
Di tempat lain, toko kue Sima.
“Mereka semua kapan akan kembali ke toko ya? Aku sangat bosan sekali kalau tidak ada dua anak itu dan Mbak Sima.”
Dendi sejak tadi hanya terus menghela napas panjang, seraya duduk dengan menyangga dagunya. Nampak resah dan juga kebosanan, bahkan sampai jadi pusat perhatian di toko kue itu.
“Jangan terlalu malas begini, Dendi. Mereka semua pasti akan kembali ke sini,” ucap salah satu pelayan wanita di toko ini.
“Oh iya, aku buatkan kue saja!”
Setelah Dendi pergi ke dapur untuk membuat kue. Dua anak itu akhirnya kembali bersama Gura. Pakaian mereka sudah sangat berbeda, terlihat bergaya dan sangat indah memilaukan mata. Pusat perhatian semua diambil alih oleh dua anak tersebut.
“Kak Sima belum datang juga? Hei, kakak om, kapan kakak datang?” tanya si kakak perempuan sembari menarik-narik ujung lengan pakaiannya.
“Mungkin sebentar lagi datang,” kata Gura.
Kedua anak itu kembali terduduk di kursi yang sama, hanya saja ekspresi mereka tidak sebahagia sebelumnya. Sebab mereka berdua ingin segera bertemu Sima dan Dendi yang saat ini masih bekerja.
“Ah, membosankan.”
“Aku mau tidur,” ucap si adik lelaki dengan manja.
“Benar sekali. Aku mau tidur karena mengantuk.”
Toko kue hari ini nampaknya sudah mulai sepi akan pengunjung. Ya, hari sudah semakin siang dan sudah waktunya jam istirahat bagi para karyawan di toko ini.
“Kalian berdua! Sudah kembali ternyata.” Melihat dua anak itu kembali, Dendi langsung berlari ke arah mereka lalu memeluknya dengan penuh kerinduan.
Seakan-akan mereka tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun. Gura yang melihatnya entah mengapa terlihat sangat malu.
“Aku mendengar kalian diajak berbelanja pakaian, pantas saja kalian terlihat lebih cantik dan tampan sekarang. Lalu, di mana Mbak Sima?” tanya Dendi.
“Justru aku yang mau tanya begitu, kak. Apa kakak Sima juga pergi?”
“Eh.”
“Maaf, Nona Sima ada urusan sebentar. Dia akan kembali ke sini, mungkin sebentar lagi,” ucap Gura.
“Ternyata begitu ya.”
***
Pinggir jalan.
“Hei, bibi bodoh!” teriak seorang lelaki yang muncul tiba-tiba di depannya.
__ADS_1
“Siapa kau?”
Lelaki itu kemudian menunjukkan wajahnya, ia adalah Han. Nampaknya ada banyak hal yang hendak Han katakan pada Sima dengan raut wajah marah.
“Bibi! Kenapa kau malah membuang kertas yang aku berikan?! Kau tidak tahu aku mengambilnya susah payah dan sekarang hilang?” celoteh Han.
“Ah, kertas?” Sejenak ia terdiam, Sima tengah memikirkan kertas apa yang dimaksud Han. Lantas menoleh ke belakang dan kemudian teringat sesuatu setelah menatap tempat sampah.
“Oh, iya!!”
Han tepuk jidat ketika Sima akhirnya sadar juga dengan yang barusan ia lupakan. Segera Sima mengacak-acak sampah itu guna menemukan kertas berlipat sebelumnya.
“Ini dia!” seru Sima sembari mengangkat kertas berlipat ke atas dengan semangat.
“Nggak usah semangat juga 'kan bisa? Bibi ini ...hah, untung saja aku langsung sadar kalau kertasnya dibuang.” Han menggelengkan kepala.
“Daripada itu, kau sendiri tumben? Kenapa menunjukkan dirimu sekarang?”
“Untuk apa lagi kalau bukan untuk mengingatkanmu tentang kertas itu, bi.”
“Kurasa tidak hanya itu. Katakan, apa ada sesuatu?
“Aku sama sekali tidak menemukan nama Enji. Bahkan memeriksa berkas kelurahan atau kecamatan juga hasilnya sama saja. Benar-benar tidak aku temukan kalau soal dia, tapi mungkin ini akan berguna.”
“Apa ini?”
“Sebuah kotak permen,” jawabnya.
“Ya aku tahu. Tapi apa hubungannya sama kotak berisi permen yang sekarang hanya tersisa tiga biji?” tanya Sima dengan pasrah.
