Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
043. Hacker = Han


__ADS_3

Hacker yang kini ditangkap oleh Sima, akan menjadi rekan yang cocok untuk mereka. Sima berniat menggunakannya agar dapat mengetahui segala situasi yang ada di Faksi Pertama lebih baik dari sebelumnya.


Tetapi, Sima harus mengatakan beberapa fakta agar lelaki muda ini mau mengerti dan bekerja sama dengannya lebih adil.


“Aku tidak mengingat apa pun. Termasuk bawahan yang ada di sini ...semuanya tidak tahu mengenai kejelasan itu sendiri.”


“Apa? Kau sendiri tidak ingat? Lalu kenapa kau tidak bertanya saja pada Ayahmu itu?” tanyanya yang masih keras kepala.


“Aku bisa saja bertanya tapi tidak. Tidak aku lakukan karena pria itu sendiri yang membuatku melupakannya.”


“Ha, bagus. Jadi aku harus mengetahuinya secara sembunyi-sembunyi?”


“Mungkin ada beberapa berita tentang insiden yang terjadi puluhan tahun yang lalu, sampai saat ini masih tersembunyi. Andai aku bisa melakukannya, tapi keahlianku hanyalah mendidik anak kurang ajar dan meninju,” ungkap Sima mengenai kebodohannya dengan mudah.


“Hah! Aku tidak mau!”


“Kenapa? Apa karena kau tak mau uang lagi?”


“Aku di sini mencium aroma busuk,” ucap lelaki itu seraya mengendus ke sana kemari.


Terlihat ia mencurigai sesuatu, yang terkadang pula gerakan tangannya terlihat aneh. Mungkin saja lelaki ini berusaha mengalihkan banyak orang agar dapat meloloskan diri dari ikatan tali yang cukup kencang di pergelangan tangannya itu.


“Aku tahu ada aroma busuk di sini. Maksudku kejahatannya bukan? Tapi, kau tidak ada bedanya,” sindir Sima.


“Apa?”


“Jangan berlagak bodoh atau mencoba melarikan diri. Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu untuk menyingkirkan Faksi Pertama serta menyelidiki keluargaku.”


“Cih, terserah saja. Yang penting itu uangnya,” katanya seraya berdecih.


“Ya, akan aku berikan rumah mewah ini padamu setelah semua urusanku selesai,” ungkap Sima.


“Eh?! Bos Sima!!” Para bawahannya berteriak histeris, lantas terkejut dengan pernyataan Sima itu.


“Tidak mau! 'Kan sudah kubilang rumah ini baunya busuk. Benar-benar busuk,” katanya dengan mengendus ke sana kemari lagi.

__ADS_1


“Ah, tapi, kalau bisa belikan aku rumah dan berbagai fasilitas yang aku inginkan,” imbuhnya.


“Ya, baiklah. Tapi kau harus mendengarkan dulu ceritaku ini.”


“Cerita? Bibi, kau mau mendongeng di siang hari? Jangan melucu, deh!” Lelaki ini sifatnya terlalu frontal, ia bahkan tak memikirkan apa yang ia katakan pada kelompok Sima yang sudah terlihat bagaimana perangai mereka saat ini.


Bisa saja setelah lelaki itu mengatakan banyak hal, lalu pisau sudah membelah perutnya tapi lelaki ini mungkin tidak akan pernah berpikir bahwa itu akan terjadi kepadanya.


“Dengarkan dulu. Ini mengenai keluargaku. Aku memiliki saudara kembar bernama Misa. Dia diketahui sudah lama mati karena terlindas kereta api bersama CEO farmasi yang dulu terkenal itu.”


“Pak Pratama?”


“Ya. Eh, kau tahu?” Sima terkejut.


“Ya, jelas aku tahu. Kau pikir aku ini kudet?”


“Terserahlah. Tapi ini membuatku lebih mudah, karena hanya kasus ini yang terbuka di depan publik dan media. Pernah menjadi topik hangat, berpikir bahwa Misa itu adalah aku.”


“Oh, iya. Aku mendengarnya, anak dari keluarga Papuana akhirnya tewas juga. Begitu kata banyak orang yang aku dengar. Tapi aku juga tahu kalau itu adalah kembaran bibi. Lalu?” sahut lelaki muda dengan menyunggingkan senyum tipis.


“Aku tidak mau mengulur waktu lagi, Gura.”


“Hei, kenapa? Tidak bicara lagi? Nggak mau mendongeng lagi nih?” Sementara situasi sedang sangat serius, justru lelaki ini tampak seakan-akan ia sedang bermain-main di taman hiburan.


