
Sesaat setelah itu, Erik tumbang dengan mata terbuka serta mulut yang nyaris berbusa hingga mengeluarkan darah.
“LEMAH! DASAR PRIA UDIK! RASAKAN ITU! BERANI-BERANINYA KAU MENYENTUHKU! HAH!”
Bertemu dengan orang aneh hari ini sungguh membuat Sima tak habis pikir. Apa pentingnya pertemuan yang sepertinya pria itu tak pernah membahas hal penting. Tersirat jelas dari wajah, Erik itu orang mesum.
Sebelum pergi, Sima menghubungi Gura untuk menanyakan sesuatu. Namun, seperti biasa meski sudah bertemu kemarin, Gura terdengar masih menyembunyikan sesuatu darinya.
“Katakan, apa yang kau tahu tentang masa lalu Ayahku? Kau sudah bekerja di bawahnya cukup lama sebelum aku, 'kan?” tanya Sima dengan tutur menegas.
Gura: “[Maafkan aku soal itu, bos. Sebelum itu apakah partner kencan buta bos sedang tergeletak di sana?]”
“Kau malah menanyakan hal lain di saat aku bertanya dengan serius. Ah ...” Sima mendesah lelah. “Kalau begitu, kenapa orang ini menjadi ketua mereka? Tidak mungkin ketuanya selemah ini. Dia pasti suruhannya,” pikir Sima seraya melirik Erik.
Gura: “[Sekali lagi aku minta maaf padamu, bos. Tentang masa lalu yang terjadi, harusnya Bos Sima sudah tahu tapi tampaknya ingatan itu masih tertutup rapat.]”
“Lupakan itu. Segera cari orang-orang Faksi Pertama, aku yakin yang mencari keberadaanku bukan hanya dia saja,” sahut Sima bernada tinggi.
Gura: “[Baik! Aku akan segera mencarinya, tapi bagaimana dengan Dendi?]” Gura bertanya.
“Em ...itu biar aku–” Sebelum mengutarakan kalimatnya, Sima terkejut dengan suara ******* dari belakang.
Karena jengkel, raut wajah Sima seketika berubah tambah seram. Tampang mengerikan yang benar-benar membuat orang bergidik. Tak terkecuali dengan Erik yang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya.
Tiba-tiba saja ia mendesah lalu berguling ke samping sambil mengepit kedua tangannya dengan kaki. Seolah ia menggenggam sesuatu di area tengahnya.
“Kau ngapain begitu? Jijik tahu!” ketus Sima. Usai ia meniti kain rok yang sobek, ia kemudian bangkit dan hendak pergi.
“Tunggu ...tunggu! Nona Sima!” panggil Erik lantas mengubah posisinya, bangkit dan menarik tangan Sima.
__ADS_1
Sima menoleh dengan wajah yang sama lalu berkata, “Sudah kubilang aku tak mau–” Lagi-lagi kalimatnya terhenti sebab Erik membungkam mulutnya lalu mematikan panggilan yang masih tersambung itu.
“Kau betulan tidak mau mendengar apa yang terjadi di masa lalu?”
“Aku sudah mendengarnya darimu. Sisanya hanya perlu mengonfirmasi apakah itu benar atau tidak. Tapi, itu jelas tak ada hubungannya dengan kesepakatan kita barusan. Katakan apa yang harus aku lakukan agar kau berhenti menganggu ketenangan di Blok D,” tutur Sima tanpa celah sedikit pun.
“Ya, itu. Aku ingin kau ...”
Sima melepas genggaman Erik darinya dan membuang muka yang kusut itu.
“Aku tidak bergairah denganmu. Karena aku memiliki seseorang yang masih aku cintai ...” Suaranya kemudian merendah. “Meski sekarang sudah tidak bersamaku lagi.”
“Oh, bukankah itu kabar yang bagus buatku dan dirimu. Untuk memulai kehidupan yang baru?” ucapnya dengan senyam-senyum.
“Diamlah, aku tak suka kalau kau berbicara panjang lebar. Keberadaanku di sini sudah tidak diperlukan, soal kau yang akan mengusik ...ah, bukan maksudnya ketua-mu itu. Aku tak peduli mau sampai kapan kalian berulah, tapi biar kuperingatkan satu hal.”
Sima melirik sinis pada Erik, seketika Erik tercengang. Diam tak berkutik dan memandang wajah cantik namun menyeramkan itu.
