
Pada awalnya kedua anak itu hanya berfokus pada kertas origami, mereka berunding akankah mereka meniru hasil karya Sima ataukah membuat yang berbeda. Sampai-sampai keberadaan Dendi terlupakan, entah sadar atau sengaja mengabaikan.
Namun, ketika Sima akan mengajak mereka makan kue, keduanya langsung mendengarkan dan mulai beralih pada kue dan tidak pada kertas origami itu lagi.
“Aku mau! Aku mau!”
“Kue, kue!”
Mereka langsung bersemangat saat ada kata kue, sudah jelas terbayang bagaimana rasa kue lezat itu nantinya.
“Baiklah, ayo! Tapi tunggu sebentar ...”
Tiba-tiba ia teringat dengan pakaian mereka berdua.
“Pakaian ini—”
“Aku membuat mereka memakai pakaianku di saat kecil, untungnya tidak begitu mencolok karena itu pakaian laki-laki yang sedang dipakai anak perempuan,” jelas Dendi.
“Jadi begitu. Pantas saja aku merasa ada yang salah. Tapi tidak masalah, nanti akan aku belikan apa yang mereka mau. Setelah kita makan kue tentunya!”
“Yeay!”
Sebelum kepergian mereka, Sima menarik-narik lengan pakaian Dendi, mencoba untuk mengatakan sesuatu.
“Mbak Sima?”
“Kamu juga ikut karena ada pekerjaan di toko bukan?” tanya Sima dengan berbisik.
“Ya, tentu saja. Seperti biasa,” jawabnya.
“Bisa pinjamkan aku sesuatu yang bisa menutupi wajahku?”
Sima meminta hal yang aneh-aneh, tentu saja Dendi merasa curiga namun ia percaya mungkin ada alasan yang sulit dikatakan. Karena itulah Dendi langsung memberikan yang telah dibutuhkan.
“Aku ada topi dan kacamata biasa, bagaimana?”
“Kakak! Kenapa lama sekali?!” tanya anak perempuan itu berteriak.
“Ya, sebentar lagi!”
Sima menggangguk sembari mengucapkan terima kasih. Segera ia memakai benda-benda tersebut tuk menutupi wajah. Alasan mengapa Sima mengenakan itu tak lain adalah demi menghindari orang-orang yang mungkin akan mengenalinya. Musuh maupun teman.
“Sepertinya Mbak Sima terlibat masalah ya?”
“Maafkan aku yang telah merepotkanmu. Sebisa mungkin, aku akan menghindari kalian.”
__ADS_1
“Eh? Kenapa Mbak?” tanya Dendi cemas.
“Tidak apa-apa, Dendi. Ayo cepat pergi.”
Berjaga-jaga demi mewaspadai sesuatu gerakan mencurigakan. Setiap waktu, tak biasanya Sima bersikap aneh begini. Ini terjadi karena masalah yang ia alami semakin rumit dan terjerat semakin dalam.
Suatu waktu, Dendi ataupun dua anak ini akan menjadi korban jika terlalu lama berhubungan dengan Sima. Nyatanya, Sima membuat bebannya sendiri semakin berat. Tentu saja ia takkan mengatakan siapa pun kecuali pada para bawahannya itu.
***
Toko Kue Sima.
Anak-anak memesan kue yang mereka inginkan lalu memakannya dengan lahap seperti orang yang tidak pernah makan kue itu sebelumnya. Walau mungkin itu benar, sejujurnya Sima merasa resah.
Terkadang ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Mau sampai kapan kau terus seperti ini?” Yang terkadang dialihkan dengan pikiran lain, “Memangnya salah berbuat baik pada orang lain?”
Lalu, ia kemudian menangkisnya dengan pemikiran logika.
“Bukankah aku melakukan ini karena ingin diakui sebagai orang baik, dan berbeda dengan Ayahnya itu?” gumam Sima tanpa sadar.
“Kakak!” Serentak kedua anak itu berteriak.
Spontan Sima beranjak dari tempat duduknya. Terlihat wajah dari kedua anak itu gelisah, tak terkecuali dengan Dendi.
Seraya ia menggelengkan kepala berulang kali, ia menghela napas panjang lalu kembali duduk di tempatnya.
“Maaf membuat kalian khawatir. Aku hanya melamun sebentar tadi,” kata Sima sembari tersenyum masam.
“Mbak Sima nggak terlihat baik-baik saja. Apa masalahnya seberat itu? Jika berkenan untuk menceritakannya, maka aku tak keberatan untuk mendengarnya,” ucap Dendi.
