
“Kenapa kau mengikutiku?”
“Ayah ingin pergi keluar negeri bukan? Setidaknya aku ingin mengantar Ayah sampai ke bandara.”
Untuk apa Sima membuntuti Sukma? Setelah mengingat semuanya. Bahwa faktanya adalah ia sendiri yang telah membunuh Ibunda tercinta. Kejadian tragis yang tak pernah terlupa, hanya karena masalah perbandingan anak dan sebagaimana cara mereka mendidik sangat berbeda satu sama lain.
Pun, telah mengakibatkan api neraka di hati Sima, seorang putri kembar yang telah kehilangan Ibu dan kembarannya Misa. Jika memikirkan akar permasalahan ini, tentu saja itu adalah Ayahnya.
“Katakan saja maumu? Sampai mengantar ke bandara segala.”
Memikirkannya saja sudah membuat Sima kesal. Ia ingin sekali membunuh pria yang ada di hadapannya sekarang, terdengar jahat tapi sisi lain hati manusia pasti akan selalu berpikir untuk melakukannya karena dendam.
“Aku hanya mengantar Ayah saja tidak boleh? Hei, Ayah. Katakan, apa yang sebenarnya telah aku curi?” tanya Sima.
“Lagi-lagi kau bicara aneh. Sudah sana. Toh, benda yang kau curi tidak begitu penting untukku.”
Repot-repot mengantarnya ke bandara padahal Sima baru saja siuman dari tabrakan maut itu. Dendi yang ikut bersamanya pun khawatir. Ia mengikuti, namun hanya berdiri jauh dari belakang mereka sebab tahu ada beberapa hal rahasia yang hanya ingin mereka berdua bicarakan sendiri. Tanpa adanya kehadiran orang lain.
“Aku sama sekali tidak mau membuatmu kesal, Ayah. Maafkan aku yang telah mencurinya, lain kali aku takkan melakukannya.”
“Hm, itu bagus.”
“Ya.” Bola mata Sima melirik ke samping kiri dan kanan, terkadang pula ke bawah dan sempat mendongakkan kepala ke atas. Entah untuk apa ia melakukannya, tapi mungkin saja ia tengah memikirkan banyak hal sekarang.
“Sekarang, pergilah! Aku pun akan pergi.”
Sebelum berbalik badan, Sukma sempat melirik Dendi dan kemudian berkata dengan keras untuk menyampaikan sesuatu hal pada Dendi.
“Hei, bocah yang di sana! Awas saja kalau kau tidak menjaganya dengan baik,” tutur Sukma yang berarti ancaman telah tertanam pada otak Dendi.
“Ba-baik!” Dendi menjawabnya dengan sedikit terbata-bata. Berdiri tegap dan berwajah serius. Dendi yang malang, ia justru lebih mendekat pada Sima yang memiliki banyak masalah.
“Kalimat perpisahan yang membosankan,” gumam Sima lantas berbalik badan. Meninggalkan Ayahnya pergi untuk segera memenuhi jadwal keberangkatan.
Sekitar setengah jam lagi pesawat akan take off. Sima memilih untuk menunggu sebentar di kursi sembari menenangkan dirinya sejenak.
“Dendi, apa yang kamu lakukan di sini? Seharusnya kamu tidak usah datang kemari.”
__ADS_1
“Aku ingin Mbak Sima lebih tenang karena ada aku di sini.”
“Oh, benarkah? Aku senang. Tapi kamu ini cukup percaya diri ya. Mengatakan bahwa aku akan tenang hanya karena keberadaanmu di sini,” ucap Sima sembari menyangga dagu dengan sebelah tangannya.
“Habisnya, setiap kita bertatapan pasti Mbak Sima akan tersenyum. Itu yang aku inginkan,” kata Dendi. Senyum yang merekah, sengaja ia menempelkan dahinya.
Saling bertukar pandang dalam jarak dekat mungkin tidak akan membuat perasaan buruk menyingkir dengan mudah namun, jika melakukannya sebentar dan napas yang dapat dirasakan akan membuat penat hilang sejenak.
“Mbak Sima. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Mbak. Tapi, kalau butuh sesuatu tolong katakan saja padaku maka aku akan membantumu.”
“Seperti yang barusan kamu katakan. Aku akan senang apabila bersamamu. Terima kasih takkan cukup untuk ini, Dendi.” Hanya ini yang Sima katakan, ia mengalihkan permasalahan terburuk itu untuk sementara waktu sebelum semuanya selesai nanti.
