadiah.


Namun itu benar, Dendi diberi satu porsi bakso dari Sima. Sebagian orang berpikir kenapa ia sangat senang karenalah itu, tapi tidak dengan senior-senior di sana.


“Ada apa? Wajahmu terlihat sangat senang. Jangan bilang ketemu pacar, ya? 'Kan nggak mungkin kamu senang cuman karena bakso itu,” sindir salah satu seniornya.


Sedari tadi, ia menyantap kuah bakso dengan senyum tersungging. Maka dari itu, mereka jadi merasa aneh sendiri terhadap Dendi yang sekarang.


“Ah, bukan apa-apa. Hanya baksonya enak saja.”


“Biar kujelaskan, senior.” Pria yang seumuran dengan Dendi menyerobot. “Kau pasti bertemu dengan wanita cantik dengan badan yang oke ya?” pikirnya dengan mesum.


Dendi seketika berhenti. Ia kemudian meletakkan sendok lalu berdiri dan menatap pria itu.


“Aku nggak pernah mentingin penampilan Mbak Sima. Lagian, memangnya aku sama sepertimu!” ketus Dendi seraya menunjuk dengan kesal.


Dan sekarang terbukti dengan jelas. Barusan Dendi ngaku sendiri apa yang membuatnya senang. Ternyata benar, karena seorang wanita.


“Ck, anak bau susu mau sok pacaran. Belajar dulu lah!”


“Ng–apa?! Kamu ini yang bau susu! Lagipula aku lebih suka kopi!” sahut Dendi.


Pertengkaran di antara mereka pun terjadi.


Para senior pun menghela napas secara bersamaan. Lalu meninggalkan mereka berdua di ruang istirahat, dan kembali bekerja.


***


Sementara itu di sisi lain, Sima dihubungi oleh Gura lewat ponselnya. Mengira ia takkan kabur lagi dan berharap Gura dapat menjawab pertanyaan yang kemarin.


“Hei, Gura! Kemarin kau ke mana saja?” bentaknya marah.


Namun Gura hanya mengucapkan sebatas kalimat, “[Bos besar memanggilmu.]”

__ADS_1


Hanya itu yang Gura katakan padanya. Perintah dari bos besar, Ayahnya menyuruh Sima untuk datang ke rumah. Panggilannya juga ditutup begitu pesan sudah disampaikan.


Jengkel, Sima berdecak kesal lantas segera pergi dengan menggerutu.


“Tidak Ayah bahkan Gura juga tidak mau mengerti apa perasaanku. Kali ini apa lagi? Membahas Faksi Pertama? Ck, menjengkelkan!”


Brak! Setelah sampai, Sima mendobrak pintunya dengan keras. Sungut kemarahan berada di puncak emosi Sima, ia berteriak memanggil nama Gura.


“Gura!”


“Bos besar sudah menungggu di halaman belakang,” kata salah satu bawahan lainnya.


Di halaman belakang, bos besar–Ayahnya sedang duduk di rerumputan hijau. Menoleh ke belakang lalu tersenyum pada satu-satunya anak. Dikaruniai seorang putri yang cantik bak dewi, tidak akan membuat si Ayah berkeluh kesah.


Daripada sebelumnya.


“Duduklah.”


Sima dengan raut wajah kesal, setelah diminta untuk duduk pun mau tak mau ia harus menurutinya.


“Ada apa Ayah?”


“Maksudnya?” tanya Sima dengan dahi berkernyit.


“Ayah bertemu dengannya. Seorang pria yang mungkin saja adalah ketua Faksi Pertama. Dia mengajakmu untuk pergi berkencan. Karena demi blok ...”


“Ayah menyuruhku untuk berkencan dengan pria lain, sedangkan Ayah sendiri sudah tahu siapa yang kucintai. Apa maksud Ayah adalah, berkencan dengannya agar Blok D tak lagi diusik oleh mereka?”


Belum selesai Sukma berbicara, Sima memotongnya. Ia menatap tajam ke arah Ayahnya dengan jengkel, terlepas dari apa maksudnya, sudah cukup ia mengetahui bahwa kencan dijadikan alasan agar pria itu dapat meminangnya atau semacamnya.