“Wanita itu pernah diberikan kotak permen ini. Mereka bertemu pagi ini di toko kue sebelahmu,” jelas Han.
“Jadi maksudmu kotak ini ketinggalan setelah pertemuan mereka berakhir?” pikir Sima.
“Itu benar! Meskipun hanya itu yang aku temukan, setidaknya aku punya fakta lain mengenai wanita itu, Lisa. Pernah sekali ditanyakan pelayan di toko, tentang apakah Lisa sedang berkencan dengan pria itu, dia menjawab ya.”
“Itu bisa saja bohong. Kau tidak tahu kalau semua orang pandai berbohong ya?” sahut Sima yang menunjukkan raut wajah mengesalkan.
“Aku tahu bibi akan berkata begitu. Tapi, sepertinya memang begitu? Lalu, saat aku berjalan berdekatan dengan mereka, aku mendengar wanita itu menyebutnya Enji.”
“Apa?! Kau sungguh hebat ya? Menyelidikinya hingga sejauh ini hanya sendirian. Kau benar-benar pro!” ucap Sima memuji.
“Benar 'kan?”
“Tapi, apa kau melihat pria itu? Seharusnya kau melihatnya.”
__ADS_1
“Tidak bisa. Dia memakai topi dan juga kacamata hitam. Sama sekali tidak bisa ditebak itu siapa,” kata Han sembari menggelengkan kepala.
Menurut karakteristik Han, tubuhnya tinggi. Lebih dari 170cm. Tetapi, ada banyak orang tinggi di kota ini, lalu ditambah dengan kacamata hitam dan topi, itu akan menambah sulit mencarinya.
Han berusaha untuk menguak identitas Enji dan pria yang diduga adalah Enji itu sendiri. Namun, Sima sendiri tidak menyangka bahwa Han akan mampu melakukannya. Sungguh rekan yang terbaik.
“Tapi bukan berarti aku akan percaya padanya. Dan kemudian untuk kertas ini ...,”
Sima kembali melihat tulisan yang berada di selembar kertas. Yang sebelumnya masuk ke dalam bak sampah, beruntungnya tidak Sima sobek atau apa pun sehingga tulisannya masih dapat dibaca.
"Tolong maafkan aku." Hanya itu tulisan yang tertera. Han sendiri tidak tahu apa maksudnya, sebab ia sendiri bilang ia menemukan kertas yang tersimpan di balik laci bersama foto ibunya.
“Kalau ini punya Ayah. Ah, gawat! Kalau begitu aku harus mengembalikannya sekarang juga!”
Sima barusan sadar bahwa kertas ini mungkin akan cepat ketahuan oleh Ayahnya, karena kertas yang tidak begitu mencolok dan letaknya berada di atas sebuah foto ibunya maka ini akan menjadi penting bagi sang Ayah.
“Ah, tapi tunggu sebentar. Aku tidak ingin pulang ke rumah sekarang dan karena bisa saja Ayah masih menunggu. Jadi lupakanlah, anggap saja aku yang mencurinya,” ucap Sima memudahkan segalanya.
Karena tidak ingin kerepotan, pada akhirnya Sima memutuskan untuk pergi saja ke toko kuenya guna menemui Dendi dan dua anak itu.
“HEI!! AWAS!!” teriak seseorang yang nampaknya hendak memperingati Sima akan sesuatu.
Dan pada saat itu Sima sudah menyebrangi jalan, bertepatan dengan suara teriakan yang didengarnya, lalu disusul suara klakson berat, kemudian Sima terhenti di tengah jalan.
“Siapa yang—” Baru saja ia menoleh ke sumber suara yang paling nyaring, sebuah truk besar telah berada di samping kirinya.
BRAK!
Truk besar yang melaju sangat kencang, dengan sopir yang nampaknya sedang tidak sadarkan diri telah menabrak Sima hingga membuat tubuh Sima terpental jauh.
Luka fatal Sima, di bagian kepalanya langsung, mengalir darah segar yang terus menggenangi wajah dan setengah tubuhnya. Beberapa orang yang kebetulan melintas dan berada di toko seberang pun histeris.
“Apa yang terjadi?!”
“Hentikan truknya!”
Setelah Sima terbaring lemas di jalan, truk itu tak berhenti bahkan hendak melindas tubuh Sima yang sudah terkapar tak berdaya di sana.
“Siapa pun! Tolong!”
“Tolong wanita itu!”
“Hei, panggilkan polisi dan ambulan!”
Semua itu terjadi secara tiba-tiba. Tak mengenal waktu maupun tempat.
__ADS_1