Ia terkadang merebahkan dirinya ke lantai, bahkan juga sempat berguling-guling hingga ke depan Sima. Alhasil, Sima yang geram lantas menginjak tubuh yang sedang terbaring itu, bermaksud untuk menahannya.


“Hei, jangan menginjakku!” teriaknya.


Tak berselang lama setelah ia berteriak, sebilah benda tajam terlempar hingga tertancap ke sisi pakaiannya.


“Y-ya. Maafkan aku.”


Setelah Sima mengangkat kaki dari tubuhnya, lelaki itu lantas duduk bersimpuh dengan wajah serius sedikit memucat karena ketakutannya.


“CEO Farmasi itu memiliki putra bernama Adrian, yang sekarang menjadi mantanku karena ada wanita lain yang merebutnya dan dia dikenal dengan nama Lisa. Aku sama sekali tidak bisa menemukan latar belakangnya, jadi aku harap kau bisa menggantikan aku untuk menyelidiki hal itu.”

__ADS_1


“Itu yang terkait dengan Faksi Pertama. Bukan keluargamu, tapi apa ini hanya perasaanku saja kalau dua keterkaitan itu saling berhubungan?”


“Bisa dibilang begitu. Karena Faksi Pertama dulunya adalah bagian dari keluarga Papuana yang kemudian terbagi menjadi dua seperti sekarang. Lalu, pernah ada seseorang yang mengatakan bahwa Ibuku mati dibunuh oleh Faksi Pertama karena memiliki dendam dengan Ayahku.”


“Jadi karena itu, sampai sekarang Faksi Pertama dan keluarga bibi saling berseteru?”


“Hei, bukankah aku sudah bilang sebelumnya? Sebelum itu terjadi, kelompoknya sudah terbagi menjadi dua entah karena apa aku tidak tahu.”


“Oh, iya, iya. Aku mengerti. Lalu, di mana tujuanmu yang sebenarnya?”


“Apa maksudmu berkata begitu?” Sima bertanya, lantas ia mencurigai lelaki yang bertingkah sok tahu, walau mungkin perasaan Rima mengatakan apa yang dikatakan olehnya itu ada benarnya.


“Bibi tidak terlihat memiliki dendam pada Faksi Pertama, hanya saja karena preman-preman yang didalangi oleh mereka selalu membuat ulah, kau selalu bertindak bersama bawahanmu demi melindungi seluruh penduduk kota D.”


Sejenak ia berhenti bicara, lelaki itu menghela napas pendek dan kembali mengatakan penjelasannya.


“Dan juga, kau tak pernah berpikir bahwa Ibumu mati karena Faksi Pertama melainkan karena Ayahmu sendiri. Itulah kenapa kau memanggilnya, "pria itu", benar?” pikirnya.


“Dia ini ...,” Sima bukannya marah justru merasa senang. Lelaki yang jauh lebih muda darinya dapat mengetahui isi pemikiran Sima dalam sekejap yang juga melalui kata-katanya. Sima berdecak kagum.


“Anggap itu benar, bocah. Jadi, bagaimana? Kau mau 'kan?”


“Sebelum aku menjawabnya, bolehkah aku mengatakan satu hal padamu?” tanya lelaki itu lagi.


“Katakan saja.”


“Bagaimana jika Misa yang kau pikir sudah mati, lalu mengambil alih Faksi Pertama sebagai Lisa?”


Tak hanya Sima, bahkan sebagian bawahannya yang ada di sana terkejut. Mereka semua diam dengan mata terbelalak, dan mulai bertanya-tanya di dalam hati masing-masing.


“Yah, aku mengatakannya berdasarkan apa yang barusan aku ceritakan. Dan juga aku pernah melihat aksimu saat di kafe, tentang mantan pacarmu dan Lisa yang menganggapmu sebagai orang ketiga.”


Lelaki itu sedikit mendekatkan dirinya lagi ke hadapan Sima tuk mengetahui perubahan ekspresinya yang sekarang.


“Dari sana aku berpikir, mungkin saja ini bukan kebetulan, melainkan rencana dari orang lain. Hanya melihat dari layar televisi saja aku tahu, ada sesuatu yang aneh pada wanita bernama Lisa itu,” imbuhnya.

__ADS_1


“Itu tidak mungkin!” sangkal Sima. “Lisa dan Misa adalah wanita yang memiliki sifat berbanding terbalik. Justru Lisa lebih mirip denganku daripada Misa,” tuturnya.


__ADS_2