
Han tiba-tiba saja sudah memberi pesan bahwa dirinya telah berada di rumah Sima dan berhasil meretas laptop milik Ayahnya. Namun setelah Sima bergegas lari kembali ke rumah, dan memeriksa bagian kamar Ayahnya, tak ada jejak yang tersisa.
“Pekerjaannya dia terlalu rapi.”
Tak terlihat kamarnya berantakan, jendela masih tertutup rapi tanpa ada sedikitpun goresan. Pintu juga sama. Dan laptop yang tersimpan di laci pun masih ada di tempat yang sama.
“Dia sangat berbahaya. Entah ini beruntung atau buntung.”
“Bos?”
“Oh, itu kau, Nata?”
“Ya, sepertinya lelaki itu sudah pergi jauh.”
“Bahkan sebelum aku sampai kemari?”
“Ya.”
Han bekerja terlalu rapi, tidak ada sedikitpun goresan termasuk laptop itu sendiri. Sima yang berusaha memeriksa kembali apakah isi laptop itu masih aman, justru sama sekali tidak bisa mengutak-atiknya.
“Kupikir dia akan menghapus passwordnya agar aku dapat melihatnya juga, tapi ternyata tidak ya.”
Password masih terpasang, tidak ada jejak peretasan yang tersisa sama sekali. Sima yang bingung apakah Han benar-benar datang kemari atau tidak pun mendadak jadi blank.
Lalu, ia keluar dari kamar Ayah, dan kembali menguncinya.
“Kamu barusan ngapain?” Lalu dikejutkan oleh sang Ayah yang sudah berdiri di depan mata.
Spontan, Sima menghindar. Saking ia terkejut, mata yang terbelalak tak pernah berhenti menatap Ayahnya yang garang itu.
“Maaf, Ayah. Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya saja, aku berpikir ...”
“Ada penyusup begitu?”
“Y-ya.” Sima menjawab dengan gugup.
Nata yang berada di samping Sima perlahan menghilangkan jejaknya, tubuhnya menghilang begitu Sima menoleh.
'Dia melarikan diri,' batin Sima.
“Ayah, apa Ayah marah hanya karena aku masuk ke kamar?” tanya Sima dengan perasaan gelisah.
“Memangnya kenapa? Bukankah wajar? Ini bukan kamarmu.”
“Tidak biasanya. Apakah ada sesuatu yang Ayah sembunyikan?” pikir Sima yang mencoba untuk memancingnya sedikit.
__ADS_1
“Maksudmu apa berkata begitu padaku?” Tatapannya sudah setajam mahluk buas.
“Ayah, aku 'kan hanya bertanya.”
“Oh, jadi maksudmu Ayahmu ini sedang menyembunyikan seorang wanita perawan begitu?”
“Bu-bukan. Tapi bisa saja begitu,” ujarnya semakin tergagap-gagap, tubuh Sima bergetar hebat saking ia ketakutan pada Bos Besar di hadapannya sekarang.
Perlahan ia melangkah mundur, dan semakin mundur. Tanpa menatap Ayahnya, Sima mencoba untuk melarikan diri sama seperti Nata sebelumnya.
“Mau ke mana?!” Ayah berteriak keras pada Sima. Sima tersentak, ia lantas terdiam dengan tubuh mematung di tempat.
“Aku belum selesai bicara dan kau sudah mencoba untuk kabur dari Ayahmu? Sebenarnya ada sesuatu yang kau curi di dalam kamar?”
“Tidak Ayah!” sangkal Sima.
“Lalu kenapa kau terlihat ketakutan, pergi terburu-buru dan begitu melihatku kau langsung mengendap-endap bersiap untuk pergi kabur,” sindirnya.
“I-itu aku lakukan—”
“Jangan banyak alasan!” jeritnya sampai menggaung ke setiap sudut rumah.
'Wajah Ayah mengerikan!!' jerit Sima dalam batin.
Ini adalah penyebab Sima yang enggan menyentuh sesuatu yang milik Ayahnya yang sangat berwaspada tapi Han melakukannya dalam sekejap, entah bagaimana cara Han melakukannya.
Drrrtt!!
Setelah beberapa saat, ponsel Sima bergetar ringan. Mengetahui itu dari siapa, segera Sima melarikan diri dari sang Ayah agar dirinya dapat segera membaca isi pesan tersebut.
“SIIIIMMAAAA!!!!! KEMARI KAU!!” Kepala keluarga kembali meraung keras.
Sima akhirnya kabur lagi dari rumah. Namun ia masih berdekatan dari sana, lebih tepatnya ia bersembunyi di balik gang sempit belakang rumahnya.
