Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
029. Kerja Sama Dalam Bayangan


__ADS_3

Di dalam kamar kecil, tidak sedang mengeluarkan buang air kecil ataupun besar, karena sebenarnya Sima sedang bertukar pesan dengan Erik.


Erik, ialah pria yang mengaku sebagai saudara sedarah Sima. Saudara dari satu kandung namun berbeda ayah. Dulu pernah bertemu, Erik mengungkapkan jati dirinya sebagai pemimpin faksi pertama tapi tentu saja itu adalah kebohongan.


Dan karena beberapa hal termasuk Erik telah menganggap Sima sebagai saudaranya, ia memilih untuk berkerja sama guna mengungkap pemimpin faksi pertama itu sendiri. Selain Lisa, tidak ada yang tahu bagaimana rupa pemimpin faksi pertama sendiri.


[Aku menemukan bahwa pemimpin faksi pertama itu bergender laki-laki. Kurang lebih usianya sedikit lebih tua darimu, Sima.] Pesan dari Erik tertulis dan telah terbaca oleh Sima.


Sejenak Sima terdiam seraya kembali memikirkan sesuatu, terkait Faksi Pertama. Berpikir bahwa ia seharusnya langsung berurusan dengan Lisa saja tapi ia tahu bahwa itu mustahil karena wanita itu sangat licik.


“Aku mengerti. Aku juga sudah menduga bahwa pemimpinnya adalah seorang pria,” tulis Sima dengan hati-hati namun gerakan setiap jari-jemarinya sangatlah cepat.


[Ya, aku juga berpikir bahwa sudah lama kau menduganya.]


“Kalau begitu apakah tidak ada yang lainnya? Misalnya foto?” Sima mulai bertanya kembali mengenai informasi lanjutannya.


[Sayangnya tidak ada lagi.]


“Dasar tidak berguna,” ucap Sima berdecak kesal. Sebab yang ia inginkan justru tidak pernah diselidiki lebih lanjut. Fotonya saja tidak ada lantas bagaimana bisa Sima mewaspadainya.


[Tapi, aku memiliki sesuatu yang lain. Lisa,]


“Lisa?”


[Lisa memiliki koneksi dengan CEO farmasi yang baru bukan? Kudengar dia juga mulai bekerja sama dengan beberapa pejabat negeri. Bukankah itu lucu? Untuk apa dia begitu hanya demi menghancurkan kota D atau lebih tepatnya keluarga Papuana?]


Itu terdengar cukup masuk akal atas pemikiran brilian Erik. Sima pula merasa bingung, sebenarnya dendam apa yang mereka miliki sehingga menjadi seperti ini.


“Kau sendiri yang bilang waktu itu, kau berniat membunuh Ayahku karena Ibu kita?” Kembali Sima mengetik, menanyakan hal tersebut.


“Dan kupikir mereka dendam karena sesuatu yang mirip seperti keinginanmu,” pikir Sima yang mengetik pesan itu, segera ia kirimkan agar cepat dibaca oleh Erik.


[Itu terdengar sedikit mustahil. Ini mungkin karena perebutan kekuasaan.] Justru Erik berpikir hal lain.


“Itu lagi? Aku sudah cukup bosan dengan yang namanya perebutan kekuasaan. Tokoku nanti akan ikut tersingkir jika dibiarkan mereka berkuasa,” tulis Sima.


Tidak ada hal lain selain Lisa yang kenyataannya memang memiliki koneksi dari CEO farmasi yang baru, ialah mantan kekasih Sima, Adrian.

__ADS_1


“Tapi siapa sangka dia akan jadi sukses. Tadinya aku berpikir ingin membuatnya linglung dalam pekerjaan. Memang pada dasarnya koneksi keluarga Adrian lebih seram dari yang kuduga,” gumam Sima.


Berhenti sejenak dari bertukar pesan dengan Erik. Sima sedang memikirkan apa tindakan selanjutnya. Ia lebih memilih untuk melupakan siapa pun yang memiliki koneksi penting. Keluarga Papuana pun juga memiliki koneksi semacam itu meski tidak seseram milik CEO farmasi, Adrian. Kepala bagian penelitian pusat.


“Seperti yang aku duga. Lisa adalah jawaban dari ini semua.”


Moto Sima ialah, “Kalau tidak memenggal kepalanya, maka ekor akan terus menjalar.”


Kepala dari organisasi Faksi Pertama yang ia ketahui hanyalah Lisa, daripada saling menyelidiki dan membuat Erik dalam bahaya lebih lama, maka Sima akan terus berterang saja pada Lisa. Sebab itu adalah hal yang lebih meyakinkan, daripada mengetahuinya melalui perantara.


Sima mengetik pesan untuk Erik, “Jangan selidiki lebih lanjut.”


