
“Ayo pergi, Dendi.” Dengan suaranya yang lembut, Sima menggandeng Dendi dan membawanya pergi menjauh dari Seri.
“Tunggu! Bagaimana denganku?! Hei!!”
Pada akhirnya Seri ditinggal pergi oleh mereka berdua. Ia merasa kacau karena sekarang ia hanya sendirian, berjalan cepat pun pasti akan membuatnya semakin resah saja.
“Semoga saja aku masih selamat. Tapi, aku tidak yakin.”
Akhirnya ia melangkah keluar dari hotel, dan tibalah perasaan tak nyaman karena seseorang mengikutinya dari belakang. Awalnya, langkah Seri sangat pelan lalu kemudian mempercepatnya sedikit demi sedikit dan orang itu pun masih mengikutinya dengan jelas.
Seri ingin sekali berteriak tapi mulutnya terasa seperti ada yang menahannya, sekarang kedua kakinya mulai gemetaran. Ia sangat ragu apakah ia harus pulang?
“Kalau begini tidak ada bedanya. Nanti kalau dia semakin marah bagaimana? Aku takut, seseorang, siapa pun. Tolong.”
Yang kemudian Seri berhenti melangkah. Entah ada apa dengannya hari ini, karena biasanya Seri akan selalu memutari jalan lalu pulang, tapi sekarang tidak, karena kakinya sudah tidak kuat lagi.
Ada banyak orang di sini tapi ia tak kuasa untuk meminta tolong karena khawatir jika penolongnya akan dipukuli oleh orang itu.
“Nggak! Kenapa aku harus ragu! Aku harus melawannya!”
Ia kemudian teringat dengan perkataan Dendi, yang saat itu tengah asik berkencan di taman hiburan. Menaiki wahana tinggi bukanlah suatu kebiasaan Seri, tapi saat itu Dendi berkata,
"Tidak ada yang tahu sebelum mencoba. Lawan rasa takut itu dengan sebuah keyakinan, barulah keberanian itu akan muncul dengan sendirinya!" Begitu katanya, dan kata-kata itu akhirnya sampai dari hati lantas Seri memutar otaknya.
“Benar! Lawan rasa takutmu!” Seri setengah berteriak sembari berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang.
“Aku tidak takut, dan akan melawan rasa takut itu. Jika dia berani mengancamku, maka aku harus menemukan senjataku sendiri!” ujarnya menyemangati diri sendiri.
Kemudian ekor mata Seri berputar-putar guna mencari senjata miliknya sendiri. Dan kemudian ia teringat satu benda yang tajam di dalam tasnya sekarang.
“Yang tajam ...aku hanya punya jarum. Tapi tidak masalah! Toh ini senjataku!”
Ia menemukan senjatanya sendiri, tapi itu hanya jarum. Apakah bisa? Meski tajam namun tipis dan mudah dipatahkan hanya dalam sekejap oleh tangan manusia.
Sesaat sebelum ia beraksi, Seri kembali berhenti melangkah. Lalu menarik-buang napas selama beberapa kali. Kemudian berbalik badan.
Sembari berteriak, “AYO! LAWAN AKU!” jeritnya keras dengan mengacungkan ujung jarum dan memejamkan mata.
__ADS_1
Tapi, tidak ada respon atau sesuatu. Biasanya, orang yang adalah mantan pacar Seri akan bertindak tegas apabila Seri melawan. Namun sekarang tidak ada tanda-tanda bahwa orang itu akan keluar dari persembunyian.
Mendengar suaranya saja tidak, lantas Seri membuka kedua matanya secara perlahan.
“Eh?”
Hanya ada orang berlalu-lalang, tiada kehadiran yang hanya terfokus kepadanya. Sesaat Seri diam dalam kebingungan.
Hal itu terjadi karena penguntit sudah berhasil ditangkap dan diseret pergi oleh bawahannya yang junior.
“Bos Sima, saya sudah menangkap stalker itu dan sekarang berada di dalam bagasi mobil.” Nata memberikan laporannya.
[“Oh, kerjamu bagus juga, cowok imut. Sekarang kau sedang mengendarai mobil?”] Sima melalui telepon bertanya.
“Ya. Ingin diapakan bos?”
[“Jika dia tidak bisa berenang, tenggelamkan dia ke laut lepas. Jika bisa, maka bakar dia di tempat pembakaran sampah. Mengerti?”]
“Baik, Bos Sima!”
