
Pria sejati takkan mudah berpikir kotor saat seorang wanita mengajaknya masuk ke dalam kamar, namun begitu masuk ke dalam dan melihat pemandangan yang begitu menyilaukan mata, spontan saja Gura dan pria yang sudah berkeluarga itu terkejut dengan wajah yang memerah, dan nyaris saja mengeluarkan darah dari dua lubang hidungnya.
“Kenapa hanya berhenti di depan pintu saja? Cepat tutup pintunya dan mendekatlah!” pinta Sima seraya menunjuk.
“Ba-ba-baik!” Kegugupannya sampai membuat Gura tergagap-gagap. Memegang gagang pintu saja ia gemetar, karena takut manik matanya akan berputar cepat ke belakang.
Sama halnya dengan mantan tuan calon pembeli tanah satu ini, yang belum diketahui namanya. Ia sedang menahan hasrat yang bergejolak tak kasat mata dengan menundukkan wajah sedalam-dalamnya.
“Kalian berdua terlihat aneh. Apa ada yang salah dengan wajahku?” tanya Sima yang benar-benar tidak peka. Ia justru bersikap biasa sebab menganggap pria-pria yang ada di hadapannya saat ini hanyalah pria yang biasanya.
Tentu Sima takkan berpikir sampai ke sana secara Gura adalah bawahan pertamanya yang sangat menghormati Sima. Lain cerita jika pria yang ada di hadapannya adalah orang terkasih, seperti Adrian atau Dendi.
“Bos Sima, apa perlu saya juga menunggu ...di sini?” tanya Gura tanpa berbalik badan.
“Hei, tunggu. Aku tidak mau di sini sendirian, aku takut,” ucap pria yang dalam kondisi terikat kencang, ia mengatakannya dengan lirih.
“Ya, harus. Kau harus mendengarnya juga. Berhubung dia bukanlah bagian dari Faksi Pertama itu sendiri, melainkan orang suruhan secara paksa,” ujar Sima.
“Be-begitu ya?”
“Ya, kenapa? Berbaliklah dan tatap mataku saat bicara. Bukankan itu etika yang baik?”
“Maaf jika ini menyinggung Anda. Pakaian Anda terlalu tipis,” ucap Gura spontan.
“Oh, begitu. Maaf, ini karena cuaca terlalu panas, padahal pendinginnya sudah aku nyalakan tapi tetap saja. Tahan saja sebentar.” Dengan santainya ia berkata seperti itu.
Sontak saja keduanya langsung dibuat terdiam, merska tak tahu apa yang harus dikatakan lagi secara Sima sudah mengatakan untuk "bertahan saja".
“Singkatnya ada hal yang ingin aku ketahui. Boleh aku tahu siapa namamu? Tenang saja aku tidak akan menyiksamu atau apa,” ucap Sima, ia bertanya namanya.
Pria itu kemudian menjawab tanpa menengadahkan kepalanya. “Aku rekan bisnis Ayahmu, Nona Sima. Indra Aji.”
“Hm, begitu rupanya. Aku yakin itu bisnis gelap atau sejenisnya, bisnis apa?”
__ADS_1
“Sesuai yang Nona katakan, itu bisnis gelap. Perjudian ilegal sangat digemari oleh banyak orang, kami membangunnya bersama hingga menghasilkan banyak uang,” jelasnya.
“Itu belum seberapa. Perjudian ilegal seperti itu ...bukanlah apa-apa selain banyaknya kasus yang mudah ditutupi oleh Ayah hanya dengan selembar kertas saja,” tukas Sima memendam amarahnya.
Kepalan tinju yang menguat hingga otot-otot tangannya terlihat, tentu membuat Indra Aji bergidik. Takut apabila jika ia salah bicara, dan tahu tempat kapan ia akan bicara dengan sejujur-jujurnya.
“Aku turut prihatin dengan keluargamu yang disandera, tapi aku pikir itu adalah balasan yang pantas. Namun, aku sendiri juga bersalah, memakan uang haram dengan mudah,” kata Sima dengan senyum di wajahnya.
Terlihat ia senang namun itu bukanlah wajah bahagia melainkan wajah sepat yang ingin sekali memukul seseorang.
“Mafia, memang begitu bukan?”
“Ya, aku tahu. Karena itu aku berniat mengubah atau mungkin membubarkannya,” ungkap Sima tanpa peduli jika Indra Aji akan memberitahukan hal ini pada Ayah Sima.
