Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
006. Kecaman = Pengakuan Palsu


__ADS_3

Keluarga Papuana menghasilkan banyak kesuksesan, entah itu toko, pabrik dan sebuah perusahaan. Tidak terlalu kenal namun sebagian orang pernah mendengarnya terutama orang-orang di Blok D.


Sudah lama sekali Sima tak mampir ke toko kuenya sendiri. Hari ini ia akhirnya datang demi menunggu kedatangan Dendi.


Toko kue yang tidak terlalu besar namun segala hal yang ada di dalam nampak mewah. Mulai dari dinding bercat merah muda, beberapa orang yang sedang mencicip kue di dalam pun dihadiahi souvenir lucu.


Benar-benar tidak seperti karakter Sima yang asli. Seolah berkedok, nyatanya Sima benar-benar menjalani toko kue ini dengan serius.


“Nyonya! Nyonya jarang sekali datang, ada apa kemari, ya?”


Karena memang sangat jarang, sehingga karyawannya pun bertanya secara terang-terangan. Merasa tak berbuat salah, ia jadi bingung kenapa tumben sekali pemilik toko datang.


“Tenang, Manda. Aku hanya datang kemari sebentar. Aku sudah mempercayakan toko ini padamu, dan maaf aku jarang kemari karena beberapa kesibukan ...uhuk,” tutur Sima lantas batuk di akhir.


Belum ada 5 menit, seraya Sima melayani para pelanggan yang berdatangan. Mantan pacar, Adrian datang dengan emosi yang mengebu-ngebu.


Brak! Adrian mendorong pintu kaca dengan kasar. Menghampiri Sima lalu mengomelinya.


“Gara-gara kau, semuanya jadi hancur! Tunanganku meninggalkan diriku, puas?!” amuk Adrian. Seketika fokus mereka terpecah pada satu orang ini.


“Apa maksudmu adalah surat pemecatan? Lagipula kau dipecat bukan karena aku yang meminta mereka melainkan kau sendiri yang bekerja tidak becus. Kau pikir aku tidak tahu?” sahut Sima menegaskan.


“Apa?!” Adrian masih marah, tapi tak sepatah kata ia lontarkan lagi sebab tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Sima.


Sima menahan tawa, ia lantas meninggalkan Adrian. Hendak keluar dari toko, agar suasana tak lagi canggung. Namun, Adrian yang masih belum cukup puas memarahinya pun segera menghampiri Sima kembali.


“Kau ingin pergi ke mana?! Aku belum selesai bicara! Tolong jangan pecat aku, bagaimana aku bisa menghidupi diriku sendiri nanti! Hei!”


“Apa? Tolong? Kau harusnya bisa bekerja di manapun asalkan kau dapat melakukannya dengan baik dan benar. Lagipula aku tidak ada urusan dengan kantormu, aku sama sekali tidak ada hubungannya apalagi denganmu,” ketus Sima menatap tajam.


“Kita sudah putus hubungan, benar?” imbuh Sima. Menegaskan kembali bahwa tak ada hubungan di antara mereka berdua lagi.


“Ck, dasar wanita j*lang!” Adrian berdecak kesal, melontarkan kata-kata kasar pada Sima seorang.

__ADS_1


Para karyawan di sana hanya terdiam sejenak, karena tahu kalau pemilik toko tidak suka ada orang lain yang ikut campur.


“Kau-lah yang mengkhianatiku, untuk apa aku berbelas kasih?!”


Namun, karena mereka saling adu mulut. Nampak Adrian tidak bisa lagi menahan amarah, emosi telah menguasi separuh harga dirinya.


Ia lantas mendorong Sima dengan kasar. Beberapa kata berupa caci-makian terdengar begitu keras sampai orang-orang melongo dengan dahi berkenyit.


“Apakah selama ini cintamu padaku hanya omong kosong belaka? Kau membuatku dipecat hanya karena aku memutuskan hubungan kita? Hah!” amuk Adrian sambil menunjuk-nunjuk pada Sima.


Sima jatuh tersungkur, darahnya mengalir dari kepalanya yang membentur pintu kaca. Sesaat pandangan Sima memburam. Berbayang-bayang, bahkan pendengarannya sedikit tersumbat.


“Nyonya!” Lantas terkejut, salah seorang karyawan tetap menghampiri Sima dan membantunya berdiri.