“Tidak Dendi. Aku baik-baik saja.”
Toko kue ini ramai pengunjung, sudah waktunya Dendi bekerja sekarang. Maka Sima akan tetap di sana sampai anak-anak puas memakannya. Dan seperti biasa ia jadi bahan cibiran, sandal jepit khasnya yang selalu ia pakai serta kacamata kotak dan topi membuatnya terlihat semakin culun saja.
Wajar bagi orang-orang sekitar yang mencibirnya dari belakang, namun karena Sima sudah terbiasa, ia tak peduli. Ia mengenakan pakaian seperti itupun demi keselamatan anak-anak dan Dendi.
Terkadang pula Sima menatap ke arah luar, dengan Gura yang berada di sekitar akan membantu jika ada sosok mencurigakan yang mendekat.
Persiapan sempurna demi menghadapi musuh yang tak tahu kapan akan muncul.
“Hm, samaranku memang sempurna. Harusnya sejak lahir aku begini saja jika ingin berinteraksi dengan orang lain,” ucapnya dengan bangga.
“Kakak aneh kalau pakai topi dan kacamata tahu,” sindir si kakak perempuan.
“Apalagi pakai sandal jepit. Nggak cocok!” sahut si adik lelaki.
__ADS_1
“Ha, kalian yang datang kemari tanpa alas kaki ...bisa-bisanya mengomentariku,” balasnya seraya membuang napas secara kasar, ia membalas ejekan mereka.
Ponsel Sima bergetar pelan, ternyata nomor tak dikenal yang sedang menghubunginya sekarang. Namun Sima tahu itu nomor siapa.
“Tunggu sebentar, ya. Aku akan pergi menerima telepon,” kata Sima pada kedua anak tersebut.
Sima pergi keluar dari toko kue, ia sempat berbicara pada Gura tuk memastikan kedua anak itu tetap di bangkunya.
“Aku tahu ini kau, Han.”
[“Tolong jangan panggil namaku, meskipun itu benar namaku. Biar aman saja. Lalu, ada beberapa hal yang sudah aku ketahui. Cek pesan.”]
Panggilan terputus dalam sekejap, Han mengirimkan pesan pada Sima terkait informasi yang telah ia dapatkan.
Mengenai Erik, pria yang memiliki hubungan darah, satu ibu sama dengan Sima dan Misa. Telah meninggal, baru-baru ini.
Melihat pesan singkat berupa informasi Erik, Sima sungguh terkejut.
“Aku tidak ingin percaya, tapi aku sudah lama menduga ini akan terjadi cepat atau lambat. Karena Faksi Pertama tak seceroboh itu sampai membiarkan pengkhianat berkeliaran terlalu lama,” gumam Sima.
Pesan kembali tersampaikan dan dibaca oleh Sima saat ini.
[Ada satu hal lagi, ini sangat penting jadi simak baik-baik.]
Mendadak jadi serius begini, entah informasi apa lagi yang Han dapatkan. Sima hanya bisa berharap itu berkaitan dengan kematian sang Ibu.
***
Pesan tersebut, adalah yang barusan Han lihat serta dengar dari jarak jauh menggunakan alat-alat super canggih tuk mengintai. Sisanya hanya perlu mengirimkan beberapa pesan serta satu video untuk bukti lebih jelasnya.
Saat itu, Han mendapatkannya di dini hari.
Lisa yang berjalan sendirian di markas Faksi Pertama berupa kediaman yang hanya memiliki satu lantai dan sedikit ruang terletak di bagian paling belakang sementara menyisakan lantai yang sangat luas di sekitarnya.
Ia berjalan ke sudut rumah sembari menggenggam ponsel ke depan dada, setelah beberapa saat ia berhenti berjalan di dekat jendela lalu mendekatkan layar ponsel ke daun telinga.
“Apakah kau sudah memutuskan untuk kembali? Ataukah perintah lagi? Enji.”
Setelah itu video yang dikirimkan oleh Han menjadi blank.
“Hoi! Apa yang terjadi pada videonya?!” teriak Sima dalam panggilan terusan.
[“Maaf, maaf bibi. Videonya rusak karena seseorang sudah menyadarinya, jadi aku hanya mendapatkan sepenggal kata dari wanita itu.”]
Tapi itu adalah informasi yang sama berharganya. Nama Enji, mungkin saja adalah ketua Faksi Pertama.
__ADS_1