
Hari semakin siang, cauca pun sepertinya tidak membuat mereka untuk merasakan kesegaran sedikitpun. Pengaruh musim panas yang dahsyat hingga rasanya mereka akan meleleh sesaat lagi.
Ketiga-tiganya berada di sebuah tempat. Kafe yang terletak di perempatan jalan, meski nuansananya cukup ringkuh karena banyaknya kendaraan lewat di jalan raya, namun di dinding dalam kafe memiliki kaca buram sehingga tidak begitu terlihat jalanannya.
Jika di luar panas, namun lain cerita di dalam kafe, di dalamnya terasa sangat sejuk karena adanya angin buatan dan tentunya takkan memengaruhi minuman atau makanan yang tersaji untuk para pelanggan.
Di sana, Sima, Dendi dan Eriana merasa nyaman sampai lupa untuk meminum yang sudah mereka pesan sejak lama.
Tetapi, pandangan para pelanggan lainnya terlihat tidak nyaman atau lebih tepatnya mereka sedang asik menggosipkan sesuatu terkait keberadaan mereka bertiga.
Mereka tertawa lirih-lirih, terkadang pula mereka menyembunyikan tawa mereka di balik buku. Anak-anak muda, sepasang kekasih, maupun pasutri, hampir semua pelanggan di sini menertawakan sesuatu dari mereka bertiga yang terakhir mendatangi kafe ini.
Apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa pula mereka berada di kafe?
Mundur, beberapa menit sebelumnya.
Sima berbalik badan lantas berkata, “Tidak, tanganku ini kotor, Dendi.” Dengan suara lemah lembutnya dan pelan.
“Cuaca hari terlalu panas. Bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat yang mempunyai penyejuk atau sejenisnya?” pikir Dendi yang mengabaikan perkataan Sima sebelumnya.
“Oh, aku tahu tempat itu. Maksudku, kita ke kafe saja? Aku pernah mendengar ada kafe yang menyediakan penyejuk ruangan. Yah, meskipun tempatnya berada dekat dengan jalan raya sih,” ucap Eriana.
“Hm, boleh juga. Ayo ke sana. Setidaknya sebelum jadwalku kerja tiba,” kata Dendi yang tidak meragukannya lagi.
“Ah, tapi. Apakah Mbak Sima akan ikut?” tanya Eriana. Sebelum mendapatkan jawaban, ia bergumam, “Dia akan jadi penganggu.”
Dendi tidak dapat mendengarnya, justru Sima lah yang mendengar ucapan Eriana yang digumamkan lirih-lirih itu.
”Awas saja kau,” ucap Sima yang merendahkan suaranya geram.
“Tentu saja, aku akan ikut ke mana Dendi akan pergi!” jawab Sima dengan semangat, ia menunjukkan wajah bahagia pada mereka berdua.
Tetapi, di balik wajah bahagianya, ia sedang menatap sinis seolah mengancam Eriana.
“Baiklah, ayo pergi.”
__ADS_1
“Karena di sana lahan parkirnya sempit, jadi lebih baik jalan kaki saja. Karena juga dekat tempatnya.”
Dan itulah yang terjadi. Dendi yang pergi bersama dua orang perempuan, siapa pun yang melihat akan menaruh curiga dan menjadi bahan cibiran banyak orang. Entah bagaimana pemikiran mereka, sebab kebanyakan orang selalu melihat apa yang mereka ingin lihat.
Seperti ini,
“Polos begitu bisa dapat dua cewe langsung? Hokinya kebangetan deh,” cibir anak muda.
Atau,
“Dia pakai pelet kali ya?” pikir pasutri yang kebetulan mampir karena motornya mogok.
Atau mungkin,
“Kok, kayaknya kenal dia siapa ya? Ah, tapi masa bodoh. Lagi pula, dua cewenya seperti nggak punya harga diri ya. Masa' iya milih cowo polos begitu. Mana kelihatan miskin lagi.”
Sejujurnya cibiran orang yang barusan dapat didengar oleh Dendi, secara tempat duduknya berada dekat dengan tempat duduk Dendi. Terlebih pria itu juga terlihat sama miskinnya, sebab sejak tadi ia tidak memesan apa pun kecuali air putih. Tetapi, Dendi tidak memperdulikan puluhan cibiran di sekitarnya. Sebab tujuanmu bukan untuk mendengarkan semua omong kosong itu melainkan hanya ingin mencicipi penyejuk serta minuman dingin yang telah mereka pesan sejak tadi.
