Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
035. Kesempatan Dalam Kegelapan


__ADS_3

“Dendi, maafkan aku yang memaksamu seperti ini.” Wanita itu berkata seraya merangkul erat lengan Dendi.


“Ini bukan pemaksaan, Mbak Seri. Aku melakukannya karena aku ingin dan aku tidak tahan lagi,” ucap Dendi.


“Terima kasih Dendi.”


Sepasang burung terus berkicau dan tak sadar ada sosok mahluk buas di belakang mereka yang siap menerkam burung betina. Namun Sima hanya bisa menahan amarah karena tak mau jika Dendi akan melihat wajah bengisnya, jika terlihat maka pasti Dendi akan ketakutan dan tak mau lagi berbicara dengannya.


“Argh! Aku ingin sekali menjambak rambutnya itu!” amuk Sima seraya menjambak rambutnya sendiri. Geram, karena wanita itu selalu menempel dengan Dendi. Setiap berjalan bersama, makan dan bahkan berkencan di taman hiburan yang telah lama Sima dambakan agar dapat pergi bersama dengan Dendi.


Semua ini kacau hanya dalam sekejap saja, karena wanita berbisa itu.


“Awas saja kau!”


Tak sengaja berteriak, sampai suaranya terdengar oleh mereka berdua yang sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Reflek, Sima menyembunyikan dirinya di balik tong sampah. Sesaat setelah mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan, barulah Sima kembali menguntitnya.


“Tunggu, apa?”


Setelah asik-asik makan di restoran bahkan berjalan ria di taman hiburan, kini mereka justru menuju ke sebuah hotel? Mata Sima tak salah lagi, mata Sima tidak rabun atau hanya huruf-huruf yang tertukar tempatnya. Tempat yang mereka kunjungi sekarang benar-benar adalah sebuah hotel.


“Tunggu, tidak mungkin. Ini pasti karena wanita itu. Wanita itu mungkin harus ada urusan lalu Dendi akan pulang, benar begitu 'kan?” harapnya.


Tetapi, Sima benar-benar tidak percaya dengan yang ia lihat barusan. Tak hanya mendekati bahkan keduanya langsung masuk begitu saja. Pikiran Sima mulai meracau ke mana-mana dan sulit dikendalikan karena bayangan buruk terus menghantui tanpa mengenal waktu.


“Keparat!”


Karena tidak cukup puas dan sungguh membuat Sima penasaran, akan mereka yang telah masuk ke dalam hotel, Sima pun turut membuntutinya masuk.


Mereka naik lift menuju ke lantai 10, tetap Sima ikuti sampai pada akhirnya mereka tak lagi berjalan di aula yang cukup megah.


“Wah? Apa ada acara di sini?”


“Benar, Dendi. Aku mengajakmu kemari hanya untuk menunjukkan pada mantan pacarku, bahwa kamu adalah pacarku yang baru,” ucap Seri.


“Iya, mbak. Aku tahu. Ini agar Mbak Seri nggak dilukai lagi.”


Percakapan mereka hanya samar-samar terdengar karena aula yang besar serta beberapa tamu di sini sedikit menghalangi Sima.

__ADS_1


“Tapi apa nggak masalah kalau aku hanya memakai pakaian kemeja hitam saja? Mereka semua di sini terlihat sangat rapi. Aku jadi canggung,” kata Dendi yang merasa gelisah.


“Iya. Tidak apa-apa, Dendi. Kamu sudah cocok hanya dengan memakai kemeja. Pesonamu keluar dan tubuhmu oke juga. Semua orang akan terpana melihatmu,” puji Seri.


“Haha, Mbak Seri bisa saja.” Tawa Dendi sedikit terdengar oleh Sima.


Reflek, Sima berhenti bergerak tuk lebih dekat dengan mereka berdua, sebab ia tak menyangka bahwa Dendi pun bisa tertawa bersama dengan orang lain.


“Apa hanya perasaanku saja kalau mereka akan bertindak macam-macam? Ya, lagi pula Dendi 'kan tidak sebodoh itu.”


Sima merasa puas karena berpikir bahwa ada alasan tertentu sehingga Dendi mau diajak kemari dengan seorang wanita asing yang tak pernah Sima ketahui. Cepat-cepat ia menyingkirkan pikiran kotor itu, lalu berniat akan pulang.


“Dendi, kita harus ke kamar sekarang.”


“Apa?” Anehnya, yang tadi suara mereka hanya terdengar samar-samar berubah menjadi sangat jelas. “Kamar, katanya?”


