Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
007. Perasaan = Luka


__ADS_3

Sementara di dalam sangat berisik. Salah satu bawahan bos Sima menghubungi bos besar yang merupakan Ayah Sima.


“Bos besar, ada sesuatu yang saya harus bicarakan. Putri bos sepertinya memulai cinta barunya lagi,” katanya dengan semangat.


Bos besar yang tengah duduk bersantai di halaman rumah pun terkejut karena berita itu. Segala yang terlihat, dan didengar oleh beberapa bawahan di sana pun semua dilaporkan pada bos besar.


Bos besar nampak bersemangat, kilauan pada pancaran kedua matanya pun terlihat, menyetujui apa yang Sima telah lakukan, namun di satu sisi ia masih khawatir.


Bos Besar Sukma: “[Apakah mereka sekarang betulan jadian?]”


“Iya, bos!”


Bos Besar Sukma: “[Apa itu laki-laki yang sama? Jika iya, maka jangan harap dapat restuku. Pria yang telah menyakiti hati putriku takkan pernah kumaafkan!]”


“Tidak, bos. Pria ini berbeda, bahkan pria itu sedang bertengkar dengan mantan pacar putri bos. Jadi jangan khawatir,” katanya sambil mengacungkan jempol.


Bos Besar Sukma: “[Coba fotokan]”


Seperti perintah bos besar, ia pun segera mengirimkan bukti dengan foto yang saat ini terjadi di dalam toko kue. Keduanya nampak antusias tanpa tahu kalau yang terjadi di dalam hanyalah rekayasa.


***


Kembali yang ada di dalam saat ini, sungut Adrian semakin terlihat dengan jelas. Ia datang lalu marah-marah, membuat keributan yang menganggu para pelanggan.


Tak tahu malu.


“Aku tak percaya! Aku tahu ...ini pasti settingan. Tidak mungkin kau bisa melupakan aku!” jerit Adrian menyanggah pernyataan Sima.


Sama seperti Adrian, Dendi juga syok. Ia terkejut lantas tiba-tiba Sima menggandeng lengan lalu mengaku sebagai pacarnya.


“Ya, 'kan! Aku tahu kau pasti sedang berbohong. Sima yang kukenal adalah orang yang tak pernah jatuh cinta selain denganku!”


Sok sekali, mentang-mentang pria itu adalah cinta pertama Sima. Ia mengatakan bahwa Sima takkan mudah tertarik dengan pria lain. Meskipun itu benar, namun Sima berusaha untuk melupakan.


Sima cemberut dan tetap menggandeng lengan Dendi dengan kuat. Memberi kode padanya untuk mengkonfirmasi hal tersebut.


“I-itu benar!” Dendi gagap, ia jadi gugup karena tahu apa maksud Sima saat ini. “Aku dan Mbak Sima sekarang pacaran!” tukas Dendi seraya merangkul pinggul Sima dengan kaku.

__ADS_1


Mendapati pemandangan yang mengejutkan. Selain para pelanggan, bawahan bos Sima pun ikut menggebu-gebu. Tersentak dengan apa yang barusan mereka lihat, drama benar-benar telah terjadi.


Karena sudah kehabisan kata-kata, Adrian pergi dan menahan rasa malu tak tertahankan. Situasi jadi tenang seketika. Sima dan lainnya mendesah lelah, merasa lega.


“Ah, maaf Mbak!” Reflek, Dendi menjauh dari Sima.


“Harusnya aku yang bilang begitu, Dendi. Dan terima kasih atas bantuannya,” ucap Sima menahan rasa malu.


Kemudian ia berbalik badan dan pergi, namun langkahnya terhenti saat Dendi menahannya dengan memanggil nama Sima.


“Mbak Sima! Itu lukanya tolong diobati dulu di sini,” kata Dendi dengan cemas.


Sima sempat menoleh sesaat lalu berkata, “Aku akan mengobatinya nanti di rumah. Jangan khawatir.”


“Tapi, Mbak ...”


“Daripada mengkhawatirkanku. Bukankah kamu datang kemari karena ingin melamar kerja di sini? Kamu juga bisa memulai pasca kerja sekarang, tapi orang yang akan membantumu bukanlah aku, melainkan dia,” jelas Sima menunjuk salah seorang karyawan tetap, Manda.


“Eh, saya Mbak!?” tanya Manda yang terkejut. Sima mengangguk.


“Kenapa nggak di sini aja ngobatinnya, Mbak? Di sini lebih aman,” sahut Dendi. Wajah cemasnya sungguh menggemaskan, Sima nyaris terpana oleh ketampanan orang polos dan sopan ini.


