
Sesosok wanita dengan gaya berpakaian dewasa. Tentunya ia tak lagi mengenakan sepatu hak tinggi, ia menggantikannya dengan sepatu tanpa hak. Hari ini, Sima tampak oke di depan semua orang. Mata mereka tertuju padanya seorang dengan gaya berpakaian semi formal, atasan berwarna krem dengan rok span hitam. Tak lupa dengan jas yang hanya sekadar menumpang di punggung Sima.
Anting putih seperti dekorasi bak permata. Rambut yang tergerai indah membuatnya lebih dewasa. Bibir yang dipoles cukup feminin sehingga tak menampilkan kesan menggoda seseorang.
Sima menghampiri resepsionis, bertanya apakah ada orang yang mencarinya kemari. Dan ternyata ia sudah lama ditunggu, di kamar no.006. Orang itu menunggu di kamar hotel, sungguh membuat Sima curiga. Firasatnya mulai tidak enak, terbesit dalam benak untuknya pulang tapi kemudian ia mengurungkan niat lantaran sudah terlambat.
“Orang s*al.”
Caci makiannya dapat didengar, seketika beberapa orang di sekitarnya bergidik merinding. Sima lantas berjalan menaiki tangga dan secepatnya menemukan nomor kamar itu.
Tok ...Tok! Mengetuk pintu beberapa kali, setelah beberapa saat, orangnya pun muncul dengan setelan jas. Ia memandang tubuh Sima dari bawah ke atas seraya tersenyum.
“Apa yang kau lihat, hah?!” ketus Sima dengan wajah kesal.
“Perkenalkan aku Erik. Mendengar kata-katamu yang kasar begitu, sudah pasti kau adalah putrinya, benar?” ujar Erik seraya mempersilahkan Sima masuk.
“Apa kita akan bicara di kamar ini? Aku tidak mau sampai muncul gosip buruk tentangku,” kata Sima, ia enggan untuk masuk ke dalam.
“Dasar sok ngartis. Kau pikir kenapa kita harus bertemu di kamar hotel? Tenang saja aku datang bukan untuk bermain di ranjang denganmu. Ingat, percakapan kita cukup mengantisipasi orang sekitar. Pikirkan bagaimana orang akan menilai kita saat tak sengaja mendengarkan,” sahut Erik.
Sima pun melepas ego itu. Ia masuk dan menutup pintu kamar lalu melepas jasnya lantas duduk di bangku kecil.
“Jadi apa yang kau ingin bicarakan? Faksi Pertama sudah membuat ulah, itu jelas salah kalian.”
“Hm, itu separuh salah dan separuh benar. Memang kami membuat ulah tapi yang duluan itu Ayahmu, Sukma. Apa kau benar-benar tidak tahu apa alasan kami membuat ulah? Bahkan aparat sudah tidak sanggup menghadapinya, kalian juga sama saja,” sindir Erik dengan kata-kata yang seolah mengejeknya.
“Ya. Aku cukup percaya kalau yang duluan membuat ulah itu Ayahku di masa lalu. Tapi sekarang bosnya adalah aku. Aku sudah tidak mengganggu kalian, tapi kalian justru meneruskan perbuatan tercela itu,” jelas Sima.
__ADS_1
“Kau pikir kenapa organisasi itu ada?” Sontak, mata Erik membulat. Menatap Sima seolah tak percaya bahwa Sima sendiri tidak mengetahui masa lalu mereka.
“Mafia. Nama itu jelas tidak diperuntukkan organisasi baik. Aku tahu betul, kalau saudara-saudaraku yang dulu bersama Ayah membenarkan segala tindakan mereka yang bar-bar. Atau bahkan melakukan kejahatan yang tingkatannya sudah tidak tertolong. Tapi itu di masa lalu!” tegas Sima.
“Masa lalu takkan sepenuhnya mengubah isi dari organisasi itu sendiri. Organisasi di balik layar Ayahmu itu ...pernah menguasai seluruh blok yang ada di negara ini. Tapi sekarang apa? Hanya Blok D, benar? Kau tahu kenapa mereka berubah?”
Sepertinya Erik mencoba memancing Sima dari semua perkataannya. Terdengar mencemooh hingga kening Sima pun berkerut. Sesekali ia meremat ujung roknya karena berusaha untuk menahan amarah.
