
Ini pasti mimpi. Itulah kalimat yang terlintas dalam benaknya. Ya, mana mungkin Sima mendapatkan hal seperti ini, hal yang telah lama ia dambakan bahkan saat bersama dengan Adrian saja ia tidak pernah melakukannya.
“K-k-k-k-k ....a, itu ...!”
Sima jadi sepenuhnya gugup, kata-katanya bahkan tak pernah diucapkan dengan lancar. Tergagap-gagap seakan lidahnya ditarik keluar. Sementara pria yang mencuri ciuman pertamanya itu hanya bersikap santai.
Selang beberapa saat, kedua bibir manis itu saling menjauh. Sekilas Sima seperti melihat sosok yang lain dari Dendi yang polos.
Lekuk wajah, setitik tanda hitam di bagian bawah mata kanannya lalu sudut matanya yang terlihat lentik seperti perempuan berhasil membuat Sima terpesona. Alhasil jantung berdetak lebih cepat, sulit dikendalikan bahkan pupil mata Sima pun bergetar-getar sejak tadi.
Namun hal yang paling mengejutkan ialah ketika Sima melihat sorot mata Dendi yang sekilas terlihat menukik tajam. Inilah yang membuat Sima merasa aneh.
'Aku berharap ini mimpi! Ah, tidak! Jangan mimpi! Ini pasti angan-anganku!' jeritnya dalam batin, namun di luarnya ia terlihat kacau, matanya sudah berputar-putar karena bingung dengan situasi hari ini.
“Kamu ...sejak kapan di sini?” Setelah beberapa saat akhirnya otak Sima mulai bekerja, ia mendorong sedikit tubuh Dendi agar menjauh darinya sembari Sima memalingkan wajah.
Tapi, secara tidak sengaja begitu Sima mendorong tubuh Dendi, puntung rokok yang barusan direbut terjatuh ke jalan. Lalu api yang masih menyala pun membakar sisa kertas yang kebetulan berada dekat dengan puntung tersebut.
“KYAAA!! API!!”
Karena kaget, Sima segera mematikan api itu dengan menginjak-injaknya dengan kuat. Setelah api benar-benar sudah padam, barulah ia merasa lega lantas menghela napas.
“Huh, akhirnya. Beruntung tidak terjadi kebakaran hebat. Haha,” ujarnya lantas tertawa hambar.
“Lihat 'kan? Apa yang terjadi jika Mbak Sima melakukan itu di sini?” kata Dendi sembari tersenyum.
“AAA!!! YA AMPUN!” Lagi-lagi Sima berteriak saking ia terkejutnya, ia nyaris melupakan keberadaan Dendi saat itu.
“Mbak Sima?”
“Ah ...eh, itu ...eh ...Dendi?” Dengan masih gugup, ia memastikan tiada seorang pun di sekitar. Ia bahkan berlindung dari dua lengannya agar tidak bertatapan dengan Dendi secara langsung seolah takut ketahuan akan sesuatu.
“Ya?” Dendi menjawab panggilannya dengan sangat sabar. Pancaran sinarnya yang mematikan nyaris membuat Sima terbakar api cinta.
__ADS_1
“Dendi, kenapa kamu bisa ...ah, maksudku, kenapa Dendi tahu kalau ini aku?” tanya Sima.
“Aku tahu dari awal. Saat masuk ke kelas, entah kenapa pandanganku tertuju pada mahasiswa yang berada di kursi belakang,” ucapnya yang tidak bermaksud menggoda atau semacamnya.
'Eh? Dia melihatku dari awal semenjak masuk ke kelas? Matanya sangat tajam sekali? Jadi itu artinya dari awal penyamaranku tidak berguna ya?' batin Sima yang malunya minta ampun.
Bagi Sima, ujaran Dendi barusan terlihat seolah-olah Dendi hanya memandanginya saja. Padahal Dendi hanya reflek melihat ke arah belakang dan juga langsung tahu bahwa itu adalah Sima, wanita yang ia kenal.
“Maafkan aku, Dendi. Aku salah karena merokok di tempatmu menimba ilmu,” ucap Sima tulus namun tidak memandangi wajah Dendi. Ia tetap berpaling darinya sembari memegang wajah dengan kedua tangan karena rasa malu tak tertahankan.
“Iya, Mbak Sima. Tapi rokok itu tidak baik untuk tubuhmu, jadi jangan lakukan itu lagi, ya?” pinta Dendi berharap agar Sima berjanji.
Matanya yang berbinar seperti anjing kecil, sangat imut dan rugi jika tidak dilihat.