Sima menolak percaya atau menolak pendengarannya yang cukup tajam ini. Ya, mungkin saja Sima salah dengar.


“Ya, Mbak.”


Tapi jawabannya Dendi sangat terdengar jelas di telinga besar Sima. Dan mulai lagi, hal-hal yang buruk kembali terlintas di benak Sima. Padahal beberapa detik sebelumnya ia sudah kembali berpikir jernih, dan sekarang pikiran buruk kembali menghantui?


Dendi dan Seri sudah masuk ke dalam lift duluan, lantai yang mereka tuju adalah lantai 15. Setelah menunggu beberapa menit, lift kembali, Sima lantas bergegas masuk ke dalam dengan wajah panik tak karuan.


Sembari ia berkomat-kamit agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Dendi, semisal dinodai atau semacamnya.


GRADAKK!


Tetapi, pemikirannya mendadak buyar dalam sekejap. Sima yang sendirian di dalam lift bingung apa yang terjadi, juga lift berhenti bergerak namun juga tidak terbuka.


“Loh? Apa yang terjadi?”


Tak berselang lama kemudian, terdengar pemberitahuan mengenai lift yang macet.


“Apa?! Bohong!”


Berulang kali Sima menekan tombol darurat dengan ocehan, amarahnya makin tersulut ibarat minyak tertuang dalam api. Kemarahannya semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


“Hei! Kalian ini punya lift yang berkualitas nggak sih?! Bisa-bisanya aku terjebak di sini, kalian ingin aku mati ya?! Hah? Cepat nyalakan kembali atau perbaiki! Atau kalian akan aku bunuh dengan tanganku sendiri!”


Sudah habis kesabaran Sima, amarah merajalela bak neraka api. Siapa pun tentu akan kesal jika harus terjebak di dalam lift. Menunggu pun harus membutuhkan kesabaran penuh, seperti halnya Sima sendiri, ia sama sekali tidak bisa sabar dan kerjaannya hanya bisa terus marah-marah.


Operator lift akhirnya kembali berbicara dan selesai memperbaikinya dari mesin yang rupanya terjadi masalah teknis sedikit. Lift pun kembali terbuka dengan pelan, dan seseorang berdiri tepat di depan mata Sima.


“Apa Mbak baik-baik saja?”


Suara dan perawakan serta wajah yang khawatir, Dendi. Ternyata pria itu adalah Dendi.


“Dendi!!” seru Sima, terharu. Ia melompat ke depan dan memeluk Dendi dengan erat.


“Huwee, aku takut, Dendi. Syukurlah kamu datang untukku. Terima kasih, Dendi. Huwaaa!” ucap Sima dengan menangis tersedu-sedu, suaranya yang rendah dan memilukan sungguh membuat Dendi merasa tak tenang.


Dengan Sima yang sudah berada dalam pelukannya, Dendi lantas menepuk-nepuk punggung Sima dengan pelan. Lalu berkata, “Ternyata Mbak Sima, tapi syukurlah Mbak baik-baik saja. Benar bukan? Nggak ada yang luka?” tanya Dendi.


Perlahan ia mendongakkan kepalanya ke atas, masih terus berurai air mata sembari menggigit bibir bawahnya lalu Sima menganggukkan kepala sekali sebagai jawaban, "Ya."


Yang berarti Sima tidak terluka.


“Syukurlah.”


Tapi ketahuilah, emosi yang ditunjukkan oleh Sima saat ini hanyalah KEBOHONGAN belaka.


'Beruntungnya aku melihat Dendi di depan mataku sendiri.' Sima membatin.


Sima pandai akting dan sekarang ia berhasil memeluk Dendi dengan kesengajaan. Bahkan berpura-pura menangis dan bilang "takut" dan lainnya.


PAT!


Usai tragedi lift terjadi, kini terjadi pemadaman listrik di hotel. Semuanya berubah menjadi gelap gulita tanpa secercah cahaya sedikit pun.


“A-apa yang terjadi?” Suara Dendi bergetar, tangannya yang memegang punggung Sima pun ikut bergetar ringan.


“Ada apa Dendi?” tanya Sima.


“Bu-bukan masalah, aku hanya ...se-sedikit takut dengan kegelapan.”

__ADS_1


Sima mengerti hanya dengan mendengar suaranya terus bergetar, kalimat yang ia ucapkan selalu terbata-bata.


“Tenangkan dirimu, Dendi.” Sima yang tahu, lekas ia memeluk Dendi kembali dan berusaha untuk menenangkan pria ini.


__ADS_2