
Mereka nyaris melupakan waktu sehingga menghabiskan selama kurang lebih 3-4 jam di sana. Akhirnya mereka pun berhenti saat melihat malam semakin larut.
Dendi dan Sima merasa kelaparan tetapi di sekitar sana sudah pada tutup semua. Jelas saja ini sudah pukul 11 malam.
“Mbak Sima, kalau begitu aku antar Mbak dulu ke rumah?”
“Oh, ya. Baiklah kalau begitu.”
Dendi mengantarkan Sima ke depan rumahnya. Mereka saling melambaikan tangan tanda perpisahan. Dendi tersenyum lantas pergi.
Tetapi, Sima tak bisa kembali dan masuk ke dalam rumah sekarang. Ia khawatir kalau Dendi akan mengalami kejadian yang sama seperti waktu itu.
Karena itulah, Sima diam-diam mengikuti Dendi saat ini. Di tengah perjalanan membuntuti Dendi, terlintas dalam benak Sima—terpikirkan soal Erik yang mengetahui bahwa Dendi adalah orang yang dekat dengan Sima saat ini.
Kenapa Erik mengetahuinya?
Tap!
Terkejut karena seseorang menarik tangannya, Sima lantas menoleh dan mendapati Erik di belakangnya. Ia menyeringai sesaat.
“Malam, Nona Sima. Sedang apa larut malam begini?”
“Kau lagi!” pekik Sima. Menoleh ke arah Dendi, namun sudah terlambat. Dendi sudah pergi dan Sima telah kehilangan jejaknya.
“Ya? Memangnya ada apa denganku?”
“Erik, lepaskan aku. Aku ingin–” Kalimatnya terpotong, setelah ia kembali menoleh dan menatapnya sinis. Tiba-tiba saja dari belakang, seseorang yang lain membungkam mulutnya dengan sapu tangan.
Bukan hanya dengan sapu tangan, Sima merasa sapu tangan itu seperti dibasahi oleh suatu cairan sehingga membuatnya tapi sadarkan diri lebih cepat.
Semula pandangannya baik-baik saja, memburam dan kemudian terlelap. Sima jatuh tersungkur namun tepat setelah ia memejamkan mata, seseorang dengan badan besar membopongnya ke pundak.
Malam dengan rembulan cerah. Namun nasib sial menimpanya. Entah ia ingin dibawa ke mana, namun sudah pasti bukan untuk rekreasi.
“Apa benar wanita ini yang menghajar anak buah ketua?” tanya pria berbadan bongsor.
__ADS_1
“Ya. Itu benar. Tak salah lagi, kemarin aku memastikannya di hotel.”
“Tentu saja kau tahu, 'kan yang kena hajar juga kau sendiri saat itu. Benar?”
“Jangan menanyakan hal yang tidak perlu. Di malam itu memang aku dan sekumpulan lainnya yang kena hajar. Tapi itu bukan masalah, karena pelakunya sudah tertangkap,” ucap Erik bernada sombong.
Pria berbadan bongsor berjalan sambil membopong Sima itu pun terkekeh-kekeh mengingat sebelumnya Erik sudah kena hajar duluan lalu belum lama ini ia juga pulang dalam kondisi babak belur lagi. Sudah begitu pelakunya sama.
***
Suara berisik yang terdengar seperti lagu. Sangat keras hingga ia merasa pusing, terbangun dan menyadari kedua tangannya dalam kondisi terikat. Sima tengah berbaring di lantai yang dingin, perlahan membuka mata dan mendapati banyak orang di sekitarnya sedang menari-nari.
“Apa-apaan ini ...”
Setelah bangun, ia mencoba untuk melepaskan ikatan talinya. Sedikit-sedikit menggesekkan kedua tangan agar cepat terlepas, meski susah dan membutuhkan tenaga ekstra, Sima pun akhirnya berhasil melepas talinya.
Walau, pergelangan tangan Sima kini sedang tidak baik-baik saja.
Orang-orang baik pria maupun wanita di sana juga sudah menyadari bahwa Sima sudah sadarkan diri. Mereka semua menatapnya dengan tatapan kebencian. Tak lagi menari, mereka diam mematung bersamaan.
Sima berusaha bangkit namun tubuhnya didorong kembali agar terbaring di lantai. Karena pandangannya masih belum sempurna, dan agak sedikit kabur ia pun memutuskan untuk diam sementara.