***


Hari sudah semakin siang, Dendi, Eriana dan Sima akhirnya pergi dari kafe.


“Jadwal kerjaku sebentar lagi akan mulai, maaf karena tidak bisa menemani lebih lama.”


“Tidak apa-apa. Lagi pula aku juga akan pergi dengan kedua orang tuaku,” ucap Eriana.


Ketika Eriana dan Dendi sedang asik sendiri, mengobrol tiada henti, mereka berdua lantas terfokus pada Sima yang lebih asik dengan ponselnya sendiri.


Sejak keluar dari kamar kecil, Sima selalu melihat ke arah layar ponsel yang digenggamannya. Bahkan sampai sekarang. Wajah Sima pun terlihat bingung atau mungkin terlalu serius menatap layar ponsel.


“Mbak Sima?”


“Oh, iya. Dendi? Ada apa?” sahut Sima yang masih linglung. Ia menjawab panggilan Dendi namun pandangannya masih terkunci ke arah layar ponsel.


“Mbak Sima nggak apa-apa?” tanya Dendi sekali lagi.


“Maaf, Dendi dan Eriana. Aku pamit lebih dulu, ya.” Tiba-tiba saja sosok wanita melintas di jalan perempatan, dan anehnya membuat Sima harus menghampiri wanita itu.


Sima mengabaikan beberapa patah kata dari Dendi, ini bukanlah hal yang biasa.


“Mbak Sima sedang terburu-buru ya?” pikir Dendi.


“Mungkin? Dia terlihat mencurigakan,” pikir Eriana.

__ADS_1


“Tidak.” Dendi menyangkal lantas tersenyum tipis sambil berkata, “Mbak Sima itu orang yang baik, hanya saja dia terlalu sibuk karena pekerjaannya.”


“Kalau kamu bilang begitu, terserah.”


***


“Jangan sampai dia mengincar Dendi lagi,” gumam Sima seraya berjalan cepat menghampirinya.


Sosok wanita yang melintas tepat di hadapannya bukanlah wanita sembarangan. Wanita itu adalah Lisa, keberadaannya di sini bukan karena kebetulan melainkan kesengajaan. Karena sejak awal, Sima pun mengetahui bahwasanya banyak bawahan Lisa termasuk Lisa sendiri telah mengawasi mereka.


“Hei!”


Lisa tersenyum, sesaat setelah ia sedikit membalikkan badannya, kemudian ia pergi ke jalan yang lebih sepi dan sempit. Sima lantas bergegas menghampirinya hingga akhirnya Lisa berhenti sendiri.


“Kedatanganmu terlalu mudah ditebak. Kenapa tidak halangi aku sebelum masuk ke dalam kafe?”


“Oh ya? Apa kau merasa terpanggil?”


“Hentikan candaanmu. Apa kau berniat mengincar Dendi?”


“Tidak sopan sama sekali. Aku kemari pun hanya untukmu, maksudku ingin memberitahukan sesuatu padamu.”


Sima sendiri jelas mengetahui alasannya datang, tapi Lisa adalah wanita licik. Ia mungkin akan merencanakan sesuatu lagi di belakang Sima. Dengan begini, Sima jadi menyesal karena bertemu Dendi lagi, sebab Dendi akan menjadi kelemahannya.


“Katakan saja apa maumu? Hei, pelakor,” maki Sima seraya melepas kacamatanya lalu melipat kedua lengan ke depan dada.


“Gaya berpakaian yang sangat cocok untuk bos, tapi aku ...” Lisa mendekat, ia berbisik, “Aku tahu hubungan darah di antara kalian berdua. Kau dan Erik.”


“Oh, lalu?” Tak terkejut, ia justru menyahutnya dengan santai. Beginilah Sima, poker face saat berhadapan dengan lawan.


“Dinginnya. Jadi, apa kau tahu apa yang akan aku lakukan nanti pada seorang pengkhianat? Erik, saudaramu mungkin dalam bahaya sekarang.”


“Sayangnya aku tidak peduli. Jangankan begitu, menganggapnya saudara saja tidak,” tuturnya tanpa berbelit-belit.


“Apa hanya itu saja yang ingin kau katakan? Kalau benar begitu, maka cepat pergilah dari hadapanku,” imbuh Sima.


“Sudah kuduga, akan lebih baik jika aku katakan dari awal. Ini tentang Faksi Pertama, kami akan bergerak sesaat lagi.”

__ADS_1


Sima mengerutkan kening tak percaya bahwa Lisa akan mengatakan itu dengan mudah?


Sebelum mengungkapkan sesuatu, Lisa menunjuk tas kecil milik Sima sambil berucap, “Ponselmu bergetar.”


__ADS_2