
Hacker telah muncul lalu ditangkap Sima. Kemudian keduanya membentuk suatu kesepakatan yang menguntungkan satu sama lain. Setelah dengan berani Sima menceritakan apa yang seharusnya menjadi rahasia umun, hacker yang masih muda itu berpikir bahwa Misa, saudara kembar Sima bisa saja adalah wanita bernama Lisa.
“Itu tidak mungkin!” Lalu, dengan tegas Sima menyangkalnya. Tak pernah sekalipun ia berpikir bahwa wanita itu adalah Misa, terlebih sikap dari keduanya sangat berbeda jauh.
“Begitu 'kah? Yah, aku hanya menduga saja. 'Kan siapa yang tahu. Karena dunia ini tak seluas yang kau kira, bibi.”
Emosi Sima memuncak, ia hendak meninju lelaki ini, namun beruntung ia dapat menahannya serta Gura pun menenangkan Sima agar tak terpancing emosinya.
“Huh!”
Setelah beberapa saat akhirnya tenang, ia kembali duduk di kursinya sembari membuang napas dengan kasar. Menatap tajam pada lelaki ini, ia kembali ke kondisinya semula.
“Terserah kau sajalah. Aku mulai muak dengan perbincangan ini. Tapi, aku harus membicarakannya, terserah kau ingin membocorkan ini atau bagaimana.”
“Aku tidak akan membocorkannya ke mana-mana. Tenang saja. Lagi pula, aku juga tertarik dengan keluargamu. Papuana, pebisnis terkenal itu siapa sangka bahwa ada mafia di baliknya. Orang-orang yang terbilang jahat seperti kalian, justru anaknya berbuat baik pada banyak orang.”
“Ini sungguh sulit dipercaya,” imbuhnya.
“Hentikan ocehanmu itu, bocah. Sekarang kau mau bagaimana? Aku ingin kau menyelidiki mereka yang juga berhubungan dengan keluargaku, salah satunya kasus ibuku yang mati,” ujar Sima yang kembali menanyakan kesepakatannya itu.
“Kalau aku menolak, aku pasti akan dibunuh. Mau bagaimana lagi?” Ia mengangkat kedua bahunya. “Ya, adalah jawabanku untuk saat ini.”
'Untuk saat ini katanya ya? Hm, lelaki ini pintar dalam menyelidiki. Dia bisa tahu apa yang menjadi masalahku hanya dengan sekali lihat ekspresi. Laki-laki yang mengerikan,' batin Sima.
“Karena kau sudah memberitahukan hal penting itu. Mungkin ada baiknya aku mengatakan ini, namaku Han. Keahlianku sudah seperti yang kau lihat atau dengar, dan aku seringkali mati setelah tertangkap oleh orang-orang penting,” ungkap Han.
“Seringkali mati? Apa maksudmu?”
“Seperti yang aku katakan. Setiap aku tertangkap, aku akan mati oleh orang yang menangkapku. Tetapi itu hanya pura-pura, aku benar-benar bisa membuat detak jantungku berhenti sebentar, itu salah satu caranya mengelabuhi,” jelasnya.
Han tiba-tiba membicarakan dirinya, dan itu fakta yang terdengar mengerikan karena ada jarang manusia yang bisa bertahan setelah 3 detik jantung mereka berhenti berfungsi. Monster, itu sebutan yang paling pas untuknya.
“Ha, apa-apaan itu? Ya sudahlah, anggap aku mempercayaimu. Sekarang, pergi!”
Sima menunjuk pintu keluar yang ada di belakang, Han terkejut lantas membelalakkan kedua mata. Ia kemudian berdiri dan menatap bingung pada Sima.
“Apa maksud—”
“Sudah, pergilah! Ayahku akan datang!”
__ADS_1
Segera bawahan Sima menyeret lelaki itu pergi, diusir dengan cara tidak halus. Sementara Han terus berteriak sepanjang perjalanan menuju keluar pintu.
“Hei, bibi! Aku belum selesai bicara! Hei!!”
“Ck, orang itu berisik sekali. Ngomong-ngomong bekas yang kemarin itu sudah kau bereskan, 'kan? Gura?”
“Ya, sudah. Tenang saja,” jawab Gura seraya mengacungkan jempol.
“Bagus.”
Ayahnya datang tak lama setelah lelaki bernama Han itu pergi.
“Sima, ada hal yang harus aku bicarakan padamu?”
“Katakan saja di sini, semuanya sudah tahu.”
“Ya, akan aku persingkat dengan jelas. Pria itu mati tergores pecahan peluru di bagian lehernya. Itu karena kamu kedatangan tamu yang mau membeli tanah busuk itu?” tanya Ayahnya.