Perintah yang amat sadis telah turun dari mulut Sima. Saat itu Sima masih bersama dengan Dendi, dan Dendi mendengar pembicaraan itu.
“Mbak?”
“Apa tadi aku salah dengar kalau Mbak mengatakan ..em, hal yang mengerikan?” tanya Dendi dengan ragu.
“Oh, jangan bilang kalau kamu berpikir aku mengatakan hal mengerikan itu untuk seseorang? Aku tidak sejahat itu kok, Dendi,” jawab Sima berbohong dengan baik.
“Eh, lalu apa?” tanyanya penasaran.
“Ular. Ular ini mengerikan, dia hampir sebesar anaconda,” kata Sima yang semakin giat berbohong.
“Oh, begitu! Pantas saja pilihannya hanya dibuang ke laut atau dibakar di tempat pembakaran, ternyata begitu ya? Hm, hm,” ucap Dendi kembali sumringah. Perasaannya menjadi sangat lega setelah mendengar jawaban Sima yang ternyata tak sesuai dugaan Dendi.
“Ya, terkadang ada banyak ular atau hewan buas lainnya (manusia) yang harus dibasmi agar kota bersih. Suatu saat pun aku akan menusuk jantung kota (aku) pusat dari biang keladi para hewan buas itu,” ungkap Sima lugas.
“Menusuk itu kata-kata yang mengerikan Mbak,” kata Dendi.
__ADS_1
“Tapi itu kata-kata yang pas bukan?”
Hanya dengan mengubah alias-alias itu, sudah jelas tujuan Sima takkan berubah selama kejahatan itu ada. Bahkan jika kelompok, mafia seperti Sima ini sudah lenyap di muka bumi pun pasti akan ada kejahatan yang lahir nantinya.
Itulah kehidupan, yang tiada akhir maupun awal yang takkan pernah diketahui oleh siapa pun. Artinya, bertaruh nyawa tuk melindungi masa depan.
“Dendi, impianmu apakah hanya sebatas menjadi koki dan kuliah saja?” Tiba-tiba saja Sima menyinggung hal ini kembali.
Secara tak sengaja membuat Dendi teringat kenangan manis dan hangatnya bersama sang Ibu. Juga rasa rindu yang amat dalam.
“Awalnya begitu, tapi sepertinya akan menambah lagi.”
“Hm, apa itu?”
“Entah kenapa aku merasa nyaman bersama Mbak Sima. Setiap waktu pasti Mbak Sima selalu datang menolongku, aku sangat menghargainya tapi aku berpikir bahwa balas budi saja tidak cukup,” pikir Dendi.
“Itu sudah lebih dari cukup untukku, Dendi. Kamu tidak perlu membalas orang sepertiku.” Kata-kata Sima menyiratkan bahwa ia adalah orang jahat yang tak sepatutnya mendapat belas kasih atau kebaikan yang ada di dalam diri Dendi.
“Harus! Dan aku merasa ini seperti jatuh cinta!” seru Dendi yang kemudian ia berjalan sedikit lebih cepat dari Sima, lalu berdiri di hadapannya.
“Mbak Sima, katakan, apakah aku harus membalas seluruh kebaikan Mbak dengan perasaan ini? Seluruh jiwa dan ragaku!” tutur Dendi.
Tap!
Langkah terakhir telah berhadapan begitu dekat dengan Dendi, pria yang membuatnya jatuh hati untuk yang kedua kalinya. Pria yang membuatnya terus berharap bahwa cinta tak berlogika itu ada.
“Mbak?”
Sejak tadi apa yang ada dipikirkan oleh Sima? Jatuh cinta tidaklah semudah membalikkan tangan. Tapi hati mana bisa berbohong.
“Jangan mengatakan itu padaku!” teriak Sima yang kemudian duduk berjongkok seraya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Mata berbinar-binar itu, senyuman lebar yang tulus, wajah yang mudah dikenali, bola matanya yang sedikit besar karena selalu berwajah ceria setiap saat. Dan tahi lalat yang menghiasinya, seolah pria ini bukanlah manusia melainkan,
“Malaikat!”
Apalah daya bagi Sima, ia jatuh cinta dan pernah dikhianati sekali oleh seseorang. Sima berpikir, mungkin inilah balasannya karena tangan Sima dibiarkan kotor sejak lahir.
__ADS_1
Tapi, kini ia jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Dan harapan pun semakin membesar, keinginannya untuk hidup sebagai orang biasa yang mengalami suka duka, mungkin saja akan terwujud bersama Dendi.