Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
025. Mengintai = Terlupakan


__ADS_3

“Tidak ada lelaki yang cocok untukku kecuali malaikat itu. Dendi, mungkin adalah pria yang cocok untukku! Benar 'kan! Ayah?” ujar Sima kembali berbunga-bunga.


***


Sima tampak lebih rapi hari ini. Dengan pakaian biasa namun tetap sopan, berlengan panjang serta rok di bawah lutut. Tak lupa ia mengikat rambutnya dan mengenakan kacamata biasa berbingkai hitam.


Lalu, tas kecil yang isinya hanyalah sebungkus rokok dan uang.


“Nona Sima ingin ke mana?” tanya Gura yang menghadang jalan wanita itu untuk pergi.


“Aku ingin pergi kuliah,” jawab Sima dengan senyum sumringah.


Pagi ini Sima terlihat berbunga-bunga, suasana hatinya memang sulit ditebak namun jika sedang bahagia seperti ini, Gura akan menebaknya dengan mudah.


“Tuan Dendi lagi?”


“Ya!” jawabnya dengan semangat.


“Anda harus pastikan, tidak lupa mengurus toko kue lalu bisnis Ayah Anda dan juga—”


“Ah, itu nanti saja! Aku sedang terburu-buru nih. Lagi pula bisnisnya Ayah 'kan urusannya Ayah juga. Kenapa harus aku yang mengurusnya?” celotehnya sedikit masuk akal.


“Tapi, Ayah Anda meminta untuk mengurusnya sebentar. Ini tidak lama, hanya sekadar hubungan timbal balik di antara kalian ada atau tidaknya dan persetujuan,” ujar Gura.


“Ck! Aku tidak mau berurusan dengan lelaki hidung belang. Pasti rekan kerja Ayah di bisnis yang gelapnya minta ampun itu ingin putranya menikah denganku 'kan!” terka Sima yang benar adanya. Dan Gura jadi sulit berkutik.


“Yah, soal itu.”


“Sudah ya. Sampaikan saja bahwa bisnis itu akan hancur. Lagi pula yang buruk-buruk begitu pasti tidak akan bertahan lama, aku muak mendengar kata "bisnis", tahu!”


Sima pun berlalu pergi, secepatnya ia menuju universitas, tempat di mana Dendi kuliah. Sesampainya di sana, sudah banyak kerumunan para mahasiswa.


Universitas ini cukup dijunjung tinggi namun tidak terlalu terkenal, dan Dendi membiayai kuliahnya sendiri dengan hasil kerja dari toko kue sebagai chef di sana.


Mengingat kemandirian Dendi, sungguh membuat Sima semakin terpesona. Ia pun semakin tak sabar untuk menemuinya walau secara diam-diam. Itulah mengapa Sima hari ini berpakaian sopan alias menyamar sebagai mahasiswa.

__ADS_1


“Mudah sekali menyelinap. Ya, tapi itu tidak penting. Asalkan aku bisa bertemu dengan Dendi!” ujarnya begitu semangat.


Jam pagi sudah akan dimulai, sebelum beberapa mahasiswa berkumpul dalam kelas, Sima gerak cepat mengambil bangku paling belakang tanpa ketahuan oleh siapa pun. Dari belakang, ia akan tahu di mana tempat Dendi duduk dan akan selalu memperhatikannya dengan seksama.


“Wah, aku beruntung karena mendapat teman sebangku,” ucap seseorang.


'Eh? Ada seseorang?' pikir Sima dalam batin.


Sejak tadi ia duduk dengan membenamkan setengah wajahnya ke dalam lipatan kedua lengan, namun begitu mendengar suara yang agaknya familiar sontak saja Sima menoleh ke sumber suara yang tak jauh darinya.


Bukan jauh lagi, bahkan sudah berada persis di sampingnya.


“EH!” Tak sengaja Sima berteriak, lantas ia terkejut bukan kepalang. Bagaimana ia tidak terkejut, jika seseorang yang berada di sampingnya ternyata adalah Dendi sendiri.


Reflek Sima membekap mulutnya sendiri sembari memalingkan wajah yang tengah tersipu malu pada saat itu. Jantungnya berdetak tak karuan, dan nyaris saja ia jatuh pingsan karena terlalu dekat dengan Dendi.


'Aku pikir dia ada di barisan depan, tidak aku sangka. Ah, bagaimana ini?' batin Sima.


“Ada apa ya? Apa Mbak sakit?” tanya Dendi dengan polosnya.


