
Rupanya takdir Indra Aji hanya sampai di sini saja. Kekerasan kehidupannya karena sudah terlibat dengan geng-geng jahat atau mafia, memang sudah sepatutnya nyawa menjadi taruhan.
Sementara Gura berhasil menemukan area markas Faksi Pertama secara diam-diam, ia kemudian kembali ke kota D dengan tergesa-gesa, namun siapa sangka bahwa dirinya akan melihat pemandangan yang sukar dimengerti.
“Eh?”
Dendi lantas kembali menyembunyikan tubuhnya di balik dinding, berniat menguping pembicaraan antara seorang lelaki dengan seorang perempuan.
Tak lain adalah wanita asing dengan Dendi.
Sebelum mereka berdua bertemu, wanita itulah yang duluan mendekat sebab ia merasa tertarik dengan pemuda seperti Dendi. Entah apa yang akan ia perbuat, tapi sekarang ada Gura dan ia dapat memastikannya dengan lebih jelas untuk ke depannya.
“Hai, boleh aku tahu siapa namamu?” tanya wanita asing itu pada Dendi.
“Oh, ya. Nama saya Dendi,” jawabnya dengan santai.
Hari sudah semakin senja, Dendi berharap dirinya cepat pulang kembali ke rumah tapi wanita ini menghalanginya.
“Jangan terlalu kaku begitu, Dendi. Perkenalkan aku, Seri. Bisa kita berbincang lebih lama di suatu tempat yang lain?” tanyanya sembari mengulurkan tangan.
“Untuk saat ini tidak bisa. Karena sebentar lagi langit akan menggelap, jadi—”
“Hanya sebentar.” Betapa kurang ajarnya wanita penggoda itu menarik dan merangkul lengan Dendi.
“Saya sangat serius, Mbak. Saya nggak bisa keluar malam-malam. Dan tolong lepaskan tangan Mbak,” ucap Dendi merasa gelisah.
Tak hanya Dendi, Gura ikutan jadi gelisah. Mau bagaimana, wanita itu bersikap bahwa dirinya seakan-akan adalah kenalan Dendi.
“Kenapa? Apakah karena kamu punya kekasih?” pikir Seri.
“Nggak juga. Tapi, keluar malam itu ...”
“Kamu tidak mau keluar malam, seperti anak mama saja. Ayo ikut denganku sebentar, Dendi. Aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang,” bisiknya lirih.
Gura sama sekali tidak dapat mendengar bisikan wanita ular itu, lama-kelamaan ia jadi penasaran. Hendak membuntuti namun jika dilakukan secara terang-terangan di dekat jalan raya pasti akan cepat ketahuan.
“Gawat, nih. Aku harus segera mengabari hal ini pada Bos Sima,” kata Gura.
Sekilas melihat, Dendi dan wanita itu bergerak menjauhinya. Sudah pasti mereka akan pergi bersama entah dengan alasan apa, hanya saja Gura memiliki firasat bahwa Dendi sedang ada masalah.
“Maaf, Dendi. Aku tidak bisa menolongmu sembarangan,” ucap Gura sesaat sebelum ia pergi.
__ADS_1
Sesampainya Gura kembali ke kediaman Papuana. Terdengar suara keras yang berasal dari lantai dua, kaca jendela pun pecah tiba-tiba. Jika dilihat baik-baik, kaca yang pecah itu berasal dari jendela lantai dua, lebih tepatnya kamar Sima.
“Bos Sima? Ada apa? Ada penyergapan selama aku pergi! Hei, ada seseorang yang berjaga! Kenapa tidak ada penjagaan di luar!” teriak Gura.
Tak menunggu jawaban dari para rekannya yang entah bilang ke mana, bergegas Gura masuk ke dalam dan menghampiri Sima yang mungkin ada di kamarnya saat ini.
“Bos Sima! Ini Gura! Jawablah jika Anda masih hidup!” teriaknya seraya menggedor pintu kamar.
PRANG!
Setelah terdengar suara barang yang pecah, lalu disusul oleh teriakan Sima dari dalam sana.
“BERISIK!”
Pintu itu kemudian terbuka secara perlahan, terbuka dengan sendirinya tanpa ada seseorang yang membukanya. Di dalam kamar itu, terdapat banyak sekali rekannya berkumpul lalu Sima yang sedang mengacaukan isi lemarinya.
“Kalian semua ada di sini? Apa yang sebenarnya terjadi? Hei!”
