Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
023. Simpati yang Berlebihan


__ADS_3

“Mbak Sima tenang! Tenanglah sebentar!” Kemudian Dendi membungkam mulut Sima dengan potongan kue. Sima menjadi diam dan menatap Dendi dengan perasaan campur aduk.


“Jangan terlalu marah. Nanti kita cari sama-sama, ya? Nah, sekarang akan lebih baik kalau Mbak istirahat saja. Apa Mbak lupa kalau sebelumnya kepala Mbak kebentur?” ujar Dendi seraya menunjuk belakang kepalanya.


“Apa sih? Pria ini benar-benar tak bisa ditebak, ya. Masa' masukin kuenya begitu aja?” batin Sima.


Meski dalam batin Sima berkata begitu, namun kuenya tetap ia makan dengan lahap. Rasanya lumer merata ke seluruh permukaan lidah, Sima pun tersentak kaget.


“Kenapa kamu menyelamatkan aku?” tanya Sima sambil duduk berhadapan dengannya.


“Kenapa? Apa itu harus? Karena ada seseorang yang butuh bantuan sudah harusnya aku menolongnya, 'kan?” celetuk Dendi dengan senyum. “Apalagi kalau itu adalah Mbak Sima,” imbuhnya sambil menatap Sima dengan lembut.


Deg! Seketika jantung Sima terasa ditusuk oleh tombak besar. Degupan jantungnya terdengar keras dan seketika tatapan Dendi yang amat polos itu menggoda dirinya.


Sangat silau!


“A-Ah, iya. Iya aku juga begitu, aku pun sama sepertimu. Tapi ada di rumahmu ...entah kenapa terasa ...” ucap Sima dengan suara rendah sambil membuang mukanya yang memerah.


Dan Dendi yang melihat reaksi aneh Sima itu, ia menyingkirkan tangan Sima yang menutupi wajahnya. Lantas terkejut begitu mereka saling bertatapan dalam jarak dekat.


Keduanya terdiam selama beberapa waktu.


“Maaf!” teriak Dendi, dengan wajah panik itu ia mundur.


“Maaf sebelumnya aku menyentuh tubuh Mbak Sima untuk dibawa kemari. Aku memang tahu di mana rumah Mbak Sima tapi karena jauh, jadinya aku ke rumahku saja,” ujarnya menjelaskan beberapa hal agar tidak dicurigai lebih dalam.


“Kamu jadi merasa bersalah karena perkataan dariku. Maafkan aku, Dendi. Karena aku adalah wanita, aku jadi sedikit ...” Perlahan ucapan itu berubah menjadi gumaman. Wajah Sima berubah menjadi murung seketika saat mengingat masa lalu yang pernah dialami saudari kembarnya waktu itu.


“Aku tahu. Wanita itu tak bisa sembarangan disentuh. Apalagi kita berdua hanya kenalan. Harusnya aku yang meminta maaf. Maafkan aku Mbak,” sahut Dendi merasa bersalah.

__ADS_1


Sima berpikir mungkin saja jatuhnya ia di perbatasan antar Blok D dan E akan dimanfaatkan beberapa orang yang kurang ajar. Di kota metropolitan ini tidaklah aman selalu, sebab hidung belang ada di mana saja dan itu sulit dihentikan.


Takutnya Sima diapa-apakan dan tak tahu apa yang harus ia lakukan. Meski awalnya mungkin ia akan menghajar mereka, tapi bagaimana nasibnya jika terlanjur dinodai?


Tidak bisa dihapuskan, itu akan selamanya membekas dalam ingatan, raga dan jiwa itu sendiri. Yang tersisa hanyalah ketakutan luar biasa.


“Mbak Sima?” panggil Dendi sambil melambaikan telapak tangan ke depan wajahnya.


Sima tampak melamun, dan setelahnya ia terkejut kemudian sekali lagi membuang muka dari hadapan Dendi.


Sima bergumam, “Kalau itu kamu juga nggak apa-apa.” Tiba-tiba saja kalimat ini terlontar begitu saja. Mulut Sima memang kasar tapi tak pernah disangka ternyata Sima adalah wanita agresif?


“Eh, apanya?” tanya Dendi tak mengerti.


“Huh, sudahlah. Daripada kita saling meminta maaf. Maka akan lebih baik kalau aku berterima kasih padamu karena telah membawaku kemari. Aku beruntung,” kata Sima dengan senyum senang.


“Baguslah. Ngomong-ngomong bagaimana dengan kuenya? Apakah enak?” Dendi sangat antusias begitu membahas kue yang barusan Sima makan.


