Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
045. Pikirkan Tentang Perasaan = Nyata atau Tidak?


__ADS_3

Sima yang melihat ekspresi Dendi pun jadi ikut merasa kesenangannya. Setidaknya ada rasa senang atau secercah kebahagiaan yang timbul dan membuatnya lupa dengan kejadian buruk.


Dan Sima jadi teringat dengan perkataan ambigu Dendi.


Saat itu Dendi pernah berkata, “Mbak Sima, katakan, apakah aku harus membalas seluruh kebaikan Mbak dengan perasaan ini? Seluruh jiwa dan ragaku!”


Terdengat sangat ambigu, namun itu adalah perkataan yang sesungguhnya dari Dendi. Pria yang polos nan lugu, yang hanya dipenuhi dengan cahaya di sekelilingnya. Ibarat malaikat jatuh, siapa pun akan terpikat hanya dengan sekali melihatnya.


“Bodoh.” Tanpa sadar Sima memaki.


“Eh, Mbak?”


'Gawat! Aku keceplosan!' jeritnya dalam batin seraya berbalik badan dengan memegang kepala dengan kedua tangannya.


“Mbak?” Dendi kembali memanggil.


“Ya?” Perlahan ia menoleh lalu bersuara lembut tak biasa.


“Nggak jadi, deh. Mungkin aku yang salah dengar karena perkataan Mbak Sima sebelumnya.”


“Ya!” Ia berkata dengan semangat.


“Kalian berdua ini seperti kedua orang tua kami ya!” sahut kedua anak itu secara bersamaan sambil menunjuk ke arah mereka berdua.


Sontak saja keduanya terkejut. Sama-sama mengerti maksudnya, dan terlalu memikirkan hal berlebih, mengakibatkan dua orang tersebut memalingkan wajah mereka yang berubah menjadi merah seperti kepiting rebus itu.


“Hahahah!” Adiknya kemudian tertawa bahak-bahak. Adik dari anak perempuan berusia sekitar 5 tahun itu terus tertawa saking ia merasa apa yang dilihatnya sekarang itu sangatlah lucu.


“Hentikan candaan kalian. Kalau begitu Mbak Sima, boleh aku titip sebentar anak-anak dan rumah ini?” tanya Dendi dengan tersenyum simpul, tampaknya ia masih menahan malu.


“Dendi, sebelum kamu pergi. Aku ingin bertanya sesuatu padamu, kenapa kamu sangat mempercayaiku? Termasuk menangani mereka ataupun rumah ini?” tanya Sima.


“Tidak perlu ditanyakan lagi. Karena rumah Mbak Sima sangat dekat dengan rumahku, dan lagi pula tetangga di sini kebanyakan sibuk,” jelasnya.


“Kalau begitu aku akan pergi ya Mbak Sima. Terima kasih,” ucap Dendi yang kemudian ia pergi.


Sesaat sebelum pergi jauh, dan dirinya masih berada di daun pintu. Sejenak Dendi menghela napas pendek agar suaranya tidak terdengar terlalu berat nantinya.

__ADS_1


Ia berkata dengan singkat, “Dan juga aku percaya pada Mbak Sima.”


Begitu mendengarnya, Sima merasa senang. Hati terasa berbunga-bunga dan seolah akan meledakkan jantungnya yang berdetak kencang sekarang. Ia lantas menoleh ke belakang untuk mengatakan sesuatu, tapi sayangnya Dendi sudah pergi.


“Ah, padahal aku belum mengatakan terima kasih,” ucap Sima tersenyam-senyum seraya memegang wajahnya dengan girang.


“Kakak ini lagi kasmaran ya?”


“Hah?!” Seketika Sima melupakan siapa yang ada di sini selain dirinya. Sima sangat syok mendengar kata-kata itu dilontarkan oleh anak kecil.


“Eh, hei! Kata-katamu barusan itu! Sejak kapan dan dari mana kamu mendengarnya?!” tanyanya dengan suara keras menggelegar seraya berkacak pinggang seolah sedang melampiaskan amarahnya.


“Kakak ini apa-apaan sih? Aku 'kan hanya bertanya apakah kakak sedang kasmaran atau tidak, memangnya salah?” ujarnya seraya mengerucutkan bibir lalu mengangkat kedua bahunya. Ia sedikit memutar bola matanya karena enggan menatap wajah Sima yang marah.


“Ya sudahlah. Kalian ini ada-ada saja. Maksudku, kasmaran itu ...hm, ya ...bisa dikatakan begitu?” jawabnya dengan keraguan. Terkadang ekor matanya bergerak-gerak tak jelas saking ia juga bingung terhadap perasaannya sendiri.


