Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
011. Khawatir = Perasaan yang Membelenggu


__ADS_3

Walau Sima memang tidak peka, tapi hatinya memang terbuat dari batu. Mengasihi orang lain juga sering melanda hatinya, namun batu yang dimaksud adalah ia tak mempan dipermalukan seperti itu. Terlalu kebal, layaknya seorang bos mafia yang tak mudah goyah.


***


Di Toko Kue Sima. Dendi datang lebih awal dan nampaknya masih sepi. Tak ada pelanggan satu pun, yang ada hanyalah para karyawan di sana.


“Kak Dendi datang? Harusnya tidak perlu, lagipula pesanannya juga masih belum terlambat.”


“Oh, tapi jadwal kerjaku di tempat lain itu jam 10. Jadi kupikir aku ke sini dulu,” pikir Dendi.


Salah seorang karyawati lainnya pun menyadari keberadaan Dendi. Segera ia menghampiri mereka dan memotong pembicaraannya.


“Hei, kak! Aku ingin tanya sebentar, apa boleh?” tanyanya dengan wajah sumringah.


“Ya, boleh saja.”


“Tia, apa yang kamu ingin tanyakan pada Dendi. Jangan bilang—”


“Eits, kak. Di sini yang butuh jawaban aku,” sahut Tia kembali memotong ucapannya.


Kening Manda berkernyit. Berwaspada tingkat tinggi dan mulai penasaran apa yang hendak ditanyakan Tia pada Dendi.


“Yah, cuman pertanyaan sederhana saja, sih. Intinya apa kakak sedang senggang? Maksudku nggak lagi jaga hati, iya 'kan?”


Dan muncul sudah rasa khawatir Manda terhadap Tia. Dengan jelas ia tanya apakah Dendi sudah punya pacar atau belum, memang secara tak langsung tapi sepertinya Dendi juga mengerti.


Dendi menggelengkan kepala. “Sama sekali nggak.”


“Oh, lalu bagaimana perasaan kak Dendi dengan Nyonya?” tanya Tia semakin semangat.


“Nyonya ...yang kamu maksud itu Mbak Sima? Hm, kalau itu ...” Nampak ia ragu untuk mengatakannya. Tia dan Manda tengah berharap sesuatu bahwa mungkin memang benar ada hubungan istimewa.


“Hanya kenalan saja. Aku sempat bertemu dengannya beberapa kali sebelum ikut kerja di sini.”


Ternyata tidak. Sama sekali ia tak merasa bahwa hatinya kepincut oleh Nyonya Sima itu. Dendi bahkan hanya menyebutnya sebagai kenalan saja, tidak lebih tidak kurang.


Seketika Tia menghela napas tak lega. Tubuh mereka serasa lemas, harapan pun sirna dalam satu kedipan mata.

__ADS_1


“Apa sih, yang kupikirkan. Bisa-bisanya pria ini ada rasa?” gerutu Tia kecewa.


“Loh, kupikir kamu lagi naksir dia,” pikir Manda padanya.


“Ya, ampun kak. Kak Dendi bukan tipeku sama sekali tahu,” bisik Tia.


Sesaat Manda melirik ke arah Dendi lalu berbisik sesuatu pada Tia yang kemudian pergi dari sana.


“Apa kak Dendi belum pernah pacaran?” tanya Manda. Lantas Dendi menggelengkan kepala lagi.


“Setiap orang, entah wanita atau laki-laki pasti memiliki hati yang tertarik dengan lawan jenis. Bukan hanya sekadar sebagai kenalan atau teman melainkan berharap pada orang itu untuk menjalin hubungan yang lebih dalam, semisal pacar atau suaminya dan sebaliknya.”


Tiba-tiba mengatakan hal itu, Dendi kurang lebih mengerti namun di satu sisi masih tak mengerti kenapa Manda menjelaskannya begitu detail.


”Ada seorang wanita yang tertarik padamu. Dia wanita baik, tolong jangan sia-siakan dia dan tolong pekalah. Respon semua tindakannya,” imbuh Manda.


“Wanita? Tapi siapa?”


“Ah, sudahlah. Nanti kamu tahu sendiri,” kata Manda sambil mengusirnya keluar.


Hari itu, cuaca sungguh cerah. Terik matahari tidak terlalu panas tapi mungkin nanti akan berubah seiring berjalannya waktu. Dendi yang tidak dibutuhkan untuk sementara waktu di toko kue itu, lantaran ia pun pergi ke kafe Dadi Muncul.