“Nona sendiri tahu kalau kesuksesan tak bisa digapai dengan mudah.”
“Lupakan itu, pak. Aku di sini hanya sebagai perwakilan. Keinginanku yang paling besar adalah melenyapkan sampah-sampah yang terkemuka di seluruh penjuru negara ini.”
Sima beranjak dari tepian ranjang yang ia duduki sebelumnya, lantas mendekati Indra Aji guna melihat tatapannya secara langsung.
“Aku ingin membantu keluargamu, setidaknya sekali. Bagaimana menurutmu?”
“Eh?” Siapa sangka Sima akan menawarkan hal tersebut.
“Untuk apa? Bukankah saya barusan nyaris membunuhmu?” tanya Indra Aji dengan rasa tidak percaya.
“Aku ingin melakukan ini karena beberapa alasan. Kau cukup ikuti perkataanku jika tidak mau bernasib sama dengan preman-preman yang ikut denganmu tadi,” tutur Sima mengangkat jari telunjuknya.
Dari sana Indra Aji cukup mengerti, alasan mengapa wanita yang pernah mengancamannya (Lisa) agar mau berbuat tindak kejahatan pada keluarga Papuana, tentang seorang wanita yang adalah Sima, diketahui bahwa Lisa sendiri takut padanya.
Bukan karena kekuatannya saja yang diluar nalar, bahkan Indra Aji belum pernah melihat Sima yang bertarung, namun juga karena akal bulusnya dalam menghadapi semua musuh dengan tenang.
Dalam hal ini, sudah jelas kelemahannya tertutupi, bahkan bawahannya saja sudah dapat membaca segala pergerakan Indra Aji sehingga sempat untuk membuat perisai untuk bos mereka.
__ADS_1
“Sungguh wanita yang mengerikan. Nona hanya ingin memberikan kesempatan sekali seumur hidup. Kalau begini caranya, mau di sana ataupun di sini juga tidak ada bedanya,” sahut Indra Aji yang masuk akal.
“Aku tahu ini merugikan. Tapi ini hal yang mudah, bawahanku akan mengikutimu nanti dari belakang.”
“Tunggu, aku—”
“Kembalilah ke area Faksi Pertama. Jika bisa temui langsung wanita yang pernah mengancammu itu, dan katakan bahwa satu orang tewas dan bos mereka terluka karena dirimu,” ujar Sima kembali mengatakan niatnya.
Ia menyuruh Indra Aji untuk mengatakan hal yang barusan ia katakan sebelumnya dengan begitu Lisa akan berpikir bahwa rencananya berhasil, walau mungkin Faksi Pertama sebenarnya belum bergerak sepenuhnya.
“Lalu bagaimana jika dia tahu bahwa aku berbohong kepadanya!”
“Suaramu terlalu keras,” sahut Gura, dengan cepat ia mencengkram tengkuk leher Indra Aji lalu menjatuhkannya ke lantai.
“Jika dia tahu bahwa kau berbohong? Hm, kalau begitu dia adalah orang yang bersumbu pendek,” pikirnya seraya berdeham.
“Hah? Apa maksudmu berkata begitu? Kalau dia tahu aku berbohong, sudah pasti keluargaku akan mati karena diriku!” Suara yang sedikit keras namun serak, nampaknya Indra Aji bersikeras untuk berteriak.
“Sudah kubilang, katakan saja apa yang aku katakan barusan padanya. Keluargamu nanti akan aku selamatkan,” ucap Sima yang masih bersikap santai.
***
Maksud atau niat tertentu dari Sima sebetulnya sudah terbaca dengan jelas namun karena panik, Indra Aji pun jadi sulit berpikir. Pada akhirnya ia pergi ke area Faksi Pertama yang mengharuskannya keluar dari Kota D.
Lalu bertemu dengan Lisa, dan mengatakannya.
“Satu bawahannya sudah mati dan wanita yang menganggap dirinya sebagai bos mereka terluka karena tembakan.”
Tanpa menjawab apa-apa, Lisa hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Indra Aji yang tengah berlutut padanya.
“Tunggu, bagaimana dengan keluargaku?” tanya Indra Aji.
“Keluargamu? Aku tidak ingat bahwa aku pernah menahan keluargamu, tuan. Terima kasih atas kerja kerasmu,” ucap Lisa seraya melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Apa?”
Dan yang menunggu Indra Aji hanyalah malaikat maut, berupa satu anggota resmi Faksi Pertama melepaskan tembakan tepat di titik tengah di antara kedua alisnya.