
“Jangan berpikir untuk membawa semua bebanmu. Kata-kata ini pernah diucapkan oleh putri Anda,” sahut Gura menyinggungnya.
Sebelumnya, Sima dihadang oleh beberapa pria. Meski tidak terlalu dekat, namun Sima tahu tatapan mereka tertuju padanya. Terutama musisi jalanan itu, yang menanyakan apakah ia baik-baik saja.
Tak berselang lama kemudian, sosok pria lain. Bawahan atau salah satu saudara Sima datang dari atap toko kecil di pinggir jalan. Tiba-tiba saja datang dan melompat turun, sengaja ia menindih tubuh musisi itu hingga tak sadarkan diri.
“Bos Sima! Serahkan saja mereka padaku!” katanya bernada tinggi.
“Eh, itu tunggu ...”
Belum sempat ia memikirkan apa yang hendak ia lontarkan, Sima tertegun dengan saudaranya yang sudah menghabisi mereka semua.
“Padahal aku ingin bicara dengannya sebentar,” ucap Sima kecewa.
“Ah, maaf bos. Kalau begitu biar aku sadarkan kembali satunya.”
Plak! Pria dengan pakaian biasa itu lantas terbangun setelah ditampar olehnya. Mengerjap-ngerjap lalu melihat ke sekeliling. Sontak terkejut, begitu ia ditatap dengan tajam olehnya.
“Katakan, di mana Dendi? Apa kalian yang membawanya?” tanya Sima dengan sedikit mengancam, ia menggenggam erat pergelangan tangan pria tersebut sampai gemetaran.
“Dendi? Siapa pula itu? Aku tidak mengenalnya. Aku hanya disuruh untuk mengincar wanita tanpa alas kaki.” Pria itu lantas menatapnya bingung. “Eh, tunggu! Kenapa kau bisa tahu kami mengincarmu?!” ucapnya bernada tinggi.
“Aku bahkan tidak pernah bilang kalau kalian mengincarku atau apa. Tapi sudahlah, kau tidak berguna,” sinis Sima.
“Anu, bos!” Saudaranya memanggil, sebelum Sima pergi lagi. Ia kemudian melepas sepasang sepatu yang ia kenakan lalu memberikannya pada Sima.
“Kalau soal pria itu, dia ada di rumah!”
Kaget dengan pernyataan tersebut. Sima pun bergegas menuju ke rumahnya dan melupakan sepatu yang barusan disodorkan.
Di kediaman Papauana.
Brak! Kembali dengan membuat suara keributan, Sima membanting pintu lalu berhenti sesaat. Mengatur napasnya agar jauh lebih santai, kemudian ia melangkah masuk ke dalam sembari celingukan ke sana kemari. Mencari keberadaan Dendi.
__ADS_1
Setelah beberapa langkah ia pijaki halaman rumah, Sima mendengar suara gemerisik. Ia pun menoleh ke asal suara, ke samping dan mendapati seorang pria dengan rambut yang dikuncir sedang menyapu halaman.
“Dendi!” panggil Sima. Seketika kedua kakinya lemas, ia terduduk di sana sembari menatap lega padanya.
Pikiran negatif juga lenyap dalam sekejap, ibarat cahaya mentari yang menyorot ke arahnya langsung, segala kecemasan berubah menjadi ketenangan dalam hatinya.
“Mbak Sima!”
Dendi terkejut, ia pun segera menghampiri dan membantunya berdiri. Namun Sima enggan beranjak dari sana, lantaran sudah nyaman duduk di atas rerumputan. Karena merasa sungkan, Dendi pun ikut duduk juga.
“Kamu ini ke mana saja?” tanya Sima.
“Ah, apa Mbak Sima pergi ke kafe tempatku bekerja? Kalau begitu maaf. Aku sebenarnya tadi memang sedang bekerja lalu aku pergi sebentar ke toko kue dan kemudian ada seorang pria yang ingin membawaku kemari,” jelas Dendi dengan perasaan sedikit rumit.
“Maaf membuatmu terkejut. Itu bawa–ah, maksudku saudaraku. Meski tidak sedarah, ada banyak orang seperti dirinya yang sudah aku anggap sebagai saudara sendiri.” Sima menjelaskan dengan terburu-buru. Nyaris saja ia mengungkapkan suatu hal yang tidak perlu.
“Oh, begitu. Tapi sepertinya itu agak mencurigakan karena tiba-tiba dia menawariku untuk mampir sebentar ke rumah Mbak Sima. Anehnya, aku juga mau ikut begitu saja,” celetuk Dendi.
