
Tak terbesit sedikitpun di benak Sima, akan kehadiran seorang gadis yang lebih muda darinya datang menghampiri.
“Siapa kamu?” Wajah yang sumringah, berbunga-bunga karena Dendi pun seketika berubah dalam sekejap begitu mendapati seorang gadis, Sima menatapnya sinis seolah mengancamnya untuk pergi.
“Maaf, sebelumnya perkenalkan aku Eriana.”
“Eriana?” Jelas Sima mengetahui siapa gadis ini, dilihat dari punggung belakangnya, ialah gadis yang pernah menggandeng tangan Dendi sebelum ini.
Tatapan sinis sejak tadi pun tidak pernah berubah saking ia merasa tidak suka dengan kehadiran Eriana yang menganggu momennya.
'Ck, kenapa dia ada di sini. Jangan bilang dia mendengar seluruh isi percakapan kami? Dasar penguping, penguntit!' batin Sima membuang muka, ia memaki-maki dalam batin dan tetap mengontrol emosinya di luar.
“Maaf, Mbak Sima. Perempuan ini adalah Eriana, teman satu kampus tapi berbeda matkul hari ini. Dan Eriana, kenalkan dia adalah Mbak Sima.” Dendi pun turut memperkenalkan kedua wanita itu.
Dendi saja yang tidak peka, bahwa sorot mata antara Sima dan Eriana tidak berbeda jauh karena mengisyaratkan kebencian serta kecemburuan. Namun malah memperkenalkannya seolah kedua wanita tersebut akan akur.
“Eriana ya? Salam kenal,” ucap Sima sok ramah sembari mengulurkan tangannya.
“Ya, Mbak Sima,” balas Eriana dan menjabat tangannya. Ketika Eriana menjabat tangan Sima, lantas Sima pun melancarkan aksinya dengan sengaja ia meremas tangan mungil itu biar tahu rasa.
Terlihat Eriana kesakitan namun berusaha untuk tetap tenang bahkan juga sedikit membalas serangan dari Sima.
“Semoga kalian berdua akur untuk ke depannya,” harap Dendi yang sepertinya itu tidak mungkin terjadi.
Seusai pertarungan jabat tangan. Eriana bertampang sok manis itu tetap menyunggingkan senyum tipis dan menatap sipit ke arah Sima. Setelah beberapa saat, Eriana menatap ke arah Dendi dengan sorot mata yang agak berbeda.
Terlebih sorot mata itu terlihat seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Seperti Sima.
'Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan sempurna. Tapi aku tidak akan merelakannya begitu saja!' batin Sima yang dipenuhi semangat membara.
__ADS_1
“Jadi Mbak Sima. Sebenarnya sejak kapan kalian berdua saling kenal? Dendi tidak pernah mengenalkannya padaku,” tanya Eriana.
“Kami kenal selama beberapa minggu. Mbak Sima adalah tetanggaku, dia sangat baik. Aku yakin kamu tidak akan rugi jika menjadi temannya,” ucap Dendi.
“Oh, begitu. Dia sangat baik ya? Sama sepertiku hanya saja kami berdua sudah kenal sejak kecil. Kami selalu bermain bersama, bahkan mandi juga pernah,” ujar Eriana bercerita.
“A-apa? Mandi bersama?” Bagai tersambar oleh petir, sontak saja Sima terkejut bukan kepalang saat mendengar bahwa mereka pernah mandi bersama.
Dendi ikut terkejut mendengarnya sekaligus ia merasa malu, apalagi sekarang mereka berdua sudah dewasa jadi Dendi berpikir bahwa tak seharusnya membahas hal yang sudah terjadi begitu lama.
“Eriana, jangan katakan itu. Itu membuatku malu,” kata Dendi. Ia berharap bahwa Eriana akan kembali menarik kata-katanya meski itu terdengar mustahil karena Sima sudah mendengarnya.
“Ah, maaf. Tidak seharusnya aku katakan ini. Tapi ...aku merasa harus mengatakannya. Selain mandi bersama, kami berdua saling terikat sebuah janji untuk selalu bersama, hidup atau mati.”
Lagi, Eriana mengatakan suatu hal yang membuat Sima semakin geram. Gadis ini sudah tahu sejak awal bahwa Sima memiliki perasaan yang sama terhadap Dendi, jadi ia dengan sengaja memprovokasinya.