Sembari melirik ke sekeliling, menghitung jumlah mereka yang ada di dalam ruangan berisik ini. Sekitar belasan itu pun bercampur pria dan wanita.
Setelah pandangan Sima kembali. Segera ia mencengkram kaki wanita yang masih menginjaknya. Lalu menariknya lantas membuat wanita itu tak seimbang dan jatuh.
Semua orang terkejut dan segera saja mereka menyerbu bersamaan. Tampak mereka tahu kalau Sima ahli bela diri.
Ia pun takkan sungkan-sungkan lagi. Menghajar mereka satu demi satu. Meninju bagian raha, ulu hati serta bagian ************.
Pria ataupun wanita, mereka semua ia habisi sama rata. Tak mengecualikan seorang pun.
“Erik tak sebanding denganku, apalagi kalian yang hanya seonggok sampah tak berguna. Ck, apa yang sebenarnya kalian lakukan pada wanita sukses berkarir, hah!?” gerutu Sima dengan raut wajah yang tak terkontrol lagi.
Diam tak bergeming. Setelah beberapa saat kemudian, seorang pria yang masih dalam kondisi sadarkan diri. Sembari ia memegang wajah yang membesar, ia melontarkan caci-makian terhadap Sima.
__ADS_1
“Dasar *****! *******! Kau memang benar-benar wanita itu ya? Jelas, perawakan kalian terlihat sama. Tapi apa-apaan ini, masa' kau nggak tahu apa alasanmu dibawa kemari?” ucapnya dengan nada mengejek.
“Apa maksudmu!?” tanya Sima dengan suara tegas.
Dengan tubuh gemetar, ia berusaha bangkit. Kemudian menujuk dan berkata, “Kesepakatan belum tercapai. Tapi kau malah enak-enakkan sendiri? Setidaknya ingatlah semua dosamu!”
Seketika Sima tersentak. Lagi-lagi ia disinggung dengan kalimat yang hampir serupa itu. Dosa, pembunuhan, dan masa lalu yang kembali diungkit. Tapi ingatan Sima masih tertutup rapat.
“Hah! Aku 'kan sudah bilang! Aku akan melakukan apa pun kecuali menjadi l*curnya si pria sombong itu!” amuk Sima tak karuan.
“Mendengar cukup meragukan. Apa benar kau wanita baik-baik?!”
Semakin lama Sima mendengarkan omong kosong mereka, semakin lama ia kesal. Ruangan yang tidak berarti apa-apa ini. Sima pun melangkah pergi namun beberapa kali ia mencoba membuka pintu ruangan tersebut, justru tak bisa dibuka.
“Terkunci!?”
Panik dan berusaha mencari jalan lain. Tapi jelas tak memungkinkan karena ruangan ini hanya sekotak utuh. Tak ada jalan lain kecuali satu-satunya pintu itu.
Sima pun melangkah mundur, dan menyeret kaki kanannya ke belakang. Hendak ia robohkan pintu itu namun tiba-tiba saja terbuka.
Seorang pria dengan pakaian formal. Yang tidak lain adalah Erik. Erik pernah mengaku sebagai ketua Faksi Pertama yang jelas tak mungkin diduduki oleh seorang pecundang lemah.
“Kau yang roboh hanya dengan satu pukulan dari seorang wanita. Mau apa kau, Erik?”
Sorot mata kebencian yang ditunjukkan secara terang-terangan. Kehadiran Erik berbeda dari saat-saat sebelumnya. Ia hanya terdiam berdiri di sana lalu kemudian melangkah masuk ke dalam.
“Kita bertemu lagi? Ini klub malam yang dibentuk oleh ketua kami. Bagaimana? Apakah Nona Sima senang dengan penyambutan kami?”
Orang ini bicara apa. Melantur yang tidak-tidak, seolah menerima Sima sebagai tamu di tempat ini. Kening Sima bahkan sampai berkedut tak percaya.
“Aku tidak suka berpikir negatif. Katakan apa pekerjaanmu sebenarnya?” tanya Sima, mengatur posisinya dengan berdiri tegak. Ia mendekat beberapa langkah.
“Gigolo.”
Yap, sudah Sima duga. Kalau Erik, pria ini mempunyai pekerjaan yang tidak senonoh. Ia telah menduganya dari semenjak mereka bertemu di hotel. Sikap kurang ajar tak terdidik, bahkan sampai mendesah seolah sedang bermain. Hal semua itu telah memperjelas siapa diri Erik.
__ADS_1
“Aku dibawa kemari untuk apa?”