Dendi mengangguk. “Benar! Aku berusaha keras untuk memperbaiki setiap makanan yang aku buat dan akan kujadikan makanan itu menjadi hal yang sempurna.”


“Sepertinya kamu sangat bersemangat, Dendi. Tidak aku sangka aku akan mendapatkan koki sebaik dan penuh semangat seperti dirimu,” ucap Sima memuji.


“Terima kasih atas pujiannya, Nyonya! Saya akan lebih bersemangat kalau Nyonya menyukainya,” kata Dendi dengan semangat yang kian membara.


“Oh iya sebelumnya saya ingin bertanya. Kenapa anak itu mengambil dompet Mbak Sima? Apakah dia yatim piatu?” tanya Dendi mengalihkan pembicaraan tiba-tiba.


“Aku tidak tahu.” Sima menggelengkan kepala. “Dia tiba-tiba saja mengambil dompetku. Tangannya sangat lihat, karena dilakukan dalam sekali coba. Mungkin sudah berpengalaman,” pikir Sima.


“Apa Mbak Sima akan melapor pada pihak berwajib? Jika iya, tolong jangan sampai. Ada banyak anak-anak di Blok E yang kelaparan tanpa keluarga, mereka hanya bisa melakukan itu,” kata Dendi. Berharap bahwa Sima takkan melaporkannya.

__ADS_1


“Aku bisa saja melakukan itu.”


“Jangan! Kumohon jangan! Anak itu pasti menderita, Mbak.”


“Ya, aku tahu. Tapi tidak harus mencuri, bukan? Kalau dia meminta maka akan aku berikan padanya secara langsung. Bahkan aku siap jika perlu menghidupinya layaknya saudara,” ucap Sima dengan mudah. Menggampangkan hal tersebut.


“Mbak Sima harusnya jangan berpikir begitu. Mungkin ada beberapa anak yang meminta tapi kita tidak akan tahu apa yang sebelumnya anak itu alami setelah meminta-minta pada orang lain di luar sana.”


“Maksudmu apa?” tanya Sima.


“Jika anak itu mencuri, pasti ada kejadian buruk ketika ia pernah mencoba untuk meminta-minta pada orang lain di sekitar mereka,” tutur Dendi dengan wajah penuh kecemasan.


“Maksudmu aku harus merelakan dompet dan ponselku untuk saat ini, begitu?” sahut Sima dengan sedikit jengkel.


“Benar! Kalau dompet mungkin ada yang berharga dari setumpuk uang, ponsel Mbak Sima pun juga sama. Tapi kita bisa mencarinya dengan melacak ponsel Mbak Sima saja 'kan? Tetapi kalau Mbak Sima berniat melapor, maka apa yang terjadi dengan anak-anak itu?”


Keselamatannya tidak terjamin, Sima tahu itu. Sima lantas menghela napas panjang. Rasa simpati yang dimiliki oleh Dendi kepada anak itu, entah kenapa Sima merasa iri.


“Dendi ...apakah selama ini kamu selalu mengkhawatirkan semua orang?” Terbesit dan diungkapkan oleh Sima apa yang menjadi pertanyaannya selama ini pada Dendi.


Sima tak pernah percaya dengan sifat bagai malaikat seperti itu. Tidak nyata, ilusi atau hanya sekadar menjaga muka dan nama baik, itulah yang Sima pikir pada Dendi.


“Tentu saja! Seperti saat aku mengkhawatirkan Mbak Sima, aku pula juga khawatir dengan orang lain yang membutuhkan bantuan atau sedang bermasalah akan sesuatu,” jawab Dendi dengan suara lantang.


Selama ini apa sih yang dipikirkan oleh Sima? Ternyata degup jantung yang ia rasakan dan dapat didengar sekarang itu sedang salah paham akan sesuatu. Sifat Dendi yang benar-benar sangat baik, tidaklah hanya untuknya seorang. Melainkan untuk orang lain juga.


Terkadang kebaikan Dendi membuat Sima salah paham dan tingkah. Sesaat ia berpikir jika ada pria yang sebaik Dendi mendampinginya maka ia akan berubah ke arah yang lebih baik. Berharap kalau selama ini jodohnya adalah dia.


Hatinya terasa sakit saat tahu ia menyadari bahwa kebaikan ini bukanlah rasa spesial padanya. Iya, ini salah paham.

__ADS_1


“Bodohnya aku pernah berpikir kalau dia juga menyukaiku hanya karena kita saling bertemu setiap saat,” batin Sima dengan hati yang pedih.


__ADS_2