Jelas sekali, ketua Faksi Pertama akan meminta sesuatu sebagai jaminan agar mereka tak lagi mengusik Blok D.


Lagipula alasan apa yang mengharuskan mereka untuk berbuat ulah seperti itu? Semua ini masih terlihat samar-samar bagi Sima.


“Menurutmu bagaimana? Kau adalah darah dagingku sendiri. Aku tahu betul apa yang kau pikirkan saat ini, Sima. Jika beruntung kita memiliki pikiran yang sama terhadap ketua itu.”


“Apa benar dia ketuanya?”


“Tidak tahu, tuh. Aku tidak tertarik,” kata Sukma sambil mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


“Memangnya kenapa mereka selalu mengusik Blok D?” Sekali lagi Sima bertanya.


“Sima, kau tak perlu mengetahui hal-hal yang sudah terjadi di masa lalu. Lagipula sebentar lagi mereka juga akan berakhir di tangan kita,” tutur Sukma.


Sukma meraba-raba bagian ujung rerumputan. Setetes air menyentuh jarinya dan entah kenapa itu membuat wajahnya terlihat lebih segar. Ia kemudian menatap ke langit, dimana semua awan berkumpul lalu bergerak ke arah barat.


“Anggap saja ...mereka adalah musuh Ibumu?” imbuh Sukma seraya menatap wajah Sima yang kebingungan.


“Jangan sangkut pautkan Ibu ke dalam masalah ini.” Sima kemudian beranjak dari sana dan sekali lagi berkata, “Lalu, aku harap Ayah tidak keberatan kalau aku melakukan sesuatu pada ketua mereka?”


Sukma menggangguk tanpa protes sedikit pun. “Besok jam 9 pagi,” jelasnya mengenai kencan buta.


Perihal masalah ini, Faksi Pertama yang berhubungan dengan organisasi Mafia di masa lalu tak ada hubungannya dengan orang yang tidak berkaitan.


Bodohnya, ketua mereka yang mungkin saja hanya suruhan saja justru meminta untuk kencan dengan putri bos besar. Yang tidak tahu apa-apa.


Sima mungkin sedikit kesal karena ketidaktahuannya pada masa lalu namun ini adalah kesempatan untuk menghajar Faksi Pertama.


Memanfaatkan ketidaktahuan selagi bisa. Apa yang bisa Sima lakukan selain ini, sedangkan ketua Faksi Pertama saja hanya selalu melirik wanita. Mudah sekali menangkap ekor tikus itu.


Sima berbalik badan, mengepalkan kedua tangan yang tetap berada di bawah seraya ia tersenyum tipis. Sukma terlihat bangga melihat ia yang sepemikiran dengannya.


“Hei Gura! Apa kau barusan menghindariku!?” panggil Sima dengan suara lantang hingga rumah mereka sesaat terasa bergetar.


Gura merinding dibuatnya, ia pun muncul dengan wajah berkeringat. Terlihat sekali ia sangat gugup ketika menghadap bos sendiri.


“Gura, apakah karena hal ini kau tidak pernah bilang padaku? Yah, kau tahu aku memang tidak suka kalau identitasku tersebar terutama pada mereka. Tapi karena sudah terlanjur mau bagaimana lagi,” kata Sima sambil menyalakan korek yang diberikan oleh saudara yang lain.


“Be-benar sekali. Tapi bukankah bos juga tidak suka dimanfaatkan terutama pada bos be–”


“HEI!”


Setelah gugup berkepanjangan, bos besar meneriaki Gura dengan suara yang lebih lantang. Rumah kembali bergetar jauh lebih kuat, Gura pun tersentak kaget lantas diam mematung.


“Tenanglah Ayah. Meskipun aku membencimu tapi sebagai anak, aku juga harus berkewajiban membantu, benar? Jadi jangan memarahi Gura hanya karena dia menentang pendapat Ayah. Lagipula dia bawahanku,” tukas Sima dengan asap yang keluar dari mulutnya.


Kemudian ia duduk di bangku ruang tamu dengan menyilangkan kaki. Menatap wajah Gura yang sangat cemas dan takut.


“Gura, besok aku ada kencan buta. Gantikan aku untuk menjaga pria itu,” pinta Sima pada Gura yang merujuk pada Dendi.

__ADS_1


__ADS_2