
Terjadi kecelakaan akibat kelalaian dari masing-masing pihak.
**
Dendi menodongkan senjata api padanya, sontak saja ia terkejut dan kemudian terbangun dengan perasaan syok.
“Dendi.” Secara tidak sadar, Sima menoleh ke kiri, tempat di mana Dendi berada.
Sesuai dengan mimpinya, Dendi ada di sana namun tidak sedang melakukan apa-apa melainkan hanya setengah tertidur dan duduk di dekatnya. Setelah beberapa saat Sima memanggil nama Dendi, barulah Dendi terbangun.
“Mbak Sima!”
Wajah periang, dan senyum tulusnya kembali Dendi tunjukkan. Ia lantas memeluk Sima saking ia khawatir karena sesuatu yang buruk baru saja terjadi. Sementara sang Ayah, Sukma berdiri di belakang Dendi, hanya menatap sinis ke arah Sima.
“Dendi, apa yang terjadi?”
Benar saja, ini aneh. Sima merasa tidak seharusnya tertidur di ranjang dengan langit-langit tak berwarna. Setelah diperhatikan lebih baik, aroma di sekitar sangat menyengat dan aneh.
“Mbak Sima sekarang berada di rumah sakit,” jelas Dendi seraya melepaskan pelukannya.
“Rumah sakit?” tanya Sima yang masih dalam kondisi setengah sadar.
“Ya. Apa Mbak Sima melupakannya?”
“Tidak. Aku tahu kenapa aku ada di sini,” ucap Sima seraya menatap Ayahnya yang masih berdiri di belakang sana.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi katanya Mbak Sima mengalami kecelakaan. Tertabrak truk,” jelas Dendi.
“Ya, tidak apa-apa Dendi. Aku sudah baik-baik saja.”
Ada perban yang membelit pergelangan kaki dan keningnya. Sudah jelas bahwa ini luka yang bisa dikatakan cukup fatal. Sima sempat syok namun bukan karena kecelakaan ini melainkan karena apa yang ia impikan serta ingatan yang telah lama ia lupakan.
“Ngomong-ngomong bagaimana dengan dua anak itu? Mereka baik-baik saja?” tanya Sima.
__ADS_1
“Ya, mereka baik-baik saja dan ada bersama pria yang bernama Gura.”
“Hm, baguslah. Lalu, bagaimana pekerjaanmu? Bukankah kamu seharusnya melanjutkannya? Aku takut jika hal yang telah menimpaku akan membuatmu terhalang dari pekerjaan,” ujar Sima.
“Ini bukan masalah. Aku sudah meminta ijin sebentar, lagi pula yang terluka adalah pemilik toko itu. Mana mungkin aku hanya diam dan tidak menjenguk.”
Perkataan Dendi yang menenangkan, cara bagaimana ia bertindak sungguh membuat Sima lupa akan apa yang telah terjadi kepadanya. Terlebih ingatan yang buruk terus mengalir ke dalam memorinya, memenuhi kenangan hangat sampai terasa akan hilang sesaat lagi.
Tetapi, setidaknya berkat Dendi ia masih bisa bertahan. Sima masih waras, meski secara tak langsung kini dirinya berhadapan langsung dengan sang Ayah, Sukma.
“Itulah akibatnya jika kau berani mencuri sesuatu dariku,” ketus Sukma.
Mendengar Ayah Sima yang berkata kasar di saat putrinya sendiri sedang terluka. Lantas Dendi menghadapnya, nampak ia akan melawan.
“Bapak tidak seharusnya berkata seperti itu. Putri bapak sedang terluka, setidaknya bapak menanyakan bagaimana keadaannya?” ujar Dendi. Ia merasa bahwa kata-kata Sukma yang terkesan menjelekkan Sima itu keterlaluan.
“Aku sudah tahu bagaimana keadaannya dari dokter. Jadi tidak perlu menanyakan keadaannya lagi. Terlebih melihat kalian bermesraan begitu,” tutur Sukma seraya melipat kedua lengannya ke depan dada.
Entah kenapa situasi menjadi canggung. Antara Sukma, Sima dan Dendi. Terasa sangat dingin dan mencekam berada dalam ruangan ini. Sima yang turut merasakannya, kini merasa muak.
“Jangan pedulikan tentang keluarga kami. Kau mungkin hanyalah kekasih putriku saja, tapi bukan berarti kau berhak ikut campur atas bagaimana cara aku bersikap pada putriku sendiri,” ungkap Sukma menegaskan.
