
Usai kegaduhan terjadi, para karyawan yang sudah beristirahat sejenak pun kembali bekerja melayani pelanggan. Tak disangka mereka mendapatkan pelanggan yang memesan beberapa aneka macam kue kering dalam puluhan box. Kerja keras paling dibutuhkan saat ini.
Sima sedang duduk di salah satu bangku seraya memperhatikan para pekerja yang sibuk ke sana kemari. Sayang, Dendi ada di dapur. Kedua kakinya juga malas untuk bergerak ke sana sehingga ia pun terus-terusan menghela napas dan duduk bersantai di sudut ruangan.
Kala itu, ponsel Sima berdering. Segera ia mengangkatnya dan ternyata itu dari Gura. Setelah ia menoleh ke arah luar dan tidak mendapati siapa pun di luar kecuali orang asing serta kendaraan berlalu-lalang, ia pun mengerti.
Gura menghubungi Sima, sebab ada sesuatu yang harus ia sampaikan mengenai Faksi Pertama. Mereka bergerak lagi dan sekarang sedang mencari keberadaan wanita yang tidak lain adalah Sima.
Sima mengerti. Mereka bergerak karena kawannya pulang dengan tubuh lunglai. Pasti mereka yang sudah babak belur karena Sima melaporkannya pada ketua mereka di sana. Mengatakan bahwa ini terjadi karena seorang wanita.
Mana kala tak seharusnya wanita ikut campur, terlebih mereka lemah bahkan melawan wanita saja tidak bisa. Lucu sekali.
Malam itu memang Sima yang bergerak, dan pertemuan keduanya dengan seorang pria bernama Dendi. Sima merasa bersyukur kalau orang yang diincar bukanlah Dendi melainkan Sima seorang.
Lantas, Gura kesal mendengar bahwa Sima merasa lega sedangkan diri Sima sedang diincar saat ini. Gura juga tahu kalau bosnya ini kuat tapi bukan berarti Sima bisa menyepelekan hal tersebut.
Faksi Pertama juga tak dapat diremehkan. Mereka selalu mengacaukan Blok D dengan alasan tidak punya uang, awalnya hanya sekadar meminta layaknya pengemis akan tetapi setelah mendapatkan beberapa lembar mereka justru berbuat ulah.
Hingga akhirnya mereka jadi keterusan, dengan cara membegal para warga di Blok D, mereka merampas semua harta bendanya.
Kali ini pun mereka bergerak lagi, tapi di siang yang panas ini? Apa tidak salah?
“Hei, Gura. Apa kau yakin itu mereka?”
Gura: “[Tentu saja. Mereka dengan jelas mencari keberadaan bos. Apalagi bos ini wanita yang pandai bergulat, jarang ada wanita seperti bos di Blok D.]”
“Apa mereka tahu kalau itu, "aku",?”
Saat Sima bertanya apakah mereka mengenal bahwa wanita itu adalah Sima yang merupakan bos mafia berkuasa di Blok D, Gura lantas terdiam sejenak.
__ADS_1
Tak berselang lama kemudian, panggilannya ditutup. Gura bahkan belum menjawab pertanyaan Sima, sehingga Sima pun mengirimkan sebuah pesan lewat chattingan.
Sima mengetik, "Kalau mereka tahu itu aku, kenapa bisa? Dan jika benar maka sebisa mungkin tutupi."
Sima curiga dengan perkataan Gura yang seolah mengatakan bahwa orang-orang itu tahu kalau wanita itu adalah dirinya sebagai bos mafia. Hari itu juga masih malam, sudah begitu kejadiannya di gang sempit.
Apakah salah satu dari mereka terbangun? Apakah ada orang lain yang melihatnya?
Banyak spekulasi yang tengah melilit pikiran Sima. Rasanya aneh saja, tiba-tiba preman dari Faksi Pertama muncul dan sedang mencari keberadaan wanita yang menghajar mereka semalam.
Apakah mereka sedang mencari simpati?
Tentunya dengan wajah babak belur begitu, semua orang akan kasihan lalu berpikir mereka dikeroyok habis-habisan. Begitu? Apa pun itu masih terasa janggal bagi Sima. Bahkan Gura juga belum membalas pesannya.