“Saking enaknya di sini, aku sampai lupa kalau tadi pesan minuman,” ucap Dendi, lantas menyeruput minumannya dengan santai.
Ia menikmati minuman dingin serta penyejuk dalam ruangan, serasa di surga, begitulah matanya berbinar-binar bahagia.
Dendi pergi berpamitan untuk ke kamar kecil, sementara itu kedua wanita yang duduk saling bersebelahan pun lantas saling bertukar tatap dengan tajam.
“Apa maumu?”
“Apa maksudmu?”
'Aku bisa saja melenyapkannya agar mendapatkan Dendi. Tapi kalau aku lakukan, pasti Dendi akan merasa kehilangan dan itu bukan yang aku mau juga,' batin Sima, sejak kehilangan Ibundanya, Sima sudah bertekad untuk mengubah sejarah kelam keluarga Papuana.
Yang dulu terkenal bengis bahkan hingga sekarang, dan Sima berniat mengubahnya demi kesejahteraan negeri ini sendiri. Tetapi Sima tahu, bahwa mengubah pandnagan masyarakat tak semudah bayangannya. Jadi ia berpikir, akan lebih baik mafia tetaplah di cap "jahat" saja namun di baliknya, terdapat benih kebaikan yang bahkan lebih baik dari para aparat tukang korup.
“Eriana, aku langsung saja. Kamu itu suka dengan Dendi, benar?” tanya Sima blakblakan.
“Kalau sudah tahu kenapa tanya, Mbak? Lagi pula, Mbak sendiri juga punya perasaan yang sama. Tapi apakah salah satu dari kita akan berbuat curang?”
__ADS_1
“Curang?”
Sejenak Sima diam untuk berpikir apa maksudnya.
Eriana kemudian berbisik, “Misalnya membuat Dendi menghamiliku, maka Dendi mau tak mau akan jadi milikku.”
“Tanpa berbuat curang aku akan menang darimu,” sahut Rima bermata tajam dengan sunggingan senyum yang tipis dan manis.
“Hah, sepertinya itu jauh lebih baik. Karena aku juga tidak mau membuat Dendi menderita,” kata Eriana.
“Benar, itu lebih baik, gadis.” Sengaja ia menyebut gadis, sebab umur Eriana jauh lebih muda dari Sima.
“Perawan tua,” sindir Eriana yang langsung menusuk hati.
Kepalan tinju terkesiap, sisanya hanya menunggu kapan akan diluncurkan. Namun mengingat bahwa Eriana adalah seorang wanita, takkan ia melakukan tindakan semena-mena. Menghajar bukanlah sikap yang cantik untuk melawan pesaing.
Kecuali lawannya adalah pria, itu sih lain cerita.
“Aku cukup sabar denganmu. Tapi perlu diingatkan bahwa umurku sedikit lebih tua, namun bukan berarti aku sudah tua, ibu-ibu atau bahkan nenek-nenek!”
Brak!
Sima mengatakannya seraya menggebrak meja, ia melakukannya sedikit keras karena jika dilakukan dengan seluruh kekuatannya maka meja itu akan terbagi menjadi beberapa bagian.
Setelahnya, dengan masih sibuk saling bertukar tatap, Sima menghabiskan minumannya dalam sekali seruput. Begitu habis tak bersisa, barulah ia bangkit dari tempat duduknya.
“Aku akan ke kamar kecil, kamu tunggu di sini saja,” kata Sima.
'Aku sendiri tidak yakin, apakah aku yang sudah berlumur darah ini cocok untuk pria sepolos dirinya,' batin Sima lantas ia pergi meninggalkan Eriana, menuju ke kamar kecil.
Dendi baru saja keluar dari kamar kecil, dan secara tak sengaja mereka saling bertukar pandang.
“Mbak Sima juga mau ke kamar kecil? Aku barusan selesai menggunakannya, silahkan.”
“Ya, Dendi.”
__ADS_1
Dendi menganggukkan kepala lantas pergi menuju ke mejanya, tapi ada seseorang yang masih mencibir Dendi diam-diam. Pria yang tempat duduknya tak jauh dari kamar kecil, tertawa mengejek sembari melihat Dendi.
Lantas, Sima yang geram langsung memelototinya. Butuh beberapa detik bagi pria itu sadar ada yang salah, barulah ia terkejut ketika mendapati seorang wanita yakni Sima menatapnya begitu tajam. Tatapannya seakan-akan hendak membunuh pria tersebut, lantas ia langsung memalingkan wajah sembari bermain menyeruput minumannya.