
Akibat kecelakaan, membuatnya mendapatkan luka yang cukup fatal. Ia merasa terguncang ketika itu terjadi, namun beruntung ia masih mendapatkan keselamatan. Lalu, ingatan semasa kecilnya pun kembali pulih. Semua.
“Ayah akan pergi?”
Padahal baru saja ia ingat apa yang terjadi, namun Ayahnya mendadak akan pergi. Entah ini suatu kebetulan ataukah takdir.
“Ya.”
Raut wajah Sima pun suram. Ia terlihat sangat kecewa dan kesal akibat kepergian Ayahnya yang mendadak.
Sebenarnya apakah yang ia ingat?
Tentu saja itu adalah kenangan terburuknya.
Sekitar beberapa puluh tahun, Sima yang masih belia, menginjak usia 10 tahun. Dihadapkan oleh sesuatu yang luar biasa mengenaskan. Ketika ingatannya pulih saat itu, Sima bertanya-tanya mengapa ia bisa melupakan hal tersebut.
“Sima. Aku akan pergi. Tolong bilang pada Misa tentang kepergian Ibu, ya?”
Sang Ibunda yang memiliki hati lembut, penyayang dan ramah pada semua orang baik dari yang kecil maupun dewasa atau lansia. Itulah Ibu dari dua saudari kembar Misa dan Sima.
“Pergi? Ke mana? Kenapa?”
Pada saat itu, Sima masih anak kecil dan takkan jika Ibunya mengatakan sebuah fakta yang berat secepat ini. Alasan Ibunya akan pergi tak lain adalah menemui putra pertamanya dari suami pertama sebelum menikah paksa dengan Sukma, Ayah dari dua saudari kembar.
“Tapi tenanglah, Ibu akan pulang secepatnya. Ibu hanya pergi sebentar, ya?” Ibunya selalu membelai rambut Sima dengan penuh kehangatan yang seharusnya takkan pernah terlupakan.
Kenangan manis yang bertumpuk menjadi kenangan pahit. Entah ini sebenarnya salah siapa, namun semua terjadi begitu saja. Semua.
Ingin berkata bahwa ini mimpi, tapi tidak bisa dikatakan karena ini nyata. Ya, fakta mengenai keluarga Papuana yang adalah organisasi mafia. Fakta ini sama sekali tak terbantahkan.
Hari telah berganti dan Ibunya pulang ke rumah. Namun, sebelum bertemu dengan Misa dan Sima lagi.
“Apa yang dibicarakan oleh Ayah?” Sima kecil mendengar suara lirih-lirih yang terdengar di balik ruangan. Pintunya yang tertutup rapat tak dapat membuatnya melihat siapa di dalam. Namun ia mengenali satu suara yang adalah milik Ayahnya.
Sima mendekatkan telinganya ke daun pintu guna mendengar percakapan tersebut.
“Dua anakku tidak berguna. Dasar!”
“Jangan memaki begitu, bos. Lagi pula mereka semua adalah perempuan. Lalu kenapa tidak mengambil anak laki-laki itu saja?”
“Tidak akan aku lakukan. Karena anak itu adalah anak dari pria yang telah nyaris membunuhku.”
“Lalu bagaimana jika ....em, maaf.”
“Membuatnya lagi? Mudah sekali ya buatmu. Di antara dua anak itu, yang paling menjanjikan adalah Sima. Dia lebih cocok untuk menjadi pewarisku, aku bahkan hanya mengajarinya sekali tentang cara membidik lawan dan dia bisa melakukannya.”
__ADS_1
“Wah, benar-benar hebat Bos Sukma.”
“Benar 'kan? Masalahnya, dia masih bertingkah seperti anak kecil. Dia tidak lebih dewasa dari kakaknya. Menyedihkan.”
“Jangan begitu bos. Anak Anda ...mau bagaimanapun akan tetap mewarisi sifat Anda cepat atau lambat. Dan saya yakin, Nona Sima pun dapat melakukannya seperti Anda.”
“Oh, benar juga.”
Samar-samar terdengar, sedikit lebih jelas dan beberapa kata dapat dimengerti olehnya. Misa yang berada dekat di sana pun tiba-tiba saja sudah menghilang entah ke mana.
“Hei, Misa.”
Sima terlambat tahu bahwa saudara kembarnya sudah pergi meninggalkannya. Lalu ia menghela napas dan berniat untuk pergi juga dari sana.
Klek!
Dan baru saja ia berbalik badan, pintu ruangan di belakangnya sudah terbuka dan bersamaan dengan Ibunya yang ternyata sudah pulang.