“Tidak apa, Manda,” lirih Sima seraya memengangi kepalanya yang terluka.


“Sima?! Kau terluka!”


Adrian baru sadar? Sudah lewat beberapa menit yang lalu setelah ia mendorong tubuh Sima dari belakang. Membuat Sima tak seimbang lalu jatuh dengan kepala yang membentur pintu kaca.


“Aku minta maaf, aku tak bermaksud memperlakukan dirimu seperti ini. Sima!”


Apa itu benar?


“Sudah cukup Adrian. Aku memang membuatmu dipecat, karena sebelum ini aku mempertahankan posisimu di sana karena berharap kau berubah selama menjadi pacarku. Tapi karena hubungan kita sudah berakhir, tak ada alasan bagiku mempertahankan karyawan di perusahaan X yang tak becus seperti dirimu!”


Kalimat Sima membuat Adrian semakin tercengang. Adrian tak sedikit pun mengintrospeksi diri bahwa ia sesungguhnya sudah salah.


“Kau ...masih saja! Padahal aku mengkhawatirkanmu yang terluka tapi kau mengungkit masalah itu lagi?”


“Aku tak peduli denganmu lagi, Adrian!” ketus Sima menatap tajam. Sorot mata yang sama seperti saat hewan buas hendak menerkam sang mangsa.


Brak! Sekali lagi, Adrian mendorongnya ke pintu kaca. Menekan bagian pundak Sima dengan kuat, emosi Adrian semakin melunjak.

__ADS_1


“Mas, tolong jangan buat keributan di sini! Lalu, Nyonya pasti merasa kesakitan, tolong lepaskan!”


“Kau pikir kau bijak? Salahmu yang tak pernah memberiku waktu barangkali sedikit saja,” cerocos Adrian tak mendengar apa yang dikatakan Manda sebagai karyawan di sana.


“Kita tak perlu menyangkut pautkan masa lalu. Putus hubungan sudah berarti kita tak perlu saling berhadapan apalagi mencaci,” tutur Sima seraya ia melepas genggaman Adrian.


Seorang pria dengan pakaian sedikit formal. Datang dan melihat kegaduhan yang terjadi di balik pintu kaca. Dendi.


Merasa ada yang salah, Dendi pun menghampiri mereka lantas menangkap tangan kanan yang nyaris melayang ke wajah Sima.


“Jangan sakiti wanita seperti ini, Mas. Lalu jangan buat keributan lebih lanjut seperti saat di kafe,” sahut Dendi. Seketika membuat semua orang terkejut.


Pria lain datang dan seolah melindungi Sima dari pejantan berkarat. Seketika terpukau dan merasa drama akan terus berlanjut.


“Ya, ampun. Dia datang saat aku kacau begini.”


Sima sama kagetnya. Ia buru-buru merapikan penampilan secepatnya namun bagian yang terluka, darahnya tidak mau berhenti mengalir. Ia rasa ini karena benturan yang keras, kalau saja Sima dapat menyeimbangkan tubuh maka ini takkan terjadi.


“Saking lelahnya, atau mungkin aku melemah di hadapan mantan sendiri, ya.”


“Kamu pula siapa!? Jangan bilang kamu ini pacar barunya, Sima ya?”


“Apa maksudmu kami berpacaran. Lagipula aku hanya melindungi seseorang yang sedang membutuhkan bantuan. Apa itu salah?”


Barusan, kalimat yang diutarakan mirip dengan apa yang pernah Sima katakan pada Dendi. Terkejut sekaligus haru, Dendi melindungi Sima untuk yang kedua kalinya. Bukan karena Sima adalah orang yang ia kenali, melainkan karena memang ia merasa harus menolong seseorang itu.


Orang lemah seperti Dendi, berniat melindungi seseorang. Sungguh bodoh.


“Hah?! Kau banyak omong! Sok jadi pahla–”


“Berisik!” pekik Sima memotong kalimat Adrian. Sembari menggebrak pintu kaca hingga toko ini terasa bergetar.


Dengan menekan luka di kepalanya. Sima lantas menggandeng lengan Dendi, ia menempel begitu lekat seraya melotot ke arah Adrian yang berwajah pucat pasi.

__ADS_1


“Ya! Dia pacarku!”


Tak hanya semua orang membelalakkan mata tak percaya, bahkan salah satu pintu kaca yang remuk akibat tinju Sima pun ambruk seolah kaget.


__ADS_2