Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
037. Pengakuan Tentang Seri = Bantuan


__ADS_3

Sungguh sebuah keberuntungan yang didapat cuma-cuma, berbagai ekspetasi yang kemarin hanya bisa melayang-layang di atas kepala kini sepenuhnya terwujud hanya dalam sekejap, itupun Sima dapatkan karena terjadi pemadaman listrik di hotel ini.


“Aku ...sangat ...beruntung.” Dengan mata berbinar-binar, ucapannya yang sedikit tergagap juga gugup membuat Dendi penasaran dengan Sima.


“Apa yang terjadi, Mbak? Apa Mbak nggak apa-apa?” Ia bertanya karena khawatir akan sesuatu.


“Tidak, tidak ada apa-apa.” Sima menggelengkan kepala.


“Dendi!! Dendi!!!” Namun dalam waktu singkat pula seseorang akan datang menganggu momen mereka berdua. Terdengar suara perempuan yang berteriak memanggil Dendi.


“Oh, itu Mbak Seri.” Karena Dendi mengenalnya, bergegas Sima membungkam mulut Dendi lalu menggelengkan kepala, bermaksud agar Dendi cukup terdiam saja di sini.


“Ada apa Mbak?”


“Sekarang, jelaskan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi padamu dan wanita asing itu?” tanya Sima.


Kali ini Sima berwajah serius, ia berharap mendapatkan jawaban bagus dari Dendi yang bukan alasan dangkal atau semacamnya. Juga berharap bahwa Dendi bukanlah lelaki yang suka bermain-main.


“Maksud Mbak? Tentang aku yang bersama dengan Mbak Seri? Wah, Mbak tahu itu. Jangan bilang selama ini—”


“Ssst, terserah kamu mau berkata apa. Hanya saja aku tidak rela melihatmu dipermainkan oleh wanita asing yang mungkin saja dia adalah wanita penghibur,” ucap Sima menegaskan.


“Ba-baiklah, Mbak Sima. Karena sepertinya Mbak sangat mengkhawatirkanku, maka aku akan menjawabnya.”


Dendi mulai bercerita, tanpa sekalipun menjawab panggilan Seri yang sejak tadi terdengar di lantai ini. Bukan berarti Dendi tidak peduli, lantas Sima sendiri yang menyuruh Dendi agar tidak menanggapi panggilannya.


“Awalnya, aku hanya ingin pulang saja tapi kemudian Mbak Seri datang dan memperkenalkan dirinya ...,”


Situasi itu berlanjut sampai beberapa menit ke depan.


Dendi menceritakan pertemuannya dengan wanita yang bernama Seri. Wanita itu mungkin terlihat seperti wanita penggoda atau penghibur, tapi coba tebak apa yang ia minta pada Dendi?


“Dia berkata bahwa mantan pacarnya akan datang setiap malam untuk memaksanya berhubungan badan jika tidak mau menjadi pacarnya kembali. Juga terkadang Mbak Seri disiksa, bahkan ada beberapa luka sayatan atau lebam di bagian kaki atau tangannya.”


Begitulah Dendi menjelaskannya secara rinci tanpa membuat kebohongan setitik pun. Ia mengatakannya sebagaimana itulah kejadian yang sebenar-benarnya terjadi.

__ADS_1


“Mbak Seri juga kerap kali dibuntuti, makanya itu dia datang padaku dan meminta pertolongan.”


"Tolong kencanlah denganku sekali ini saja." Itulah yang dikatakan Seri pada Dendi.


Karena sering dibuntuti, Seri jadi merasa tidak nyaman. Terlebih Seri hanya hidup sendiri di apartemen. Berhubung katanya ia menerima undangan pesta di aula hotel lantai 10, ia sekalian mengajak Dendi. Dengan harapan agar mantan pacar Seri yang pemaksa itu tidak lagi datang membuntutinya ataupun memaksanya di luar kehendak Seri sendiri.


“Oh, ternyata begitu. Itu tragis sekali. Apa kamu sangat mengkhawatirkannya Dendi?” tanya Sima merasa pilu setelah mendengar cerita tersebut.


Dengan suara yang masih sangat pelan atau lirih, Dendi berkata, “Aku sangat khawatir pada wanita yang lemah seperti itu. Dia membutuhkan pertolongan, apa kita harus menghubungi polisi?” tanya Dendi.


Sembari memegang kedua tangan Dendi, yang sejujurnya Sima mengambil kesempatan lagi. Ia berkata, “Aparat di sini kebanyakan makan suap. Tenang saja, aku punya caranya, besok pagi, dia akan melakukan segala hal dengan bahagia.”