“Ibu, sudah pulang?”
“Kau sudah pulang rupanya,” ketus Sukma pada Istrinya sendiri.
“Eh, Ay-yah?”
“Aku mendengarnya.”
Sukma yang mendengar pernyataan Istrinya saat itu sejenak terdiam.
“Apa maksudmu?” tanya Sukma.
“Aku mendengar apa yang semua kau katakan. Kau ajari apa anakku? Membidik lawan dengan baik? Apa maksudmu adalah mengajarinya bertarung?” Ia bertanya sembari memeluk Sima erat-erat.
Sukma hanya menaikkan sebelah alisnya. Terlihat ia tidak peduli dengan omongan sang istri. Seolah acuh, atau hal yang telah ia lakukan adalah wajar.
Sementara bawahan Sukma yang berada di belakang punggung Sukma, hanya bisa terdiam dengan tersenyum simpul penuh arti.
“Kalau iya kenapa? Lihat,” ujar Sukma seraya melempar senjata api itu ke arah Sima.
“Ambil itu Sima. Perlihatkan bagaimana cara kau membidik lawanmu,” lanjutnya memberi perintah pada sang putri.
“Tunggu! Jangan lakukan itu! Anakku tidak boleh memegang senjata. Dia juga masih anak kecil, kalaupun harus memegang senjata maka seharusnya dia akan bekerja sebagai poli—”
Plak!
Satu tamparan yang dahsyat mendarat ke wajah sang istri. Rambut hitam yang tergulung kini tergerai hingga menutupi wajahnya. Istrinya syok, ia sempat terdiam beberapa saat sebelum melawan.
__ADS_1
“Jangan keluarkan sepatah kata pun tentang profesi itu. Menjijikan!”
“Kau! Apa kau tahu seberapa besarnya masalah ini? Kau akan mendapatkan balasannya apabila kau selalu ...seperti ini!” Ia menjerit, berusaha untuk tetap tenang dengan menasehatinya selagi ia bisa.
“Kau wanita yang lemah tapi otakmu itu pintar. Maka dari itu aku meminangmu meski harus dengan paksaan. Tapi aku meminangmu bukan untuk melawanku, melainkan melahirkan anak yang kuat untukku!”
“Kau pikir seorang anak itu apa?!”
“Anak hanyalah anak yang kelak dewasa dan salah satunya akan menjadi seperti diriku.”
“Sukma!!”
Jeritan wanita itu terdengar menggaung hingga ke setiap sudut di rumah. Membuat Sukma semakin kesal serta malu karwna jeritannya itu pasti terdengar oleh banyak bawahannya di sana.
Kesal, Sukma meraih dagu sang istri dengan kasar dan menatapnya seolah ia akan membunuh.
“Kau masih beruntung karena dibiarkan hidup tapi masih saja melawanku seperti ini? Tidak hanya itu, kau melahirkan anak yang tidak sempurna! Dasar cacat!”
Sima pun terdiam dengan mata terbelalak tak percaya. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka bicarakan namun satu hal yang ia tahu adalah luka lebam yang dimiliki oleh Ibunya.
'Jangan bilang semua luka-luka Ibu karena Ayah? Kenapa?' pikir Sima membatin.
Setelah itu, seakan-akan iblis merasuki seorang gadis kecil tersebut. Pikiran yang kosong dan membutakan segalanya telah membuat Sima mengangkat senjata. Arah bidikannya adalah Sukma, Ayahnya sendiri.
Bawahan Sukma semakin melebarkan senyumannya, dan orang ini adalah pengkhianat yang sudah memecah belah organisasi ini. Lahirnya Faksi Pertama, dimulai saat itu juga.
Semua anggota yang berkhianat telah menanti kematian Sukma si Bos Besar. Mereka yang telah berada di dalam kediaman pun sudah menunjukkan taring mereka.
Sesaat setelah, Sima melepaskan tembakan.
“HANCURKAN PAPUANA!!”
Sayangnya, peluru itu tidak menuju pada target yang benar. Sebab Ibunya berdiri sebagai perisai di antara mereka dan menyebabkan kematian tragis di depan mata.
“IBU!!”
Saat itu keluarganya menjadi kacau balau.
***
Dan di masa sekarang, Sima sedang mengikuti Ayahnya. Membuntutinya seperti ekor dengan niat busuk di belakangnya.
“Kenapa kau mengikutiku?”
“Ayah ingin pergi keluar negeri bukan? Setidaknya aku ingin mengantar Ayah sampai ke bandara.”
__ADS_1