Sesaat Erik tersentak diam. Kini ia paham, mengapa wanita ini menjadi bos yang baru. Ternyata Ayah dan anak tak jauh berbeda. Yah, namanya juga hubungan yang sudah mendarah daging.
Sikapnya seperti anjing menggonggong tak lagi diperhatikan. Harga diri Erik sepenuhnya terinjak-injak hanya beberapa patah kata dari Sima seorang.
Erik lantas duduk di kursi, seraya ia memandang ke arah luar dari jendela dengan tirai terbuka. Sesekali ia melirik ke arah Sima yang masih melotot.
“Ketua tidak mau bertemu denganmu karena perempuan itu mudah dipermainkan. Dia menganggapmu lemah dan selama ini kalian bergerak memberantas kami bagai hama pun, dia berpikir kalau itu semua karena Sukma.” Perlahan Erik mulai menjelaskan situasi yang sebenarnya.
“Sukma, Ayahmu pernah menculik seorang gadis dan dia meminangnya secara paksa. Hukum saat itu belum bisa membuatnya jera, seperti mereka ada di hutan rimba. Yang kuat memakan yang lemah,” imbuh Erik.
“Gadis itu adalah Ibuku lalu berbagai kesalahan tak terhindarkan mulai bermunculan dari sisi Ibu. Konflik panjang membuat kalian beradu tinju di lapangan masyarakat, lantas apa yang kalian dapat?” tutur Sima dengan logis.
__ADS_1
“Nona, kau mungkin belum tahu keseluruhan cerita itu. Akan lebih baik kau mendengarnya langsung dari pelakunya sendiri?” Erik menoleh dengan tatapan datar. “Tak banyak orang mengingat kejadian itu. Atau mungkin lebih tepatnya, sudah banyak orang yang mati karena konflik di antar beberapa blok.”
Suasana hening sesaat, senyum tipis itu kembali tersungging di wajah Erik. Bertanya ada apa, namun jawaban singkat tak berarti apa-apa.
Termenung dalam kesedihannya tersendiri. Sima nyaris berpikir negatif tentang masa lalu, ingatan itu ada namun kabut gelap masih menutupinya dengan rapat. Seolah Sima sendiri enggan mengingat masa lalu.
“Erik, apakah kau tahu tentang kasus kecelakaan CEO farmasi?” tanya Sima dengan tatapan mengkhawatirkan.
“Apa maksudmu CEO Pratama?” tanya Erik memastikan.
“Ya,” singkat Sima.
“Heh, dia dikabarkan telah meninggal dalam kecelakaan tragis. Tempat kejadian perkara pun ada di dekat situ. Tentunya setelah konflik panjang berakhir,” jelas Erik menyeringai.
“Hm, begitu.” Sima hanya berdeham, dan tak lagi mengungkit pembicaraan tersebut.
Selain tentang masa lalu yang terjadi di organisasinya, hal lain serupa, berkaitan dengan itu—Sima terpikirkan tentang kasus dan tuduhan Lisa terhadap dirinya. Seolah itu adalah kesalahan Sima.
Berkali-kali mencoba terus berpikir positif akan tetapi sulit. Seraya menggelengkan kepala dan menghela napas panjang, langkahnya terhenti saat ia mencoba untuk keluar dari kamar hotel ini.
“Nona Sima. Kalau kesepakatan memang tak berjalan lancar. Lalu bagaimana jadinya, ya?”
Hal yang membuat langkah Sima terhenti, adalah karena Erik menyodorkan ponselnya. Melihat foto seorang pria yang tersenyum lebar sambil menyajikan minuman pada pelanggan.
“Dendi ...” Raut wajah yang semula hampir membaik pun sekali lagi berubah menjadi kesal. Raut wajah gelap itu juga tengah memandang diri Erik, Sima marah.
“Aku bahkan belum membicarakan apa pun. Tapi sepertinya kau mengerti.”
Saudara-saudara Sima takkan mudah tumbang hanya karena serangan dari Faksi Pertama. Lain cerita kalau mereka mendapatkan target baru. Sejak kapan mereka tahu kalau pria itu sedang dekat dengan Sima?
__ADS_1
Buakk!! Emosional membludak tinggi, Sima meninju wajah Erik sampai ia jatuh tak sadarkan diri kembali. Segera Sima melangkah pergi dengan bertelanjang kaki seraya ia mencoba untuk menghubungi Gura lagi.