Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
016. Di Manakah Dendi?


__ADS_3

Segera Sima melangkah pergi dengan bertelanjang kaki seraya ia mencoba untuk menghubungi Gura lagi.


Hal yang paling ia takutkan telah terjadi. Berani-beraninya mereka berniat mengincar Dendi, orang yang sama sekali tak berhubungan dengan masalah mereka. Sima yang semakin kesal pun melampiaskan emosinya dengan meninju wajah Erik.


Erik bukanlah seorang ketua Faksi Pertama, melainkan hanyalah suruhan saja. Ia kini tengah berbaring di lantai yang dingin, sudah tak sadarkan diri kembali. Sima lantas pergi dengan taksi secepat mungkin tuk menemui Dendi.


Namun akan tetapi, setelah ia sampai di kafe Dadi Muncul. Tak nampak keberadaan Dendi selain rekan-rekannya. Setelah bertanya ke mana Dendi pergi, salah satu dari mereka menjawab singkat—ke Toko Kue.


“Apa yang dia lakukan di sana? Bukankah sudah waktunya dia bekerja di kafe jam segini?”


“Maaf, saya kurang tahu. Karena Dendi terlihat buru-buru, maka saya belum sempat menanyakan alasannya. Tapi alasan apa lagi selain menyelesaikan pekerjaan di sana?”


“Tidak mungkin. Dendi tidak akan ke sana jika pekerjaannya di sini belum selesai. Seharusnya kalau hanya sekadar mampir pun pasti dia ke sana di jam istirahat.”


Rasanya seolah dipermainkan. Sima jadi pusing kepala saat memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada Dendi. Ia menyesal karena telah mendekati dirinya, memang tidak ada itikad lain selain Sima tertarik dengannya. Namun ini justru menjadikan Dendi sebagai kelemahannya.


Kesal, ia segera pergi lagi. Mempercepat langkah menuju toko kue yang hanya berjarak puluhan langkah itu.


Sima lagi-lagi tak mendapati keberadaan Dendi di sana. Ke mana perginya dia? Melayani pelanggan tidak, di dapur pun juga tidak ada.


“Manda, ke mana Dendi pergi?” tanya Sima tergesa-gesa.


“Nyonya ...Dendi hanya mampir sebentar ke sini hanya untuk memastikan bahan-bahan kue saja. Lalu dia pergi lagi ke tempat kerjanya,” jelas Manda.


“Apa hanya itu? Kau yakin dia tidak bilang apa-apa sebelumnya?” tanya Sima.


“Tidak, Nyonya.” Manda menggelengkan kepala. “Oh, saya ingat sesuatu. Sebelumnya dia diajak bicara oleh seorang pria. Tapi entah siapa,” jelasnya kembali mengingat hal penting.


“Seorang pria ...” gumam Sima.


Sima pergi. Pergi dari sana dan menyisakan tanya pada Manda yang kebingungan. Sepertinya baru pertama kali ini, Sima mengkhawatirkan seseorang. Terutama pada orang asing yang bahkan bukan saudaranya sendiri.

__ADS_1


Kegelisahan semakin dirasakan oleh Sima. Dengan bertelanjang kaki begitu, ia masih saja mencari keberadaan Dendi yang hilang entah ke mana. Sejenak berpikir tenang dan ia teringat pada Gura. Ia menghubungi Gura yang sebelumnya belum tersambung.


“Ck, lagi-lagi ...sebenarnya ke mana Gura? Apa dia tidak memegang ponselnya saat ini?”


Panggilannya tak pernah tersambung. Membuat perasaan Sima semakin gelisah setiap waktu. Sampai suatu ketika, langkahnya terhenti karena suara bariton dari sebelahnya.


Sesosok pria yang tengah duduk di pinggir jalan seraya memainkan gitar kecilnya. Lirih namun dapat didengar oleh Sima.


“Wanita tangguh yang gelisah. Ada apa denganmu?”


Sesaat terdiam lantas terkejut. Sima perlahan menoleh ke arahnya, mendapati musisi jalanan—tersenyum lebar.


Tanpa ia sadari, sekumpulan pria tengah menghadangnya secara tak langsung. Tatapan mereka tertuju pada Sima seorang.


***


Di sisi lain, rumah Papuana. Tempat tinggal Sima sekeluarga dengan para bawahan yang sudah dianggap sebagai saudara. Keadaan yang tenang namun ada sesuatu yang membuat di sekitar mereka jadi suram.


