
Insiden dua tahun lalu, di mana kembaran Sima terbunuh. Lalu, untuk mengetahui apa alasan mereka menganggap Sima sebagai pembunuhnya. Ini masih menjadi misteri.
***
Malam itu Sima diculik. Ia berada di kawasan Blok E, tempat di mana Faksi Pertama bernaung saat ini. Tapi bukannya tersiksa, Sima justru membuat mereka yang ada di sekitarnya jadi babak belur tak karuan.
Sima memang wanita yang kuat bahkan tak terkalahkan. Tetapi itu tak selamanya. Ketika bertemu dengan Erik sekali lagi, sebuah kenyataan terpampang jelas di depannya yang mengartikan keberadaan Erik begitu penting. Erik adalah saudara Sima se-ibu.
Karena Erik juga memberitahukan segala hal yang ia tahu termasuk siapa yang menyuruhnya untuk mencari tahu soal Sima, Sima pun mengerti apa yang harus ia lakukan mulai sekarang.
Insiden dua tahun lalu, adalah kepingan puzzle pada memori masa lalu Sima sendiri.
“Jika aku sudah tahu kalau Lisa, wanita itu salah! Maka setelahnya aku akan menghajar dia sampai masuk rumah sakit! Dan awas saja kalau dia berani mengincar pria lugu itu!”
Sima mengamuk, dengan dua kepalan tinju yang siap melayang kapan saja itu, Erik jadi berusaha kuat untuk menahan langkahnya agar tidak bertindak gegabah.
“Nona Sima! Kau tak tahu siapa musuhmu! Belum lagi ketua Faksi Pertama yang tidak muncul ke hadapanmu langsung dan sekarang ada Lisa—”
“Berisik sekali kau ini, dasar gigolo! Ketua lah, si Lisa lah, siapa pun itulah aku tak peduli. Kau pikir apa gunanya aku belajar tinju jika harus menahan diri,” sahut Sima memotong kalimat Erik.
“Kau ini bisa apa? Lisa itu licik, pastinya dia takkan diam saja kalau kau berniat begitu.”
“Lalu, aku harus bagaimana? Insiden itu ...aku harus selidiki secara menyeluruh!”
“Karena itu dengarkan aku, dulu!” pinta Erik sambil menarik-narik lengan Sima yang terus-menerus berjalan maju entah ke mana.
Tiba-tiba saja Sima berhenti memberontak. Ia terdiam lantas melepas genggaman Erik padanya dengan kasar. Lalu menoleh ke belakang dan menatap tajam.
“Kalau begitu katakan, Erik. Tapi sebelumnya kenapa aku harus percaya padamu? Kau bisa saja melaporkan hal ini pada Ketua-mu,” ujar Sima penuh curiga.
Sesaat Erik menelan ludah, terdiam dengan menggigit bibir bawahnya sampai gemetar. Lalu perlahan ia mulai membuka mulut dan akan berbicara sesuatu.
“Aku saja tidak tahu bagaimana rupa Ketua Faksi Pertama. Yang aku tahu hanyalah Lisa, yang katanya paling dekat. Karena itulah aku berharap, Nona Sima mau mendengarkanku kalau sekarang aku benar-benar tidak ada di pihak mereka,” jelasnya.
__ADS_1
“Jangan berbasa-basi!” ketus Sima dengan kening berkerut.
“A-Ah, baik.” Mendadak Erik jadi gagap dan sampai gugup. “Soal itu, maksudnya soal insiden dua tahun lalu. Katamu itu berkaitan dengan saudari kembarmu, 'kan? Aku bisa membantumu mencari kebenaran di balik kecelakaan itu. Tetapi, aku mohon janganlah sampai kau terlibat dengan Faksi Pertama lagi untuk saat ini.”
“Iya, karena di situ bukan aku melainkan Misa. Tapi kenapa aku tidak boleh terlibat dengan Faksi Pertama sedangkan mereka terus-terusan menyerang wilayahku?” balas Sima.
“Nanti jejakmu bisa ketahuan. Untungnya tentang pria itu hanya aku yang tahu,” ucap Erik.
“Maksudmu tentang Dendi, pelayan kafe itu?” tanya Sima memastikan.
“Ya, begitulah.”
“Baguslah, kupikir dia akan kenapa-kenapa karena diriku. Lalu Erik, kalau jejakku ketahuan hanya karena sedikit terlibat dengan Faksi Pertama—”
“Tunggu!” Erik memotong ucapannya. “Kau tidak ingat, bagaimana terakhir kali kau menghajar orang-orang Faksi Pertama? Dan kau tahu, aib-mu yang dinyatakan sebagai orang ketiga itu tersebar luas karenanya!”