“Apa maksudmu? Kami sudah berubah, dan kalau kau mau kami lenyap. Maka aku akan hapuskan yang namanya, "Mafia", itu!”
“Seolah kau bisa melakukannya, Nona Sima. Tapi biar kuberitahukan sesuatu. Ayahmu itu pernah menculik seorang gadis dari Blok E, yaitu tempat kami. Dan kau harusnya tahu siapa gadis itu,” tutur Erik dengan sorot mata yang tajam.
Mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulutnya, membuat Sima semakin jengkel saja. Ia berdiri lantas melangkah menghampiri Erik yang kemudian menarik kerah pakaiannya.
Saling bertukar tatap namun dengan berbeda ekspresi. Sima yang marah dan Erik yang seolah tertawa.
“Apa yang kau lakukan?” Erik tersenyum tipis.
“Haha, itu benar. Rupanya putri dari gadis itu cukup pintar. Kita sama-sama bagian dari penguasa di setiap blok. Untuk apa saling merugikan, tapi pada kenyataannya kita sama-sama kriminal?” sahut Erik.
Bruk! Erik menarik tubuh Sima ke ranjang. Ia menahan seluruh pergerakannya sehingga tak bisa bergerak leluasa.
Seraya menatap dengan senyum aneh, Erik berkata, “Bos Sima, itukah nama yang menjadi pemimpin di blok D? Aku akan mengingatnya. Lalu bukankah seharusnya kita harus saling berdamai? Bagaimana kesepakatannya?” tanya Erik.
Sima berdecak kesal, melirik ke arah jendela dengan dahi berkenyit. Sesaat ia berpikir bahwa kenyataan itu adalah kebohongan namun ...
“Bukankah kita sekarang sedang kencan buta?”
__ADS_1
“Itu berbeda lagi. Aku ingin kau menjadi ...” Setelahnya Erik berbisik. Seketika Sima terkejut mendengarnya.
“Bos Besar bilang padaku, untuk pergi kencan buta dengan seorang pria yang katanya adalah ketua Faksi Pertama. Tapi kenapa sikapnya tidak sopan begini, ya?” sindir Sima menatap sinis.
“Oh, atau karena kau ini preman? Ya, ampun aku sampai lupa aku menghadap siapa sekarang ini. Harusnya aku berpakaian biasa dengan sandal jepit favoritku saja, benar? Tuan Erik,” imbuh Sima bernada rendah mengejek.
Erik semakin lama semakin kesal. Mencengkram kedua lengan Sima lebih erat dan sorot matanya itu membuat Sima tak dapat berkutik. Yang berisyarat, kapan saja ia bisa membunuhnya.
“Kau hanya seorang perempuan. Bisa apa? Ditahan sedikit saja sudah tak bisa bergerak.”
Ya, Erik sekali lagi berhasil menyinggungnya.
“Aku hanyalah seorang perempuan?” tanya Sima memastikan dengan senyum yang tersungging.
Salah satu kaki Sima mulai bergerak, ia melepaskan sepatu yang masih terpasang di kakinya itu. Lantas menekuknya mundur dan secara tak sengaja lutut Sima menyentuh bagian tengah milik Erik.
Sontak terkejut, Sima pun puas dengan wajah itu. Sima menghela napas pendek seraya menurunkan pandangan. Ia membuat salah satu kakinya melewati tubuh Erik lalu menjengjangkannya.
“Aku tidak sudi menjadi l*curmu!” pekik Sima dengan kaki yang menyentuh dagu Erik.
Erik hanya terdiam dan sedikit ia merasa terangsang dengan tindakan Sima sebelumnya. Berani menyentuh benda pusaka yang berharga bagi para pria adalah sebuah tanda untuknya memulai sebuah hubungan.
Tetapi, Sima adalah wanita bar-bar.
“Kau tidak berencana untuk ...”
“RAPATKAN GIGIMU DENGAN BAIK!” seru Sima dengan suara lantang.
__ADS_1
Sebaris kalimat menandakan akhir dari segalanya? Hal itu ia katakan sebelum kaki yang jenjang menendang dagunya dengan keras. Sesaat setelah itu, Erik tumbang dengan mata terbuka serta mulut yang nyaris berbusa hingga mengeluarkan darah. Bahkan Sima merelakan rok span miliknya jadi robek.
“LEMAH! DASAR PRIA UDIK! RASAKAN ITU! BERANI-BERANINYA KAU MENYENTUHKU! HAH!”