
Segala sesuatu terhadap Dendi, benar-benar tidak bisa dipikirkan oleh Sima dengan sebaik-baiknya. Sima kerap kali kesusahan saat berinteraksi namun di sisi lain ia juga merasa bahagia walau hanya sebentar saja bersamanya.
“Dendi, apa kamu punya pacar?” Dan tanpa sadar mulut sulit dikendalikan.
“Eh?“ Dendi pun syok mendengarnya, mendengar Sima bertanya begitu.
“Mana mungkin punya. Seperti yang biasa aku katakan, Mbak. Aku lebih memilih untuk fokus menjalani kuliah sembari bekerja,” ungkap Dendi.
Benar-benar mendebarkan, setiap perkataannya dengan wajah bercahaya bagai malaikat. Entah kenapa hati Sima terasa terenggut olehnya, kepolosannya yang murni seperti anak kecil, kebaikannya yang tanpa meminta imbalan apa pun. Lalu kemandiriannya. Semua hal positif Dendi seolah ia tidak memiliki hal-hal negatif sedikitpun.
Inilah mengapa Sima kesulitan untuk berbincang dengan ringan, ia merasa tak berdaya dengan kilauan tersebut.
“Oh, Tuhan. Lindungilah aku dari cahaya bersinar ini!” ucap Sima berbalik badan.
“Mbak Sima?”
“Ya?” Sima menjawab seraya menoleh ke belakang sekaligus menyeka air mata yang sempat berlinang tadi.
“Mbak Sima nggak apa-apa?”
Ada satu hal yang menjadi pusat perhatian Sima hari ini. Secara tidak sadar, jari Sima bergerak tuk menyingkirkan rambut Dendi yang menutupi sesuatu yang berada di bawah mata kanannya.
“Aku tidak pernah melihat ini. Bahkan di profil, tidak ditunjukkan. Apa karena terlalu tipis?” gumam Sima.
“Mbak Sima?” Dendi jadi gugup tak karuan, bahkan posisinya duduk menjadi tegang karena Sima meraba bagian bawah matanya dengan ibu jari.
“Tahi lalat?”
“Eh, iya! Ini muncul tiba-tiba. Awalnya aku pikir ini hanya jerawat atau semacamnya, jadi—”
“Manis juga,” ucap Sima.
Situasi mendadak hening seketika, Sima yang barusan sadar apa yang ia katakan pun sontak memalingkan wajah karena terkejut.
'Apa yang barusan aku katakan? Pu-pujian takkan membuatnya senang, dasar bodoh!' Dalam batin, Sima memaki diri sendiri.
Tadinya berpikir bahwa Dendi takkan berpengaruh akan pujian yang tidak cocok untuk seorang lelaki, namun ternyata ia salah menduga. Begitu Sima kembali menatap Dendi, ia kembali terkejut.
__ADS_1
Mata sendu dengan bola mata berwarna hitam sedang mencoba untuk menatap ke arah samping bawah. Jadi semakin terlihat lebih jelas, setitik tahi lalat menghiasi bawah mata kanannya. Serta rona merah di wajahnya menunjukkan ekspresi Dendi yang telah lama Sima harapkan sejak awal.
“Gawat!”
Lalu, Sima pun tumbang dalam sekejap. Ia tak sadarkan diri begitu panah berbentuk hati menghujamnya dengan ganas.
“Mbak Sima!” Dendi jadi semakin syok karena Sima mendadak hilang kesadaran dan tumbang di tempat kejadian.
Dok! Dok!
Tak berselang lama kemudian, suara pintu rumah Dendi terketuk cepat. Ia bergegas membukanya untuk mengetahui siapa yang berkunjung.
“Maaf menganggu, apakah Nona Sima benar-benar ada di rumah Anda?” Yang ternyata adalah seorang lelaki berpakaian rapi serba hitam, ia tidak memiliki sehelai rambut satu pun.
“Maaf, siapa ya? Kalau boleh tahu?” tanya Dendi yang takut jika pria ini adalah orang berperilaku buruk, dan berniat macam-macam terhadap Sima.
“Sepertinya Anda sangat mencurigai diri saya. Tapi baiklah, itu adalah ciri-ciri lelaki jantan. Perkenalkan saya adalah Gura,” ucap pria itu sembari memberinya uluran tangan.
Dendi menjabat tangannya lantas berkata, “Saya Dendi.”
“Nona Sima Papuana adalah majikan saya. Tolong percayalah, atau Anda boleh mengikuti saya sampai Nona Sima pulang ke rumah dengan aman,” ucap Gura semakin meyakinkan.