“DENDII!! DI MANA KAMU?!”


Suaranya yang keras semakin mendekat, dan langkah kakinya yang cepat pun makin terdengar keras. Tanda bahwa wanita bernama Seri itu telah mendekati Dendi dan Sima.


“Mbak Sima, sepertinya aku harus menjawab panggilannya?”


“Jangan tanyakan itu. Terserah kamu saja.” Sima tersenyum, menyerahkan segalanya pada Dendi sebab percaya dengan alasan Dendi pergi bersamanya.


“Mbak Seri, maaf tadi aku pergi dulu,” ucap Dendi.


“Syukurlah kamu tidak apa-apa. Haduh, aku pikir sesuatu yang buruk telah terjadi padamu, Dendi.”


Tak berselang lama akhirnya Seri menyadari ada wanita lain yang saat ini bersama dengan Dendi. Sontak saja ia terkejut lantas merangkul lengan Dendi dan menjauhkannya dari Sima.


“Ah, tunggu sebentar Mbak Seri! Tenang ini—”


“Apa? Ternyata benar dia ini wanita penggoda ya? Bisa-bisanya dia merangkul lengan Dendi begitu mudah?” gerutu Sima, tampaknya lupa dengan kisah sedih Seri yang barusan diceritakan.


“Mbak Sima. Nggak, bukan seperti itu, ini—”


“Oh? Jadi namanya Sima? Wanita ini pasti berniat merebut kebahagiaanku dengan memanfaatkan lampu mati saat ini ya?” cerocos Seri.


“Apa? Bukankah seharusnya aku yang bilang begitu? Dendi bukanlah mahluk yang bisa kau permainkan, dasar wanita penggoda!” teriak Sima seraya ia memposisikan dirinya berdiri sejajar dengan mereka lalu menunjuk Seri terang-terangan.

__ADS_1


“Sudah aku bilang, tunggu sebentar. Kalian berdua. Mbak Sima, Mbak Seri.”


“Wanita penggoda? Bukankah saat ini yang paling pantas disebut penggoda tak beretika adalah dirimu?” sahut Seri, membalas sindiran Sima.


Memang beginilah saat kedua wanita saling bertemu padang dengan rasa curiga satu sama lain. Bahkan omongan Dendi saja tidak pernah mereka dengarkan, situasi ini akan jadi semakin rumit apabila diteruskan, terlebih masih dalam kondisi gelap seperti ini.


Yang ada banyak orang mencibir tentang keberadaan mereka yang sangat berisik. Sampai didatangi oleh petugas keamanan yang takut apabila salah satu dari mereka terjebak sesuatu.


“Apa ada masalah terjadi?” tanya petugas keamanan.


“Tidak pak. Ini hanya masalah pribadi. Saya akan membuat mereka berdua tenang,” jawab Dendi sambil tersenyum sepat.


Sementara dua wanita ini masih bertengkar dan keduanya pun saling menyalahpahami akan sesuatu.


“Tenanglah kalian berdua!” Meski begitu, Dendi tetap berusaha untuk menenangkan keduanya.


“Mbak Seri dan Mbak Sima! Kalian berdua salah paham! Pertama, Mbak Sima!” Dendi sedikit berteriak agar Sima mau mendengarkannya bicara.


“Sudah aku bilang sebelumnya kalau Mbak Seri dan aku terpaksa begini karena sesuatu bukan? Jadi tolong, jangan marah kepadanya. Dia tidak berbuat macam-macam padaku juga,” terang Dendi.


“Lalu, Mbak Seri!” Kemudian ia memanggil Seri.


“Mbak Sima, perempuan ini adalah kenalanku. Dia tahu semua cerita Mbak Seri, sebelumnya maaf karena memberitahukan hal ini pada orang lain tapi dia akan membantumu, Mbak.”


Barulah keduanya terdiam, mereka berdua yang masih saling bertukar pandang itu pun lantas sejenak berpikir lebih dalam mengenai maksud Dendi yang barusan diutarakan.


“Hm, begitu?”


“Dendi, harusnya kamu tidak perlu memberitahukan hal itu!”


“Maafkan aku Mbak. Karena aku yakin Mbak Sima bisa mengatasi masalah ini,” ucap Dendi yang menaruh rasa percaya sepenuhnya pad Sima.


“Tapi polisi juga 'kan ...bisa,” kata Seri merengut kesal.


“Tapi kata Mbak Sima, polisi itu makan suap,” bisiknya langsung pada telinga Seri.

__ADS_1


__ADS_2