“Saya tidak bermaksud untuk ikut campur melainkan—”
“Dendi,” panggil Sima yang segera menghentikan adu mulut di antara mereka.
“Sudah cukup. Ayah dan aku memang selalu begini. Ini sudah menjadi kebiasaan dan kamu tidak perlu khawatir,” ucap Sima dengan wajah tersipu malu, akibat mendengar ungkapan Sukma yang berpikir bahwa Sima dan Dendi adalah sepasang kekasih.
Sima tersenyum simpul seraya memegang telapak tangan Dendi. Agar tidak membuat kegaduhan lebih lanjut lagi. Ini pun demi Dendi juga, karena Ayahnya memang sangat seram bahkan Sima saja hanya bisa diam atau melarikan diri sama seperti sebelumnya.
“Habisnya, Mbak! Aku—”
“Ssst!” Sima lagi-lagi menghentikan omongan Dendi dengan mengacungkan jari telunjuk ke depan bibir. “Aku senang kamu membelaku. Apalagi kehadiranmu di sinilah yang paling membuatku senang. Jadi, jangan pikirkan tentang Ayahku, ya?” pinta Sima.
__ADS_1
Cuaca hari ini tidak terlihat baik. Begitu juga dengan semua luka yang dialami oleh Sima hari ini. Baik luka baru maupun luka lama yang telah membekas di lubuk hatinya terdalam. Rasa sakit, kekecewaan, benci, amarah dan dendam. Semua hal negatif itu sedang mencampurkan diri di dalam tubuh Sima.
Emosi akan meningkat, apabila tidak ada penawar di sini. Dan penawarnya adalah Dendi.
“Sima, aku akan pergi ke luar negeri karena urusan bisnis. Ada rekan kerjaku yang saat ini berada di sana,” ungkap Sukma.
“Pergi?” Mendengar Sukma akan pergi, mendadak Sima jadi kesal sendiri. Terlihat dari ekspresinya yang menandakan bahwa ia tidak ingin Ayahnya pergi. Namun tentunya bukan hanya karena sekadar tak ingin ditinggal karena takut rindu melainkan karena sesuatu yang lain.
Sesuatu yang berbeda, dalam emosi negatifnya.
“Iya. Dan kau bisa menjaga dirimu sendiri bukan? Semuanya akan kutinggal di negara ini. Kecuali satu orang yang sudah lama bersamaku.”
Sukma berbalik badan, dan tiba-tiba ia berhenti melangkah setelah teringat sesuatu yang ia lupakan.
“Gura tetap akan kutinggal, karena kau yang memungutnya hari itu. Dia akan menjadi penjaga yang baik,“ imbuh Sukma.
“Ayah akan pergi sekarang?” tanya Sima. Ia turun dari ranjang lalu menghampiri Ayahnya yang sudah berada di daun pintu ruangan.
“Ya, aku tidak punya waktu lagi. Lalu aku berharap kau tidak membuat masalah selama aku tidak ada. Ingat itu.” Ucapannya terlihat seolah ia mengecam atau mengancam.
Ekspresi Dendi sama sekali tidak berubah ketika kembali memandang punggung Sukma yang egois. Tak terasa ada setitik rasa kepedulian untuk putrinya sendiri yakni Sima.
Dendi merasa yakin bahwa Sima merasa tindakan Sukma keterlaluan namun sesuai yang dikatakan Sima, ini hanyalah kebiasaan di antara mereka.
Tanpa disadari oleh Sima, Dendi melihatnya sedang menyembunyikan kepalan tangan itu dari Sukma.
“Mbak Sima.” Dendi memanggilnya lirih seraya memegang kepalan tangan itu, lalu menangkup wajah Sima sembari mengulas senyum di hadapannya. Perasaan hangat kembali mengalir ke dalam diri Sima.
“Terima kasih,” ucap Sima sembari membalas senyumannya.
***
Sukma sudah pergi meninggalkan ruangan, namun tak hanya sekadar pergi saja, ia juga menghubungi seseorang dalam perjalanan.
__ADS_1
“Gura, awasi pria yang selalu bersama dengan Sima.” Perintah dari Bos Besar langsung, terdengar di kedua telinga Gura yang saat ini sedang pergi berbelanja dengan kedua anak itu.
[“Baik, saya akan melakukannya.”] Gura telah menjawab, dan panggilan pun diakhiri secepatnya.