“Ah, kalau soal itu aku tahu. Mereka mencariku dan kaulah yang disuruhnya, 'kan?”
“Ya, itu benar. Coba bayangkan kalau sekarang yang ada di hadapanmu ini benar-benar musuhmu? Kau pasti takkan hidup lebih lama lagi, atau bahkan mungkin kau bisa dilecehkan lalu martabat Papuana sebagai keluarga terkenal di pebisnis pasti akan hancur!” tutur Erik dengan sangat geram.
“Iya aku tahu kau itu kuat. Tapi pokoknya—”
Kali ini bukan Sima yang memotong kalimat Erik melainkan suara teriakan yang memenuhi gedung dengan beberapa ruangan di sini. Hingga menggema dan membuat Sima terkejut.
“TOLONG!!!!”
Suaranya begitu nyaring hingga memekakkan kedua telinga. Reflek, Sima dan Erik menutup telinga rapat-rapat. Mereka mendapati seorang gadis kecil berlarian dari belakang punggung Erik.
Bruk! Arah gadis itu berlari menuju mereka, dan ia dengan sengaja menabrak Sima dan nyaris saja tersandung jatuh.
“Ah, hei! Dompetku!” teriak Sima yang menyadari sesuatu yang berharga dalam kantung celananya hilang.
Sima menoleh ke belakang dan saat ia hendak berlari tuk mengejar gadis tersebut, Erik sekali lagi menahan langkahnya pergi.
__ADS_1
“Tunggu, ini kawasan Blok E! Kau mau ke mana?”
“Lepaskan aku, itu dompetku diambil tahu! Makanya aku harus mengambilnya kembali!” pekik Sima lantas pergi berlari.
Drap! Drap!
Derap langkah kaki Sima terdengar sangat mengganggu, gadis itu sesaat menoleh dengan wajah gelisah. Sima yang tak rela dompetnya di ambil pun segera mempercepat langkah berlarinya.
“Pencuri cilik!!!” teriak Sima hingga menggaung ke satu lorong itu.
Tiba-tiba suasana yang awalnya sunyi dan tenang pun berubah menjadi sangat berisik. Terutama Sima yang berlari seperti dikejar seseorang. Wajah marahnya jadi tak terkendali hingga membuatnya terlihat seperti hewan buas kelaparan.
Kejar-kejaran pun masih berlanjut hingga mereka keluar dari gedung. Hingga ke pinggir jalanan dan terkadang gadis itu terjatuh tapi masih sempat-sempatnya bangkit dan kembali berlari.
Terkadang juga gadis itu pintar dengan mengakali kerumunan banyak orang tuk dijadikan pengalihan serta persembunyian. Dan ketika itu, Sima kehilangan jejak untuk sementara waktu.
Berhenti melangkah dan menoleh ke kanan dan kirinya, memastikan ke arah mana yang dituju oleh gadis kecil itu.
“Awas kalau kau sampai tertangkap. Dasar, apa kawasan Blok E memang seperti ini!” gerutu Sima, ia kemudian mengambil jalan di sebelah kiri.
Gang yang sempit dan cocok dijadikan jalan kabur. Kebanyakan orang menyebutnya sebagai jalan tikus. Jalan tersembunyi.
“Eh, bukankah ini perbatasan antar Blok D dan E?” pikir Sima sembari berlari.
Ketika itu, Sima pun berhasil menemukan gadis itu lagi. Napasnya berat, sesaat berhenti lalu kembali berlari saat menyadari Sima di belakangnya.
Namun gadis tersebut sudah sangat terlambat. Sima berhasil menarik kerah pakaian bagian belakang si gadis.
Sambil berteriak dengan marah padanya, “Mau kau apakah dompetku?”
“Mbak Sima?” Terdengar suara yang memanggil dari depan, sontak Sima dibuat terkejut dengan keberadaan Dendi di sana.
Tak sengaja melepas genggamannya pada gadis itu, saat melangkah mundur Sima terpeleset genangan air. Tetapi kesialan itu tak berakhir hanya di situ, sesaat sebelum Sima terjatuh, bagian belakang kepalanya membentur dinding dan perlahan kesadarannya memudar.
__ADS_1
Satu hal yang ia jadikan penyesalan selain dompetnya saat ini adalah ...
“Bisa-bisanya aku ketemu dia di saat s*al begini?”