“Ternyata kakak nggak seasik ini ya? Sebelumnya, saat kemarin, aku berpikir kalau kakak itu judes, ngeselin. Tapi ternyata ada sisi imutnya juga,” ucap anak perempuan yang pandai sekali memuji wanita dewasa.


“Hahaha!” Sementara adik laki-lakinya tertawa begitu bahagia.


Ada banyak hal yang dibicarakan oleh mereka bertiga. Meski lebih banyak perbincangan antara perempuan. Suasana rumah Dendi sangat hidup. Jika saja Dendi tidak pergi kuliah, maka akan seperti yang dikatakan oleh mereka sebelumnya.


Seperti kedua orang tuanya.


Sekilas, membuat Sima berandai-andai jika dirinya memiliki keluarga yang telah lama ia dambakan. Walau itu hanya angan-angannya saja, karena ia masih tahu tempat.


Biarlah jadi angin lalu, sebab Sima tak ditakdirkan tuk menjalani hubungan yang baik. Sebab darahnya ataupun kedua tangan Sima ini sudah ternoda jauh lebih buruk dari hari ke hari.


Mendambakan akan keluarga bahagia, itu hanya impian belaka yang mungkin takkan tercapai. Sementara musuh akan selalu ada, di setiap jalan berlika-liku ini.


“Ngomong-ngomong, apakah kalian semua sudah mandi pagi?” tanya Sima.


“Sudah!” jawab anak lelaki itu.


“Aku belum. Karena kak Dendi agar riskan karena aku ini perempuan!” jawab anak perempuan itu sambil menunjuk tangan.


“Tidak perlu menunjukkan ketiakmu, dari baumu saja sudah kelihatan kalau kamu belum mandi. Lalu, kenapa tidak segera mandi saja?”

__ADS_1


“Aku malas.”


Jawaban yang sungguh klasik, Sima jadi teringat dengan Misa ketika masih kecil saat itu. Karena Sima pun selalu malas mandi, dan Misa akan selalu menjewer telinga serta menyeretnya ke bak mandi.


Itu sering dilakukan.


Dan anak-anak ini telah membuat Sima bernostalgia tanpa sadar.


“Hei, cepat mandi! Mandilah saat ada kesempatan. Lalu bagaimana dengan makan? Kalian semua sudah?”


“Ya, sudah!”


“Kalau begitu tinggal kamu yang belum, ayo cepat! Atau kamu ingin aku membantumu mandi? Jangan bilang kamu tidak mandiri!” celoteh Sima.


“Ya, ya, ya. Baiklah, kakak.”


Akhirnya anak perempuan dekil itu mau mandi juga. Karena jika tidak bau harumnya akan tercium sampai ke rumah tetangga.


“Ngomong-ngomong kak, aku senang karena kakak dan kakak Dendi mau menampung kami. Adikku jarang sekali tertawa, tapi lihatlah sekarang ...”


“Sudah, jangan banyak bicara dan mandi saja sampai selesai.”


“Dengarkan aku dulu, kak!”


Anak perempuan itu dan anak lelaki ini sangatlah senang karena ada seseorang yang mau merawat mereka. Ada beberapa alasan pula mengapa mereka menolak untuk tinggal di tempat panti asuhan, tak lain adalah karena tidak terlalu menyukai keramaian dari banyaknya anak-anak serta orang dewasa yang asing bagi mereka terlihat seperti Iblis berwujud manusia.


Tetapi, semenjak bertemu dengan Dendi dan Sima, terutama anak perempuan itu, ia merasa bahwa Dendi dan Sima berbeda dengan orang dewasa lainnya. Yang mana mereka akan selalu memaki tapi berbeda dengan Dendi, yang selalu memberi perhatiannya pada kedua anak tersebut.


Siapa pun akan tersentuh oleh kebaikannya.


Bahkan Sima yang jauh lebih buruk dari Iblis pun, dapat meluluhkan hati seorang anak perempuan karena anak itu merasa hangat sesaat ketika Sima memeluknya hari itu.


Bagi anak itu, ia merasa sangat nyaman dan ingin terus berada dalam pelukan Sima sampai ia tertidur lelap.


“Aku tidak begitu menginginkan keluarga lainnya karena cukup dengan kedua orang tua kami, tapi sayangnya mereka sudah tidak ada. Dan kami harus bertahan hidup.”


“Kakak, orang yang baik ya? Aku senang,” imbuhnya.

__ADS_1


__ADS_2