“A-aku akan berusaha.” Usai meliriknya sebentar, ia menjawab dengan sedikit terbata-bata.
“Tapi kenapa kamu melakukan hal itu? Maksudku mencium ...” Sima bertanya.
“Kata Ibuku, kalau seorang wanita sedang marah maka aku harus mengecup bibirnya seperti barusan,” jelasnya dengan wajah lugu. Seketika Sima pun tersentak oleh keluguannya.
“Mbak Sima, sebenarnya sedang ada urusan apa hingga datang kemari?” tanya Dendi penasaran.
“Hanya urusan pribadi. Dendi, kamu tidak perlu tahu tentang itu,” ucap Sima mengulas senyumnya. Akhirnya Sima tak lagi menunjukkan sisi buruk di hadapan orang yang ia cintai.
“Jangan bilang Mbak Sima sedang menunggu pacar?” pikir Dendi.
Sima terkaget-kaget akan perkataan Dendi barusan. Ia tak menyangka bahwa Dendi berpikir sampai seperti itu. Bahkan Dendi juga mengetahui kalau mood Sima hari ini sungguh buruk, setelah melihat Dendi berduaan dengan seorang gadis sebelumnya.
'Segala yang telah aku rencanakan tiba-tiba lenyap dalam sekejap. Aku tidak mengerti, kenapa Dendi secakap ini? Atau hanya aku saja yang tidak peka dan menganggap Dendi sepenuhnya polos?' pikir Sima dalam benaknya.
Banyak hal yang hendak Sima tanyakan pada Dendi. Tapi itu terlalu sulit dikatakan karena mungkin akan membuat Dendi curiga.
Pada dasarnya sifat lugu bukan berarti bodoh, Sima tampak waspada terhadap Dendi mulai saat ini.
__ADS_1
“Aku nyaris hilang akal bersamanya. Tapi aku juga tidak boleh jatuh hati semudah ini. Nanti bagaimana jika dia seperti Adrian? Dia akan mengkhianatiku,” ucap Sima dengan lirih-lirih.
Wajah gelisah Sima semakin terlihat. Tetapi, setelah beberapa saat kemudian, wajah penuh kesedihannya berubah 360° menjadi seperti iblis.
“Kalau dia sama saja, maka tinggal rasakan saja akibatnya. Seperti membelah perut para pengkhianat di grup-ku itu, haha,” lanjutnya dengan tawa jahat.
“Mbak Sima?” Lagi, Dendi memanggil.
“Eh! Ah, iya? Ada apa?” Seketika gugupnya kembali muncul, rona merah di wajahnya semakin terlihat jelas.
“Mbak Sima, ngomongnya daritadi aneh banget. Apa mungkin tujuan Mbak Sima bukan itu?”
“Bukan apa?” Sima jadi lupa apa yang barusan Dendi katakan.
“Menunggu pacar di sini?”
“Bisa dibilang begitu, tapi itu juga salah.” Sima menjawabnya dengan ragu.
“Lupakan itu Dendi! Ngomong-ngomong kenapa kamu berpikir bahwa aku sedang marah?” tanya Sima, ia kembali dibuat penasaran terhadap Dendi yang mengetahui bahwa ada sesuatu telah terjadi padanya.
Dendi lantas menjawab dengan lugas, “Mbak Sima pernah mengatakan bahwa cuaca hari ini indah tapi wajah Mbak justru berkata lain.”
Sima akhirnya mengerti bahwa Dendi membaca emosinya dengan baik. Kepekaannya luar biasa. Polos, lugu, baik dan rendah hati juga demarwan.
“Aku mengerti. Terima kasih sudah menghiburku. Aku senang,” ucap Sima membalas senyumannya.
“Ya, Mbak Sima. Aku juga turut senang.”
'Tapi, untuk sesaat aku berpikir bahwa Dendi lebih dari bayanganku. Atau ini hanya perasaanku saja?' Kembali Sima membatin.
Memikirkan tentang Dendi, entah kenapa perkataan Erik tentang pemimpin Faksi Pertama terlintas di benaknya. Karena sampai saat ini pemimpin dari Faksi Pertama tidak diketahui jelas identitasnya, kecuali Lisa yang mungkin mengetahui siapa itu dia.
“Hm, aku pasti berpikir terlalu jauh. Orang lugu sepertinya bukan orang yang licik seperti mereka,” gumam Sima seraya berbalik badan.
__ADS_1
Kehadiran seseorang yang tak disangka-sangka justru muncul di hadapan mereka berdua. Sungguh timing yang tidak pas.
“Wah, kalian berdua sedang apa di sini?”