Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
041. Anak Perempuan = Takdir


__ADS_3

Cinta tak berlogika, rasa kasih sayang adalah kehangatan. Begitulah kata banyak orang. Namun, apakah itu berarti seseorang yang tangannya sudah berlumur darah tetap bisa merasakan semua itu?


Hidup dalam mencinta sepenuhnya adalah kesungguhan yang bodoh. Tapi tidak buruk.


***


Hujan rintik-rintik turun dari langit, yang tak lama kemudian hujan menjadi deras. Atap yang sepertinya akan roboh sebentar lagi itu membunyikan suara yang nyaring karena tetesan hujan membenturnya cepat.


Sementara ada seorang anak kecil yang kebetulan berada di gang kecil, ia tersembunyi di balik antara dua rumah dengan atap yang terlihat akan hancur.


Daerah Kumuh, tersembunyi di balik kota tetangga D.


“Em ...aku lapar.” Anak kecil itu bergumam lirih ketika perutnya keroncongan.


Dalam kondisi setengah mati atau hidup, duduk dengan menekuk kedua kakinya, ia berusaha untuk menahan rasa lapar dengan menekan perutnya seperti itu.


“Maafkan, adik. Aku nanti pulang sambil membawa makanan ...mungkin,” gumamnya.


Di saat yang sama, Kota D. Sebelumnya cuaca di sana cerah, malam berangin yang dingin memang membuat bulu kuduk merinding dan tak lama akhirnya hujan juga ikut turun di kota ini.


“Mbak Sima, ayo segera pulang? Di sini hujan dan juga sudah malam,” ucap Dendi sembari mengulurkan tangan untuk Sima.


Sima pun dalam posisi yang sama. Dengan menekuk kedua kakinya, ia berusaha untuk menyembunyikan wajah. Tapi karena memang hujan telah datang, ia kemudian menerima uluran tangan itu.


Bruk!


Ketika Sima akhirnya berdiri dari sana, namun tiba-tiba saja seseorang menabraknya dari samping. Kaget, spontan Sima menoleh ke arahnya.


“Anak kecil?”


Ialah anak kecil itu yang sebelumnya bersembunyi di antara dua rumah.


“Eh, bukankah dia adalah anak—”


Melupakan rasa malunya, saking ia terkejut, Sima lantas menarik tangan anak itu.


“Kamu!”


“Ah! Kakak yang aku curi? Ah, maafkan aku! Lepaskan aku!”


Anak itu seketika panik karena menabrak orang yang dulunya pernah ia rampas barang-barangnya. Ia memberontak, berusaha meloloskan diri.

__ADS_1


Sesaat akhirnya terlepas, anak itu berlari.


“Tunggu sebentar!”


Namun, Sima kembali menarik tangan anak itu. Bermaksud menahannya sebentar.


“Mbak Sima! Bukankah Mbak sudah merelakannya? Tolong, lepaskan saja anak ini.”


“Tapi—!”


Pada akhirnya mereka melanjutkan pembicaraan ini setelah meneduh di suatu tempat yang aman agar tidak kehujanan. Bersama anak itu tentunya.


“Hei, nak! Ternyata itu benar kamu yang mencuri barang-barangku ya!” amuk Sima.


“Sudah, Mbak. Ikhlaskan saja!” sahut Dendi yang tak mau jika Sima kembali mengungkitnya.


“Hah, baiklah.” Dengan merajuk, ia berpaling seraya melipat kedua lengan ke depan dada.


“Maafkan aku. Aku melakukannya demi adikku yang ada di rumah.”


Setelah mendengar alasan singkat itu, seketika hati Sima tersentuh. Sifat luar Sima memang kasar seperti Ayahnya namun di dalam itu semua, ia memiliki hati yang sama hangatnya dengan sang ibu tercinta yang kini hanya tinggal nama.


“Adikmu?”


Penjelasan macam apa itu? Di samping tersentuh, ia kesal karena perkataannya yang menganggap kematian itu mudah.


“Maafkan kakak ini, ya dik? Dia memang cepat sekali emosian, tapi sebenarnya orang baik kok,” ujar Dendi.


Jika diperhatikan dengan baik, pakaian anak ini juga kumal, tubuhnya yang kurus juga bau, serta rambut yang kasar ini. Semua hal-hal yang dapat dilihat dengan kedua mata sudah terpampang jelas bahwa anak ini serba kekurangan.


Walau rumah ada, namun bagaimana dengan hidupnya yang sebatang kara? Sampai ia harus mencuri demi bisa makan bersama adiknya.


