Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
031. Yang Tidak Baik = Candu


__ADS_3





Penyergapan, penyerbuan. Penyerangan. Ini semua terjadi sesuai yang dikatakan oleh Lisa, wanita itu. Yang diyakini memiliki hubungan langsung dengan pemimpin Faksi Pertama, kaki tangannya yang setia.


Tetapi, kebanyakan anggota dari mereka berpikir bahwa Lisa sendirilah pemimpin itu, secara pemimpin yang dikatakan tidak pernah bertemu dengan anak buahnya sendiri selain Lisa.


Sedangkan Sima berpikir, pemimpin itu memang benar adanya namun bukan Lisa.


“Ck!”


Sima berdecak kesal, ia duduk dengan menyilangkan kaki serta kedua tangannya ke depan dada. Menatap sinis pada beberapa orang yang barusan menyerang.


“Dasar orang-orang bodoh! Kalian pikir dengan serangan mendadak, akan berhasil? Jangan meremehkan keluarga kami!” amuk Sima.


Saat ini, seseorang yang berkedok sebagai tamu sekaligus calon pembeli tanah juga beberapa pria yang diyakini bagian dari Faksi Pertama telah dibekuk oleh bawahan Sima. Tak menyia-nyiakan sedikit waktu, Gura dan lainnya langsung mengikat kencang juga membuat tubuh mereka menyatu dengan satu tali panjang tersebut.


“Bos, ada yang harus saya sampaikan.” Gura berbisik.


“Apa?” Sima bertanya dengan ketus, lirikannya pun sangat tajam sampai Gura sendiri enggan mengatakan hal yang ia inginkan.


Terhitung 3 orang yang menjadi perisai Sima sewaktu penyerangan mulai terjadi. Namun ternyata mereka sudah bersiap akan hal tersebut dengan menggunakan rompi anti peluru. Itu kenyataan yang tak terduga.


Tapi, itu tetap memakan korban. Ada satu orang yang terkena peluru dan menggores lehernya. Saat ini, ia sedang di rumah sakit untuk dioperasi. Sima tidak bisa mengantarnya langsung sebab ada banyak hal yang harus diurus sekarang.


“Hei, Gura! Cepat katakan apa maumu?” tanya Sima bernada tinggi.


Gura menggelengkan kepala. Ia tak lagi berniat untuk mengatakannya perihal kecurigaan Gura terhadap Dendi.


“Heh, terserah! Lalu! Kenapa kau menyerangku? Hei, tuan calon pembeli!” tanya Sima pada satu-satunya pria yang pernah diajak berbicara sebelum ini.


Pria itu jelas ketakutan, tak sedikit air mata mengalir, memikirkan keadaan keluarga yang sedang berada di ambang batas kehidupan mereka. Pria itu kecewa, sedih serta takut. Entah yang mana ekspresi yang lebih jelas terlihat, hanya saja Sima tahu bahwa pria ini terpaksa melakukannya.


“Katakan!”

__ADS_1


Dengan ragu dan tergagap-gagap ia pun berkata, “A-aku ...datang ke-kemari ...karena wanita itu ...menyandera keluargaku! Dia menyuruhku melakukan ini, bahkan membunuh Papuana ...a-aku!”


“Sudah cukup! Sudah aku duga ini paksaan. Lalu, bagaimana dengan yang lainnya. Kalian pengawal gadungan, bukan?” Sima bertanya pada orang-orang yang bersama dengan pria tersebut.


“Cih! Memangnya kami akan mau bicara begitu saja!” sahut salah seorang dari mereka.


Tak hanya lelaki itu saja bahkan yang lainnya memiliki wajah yang tidak biasa. Wajah preman kelas teri, yang takkan jarang ditemukan di mana-mana.


“Hei! Kalian beraninya berbicara tak sopan seperti itu!” pekik Gura, yang tak terima perlakuan mereka terhadap Sima.


“Gura!” Lagi, Sima memanggilnya dengan nada yang geram.


“Y-ya?” Gura menjawab dengan gelisah.


“Apa aku menyuruhmu untuk angkat bicara?”


Seketika Gura bungkam, ia tersentak saat Sima mengatakan hal tersebut. Ia tahu jelas bagaimana sikap Sima terutama ketika dirinya sedang emosi seperti ini. Sorot matanya saja sudah kembali seperti sedia kala, seperti saat menghadapi geng-geng lainnya.