“Baguslah kalau begitu.” Gura tersenyum.
Dendi percaya pada orang ini karena beberapa kali sempat bertemu pandang dan saat itu Gura bersama Sima yang entah membicarakan apa.
Demikianlah, Gura membawa Sima yang sudah tak sadarkan diri. Mungkin saja Sima sedang bermimpi indah, melihatnya tersenyum begitu lucu.
“Pak, maaf. Saya melupakan sesuatu.”
Sesaat sebelum kepergiannya, Dendi memberikan sebuah kotak makan yang berisikan kue manis.
“Saya lupa memberikan ini.” Dendi menyodorkannya, namun tak berselang lama kemudian ekspresinya berubah murung.
“Dan ponsel lalu dompet Mbak Sima masih belum ditemukan, tapi saya harap Anda ataupun Mbak Sima tidak melaporkan hal ini pada kepolisian karena pelakunya adalah anak kecil,” ucap Dendi memberikan penjelasan singkat.
“Ya, aku mengerti. Terima kasih atas pengertiannya. Kalau begitu aku akan pergi,” ucap Gura menganggukkan kepala.
__ADS_1
Lagi pula Gura dan Sima takkan mungkin melaporkannya pada pihak berwajib sementara identitas mereka adalah organisasi gelap yang memiliki ideologi yang saling bertentangan satu sama lain.
“Pria yang lucu. Apakah itu tipemu sekarang, Sima?” gumam Gura dengan lirih.
***
Sima Papuana, wanita yang baru saja putus cinta namun takdir tak membuatnya menyerah akan percintaan meski telah dilarang oleh Ayahnya sendiri. Ialah Dendi, yang sehari-hari Sima selalu dipenuhi konflik kini berubah menjadi buah manis.
Betapa ia sangat menunggu kehadirannya bahkan ia membayangkan apabila ia dapat menjalani kehidupan bersama dengan pria sebaik Dendi itu. Seakan sudah berada di alam yang bernama Surga, tentu Sima takkan menyia-nyiakannya.
“Dendi.”
Berulang kali ia memanggil namanya ketika setengah sadar, banyak dari bawahannya yang kebingungan mendapati sikap Sima haru ini. Termasuk sang Ayah yang kini berada dekat dengannya, dengan sebuah kaki kursi yang belum lama ini dipatahkan telah berada dalam genggamnnya. Seakan bersiap untuk memukul Sima.
“Nona Sima baik-baik saja. Tidak terluka, hanya saja pakaiannya berubah. Tapi saya yakin bahwa Nona Sima tidak diperlakukan senonoh oleh orang lain, Bos Besar.”
“Ya, aku tahu. Wanita garang macam apa yang membiarkan lelaki sembarangan menyentuhnya.”
“Lalu untuk apa benda itu?” Gura bertanya terkait kaki kursi yang dipegang oleh Ayah Sima saat itu.
“Aku hanya ingin memukulnya karena dia lengah, dan berakhir diculik.” Sorot mata sang Ayah justru memperlihatkan akan membunuh daripada hanya sekadar memukul.
“ARGHHHH!!”
Tiada angin maupun hujan, Sima berteriak dengan suaranya yang lantang. Membuat semua para bawahannya sekaligus Ayah Sima sendiri terkejut, telinga mereka jadi pekak dan berdenging.
“Nona Sima? Ada apa?” Gura bertanya seraya menghampirinya guna memastikan bahwa Sima baik-baik saja.
“Semua lelaki itu sampah!” ungkap Sima bernada tinggi, ia tampaknya sedang emosional.
“Y-ya?” Gura jadi bingung harus menanggapi apa.
Sementara Ayahnya merasa senang, ia mengurungkan niatnya untuk memukul Sima karena perkataannya barusan.
“Benar, Sima. Tidak ada lelaki yang cocok denganmu!” sahut sang Ayah.
“Kecuali Dendi,” lanjut Sima setelah ia benar-benar sadar.
__ADS_1
“Hah?!” Ayah Sima kembali mengamuk, kini ia kembali menarik seluruh perkataannya bahkan niat memukul Sima pun kembali bangkit, namun bawahan mereka sudah sigap lebih dulu untuk menahan si Bos Besar ini.
“Tidak ada lelaki yang cocok untukku kecuali malaikat itu. Dendi, mungkin adalah pria yang cocok untukku! Benar 'kan! Ayah?” ujar Sima kembali berbunga-bunga.