“Haha, maaf Mbak. Karena di sini sangat tenang suasananya, jadi tidak sadar entah sudah berapa lama aku di sini.” Dendi kemudian melihat ke sekeliling, merasa nyaman dengan rumah Sima.
Andai ia tahu apa yang harus dibayar dengan memperoleh ketenangan ini. Pasti Dendi tidak akan percaya, dan meskipun mulai mempercayainya, dia mungkin akan jatuh ke dalam lubang yang sama.
“Kalau dilihat dari wajah Mbak yang begitu lesu, aku yakin satu hal kalau Mbak ini mencemaskan aku?” pikirnya kepedean. Tapi itu memang benar, Sima pun dibuat tertawa olehnya.
Jelas mengapa saat ini Sima tak bisa bergerak saking senangnya kalau Dendi ternyata baik-baik saja.
“Ya, tadinya begitu. Tapi sekarang sudah tidak karena ada kamu di sini. Tepat di depan mataku,” tutur Sima nampak lega. Ia menundukkan kepala dalam-dalam dan tersenyum diam.
Dendi yang mendengar pernyataan itu, bahwa kecurigaan Dendi kalau Sima sempat cemas mengenai keberadaannya pun jadi ikut lega.
“Kalau dipikir-pikir kenapa kita saling mencemaskan satu sama lain ya, Mbak?” tanya Dendi tiba-tiba. Dan itu pertanyaan yang sama bagi Sima dengan perasaannya.
Sima terkejut lantas menatap wajah bingung Dendi. Semula ia pikir, ini hanya kekhawatiran biasa, namun jika dipikir kembali itu memang sedikit aneh.
__ADS_1
Seringai tipis itu Sima sunggingkan, menatap dengan sudut kedua matanya yang sedikit menurun.
Berkata dengan niat menggoda, “Apa mungkin kita saling jatuh cinta?”
Dendi terdiam penuh tanya. Terkejut lantas tersenyum paksa dengan wajah semburat merah. Melihat reaksi Dendi yang seperti itu, justru membuat Sima terkikik-kikik.
“Aku hanya bercanda. Lagipula sejak kapan kamu pernah mencemaskan aku?” tanya Sima.
“Em, yah ...itu tentang berita yang akhir-akhir lagi viral. Tapi belum ada sehari, beritanya langsung lenyap,” jelas Dendi.
“Oh begitu. Itu pasti kejadian yang menimpaku di kafe Dadi Muncul, benar? Aku tahu suatu saat itu akan dijadikan perbincangan publik.” Sima sesaat menoleh ke arah lain.
“Hm ...dan kau mencemaskan diriku karena itu. Aku senang,” sambung Sima kembali menatapnya.
“Sama-sama saling mencemaskan. Mungkin kita akan berteman?” sahut Dendi yang polos seraya mengulurkan tangannya.
Terkesima dengan apa yang ia lihat. Begitu tertarik dengan senyum polos pria ini, sedikit demi sedikit ia merabanya lembut. Sikap ataupun sifat bak malaikat. Ramah dan sangat menggugah hati.
“Sedang apa Mbak?” tanya Dendi sambil meraih tangan Sima yang menyentuh bibirnya.
“Ada, ya. Pria seksi sepertimu.” Berniat memuji namun pemilihan katanya terlalu vulgar. Sima kemudian bangkit dan mengulurkan tangan padanya.
“Ayo berdiri. Di situ kotor. Masuklah ke dalam sebelum kamu kembali bekerja, setidaknya minum air putih agar kembali segar,” tutur Sima dengan nada suara yang tidak rendah dan tidak tinggi.
Menerima uluran tangannya, Dendi bangkit lalu berkata, “Terima kasih.”
“Ngomong-ngomong Dendi. Apakah malam ini kamu ada waktu? Kalau ada, aku ingin kamu kencan denganku nanti.”
Tiba-tiba mengajak kencan. Sungguh berani. Tapi Sima melakukan itu semata-mata agar ia bisa melupakan mantan kekasihnya.
Meski di saat yang sama, Sima tampak tak menyadari perasaan berbelit ketika bersama dengan Dendi hari ini. Sedikit tajam namun rapuh dalamnya, terbesit suatu pikiran yang membuat Sima khawatir.
Bagaimana kalau Dendi tahu tentang identitasnya?
__ADS_1