
Seri adalah wanita yang malang.
Seperti kata pepatah, jangan melihat buku dari sampulnya. Bahkan wanita yang terlihat seperti penggoda ternyata adalah korban dari kejahatan seksual.
Seri yang haru selalu menuruti hasrat dari lelaki yang adalah mantan pacarnya sendiri, kerap kali diancam jika tidak mau melakukannya maka ia akan disiksa habis-habisan.
Dendi sendiri yang bilang, Seri diminta untuk melanjutkan hubungannya oleh mantan pacarnya sendiri tapi Seri sendiri tahu bahwa takkan mungkin ia lakukan karena sehari-hari ia diperas hartanya. Dan kemudian kejahatan dengan memperdaya mahkota wanita lah sebagai pelampiasan amarahnya.
Bayangkan apa yang dikatakan lelaki itu pada Seri, ketika Seri sendiri akhirnya cerita dengan suara amat lirih.
"Jika kau tidak bisa memberiku uang, maka aku berhak mengambil harta berhargamu sebelum direnggut oleh orang lain!" Itulah kata-kata lelaki bejat itu.
Cerita yang menyedihkan, namun bagi Sima ini adalah hal yang biasa. Tak jarang lagi menemukan lelaki yang mencuri kesempatan dalam kesempitan. Ia bersyukur karena Adrian tidak pernah melakukan hal itu dengan paksaan.
Alih-alih membuat Seri trauma pada lelaki, ia justru bersandiwara dengan lelaki lain yakni Dendi. Ia melakukannya bukanlah tanpa sebab, melainkan karena dirimu dikuntit oleh mantan pacarnya itu.
Bahkan mungkin hingga sekarang.
“Karena kamu sudah mendengarnya, bolehkah aku minta sesuatu padamu?” tanya Seri pada Sima.
“Minta apa?” tanyanya ketus.
“Ijinkan aku bermalam dengan Dendi kali ini saja.”
Krak!
Terasa hati yang membatu kini retak, kulit terkelupas seolah menampakkan daging merah yang segar. Sima syok mendengar kata "bermalam" langsung dari mulut wanita ini. Padahal barusan ia bersimpati, tapi apa-apaan permintaannya?
“Hei, kau sudah aku beri hati dan kau malah minta jantung! Di mana sopan santunmu, wahai wanita biadab?” ujar Sima geram.
“Eh?”
“Sudah, sudah Mbak Sima. Tenang dulu, yang dimaksud oleh Mbak Seri bukanlah hal-hal seperti itu,” serobot Dendi.
“Lalu, apa maksudmu tentang hal-hal seperti itu? Coba aku pikir ...,”
“Mbak Sima tahu bukan? Ibuku juga pernah bilang kalau laki-laki dan perempuan satu kamar akan bertambah menjadi tiga orang,” jelasnya sembari melirik ke arah bawah. Enggan menatap Sima.
Sontak saja, Sima maupun Seri terdiam.
__ADS_1
“Tapi yang dimaksud Mbak Seri, hanya sekadar duduk di dalam ruangan bersama agar orang yang mengikuti Mbak Seri pergi,” bisik Dendi pada telinga Sima.
“Ada di mana dia sekarang?”
“Aku juga tidak tahu, tapi Mbak seri bilang sebelum lampu mati, dia masuk ke sini juga. Mungkin menyelinap,” pikir Dendi.
“Kalau begitu aku urus sekarang juga,” kata Sima seraya menggulung lengan pakaiannya.
“Tu-tunggu dulu, Mbak. Memangnya Mbak mau apa?” Dendi mulai panik ketika Sima bergelagat tidak wajar, ia terlihat seperti akan menghajar pria itu meski Dendi sendiri tidak percaya.
“Hei, tolong ijinkan aku satu hal ini saja. Aku mohon, padamu mbak.” Seri kembali meminta ijinnya.
“Ha, kamu pikir aku mau? Dan jangan panggil aku Mbak, pergi sana,” ketus Sima.
“Hanya sekali ini saja dan kami tidak akan melakukan hal-hal tidak baik nanti di dalam sana. Aku mohon,” pinta Mbak Seri dengan suara bergetar.
“Aku tidak—”
Drrt!
Ponsel Sima bergetar, ada seseorang yang menghubungi Sima di saat genting seperti ini. Membuat Sima berdecak kesal di depan Dendi tanpa sadar, segera ia berpamitan sebentar dan kemudian pergi.