“Nah, bagus. Sekarang pengacau sudah tidak ada. Mari kita baca pesan Han. Apakah dia sudah ...”
Dan baru saja ia bayangkan, namun kini telah menjadi kenyataan. Awalnya Sima tak menyangka, sejenak berpikir bahwa itu berhubungan dengan Enji tetapi ternyata itu adalah informasi mengenai Ibunya.
“Ibu ...oh, iya. Ternyata dia malah mendapat ini dan bukannya Enji. Ha, bagus. Sama-sama bagus dan menyebalkannya.”
Berita mengenai Ibu Sima dan Misa, namun juga Ibu dari Erik, hanya saja Erik memiliki Ayah yang berbeda. Namun sekarang pria itu sudah meninggal, telah menyusul Ibu dan Misa. Sedangkan Sima sudah sendirian, ditemani oleh para anak buahnya.
“Ha, begitu. Beritanya di sini mengatakan, bahwa Ibuku mati di tangan seseorang tak dikenal berinsial S dengan senjata api? Katanya?!”
Membaca sekilas pun tak membuat Sima mengerti, ia sedikit bingung karena yang ia tahu bahwa Ibunya itu mati di tangan Faksi Pertama karena pukulan di kepalanya.
__ADS_1
“Apa-apaan ini? Tunggu, aku akan membacanya lagi ...agar semakin jelas ke arah mana alurnya,” gumam Sima.
Berita simpang siur takkan membantu, namun akankah artikel digital yang ada di dalam berkas laptop milik Ayahnya benar-benar nyata sebagaimana kejadian yang sebenarnya terjadi?
Sampai saat ini Sima masih belum mempercayai apa yang tertulis di sana, terlebih Sima tak begitu ingat bagaimana kejadiannya. Hanya sekilas, di mana ia dan Ibunya berlumur darah dengan sekitarnya yang terbakar.
“Andai saja aku bisa mengingatnya dengan jelas. Maka aku akan tahu siapa pelaku sebenarnya.”
Tetapi, artikel digital yang sudah disalin oleh Han dari berkas milik Ayah Sima itu tetap menunjuk Faksi Pertama sebagai pelaku pembunuhan Ibunya.
[Aku masih kurang yakin apakah benar mereka yang melakukannya? Karena aku menemukan ini.] Satu pesan masuk dari Han.
Tak lama setelah itu, sebuah kertas yang terlipat rapi jatuh dari atas. Begitu Sima mendongakkan kepalanya, ia sama sekali tak menemukan siapa pun kecuali seekor burung.
“Kertas?”
Baru saja ia memungut kertas tersebut, mendadak panggilan dari Dendi masuk. Segera Sima mengangkatnya karena bagi Sima, Dendi adalah yang utama.
“Ya? Dendi.”
[“Maaf menganggu, Mbak Sima! Apakah Mbak melihat dua anak itu pergi ke mana?”]
“A-apa? Maksudmu mereka berdua menghilang?”
[“Ya!”]
Merasa ada yang aneh sedikit, Sima lantas segera mengakhiri panggilannya lalu menghubungi Gura yang seharusnya menjadi penjaga bagi kedua anak itu.
[“Maaf, Bos. Saya membawa dua anak itu pergi berjalan-jalan, karena katanya mereka mau makan manisan lainnya.”]
Dan begitulah singkat ceritanya. Yang ternyata dua anak itu masih berada dalam pengawasan Gura. Sima bernapas lega ketika mendengarnya. Tak lupa ia mengabari hal tersebut pada Dendi.
“Tenang saja Dendi, dua anak itu ada dalam pengawasan ketat. Takkan kubiarkan mereka terluka bahkan sejengkal pun. Termasuk kamu, Dendi!” ucap Sima bersemangat seraya menyimpan ponselnya ke dalam saku.
“Eh? Apa ini?”
Saku yang seharusnya kosong kini menjadi penuh bahkan sebelum Sima menyimpan ponsel itu.
“Apa ..ternyata bungkus rokok dan pemantik rupanya.”
Sudah lama ia tidak mencoba hal itu, namun dirinya kini tak berniat untuk mengulangi kebiasaan buruk sebab ia selalu teringat akan perkataan Dendi.
“Iya, benar. Rokok itu tidak baik,” kata Sima sembari menyalakan sebatang.
“Argh! Kebiasaan!!” Begitu sadar, ia langsung mematikan api yang sudah tersulut lalu membuangnya ke tempat sampah bersamaan dengan kertas yang dipikir sama-sama sampah, sesaat sebelum ia pergi.
__ADS_1