Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
046. Peringatan = Kewaspadaan


__ADS_3

“Kakak, orang yang baik ya? Aku senang,” imbuhnya.


Deg!


Sima jadi tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengarnya. Untuk sesaat ia merasa tersentuh namun juga teringat dengan segala tindakan kotornya.


“Katamu, kamu tidak membutuhkan keluarga lainnya selain kedua orang tuamu sendiri bukan? Lalu kenapa kalian menerima ajakan Dendi?” tanya Sima tanpa menunjukkan wajah masamnya.


“Itu karena kakak orang baik. Termasuk kakak Sima juga,” katanya.


Adik lelakinya pun ikut mendengarnya lalu memeluk Sima sebagaimana ia mengekspresikan bahwa ia sangat senang atau menyukai Sima sembari tersenyum.


“Tidak, kalian berdua salah.”


Usai anak perempuan itu membasuh dirinya dengan kesegaran murni, keluar dari kamar mandi, ia menunjukkan ekspresi murung seolah-olah merasa tak senang karena berpikir bahwa Sima tak menerimanya.


“Aku tidak sebaik yang kalian pikirkan,” ungkap Sima seraya mengelus pucuk kepala adik lelakinya.


Ia berharap setidaknya sikap baik itu memang ada namun apa daya bagi Sima yang sudah masuk ke lubang lumpur berdarah, takkan bisa keluar dipaksa atau tidak pun hasilnya akan sama saja.


“Yang kotor tetaplah kotor. Dari luar aku terlihat judes, bukan? Karena itulah anggap saja bahwa aku orang jahat.”


“Karena memang aku orang yang seperti itu,” guman Sima lirih.


“Apa yang kakak bicarakan? Justru kami merasa bahwa kakak sama baiknya dengan kakak Dendi. Berbeda dengan orang dewasa dan kikir lainnya yang hanya bisa menyuruh kami untuk mati saja!” sahut si kakak perempuan itu meninggikan suara, lantas berlari menghampiri Sima dengan telapak kaki yang masih basah.


“Kalian sampai segitunya? Aku mengakui ini hanya di depan kalian saja loh, setidaknya sebelum terlambat. Jangan pernah sekalipun percaya padaku, cukup percaya pada Dendi saja,” ucap Sima.


Ia merasa enggan. Jujur hati kecilnya tak ingin mengatakan bahwa sebenarnya Sima bukanlah orang jahat seperti kebanyakan orang.


"Aku adalah orang yang baik." Sima ingin mengatakan hal tersebut tapi tahu bahwa itu menyangkal kepribadian dan segala tindakan kotornya di belakang mereka, itulah mengapa mulut Sima bisa menahannya.


“Terserah apa yang kakak katakan! Pokoknya aku hanya ingin berpikir bahwa kakak itu orang baik! Titik!!” teriaknya begitu keras hingga membuat kedua telinga Sima pekak.

__ADS_1


“Ya ampun, keras kepala. Tapi kuperingatkan ya, jika ada yang orang jahat yang bertanya tentangku, kalian harus jawab bahwa kalian tidak mengenalku, mengerti?” ujar Sima seraya menutup kedua telinganya.


“Apa? Kenapa? Biar aku beri tahu saja, termasuk kakak ini orang baik jadi semua orang tidak akan salah paham dengan sifat judes kakak!” teriaknya lagi sembari berkacak pinggang.


“Keras kepala! Anak sepertimu memang bandel begini ya? Ini bukan demi diriku sendiri melainkan untuk kebaikan kalian berdua, camkan itu!” tegas Sima menatapnya serius.


“Kenapa?! Kalau begitu katakan alasannya kenapa kami harus pura-pura tidak mengenal kakak jika ada yang bertanya soal kakak?” tanyanya.


“Karena ...karena ...”


Biarpun ada alasan kuat, tetap tidak bisa Sima katakan begitu saja. Ada resiko yang harus ditanggung dan anak-anak akan selalu memikirkannya ketika Sima mengatakan alasan itu.


Jika memikirkan keegoisan Sima seorang, yang berniat menyelamatkan anak-anak ini, maka ada hal yang harus dibayar. Bahkan kemungkinan besar, bayaran itu adalah orang yang telah Sima selamatkan.


Selama musuh ada, Sima seharusnya tidak terlibat dengan kekeluargaan yang kekanak-kanakan seperti ini.