“Maaf Dendi. Aku akan segera kembali. Dan jangan pergi ke mana-mana sebelum aku kembali,” kata Sima bernada tinggi dan serius.
“Halo, ada apa Gura? Kau meneleponku, jangan bilang karena kau khawatir karena aku belum pulang?” tanya Sima.
[“Itu juga, tapi Bos ada satu hal penting yang harus saya bicarakan—”]
“Tidak usah berbahasa formal, bodoh.”
[“Baiklah kalau begitu, bos. Intinya hotel saat ini dikuasai oleh satu orang, dia hacker, mata-mata juga informan.”] Penjelasan Gura yang amat singkat, dapat mudah dimengerti oleh Sima yang tengah kalut saat ini.
“Tadinya aku pikir itu ulah Faksi Pertama.”
Saat ini, Sima tengah berbincang dengan Gura melalui panggilan di ponselnya, bersembunyi di balik dinding guna menghindari orang-orang yang saat ini sedang berkumpul agar tidak berpisah.
Percakapan Sima yang bisa dikatakan sangat lirih, namun tetap saja suaranya mungkin akan terdengar oleh beberapa orang nantinya. Karena itulah ia terkadang memastikan keadaan sekitar meski dalam kondisi yang gelap.
“Tapi ternyata bukan? Bukan mereka?” imbuh Sima tak percaya bahwa ulah pemadaman listrik bukanlah karena Faksi Pertama melainkan ulah hacker asing.
__ADS_1
[“Ya. Aku sudah mendapatkan lokasi orang itu saat ini. Kebanyakan orang akan berpikir bahwa dia akan berada di ruangan operator dan sejenisnya tapi sekarang dia sedang membaur pada tamu-tamu hotel.”]
“Ada di lantai berapa?”
[“Di lantai bawah bos,”] jawab Gura.
“Oh, itu bagus. Aku akan segera mengurusnya lewat tangga.”
“Ya, itu bagus nona!” Bukan Gura yang menjawab melainkan orang lain. Segera Sima menutup panggilannya lalu menyimpan ponsel kembali ke dalam tas.
Suara asing itu mendekat bersamaan dengan langkah kaki yang tak Sima kenali.
“Siapa?!”
“Jangab takut, nona. Ini kami,” ucap pria itu sambil ia meraih tangan Sima.
Dengan cepat Sima kembali mengambil ponselnya lalu menyalakan senter dari sana agar dapat menghalau serangan dari seseorang.
Akibat silau dari cahaya sinar itu, pria yang terhitung sekitar tiga orang langsung mengaduh kesakitan.
“Ck, malah ketemu orang-orang nggak jelas.” Sima berdecak kesal.
“Hei, jangan memberontak atau kau yang berwajah cantik ini sepertimu akan mati,” katanya.
“Ha, kau saja tidak bisa melihat wajahku karena gelap. Bisa-bisanya memuji begitu?” gerutu Sima.
Gelap namun juga tidak terlalu gelap. Samar-samar bayangan ketiga pria ini lebih mendekat. Niat hati ingin melawan tapi ia tidak tahu persis bagaimana ia memposisikan kakinya untuk menyerang.
“Aku tunggu mereka mendekat saja ya?” gumam Sima yang mempunyai ide cemerlang.
“Ada apa, nona? Sepertinya kau tidak mau lagi melawan ya?”
Hal terburuknya ialah, kaki Sima menabrak sesuatu yang takkan bisa dipindahkan. Ada dinding persis di belakang Sima saat ini. Situasi yang memojokkannya tetap tak membuat ia merasa kalah.
Sementara ketiga orang ini mulai melancarkan aksi bejatnya. Entah bagaimana ada orang semacam ini yang masuk ke dalam hotel, bahkan memanfaatkan pemadaman listrik guna melecehkan setiap wanita yang ada.
“Hei, rambutnya panjang ya? Coba kemarikan senternya.”
Begitu mereka lengah karena ingin menyalakan senter melalui ponsel mereka, tiba-tiba saja dua dari mereka ambruk tak sadarkan diri di tempat. Lalu disusul oleh satu orang tersisa setelah beberapa saat.
__ADS_1
“Loh?” Sima belum melancarkan serangannya, tapi mereka sudah tumbang?
Begitu Sima mengarahkan senter ke depan barulah ia mengetahui bahwa itu adalah Dendi dan Seri. Mereka berdesis sembari memberi isyarat dengan jari telunjuknya untuk diam.