“Ya, Mbak Sima.”
“Lain kali jangan panggil aku Mbak. Aku tidak tahan mendengarnya.”
Dendi kembali mendekatkan wajahnya, berusaha memahami apa arti dari perkataan Sima barusan.
“Jangan terlalu dekat.” Sima perlahan menggeser duduknya hingga ke ujung. Namun Dendi tetap mengikuti.
“Maaf, Mbak Sima. Aku masih belum terbiasa menyebut nama wanita langsung. Dan, apa Mbak Sima nggak merasa marah atau kesal?” tanya Dendi.
“Karena pasti sekarang Mbak Sima berpikir aku menyebalkan? Dan terlihat ikut campur?” pikir Dendi.
“Hentikan omong kosongmu itu. Aku sama sekali tidak pernah menganggapmu menyebalkan.”
Sudah waktunya pesawat yang dinaiki oleh Sukma berangkat. Namun nampaknya Sima dan Dendi keasyikan berbicara sampai akhirnya satu jam terlewati. Dan tampaknya cuaca mulai memburuk.
“Eh, anginnya cukup besar ya?”
“Ngomong-ngomong Mbak, kita sudah berapa lama berada di bandara?”
Keduanya sama sekali tak mengenal waktu. Sama-sama dalam keadaan bingung.
“Cuacanya memburuk. Angin yang cukup besar ini apakah menghambat perjalanannya?”
“Kalau menghambatnya maka berarti pesawatnya akan berhenti di suatu bandara terdekat?” pikir Dendi.
__ADS_1
“Ah, sudahlah. Lupakan saja. Tidak ada gunanya memikirkan Ayah. Dia pasti baik-baik saja.” Meski berkata begini, namun ada rasa khawatir namun juga berharap yang tidak-tidak pada Ayahnya itu.
Melupakan tentang cuaca buruk, mereka berdua harus segera pergi atau hujan deras akan datang nantinya. Mereka kembali menaiki kendaraan beroda empat bersama bawahan Sima yang menjadi sopirnya.
“Anda benar-benar melupakan keberadaan saya ya?”
“Maafkan aku. Aku benar-benar lupa dan aku tidak sedang bermesraan,” kata Sima yang berusaha menampik kenyataan.
“Terserah Anda saja. Kita akan berangkat.”
Anginnya benar-benar sangat kencang, dan di luar mulai hujan deras. Langit pun mendung, dan rasanya Sima merasakan firasat buruk sejak tadi. Entah kenapa ia terpikirkan tentang dirinya sendiri.
“Kau tadi sudah menghubungi Gura? Bagaimana kabar anak-anak?” tanya Sima pada bawahannya.
“Oh, Nona. Saya sedang menyetir dan Anda mengajak saya bicara?”
“Sudahlah, jawab saja. Aku tahu kau pandai menyetir sambil berbicara atau menutup mata,” tukas Sima.
“Senior Gura dan dua anak itu berada di rumah sekarang.”
“Oh, begitu.”
Setelah lama perjalanan seraya mengantisipasi akan angin kencang, mendadak mobil yang ditumpangi oleh mereka terhenti.
“Apa yang terjadi?” tanya Sima sedikit panik.
“Mogok.” Singkat, padat dan jelas. Intinya mobil ini sudah tidak bisa bergerak kecuali dibenahi di tempat.
“Takkan kau mendorongnya begitu saja sampai rumah. Bengkel juga jauh dari jalan besar. Betapa malangnya nasib kita,” keluh kesah Sima yang merasa kemalangan terus berdatangan.
“Tenang saja Nona Sima. Saya bisa menyelesaikan masalah ini. Akan tetapi yang jadi masalah sulitnya adalah Anda berdua.”
“Kalau mobil bisa kau urus sendiri maka aku akan menyerahkan urusan ini padamu. Kami berdua akan menginap sebentar di hotel seberang.”
“Ho-hotel?” Dendi gugup tak karuan ketika mendengar kata hotel.
Sima tersenyum licik lantas berkata pada Dendi, “Apa yang kamu bayangkan? Ini bukan seperti yang kita rencanakan dan kamu pikir ini sebuah kesempatan tertentu?”
__ADS_1
“Ma-mana mungkin! Saya tidak akan melakukan macam-macam,” ucap Dendi secara formal seraya menggelengkan kepala.
“Baiklah Nona Sima. Semoga Anda baik-baik saja sampai saya menjemput kembali.”