“Hah, benar-benar deh. Bikin jengkel saja, aku ingin tenang sedikit malah masalah muncul terus-terusan,” gerutu Sima.
Sima menggerutu seraya ia bersandar ke dinding. Menghela napas panjang selama beberapa kali dan bolak-balik melihat ponselnya, berpikir kapan Gura akan membalas pesan itu.
“Mbak Sima?” Suara Dendi yang terdengar maskulin, membuat fokus Sima terpecah.
Tersentak kaget melihat Dendi yang ada di depannya. Ia pun bertanya, “Ada apa?”
Dendi tertawa sedikit sebelum ia bicara, “Maaf. Sepertinya Mbak Sima kepikiran sesuatu, ya?” tanya Dendi.
Dendi datang bukan hanya sekadar datang, ia memberikan kue kering sepiring kecil untuknya. Berharap Sima akan suka, sebab Dendi sedang mencoba untuk membuatnya.
Sima lantas tersenyum, ia mencicip kue kering itu sedikit dan rasanya langsung menyebar luas ke berbagai sudut serta permukaan lidahnya. Terasa nikmat, manis dan menggugah selera.
“Sangat enak,” ucap Sima memuji. “Apalagi ada kamu di sini,” imbuhnya seraya menjilat remahan kue di jari jemarinya.
__ADS_1
Seperti biasa, reaksi Dendi terlihat biasa saja. Tak mudah membuat hati pria itu goyah, sedikit saja tidak pernah. Rasanya ini kali pertama Sima berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan hati seorang pria. Meski di lubuk hatinya, ia menyanggah apa yang barusan ia pikirkan.
“Dendi, kerjalah dengan benar. Aku akan pergi.”
“Mbak Sima ingin pergi ke mana?” tanya Dendi.
“Ada sesuatu yang harus kukerjakan,” ucapnya dengan berwajah serius.
Sebentar-sebentar Sima melirik ke luar, merasa ada seseorang yang menatapnya. Entah siapa pun itu, Sima berfirasat buruk lalu keluar dari toko.
Berkata akan pergi, namun sebenarnya ia sedang mencoba untuk menarik seseorang itu. Lama-kelamaan akhirnya orang itu muncul dan mulai membuntutinya.
Seorang wanita berambut pirang, tersenyum culas dengan bibir merah yang dipoles menor. Berjalan dengan santai mengikuti langkah Sima dengan sepatu hak tinggi. Pakaiannya yang ketat menonjolkan aura wanita dewasa.
Sorot mata Sima yang tajam masih mengantisipasi keadaan sekitar serta mencuri pandang ke belakang seolah mencari seseorang meski ia sudah tahu siapa yang mengikutinya.
Berbeda dengan penampilan wanita berambut pirang itu, Sima jauh berbanding terbalik. Sima hanya mengenakan setelan jas seperti pria dengan celana panjang. Lalu dengan alas kaki tak senada, yakni sandal jepit warna biru.
“Ya, ampun. Wanita itu apa punya urusan denganku? Sepertinya aku merasa ditertawakan dari belakang olehnya. Lalu, entah kenapa terasa familiar.”
Saat ini, Sima terus melangkah ke depan dan mencari jalan yang aman. Dan masih belum sadar kalau wanita itu menertawakan dirinya karena sandal jepit.
Tapi apa pun yang dikenakan Sima tak jadi masalah bagi orang lain. Asalkan ia tak bertemu klien atau semacamnya dengan resmi.
Sima menghela napas panjang, kemudian berbelok menuju ke suatu gang. Tidak sempit tidak lebar, gang standar dimana terdapat banyak orang kampungan yang sedang bersantai di sana.
Tap! Sima berhenti melangkah, menoleh ke belakang dan tak lagi mendapati wanita tersebut.
“Ke mana perginya?”
__ADS_1
Penampilan mencolok dari wanita asing itu tak dapat Sima lupakan begitu saja. Lantas ke manakah keberadaannya bahkan sampai saat ini ia tak muncul kembali?
Sembari duduk di antara banyak orang, Sima mengecek ponsel lagi. Berharap Gura membalas pesannya namun tidak.