“Betapa bodohnya,” gerutu Sima yang memaki diri sendiri. Ia berpaling dari anak-anak itu, menyembunyikan wajah masam yang seolah membenci semua hal yang terpampang jelas di depan mata.


Sima yang tak biasanya larut dalam emosi, kini memikirkan keselamatan anak-anak apabila mereka akan diincar selanjutnya oleh musuh Sima. Ini berita buruk, dan Sima menyesal dengan tindakan sok baiknya ini.


“Apa maksudmu kak? Aku nggak ngerti. Tolong beritahu apa maksud kakak sampai menyuruh kami—”


“Ssst.” Sima berdesis pelan seraya membungkam mulut anak perempuan yang berisik itu.


Perlahan ia berucap, “Kalian berdua cukup ikuti perkataanku saja. Karena di kota ini ada banyak orang jahat, benar?”


Anak itu berwajah gelisah, tatapan sendu terarah oleh Sima menyiratkan bahwa anak perempuan ini sedang mencemaskannya. Sungguh baik hati.


“Dengar, kapan saja kalian akan diincar jika tahu bahwa kalian berhubungan denganku. Aku juga tidak ingin Dendi diincar, tapi semua sudah terlambat.”


“Memangnya ada apa?” Sekarang, giliran adik lelakinya yang bertanya. Wajahnya yang sama persis seperti si kakak, sedang gelisah.


Namun Sima hanya bisa menjawab, “Tidak ada ...apa-apa.” Dengan suara yang sedikit bergetar.

__ADS_1


Berbincang yang terasa sebentar saja, tiba-tiba sudah siang saja. Matahari telah meninggi di atas kepala dan cuaca panas mulai terasa menyengat seakan membakar kulit semua orang di bawahnya.


Hati yang gelisah semenjak tadi mereka turut merasakannya, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Sima takkan pernah terungkap di depan anak-anak itu.


“Aku pulang. Maaf, menunggu lama.”


Akhirnya Dendi pulang, seperti menunggu suami yang baru saja selesai bekerja. Ketika memikirkan kembali yang dikatakan oleh dua anak ini tentang "seperti orang tua", entah kenapa Sima merasa itu sungguh lucu.


“Haha.” Tanpa sadar Sima tertawa.


“Sepertinya kamu terlihat tergesa-gesa, keringatmu mengalir lebih banyak, dan napasmu berat. Apa barusan kamu berlari?” tanya Sima, ia menebaknya dengan tepat sekali.


“Ya, maafkan aku. Aku khawatir jika meninggalkan mereka sendiri.”


“Apa? Maksudmu aku tidak lihai dalam menjaga mereka begitu?” Sima cemberut.


“Maaf, bukan maksudku begitu Mbak. Hanya sedikit cemas saja, apalagi anak-anak ini sangat ...berisik,” ujar Dendi.


“Ya, sangat berisik. Ngomong-ngomong aku sampai saat ini masih belum bisa menamai mereka,” kata Sima.


“Itu ...benar juga. Aku juga kebingungan sampai sekarang.”


“Ya sudahlah. Yang terpenting mereka masih asik sendiri dengan mainan yang aku buatkan dari kertas origami.”


Sima menunjuk kedua anak itu, yang tampaknya berusaha keras untuk meniru prakarya kertas origami yang barusan Sima buat. Terlihat sangat serius bahkan Dendi pulang saja sampai tidak tahu.


“Padahal sudah di depan mata, tapi aku diabaikan nih?” ujar Dendi mencoba mengalihkan perhatian mereka sejenak.


Tetapi, mereka sama sekali tak melihat ke arah Dendi. Justru menatap kertas origami dengan pandangan yang sangat serius.


“Kalau begitu, bagaimana dengan kue? Kalian sudah lapar 'kan? Daripada makan nasi, bukannya lebih enak makan kue?” Sengaja Sima mengatakannya dengan keras-keras supaya kedua anak yang sok sibuk itu mendengarnya.


“Apa? Kue?” Serentak keduanya berteriak. Tatapan berbinar-binar dan senyum tersinggung lebar menunjukkan barisan gigi. Wajah yang ceria itu sepertinya telah lama menantikan kuenya.

__ADS_1


“Lihat? Mereka sangat semangat kalau menyangkut makanan. Mari kita pergi!”


__ADS_2