Sima tertawa hambar lantas menyahutnya kembali, “Tidak ada P3K di sini, Dendi. Makanya aku mau mampir sebentar di luar untuk membelinya.”


Seketika Manda dan Dendi mengerti maksud kepergian Sima tiba-tiba. Sesaat Manda dan Dendi berpikir sama, bahwa Sima, atasannya akan mengejar pria itu. Tapi ternyata bukan.


Lagipula dalam kondisi terluka seperti itu, pasti Sima takkan bisa berjalan jauh. Dendi berniat menolongnya dengan menggantikannya pergi keluar tapi Sima menolak keras.


“Bos, kepalamu terluka. Perlu kubelikan sesuatu untuk itu?” tanya Gura.


“Gura, kau selama ini mengikutiku?” tanya balik Sima seraya bersandar pada dinding luar di toko kue.


“Maaf, bos. Sebelumnya saudara kita yang lain telah mengambil foto bos bersama dengan pria itu. Kami jadi tidak sengaja melihat adegan yang seperti biasa terjadi di film-film romansa.” Gura menjelaskan.


Saudara di sini yang dimaksud adalah para pejantan, semua bawahan bos besar dan bos Sima yang sejak dulu sudah dianggap seperti saudara sendiri.


“Bodoh, itu hanya pura-pura.”

__ADS_1


“Ngomong-ngomong bos, lukamu ...”


“Ini cuman luka biasa. Yang lebih penting, apa dia tak merasa sakit lagi? Perban di belakang kepalanya sudah dilepas, memangnya tidak masalah?” tanya Sima yang khawatir dengan Dendi.


“Aku juga tidak tahu. Pria itu sepertinya tidak pernah ke rumah sakit untuk memeriksa lukanya sendiri. Akan lebih baik jika bos sendiri yang bertanya padanya,” jelas Gura yang menggarukkan kepalanya yang tidak gatal.


Sembari menunggu kedatangan Gura membawakan perbannya, Sima curi-curi pandang terhadap Dendi dari jendela belakang. Celingukan, dan memastikan Dendi sedang baik-baik saja.


“Sepertinya Dendi tidak terlihat sakit sama sekali. Tapi yang benar saja? Bukankah baru lusa kemarin dia terluka, harusnya tidak sembuh secepat itu,” gumam Sima.


Karakter Dendi yang periang memang tidak pernah berubah. Bahkan saat ini pun, ia sedang mencoba untuk memasak kue bolu. Sima yakin bahwa Dendi bisa melakukannya, diam-diam ia memberi semangat dengan tatapan yang membara.


“Bos, sedang apa?”


“Eh!”


Gura tiba-tiba berada di belakang Sima. Sima lantas terkejut dan nyaris saja terjatuh. Hampir saja keberadaan mereka berdua ketahuan oleh yang lain.


“Huh, bikin kaget saja. Aku pikir siapa,” kata Sima segera menjauh dari jendela belakang.


“Maaf bos. Lagian kenapa mengintip begitu,” ucap Gura tengah menahan tawa seraya ia membantunya membersihkan luka.


“Sudah diam. Aku hanya memastikan kalau dia benar-benar baik saja. Luka di kepala itu tak bisa diremehkan apalagi dia kena pemukul kasti, pastinya sangat sakit!” gerutu Sima dengan kesal ia mengepalkan tinju. Merasa bahwa pembalasannya pada preman-preman itu masih belum cukup.


“Bos sadar diri dikit dong. Bos sendiri juga terluka karena pakai sepatu hak tinggi begitu, 'kan?” sindir Gura tersenyum tipis.


“Apa? Kau melihatnya? Hei, Gura! Aku hanya tidak bisa menyeimbangkan tubuhku jadi bukan karena sepatu hak tinggi ini tahu!” amuk Sima menyanggah perkataan Gura.


“Ya, terserah saja. Aku hanya mencoba untuk memperingatkan bos untuk jangan pakai sepatu hak tinggi itu lagi.”


Usai Gura menutup luka Sima dengan plester luka. Gura kemudian berwajah serius, tatapannya menuju ke seberang jalan. Sima yang melihatnya pun segera melihat ke arah yang sama.


“Bos besar sepertinya tidak cukup puas dengan tindakanmu pada Adrian. Katanya kurang,” ucap Gura.


“Dia bagian dari Blok D, harusnya jangan berlebihan. Suatu saat pasti kita akan membutuhkan bantuannya, entah apa itu,” tutur Bos dengan wajah datar.


“Tapi ...aku ingin menghajarnya sekali-kali,” imbuh Sima sambil menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2