“Di mana orang tuamu?” tanya Sima.


“Banyak orang bilang mereka sudah lama mati,” jawabnya tanpa emosi.


“Hah, jangan katakan mati segampang itu,” pinta Sima seraya menjitak pelan kepalanya.


“Mbak Sima!” Padahal yang dijitak adalah anak itu, tapi yang marah justru Dendi.


“Ya, ya. Aku melakukannya karena tindakan yang sebelumnya itu sudah keterlaluan, Dendi. Dan aku menjitaknya tidak terlalu kuat,” ujar Sima membela diri sendiri.

__ADS_1


“Mbak Sima ada aja alasannya ya. Tolong dimengerti bagaimana kondisinya. Dia masih anak kecil, jadi hanya berpikir ini dan itu demi hal sederhana saja,” tutur Dendi merasa resah seraya mengelus kepala anak itu.


Baru pertama kalinya ini mereka bertengkar karena anak kecil yang bahkan tak menangis sampai sekarang.


Harusnya begitu,


“Em ...”


Menahan perut yang semakin perih, anak itu meremas perutnya sembari menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Wajah memucat dan tubuh yang menggigil itu terlihat akan mengutarakan sesuatu.


'Apa dia akan memintaku menjajakannya?' pikir Sima dalam batin.


“Dik, apa terjadi sesua ...tu?” Kalimat Dendi sempat terjeda sebentar, sebab ia terkejut karena ternyata anak kecil itu menahan tangisnya.


“Dik?” Sekali lagi Dendi mencoba untuk memanggilnya.


“HUWEEEEE!!!!” Keluar! Jeritan anak kecil yang super keras ini. Seketika membuat Dendi dan Sima terkejut bukan main.


“Hei! Jangan nangis!” pekik Sima yang risih mendengarnya.


“Mbak Sima! Jangan membentaknya seperti itu!” sahut Dendi kesal. Ia lantas memeluk anak kecil itu dengan erat agar dapat membuatnya tenang sejenak.


“Huwee!! Maafkan aku! Aku nggak seharusnya nyuri barang orang hanya karena ingin makan! Habisnya ...habisnya ...aku lapar! Adikku juga terus-terusan ngeluh sakit perut!” ujarnya dengan isak tangis.


Anak kecil itu menangis kencang dengan mengutarakan berbagai keluhan serta alasannya mencuri. Dan Dendi berusaha untuk menenangkannya.


“Maafkan aku, kak! Semua orang ingin kami berdua mati! Tapi aku nggak mau, karena takut! Huwee!!! Kakak ...adikku menungguku, jika aku telat sedikit saja maka mereka semua akan menghajarnya!” keluhnya lagi dengan jeritan luar biasa.


“Ya, iya. Kami mengerti. Tenanglah, dik. Kami ada di sini, takkan ada seorang pun berniat menghajarmu ataupun adikmu. Nanti kita ke sana ya? Aku juga akan membelikanmu makan,” ucap Dendi merasa iba.


“Mbak Sima! Titip dia, jaga dia baik-baik dan jangan sampai berteriak lagi ke arahnya, ya Mbak? Karena anak kecil itu sensitif, maka aku meminta Mbak Sima agar lebih mengerti,” tutur Dendi yang kemudian pergi ke seberang jalan tuk membelikan makanan.


Dendi pergi, dan tangisan anak ini justru semakin menjadi. Sima menghela napas besar sampai pada akhirnya ia memutuskan tuk mengalah. Ia mendekap anak kecil itu dengan pelan dan lembut.


Sembari mengusap-usap punggung, Sima berucap, “Tidak ada gunanya menangis kalau tidak berusaha. Bisa tenang sedikit?”


Entah apa maksud Sima berkata begitu, tapi percayalah Sima memiliki niat baiknya tersendiri.


“Y-ya. Terima kasih.”


Tapi dengan ajaibnya manjur, membuat anak kecil itu berhenti menangis dalam sekejap. Sesungguhnya Sima pun terkejut karena hal itu.

__ADS_1


“Kalau kamu benar-benar tidak punya orang tua ataupun sanak saudara yang lainnya, maka aku akan menam—”


Tiba-tiba saja Sima berhenti berbicara. Saat itu ia hendak mengatakan akan menampung anak ini, tapi ketika ingat dirinya siapa, ia lebih memilih untuk menelan kalimat yang nyaris terucap itu.


__ADS_2