“Aku juga tidak pernah menyuruh kalian untuk masuk ke dalam. Tapi, lupakanlah itu. Aku hanya ingin mendengar apa yang mereka katakan untuk sekarang,” tutur Sima.


“Y-ya.”


“Sekali lagi, kalian itu bukan pengawal sesungguhnya bukan? Siapa kalian?”


“Oh, anggapanmu cukup bagus. Tapi aku takkan melakukannya karena itu. Itu alasan yang bodoh, dasar bocah,” sahut Sima.


“Ingat saja hal ini ya! Bos kami akan membunuhmu! Cepat atau lambat, entah secara sadar atau tidaknya dirimu!”


“Siapa bos kalian?” Tidak menanggapi ocehannya, Sima bertanya akan hal itu.


“Orang rendahan sepertimu—”


DUAK!!


Sepatu tanpa hak namun cukup tebal itu telah mendarat tepat ke wajahnya, yang membuat diri mereka langsung bungkam dalam sekejap. Tanpa melepaskan injakannya yang semakin kuat, Sima menatap ke salah satu pengawal gadungan tersebut.


“Daripada membuang waktu, sejujurnya aku sudah tahu dari wanita itu. Dia yang memberitahuku soal penyerangan kalian. Faksi Pertama.”


Ekspresi mereka berubah, antara terkejut namun juga bingung. Situasi berubah drastis begitu Sima mengungkapkan hal tersebut, siapa sangka bahwa ini akan membuat Sima semakin melangkah jauh ke depan.

__ADS_1


“Benar 'kan? Aku tahu itu. Faksi Pertama, itulah kalian sementara pria ini mungkin saja adalah kenalan Ayahku. Dia dipaksa melakukan hal ini, ah ...menyebalkan!”


Sima menghela napas pendek, bukan karena lelah melainkan merasa bosan karena mereka semua mudah ditebak.


“Gura, jagalah di luar.”


“Bos, tapi bukankah—”


“Ini bukan penyerangan yang sebenarnya. Ini hanya sekadar pembuka,” sahut Sima.


Gura menganggukkan kepala lantas pergi. Sesaat sebelum meninggalkan ruang tamu yang sedikitnya hancur karena penuh lubang dan bercak darah, Sima menyuruh bawahannya untuk sesuatu.


“Nata, aku ingin kau mengurus sampah-sampah ini sendirian. Jangan biarkan mereka melarikan diri ataupun sampai bunuh diri di tempat,” pinta Sima.


“Ya, bos!”


Semua mungkin terlihat lancar, namun masalah yang sebenarnya akan dimulai nanti. Entah apa yang akan menanti, tapi tampaknya ada sesuatu yang lebih menganggu Gura ketimbang menjaga di luar agar tak melonggarkan kewaspadaan sekalipun.


“Bos Sima, sebenarnya ada hal yang ingin saya bicarakan.”


“Ya, katakan.” Nadanya sedikit merendah, tanda kemarahannya mereda.


“Baiklah, bos. Saya turut senang. Tapi hal yang akan saya katakan ini mungkin akan membuatmu marah, tentang Dendi.”


Gura mengatakannya sambil memberikan sebatang rokok, dan Sima menerimanya dan langsung menyalakan api di bagian ujung.


“Aku berpikir, kenapa setiap kali Bos Sima berpergian untuk sesuatu yang berkaitan dengan dia, pasti sesuatu yang buruk selalu terjadi. Bos selalu diincar di saat seperti itu,” celetuknya.


Ujung satunya sudah menyentuh bibir Sima, namun ia tidak jadi menikmati asamnya puntung itu yang kemudian ia memberikannya pada Gura.


Memberikan jawaban tak langsung, “Dendi mengatakan bahwa rokok itu tidak baik. Buang ini.”


Hanya dengan mendengarkan kata Sima hari itu saja, telah membuat Gura semakin sadar bahwa kecurigaannya justru semakin mendalam.


***


Di sisi lain, pada waktu sesaat setelah Sima bertemu dengan calon kembali tanah.


Dengan tubuh terikat seutas tali yang kencang, Erik terduduk meratapi nasib buruknya. Lisa berada di hadapannya sekarang, yang sudah jelas akan melakukan apa terkait perbuatan Erik pada Faksi Pertama.

__ADS_1


“Kau berani berkhianat di depan mata kami. Apa kau sudah tidak waras?”


“Daripada yang polos dan naif, aku lebih suka wanita yang licik. Sama sepertimu atau Bos Sima,” sahut Erik, menyeringai.


__ADS_2