Sukma yang sedang asik tiduran di kursinya pun terkejut saat mendengar Gura berbicara. Juga, kedatangan Gura yang tiba-tiba. Ia lantas menghela napas seraya menggelengkan kepala dan mengelus dada dengan sabar.


“Jawabannya ...tidak, ya?” celetuk Gura berkeringat dingin.


“Bukan. Itu jangan kau terlalu pikirkan. Sebab ini tak ada hubungannya denganmu,” sahut Sukma.


“Tetapi ...putri Anda terus-menerus membicarakannya pada saya. Dia bilang bahwa saya tahu sesuatu tapi saya tidak pernah bilang. Yah, meskipun yang saya tahu hanya sedikit tapi tetap tidak bisa,” tutur Gura.


“Sima pasti tahu hal itu dari musuhnya sendiri. Tapi yah, itu 'kan urusannya. Aku memang tidak bilang apa-apa karena saat itu juga ada dia. Dia melihat semuanya tapi lupa.”


“Begitu. Lalu, mengenai sifat keras kepala putri Anda, apakah orang itu baik-baik saja?” tanya Gura mengkhawatirkan musuh daripada atasannya sendiri.


Sukma kemudian tertawa bahak-bahak, ia jelas tahu apa yang mungkin dilakukan oleh putrinya itu. Dengan sifat serampangan, tentu ia kembali pulang dengan membawa perangai kasarnya.

__ADS_1


Gura menghela napas. Kemudian berbicara, “Anda juga tidak ada bedanya,” sindir Gura. Seketika Sukma tersentak kaget.


“Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan si sini? Tidak mengikuti bos-mu?” tanya Sukma.


“Bos Sima menyuruh saya untuk menjaga pria itu. Maksud saya, yang pernah disebut sebagai pacar barunya bos tetapi kita salah sangka,” jelas Gura sambil tersenyum masam.


“Eh, jadi dia ada di rumah? Ini?” tanya Sukma tak percaya.


“Iya. Kalau tidak salah namanya Dendi. Jadi tenang saja, dia aman!” ucapnya dengan semangat sambil mengacungkan jempol.


Sima sedang mencari keberadaan Dendi namun sekarang? Ternyata Dendi ada di rumahnya. Entah bagaimana reaksi Sima saat tahu Dendi di situ, lalu sudah jelas ia pasti akan marah. Apalagi belum lama ini, sekitar se–jam yang lalu Sima sudah dibuat marah besar oleh Erik.


Sok menggoda wanita yang baru saja putus cinta. Sima akui ia masih sulit untuk melupakan Adrian, mantan pacarnya namun kini ia berusaha keras untuk melupakan hal tersebut. Karena akan sia-sia kalau terus membebani pikiran Sima.


“Apa kau menganggunya di jam kerja?” Bos Besar Sukma bertanya.


“Sama sekali tidak. Dan saya pikir dia tidak masalah kalau hanya kemari sebentar saja,” pikir Gura.


Sekali lagi Sukma menghela napas panjang. Ia kemudian memandangi rerumputan yang berada di halaman belakang, melihatnya yang tumbuh terasa segar di bawah matahari bersinar.


Jam 10 ke atas memang sudah siang, terik matahari juga semakin terasa panas. Namun, akan tetapi Sukma dan Gura masih berada di halaman. Sesekali mereka terpikirkan dengan masalah Faksi Pertama.


Sukma yang bingung pun, ia mulai membuka pembicaraan lagi dengan Gura. Bertanya tentang Faksi Pertama.


“Mereka masih belum memafaakanku, ya. Gura ...” Terdengar lirih dan pilu yang Sukma rasakan sesaat mengalir dalam pandangan Gura.


“Bos Besar bilang sendiri, kalau Anda bepikir bahwa masa lalu tidak usah terlalu dipikirkan. Sebab itu akan membuat kita semakin melangkah mundur dan tidak maju. Tetap berada di posisi dimana kita melakukan kesalahan besar,” singgung Gura.


“Kau benar. Tapi apa masalahnya kalau hanya menoleh sebentar dan memastikan kembali kenapa organisasi ini berubah? Takkan aku membiarkan putriku berjalan di jalan yang sama sepertiku dulu, karena itulah aku membiarkan dia dan di satu sisi akulah yang membereskan masalahnya,” celetuk Sukma.


“Jangan berpikir untuk membawa semua bebanmu. Kata-kata ini pernah diucapkan oleh putri Anda,” sahut Gura menyinggungnya.

__ADS_1


__ADS_2