“Janji yang sangat manis ya, anak muda. Tapi pernakah kalian berdua berpikir bahwa janji di masa lalu hanyalah omong kosong anak-anak?” sahut Sima dengan senyum.
Di lain hati, Sima tengah memaki gadis kurang ajar tersebut. Nyaris saja kepalan tinju miliknya melayang ke wajah, namun setidaknya Sima bisa menahan amarah karena pertengkaran antar sesama perempuan bukanlah adu tinju melainkan adu mulut.
Siapa pun yang bermulut lebih manis, dialah pemenangnya.
“Eriana cakap juga ya. Wah, aku tidak sabar untuk melihatmu di neraka,” ucap Sima yang jelas gagal dalam bermulut manis saking ia kesal dan emosinya makin memuncak hingga ke ubun-ubunnya.
“Neraka? Ya ampun. Aku tidak berharap sampai sana karena akan jauh lebih baik kita ke surga ke secepatnya,” kata Eriana seraya menggandeng lengan Dendi dengan sok akrab.
'Singkirkan tanganmu darinya, br*ngs*k!' Sima menjerit dalam batin.
Karena Eriana bersifat keras kepala, dan juga saat ini ia mengambil kesempatan dalam kesempitan, bergegas Sima menyerobot. Sengaja ia berdiri di antara Eriana dan Dendi sehingga rangkulan Eriana terhadap Dendi pun terlepas begitu saja.
__ADS_1
“Dilarang bermesraan karena ada orang lain di sini, Eriana cantik. Apa kamu tidak tahu tentang etika?”
“Eh, bukankah Mbak Sima sudah tahu hubungan kami seerat apa? Kami tidak akan terpisahkan,” kata Eriana keras kepala.
“Eriana, ada hal yang lebih penting dari hubungan yang belum jelas pastinya. Kamu tahu tempat apa ini, bukan untuk sayang-sayangannya benar?” sahut Sima yang semakin kesal, ia bahkan tak lagi bermulut manis.
Begitu juga dengan Eriana, ia tampaknya makin kesal saja karena beberapa perkataan dari Sima berhasil membuatnya tersinggung.
“Kami akan hidup bersama untuk selamanya, Mbak Sima! Hidup atau mati, kami tetap bersama! Yang berarti kami akan menikah!” pekik Eriana mengerutkan kening.
“Menikah? Sayangnya, pria ini masih jauh dari kata dewasa. Jadi dilarang menikah,” ucap Sima asal-asalan.
“APA?!” Eriana pun dibuat emosi setinggi-tingginya. Ia meninggikan suara lantas muak dengan pembicaraan tak masuk akal ini.
“Sudah, sudah. Kalian berdua kenapa? Padahal sebelumnya kalian terlihat akur, tapi kenapa mendadak marah?” tanya Dendi yang sejujurnya tak tahu bagaimana cara menghadapi hal ini.
“Dendi! Cewe ini ngerangkul lengan kamu, tapi kok kamu malah diam saja? Harusnya kamu berontak dan jangan mau asal dipegang begitu saja!” amuk Sima.
“Tapi bagiku itu adalah hal yang biasa. Eriana pernah bilang kalau dengan menggandeng tanganku, dia akan merasa lebih tenang,” ujar Dendi memberikan penjelasan terkait tindakan Eriana yang bersikap seolah dirinya adalah milik Dendi.
“Benar sekali!” sahut Eriana berwajah sumringah, ia menatap Sima seakan mengejek seraya dirinya kembali merangkul lengan Dendi.
'Gadis ini tingkahnya seperti lacur!' maki Sima dalam batin.
“Tapi kalau Mbak Sima juga mau, tidak masalah,” kata Dendi sembari tersenyum tulus. Ia kemudian mengulurkan tangannya jikalau Sima ingin melakukan hal yang sama seperti Eriana.
'Ya ampun, pria ini benar-benar polos dan juga bodoh. Ah, karena kepolosannya dia sampai tidak tahu bahwa lacur itu berniat mempermainkannya,' batin Sima kembali.
Seolah hati Sima terengut oleh sinar yang berada di hadapannya. Jangankan mendapatkan ciuman pertama dari Dendi yang sampai saat ini masih tidak bisa dipercaya, bahkan menggandeng tangan Dendi sudah merupakan dosa bagi Sima.
__ADS_1
Sima berbalik badan lantas berkata, “Tidak, tanganku ini kotor, Dendi.” Dengan suara lemah lembutnya dan pelan.