“Oh senior, kami datang kemari untuk menyelamatkan barang-barang berharga agar tidak rusak, tapi sepertinya gagal,” ucap salah satu rekannya berupaya menjelaskan.
“Jelaskan dengan benar. Bos Sima takkan marah tanpa alasan,” kata Gura yang masih meminta penjelasan yang benar.
“Bos Sima, tadi mendapat telepon dari seseorang. Lalu inilah yang terjadi,” ucap yang lainnya.
Tampaknya penjelasan di antara rekan-rekan Gura masih belum bisa dianggap sebagai jawaban dari masalah ini. Nekat, Gura mendekati Sima yang sedang marah.
“Bos Sima,” panggil Gura lirih.
“Jangan, senior. Nanti kau akan dimakan,” ucap beberapa rekannya dengan suara sangat pelan.
Tapi sudah terlambat untuk memperingatinya, sebab Gura sudah mendekat.
“Permisi, Bos Sima.”
“APA!?” teriak Sima dengan amukannya yang mengganas.
Bagai Iblis datang tuk merasuki tubuh Sima, kini, seakan gelap sudah tiba lebih awal dan auranya pun kian pekat, memenuni ruangan hingga membuat Gura sesak di dada.
“Ma-maaf, Bos.” Dengan ketakutan, seluruh ucapannya terbata-bata bahkan suaranya bergetar hebat.
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu?” Gura bertanya.
__ADS_1
“Singkatnya, rekan kita, keluarga kita yang sudah menjadi korban hari ini ...jasadnya tidak bisa diambil karena ditahan oleh petugas kepolisian,” jelasnya dengan suara parau.
“Aku sekarang sedang mencari cara, dan ingin menemukan sesuatu tentang keluarganya yang sudah lama meninggalkan dia. Jadi aku berharap dengan benda yang disebut kartu keluarga atau apalah, dapat membawanya kembali pulang,” imbuhnya.
“Aku yang akan mengurusnya, kau tak perlu khawatir.” Tiba-tiba suara dari seseorang terdengar dari luar ruangan, ialah Bos Besar. Ayah Sima.
“Sepertinya Anda sudah mulai tenang, Ayah Anda akan mengurusnya,” ucap Gura sambil menganggukkan kepala.
“Syukurlah kalau begitu. Tapi aku tidak bisa—”
“Bos Sima, ada hal yang harus saya katakan. Ini mengenai Dendi, sepertinya dia dalam masalah dan saya tidak bisa menolongnya sembarangan,” kata Gura berwajah serius. Suara Gura juga tidak lagi bergetar seperti sebelumnya.
“Apa? Terjadi sesuatu pada Dendi?” tanya Sima memastikan lagi.
“Ya, dia dibawa oleh seorang wanita.”
“Wanita? Dia wanita polos tanpa riasan? Jika iya, itu adalah temannya,” kata Sima.
“Tidak. Jika dilihat, dia seperti ...” Gura mendekatkan bibirnya ke daun telinga Sima lalu berkata, “Wanita penggoda.”
Amukan Sima pada akhirnya tidak sepenuhnya padam, ibarat api abadi membakar seluruh tubuhnya. Suasana dalam ruangan jadi panas seketika.
“Bos Sima?”
Tanpa bertanya-tanya lagi Sima bergegas pergi. Namun sebelum ia pergi keluar dengan pakaian seadanya, ia hendak menemui Ayahnya yang baru saja pulang.
“Ayah! Hei, Bos Besar! Kau yakin akan menangani jasad itu sendirian!?” Sima bertanya dengan suara keras pada Ayahnya yang sudah kembali turun ke bawah.
“Ya, karena aku yang pertama kali menemukannya. Sudah pasti aku akan membawanya kembali,” balas Ayahnya.
“Kalu begitu, aku pergi!”
Masalah terus datang secara beruntun. Emosi Sima kian meledak-ledak, begitu menemukan keberadaan sang calon kekasih di dalam restoran bersama seorang wanita.
Mereka berdua sedang makan di senja hari, tetapi karena sudah selesai, mereka pun langsung keluar dari sana. Sima pikir, mereka hanyalah rekan kerja atau teman kuliahnya saja, namun ternyata mereka masih asik berkencan.
“Apa? Taman Hiburan? Untuk apa Dendi dengannya di sini?”
Menjelang malam hari sampai malam tiba, keduanya masih asik bermain. Rasanya sudah berjam-jam Sima memata-matai mereka, dan tempat terakhir yang mereka kunjungi bukanlah rumah masing-masing melainkan hotel.
“Hah?!”
__ADS_1