Pada jam matkul kurang lebih dua jam ini dilalui oleh Sima dengan rasa yang amat sesak, ia hampir kekurangan oksigen karena dirinya sudah tidak kuat lagi untuk berada di sebelah Dendi. Sesekali Dendi menanyakan tentang buku yang tidak pernah Sima keluarkan, tapi Sima tidak pernah menjawab saking ia terlalu gugup menanggapinya.


Alhasil, usahanya sia-sia.


Ketika jam sudah berakhir, Dendi akhirnya berpamitan pada Sima dalam penampilan culun ini. Sima pun menjadi cemberut.


“Ah, ya ampun. Padahal itu kesempatan yang langka. Tapi aku malah menyia-nyiakannya.”


Ia dipenuhi aura negatif, murung dan selalu gelisah setiap waktu. Ia akhirnya memutuskan untuk pulang saja karena kegagalannya dalam misi mengintai Dendi, tetapi ia juga penasaran ke mana anak itu pergi.


“Apa dia akan pulang ke rumahnya?” pikir Sima.


Melihat punggung Dendi yang sebentar lagi akan menghilang dalam pandangannya, Sima lantas bergegas untuk membuntuti. Ia hanya sekadar ingin tahu ke mana Dendi akan pergi sebab arahnya pergi berlawanan dengan gerbang keluar dari gedung universitas.


Namun siapa sangka, bahwa ternyata Dendi menemui seorang gadis yang cantik jelita. Ia memiliki rupawan yang indah bagai lukisan, dan wajahnya pun terlihat murni dan polos.

__ADS_1


“Cantik sekali. Siapa dia?”


Awalnya Sima tidak berpikir macam-macam, secara Dendi sendiri pernah memberitahukan pada Sima bahwasanya Dendi tidak memiliki seorang kekasih. Tetapi, gadis yang cantik rupawan itu justru membuat Sima kesal.


Gadis itu menggandeng lengan Dendi lalu mengajaknya pergi sembari membicarakan sesuatu yang tampaknya sangat asyik. Keduanya pun tampak bahagia seolah mereka adalah kekasih betulan.


“Aneh. Kenapa gadis itu sangat dekat dengannya? Adiknya? Tidak, dia 'kan anak tunggal. Lalu siapa? Anak tetangga?” pikirnya mulai bermacam-macam.


Kecemburuan Sima semakin terlihat jelas, raut wajahnya yang murung seketika berubah dengan penuh kerutan terutama di keningnya. Tanda ia sangat marah akan kedekatan Dendi dengan gadis yang tidak pernah Sima ketahui sebelumnya.


Namun,


“Apa aku berhak cemburu?” Inilah yang menjadi satu pertanyaan, mustahil untuk dijawab hingga saat ini.


Sima akui, bahwa perasaannya murni. Jatuh cinta pada seorang pria untuk yang kedua kalinya. Tetapi, hubungan di antara mereka tak lebih dari hanya sekadar kenalan saja.


“S*al! Benar-benar menjengkelkan!” Sima memaki dengan mengepalkan kedua tangannya erat.


Karena ia akan kehilangan kendali, bergegas Sima pergi ke halaman belakang dengan memutari jalan. Beruntung di halaman belakang itu sangat sepi bahkan tidak ada orang yang melintas, ia menggunakan waktu sekaligus meredam amarahnya dengan menghisap sebatang rokok.


Sembari berucap, “Hari ini, cuacanya indah sekali ya!” Yang sebenarnya sedang melampiaskan emosi.


“Ya, Mbak Sima.”


Mata Sima terbelalak seketika, begitu mendengar suara yang sama untuk yang kedua kalinya dalam sehari. Tentu saja ialah orang yang sama pula, Dendi.


'Sejak kapan dia ke sini?' batin Sima bertanya-tanya.


Dendi mengulas senyum di hadapan Sima, tak hanya menjawab apa yang diutarakan oleh Sima, pun ia juga memanggil namanya. Padahal saat itu Sima sedang dalam penyamaran.


“Mbak Sima, di tempat ini, kita tidak diperbolehkan untuk merokok,” ujar Dendi seraya merebut benda kebahagiaan Sima.


Saking ia terkejutnya dengan keberadaan Dendi serta panggilan yang biasa diucapkan oleh Dendi kepadanya, Sima sama sekali tidak bisa berkata apa-apa. Menjawab sepatah kata pun adalah hal tersulit baginya.


“Den—”

__ADS_1


Selain mengambil paksa kesayangan Sima, Dendi bahkan mengambil kesempatan untuk mencuri perhatian lebihnya dengan mengecup ranum bibir yang tidak terpoles oleh riasan sedikitpun.


__ADS_2