“Seperti biasa, kau populer Den.” Senior memuji.


Dendi tersenyum tipis lalu berkata, “Kenapa bisa? Bukankah itu karena kopi buatan senior yang enak?” celetuk Dendi. Seolah ia tak mengetahui kepopulerannya, nampak ia berpura-pura tidak tahu tentang hal itu.


“Aku turut berduka cita atas kematian Ibumu, Den. Maaf nggak bisa ikut melayat hari itu,” tuturnya mengubah topik pembicaraan.


“Nggak masalah. Aku sudah cukup baik untuk kembali bekerja saat ini. Yang kemarin


...maaf aku terlambat, senior.”


“Bukan salahmu juga. Tapi aku maklumi karena manajer juga sudah mengampuni, haha.”


Kafe Dadi Muncul jadi penuh oleh para wanita. Dendi tidak peduli dengan hal itu kecuali melayani pelanggan seperti biasa. Banyak dari mereka yang mengajaknya berbincang, tapi Dendi selalu menjawab singkat.


Dendi memang tidak terlalu tampan, namun pesonanya itu yang menyebar ke kaum hawa. Potongan rambut yang sedikit panjang dikuncir, ditambah dengan pakaian pelayan yang sangat cocok untuknya ketimbang celemek.

__ADS_1


Benar-benar fan service untuk mereka. Secara tak sadar pendapatan kafe Dadi Muncul jadi naik berkali-kali lipat.


Namun tak lama setelah itu, ketika Dendi hendak menulis pesanan dari salah satu pelanggan, ia melihat sekaligus mendengar berita yang sepertinya menjadi topik hangat saat ini.


Bahkan di sekitarnya juga menyetel berita yang sama. Dendi yang penasaran pun, berupaya untuk mengintip apa berita yang sedang mereka lihat saat ini dan ternyata, kejadian tempo hari.


Dimana saat Sima dan dua pasangan yang bertengkar. Sima tertuduh sebagai selingkuhan yang memaksa kehendaknya sendiri.


Dendi jadi berpikir yang tidak-tidak. Mengenai kejadian itu, kalau Sima melihatnya pasti akan tertekan. Kebiasaan para wanita yang ketika harga dirinya hancur diinjak-injak pasti Sima mengurung diri di dalam kamarnya.


Itulah yang Dendi pikirkan.


“Senior, aku ijin pergi keluar sebentar.”


“Hei, kamu mau ke mana lagi?!”


“Hanya sebentar!” Dendi kemudian berlari pergi.


***


Dendi mencemaskan keadaan Sima namun dirinya tidak tahu di mana tempat tinggal Sima. Terbesit dalam benaknya, Sima mungkin ada di toko kuenya saat ini.


Drap! Drap!


Keringat bercururan deras seiring ia berlari semakin cepat. Namun setelah sampai, ia berhenti mendadak. Tampak dari belakang sosok punggung wanita yang ia kenal dengan rambut hitam yang panjang.


Ialah Sima. Sima tengah berdiri di depan toko kue, ia sedang membeli sesuatu dari pedagang keliling. Dendi berkedip-kedip seolah tak percaya dengan yang barusan ia lihat.


“Mbak Sima beneran nggak apa-apa?” Hendak ia bertanya langsung pada Sima begini namun ucapannya tertahan begitu senyum Sima sekali lagi tersungging sambil menerima makanan yang dibeli.


Seketika perasaan Dendi menjadi lega. Hanya berjalan puluhan langkah dari posisi Sima berdiri, melihat ia tak sedang terpuruk membuat kecemasan itu lenyap dalam sekejap.


Apa yang tiba-tiba Dendi rasakan ini. Sesaat teringat dengan ucapan salah seorang karyawati yang bekerja di toko kue. Bertanya, apakah Dendi memiliki perasaan tertentu pada Sima?


Awalnya Dendi bilang tidak ada apa-apa. Namun sekarang bagaimana? Jantungnya berdegup kencang, entah karena dia sempat berlarian atau mungkin karena hal lain. Tapi yang pasti, perasaan ini masih menjadi misteri untuknya.


“Ya sudah deh. Aku kembali saja, aku yakin Mbak Sima itu orang yang kuat,” gumam Dendi, berbalik badan dan pergi.

__ADS_1


“Oh, hai! Dendi!” panggil Sima. Sima menyadari keberadaan Dendi dari kejauhan, ia melambaikan tangan dan menyuruhnya untuk datang kemari.


__ADS_2