“Iya.”
“Lalu di mana dia?”
“Sayangnya dia sudah mati. Ini ulah Faksi Pertama, Bos Besar. Ngomong-ngomong selanjutnya mereka akan kembali bergerak, aku tak mau Bos Besar mati dengan konyol karena pergerakan pendek mereka, jadi berhati-hatilah,” ucap Sima lantas berlalu pergi.
“Tidak, Ayah. Aku akan pergi ke kamarku.”
Sima menolak untuk berbicara lebih panjang lebar lagi dengan Ayahnya. Ia segera memutuskan obrolan mereka lalu pergi ke kamarnya yang masih berantakan itu.
***
Keesokan pagi harinya. Rumah Dendi, saat ini tengah ramai karena ocehan dari dua bocah yang baru saja ditampung kemari.
“Kakak! Kakak! Aku ingin menonton televisi boleh?”
“Kakak, berapa umurmu? Boleh aku panggil Ayah?”
“Kakak!!”
“Kakak!!”
__ADS_1
Suasana rumah yang tak biasa. Bahkan saat adanya Ibunya, rumah ini tidak seberisik yang sekarang. Dendi memang sangat kewalahan sekarang, akan tetapi ia mencoba untuk tetap tenang dan bersabar sampai semuanya selesai ia urus.
Pertama, ia membantu adik laki-laki dari saudara perempuannya untuk membasuh badan. Lalu menyajikan makanan untuk tiga orang, dan kemudian menyiapkan buku-buku untuk matkul di kuliah sesi pagi ini.
“Kakak!!” Kali ini adik laki-lakinya yang menarik-narik pakaian Dendi yang tengah sibuk.
“Ya, ada apa?”
“Tidak jadi, hahah!” jawabnya dengan girang lalu tertawa sambil berlarian dalam rumah.
“Ha ...ternyata sesulit ini ya mengurus anak-anak. Ya, aku tidak punya pengalaman mengurus hal seperti ini, apalagi aku juga anak tunggal. Yang ada aku sering dijaga oleh banyak orang.”
Dendi berkeluh kesah pada pantulannya di cermin, wajah yang lesu dengan banyak pikiran ke mana-mana. Sementara ia teringat, bahwa ia harus kuliah, lantas bagaimana dengan anak-anak?
“Aku lupa kalau aku benar-benar sibuk, eh? Lalu aku harus menitipkan mereka ke mana?” tanyanya dengan kebingungan.
“Nggak apa-apa, kak. Aku bisa jaga adikku, serahkan penjagaan rumah ini padaku!” ucap anak perempuan itu dengan semangat dan berbangga diri.
“Wah, kamu anak mandiri ya?” ucapnya takjub seraya mengelus pucuk kepalanya.
“Ya!” Anak itu merasa senang, ia tersenyum karena pujian itu.
“Tenang saja, Dendi. Aku akan mengurus mereka berdua selama kamu kuliah,” ucap Sima yang telah berdiri di daun pintu.
“Maaf, aku tiba-tiba datang. Dan karena pintunya terbuka, aku jadi khawatir sedikit,” lanjutnya.
Sima sebenarnya baru saja kabur dari rumah, ia melakukannya agar dapat menghindari Ayahnya. Ia kabur dengan cara melompat dari jendela, beruntungnya ia cukup ahli karena jika tidak ia akan mendarat dengan tulang kaki atau tangan yang patah.
“Nggak masalah, Mbak Sima. Aku justru senang karena Mbak benar-benar akan ikut mengurusnya. Sejujurnya aku ingin mengurus mereka, karena aku khawatir.”
“Aku tahu apa maksudmu, Dendi. Ngomong-ngomong aku belum mendengar nama mereka?” tanya Sima
Mendadak suasana menghening.
“Ah, maafkan aku. Aku benar-benar melupakan kalau mereka sendiri tidak ingat. Baiklah, untuk urusan nama nanti biar akan aku urus.”
“Aku juga belum kepikiran akan menggunakan nama apa untuk mereka.”
Rumah Dendi jadi penuh begini. Serasa hidup kembali. Walau kerepotan karena mengurusnya itu yang susah, namun nyatanya itu membuat Dendi senang, karena seperti memiliki adik.
__ADS_1
Sima yang melihat ekspresi Dendi pun jadi ikut merasa kesenangannya. Setidaknya ada rasa senang atau secercah kebahagiaan yang timbul dan membuatnya lupa dengan kejadian buruk.
Dan Sima jadi teringat dengan perkataan ambigu Dendi.