
Dendi. Nama singkat namun dengan karakter yang cukup unik. Ia peka dan di satu sisi ia sangat polos. Seperti bayi yang baru saja lahir, setiap ucapan dari bibir itu membuat pendengarnya jadi merasa disucikan kembali.
Seolah malaikat turun ke dunia. Tanpa sayap, berbaik hati, ramah dan selalu memperhatikan keadaan sekitar adalah kebiasaannya sedari dulu.
Bahkan saat di masa sma-nya. Yang terjadi 4 tahun lalu saat Ayahnya masih ada.
Suasana di kelas yang cukup berisik, Dendi mendapatkan kelas terakhir yang banyak sekali murid-murid nakal di sini. Dendi yang polos itu takkan cocok di situ. Tapi mau bagaimana lagi.
Lelaki yang mudah sekali digoda, perempuan yang ada di kelasnya pun tak berhenti terus mendekati dan mengganggunya. Ada yang berniat baik dan ada juga yang berniat buruk.
Dendi merasa risih terutama saat merasakan tatapan tajam dari para lelaki di sana. Mereka iri karena Dendi menjadi pusat perhatian bagi perempuan. Itu wajar saja kalau mereka iri.
Tetapi, kelakuan mereka tak berhenti di situ. Tidak hanya sekadar menatap tajam dan kesal atau bahkan menyindir, mereka bahkan melakukan kekerasan fisik. Dendi berakhir menjadi bahan cemohan, dirundung habis-habisan hingga tak ada satu pun yang mendekatinya kembali.
Awalnya perempuan-perempuan itu bersimpati karena wajahnya babak belur tapi seiring berjalannya waktu, mereka menjauhi. Satu persatu.
Senyum Dendi tak lagi tersungging. Wajah babak belurnya semakin menambah saja setiap hari. Dendi bahkan tidak bilang apa-apa pada guru, yang ia katakan hanyalah, "Jatuh dari tangga."
Meski tak logis, para guru anehnya malah percaya begitu saja. Seisi kelas menjadikan Dendi sebagai bahan candaan karena itu.
Hingga suatu hari, Dendi sekali lagi didekati oleh seorang perempuan.
Mirip dengannya, perempuan satu itu juga sangat polos. Seragam dengan rok panjang. Rambutnya lurus tanpa satu pun aksesori. Ia seringkali tersenyum dan menyapa murid-murid yang lain, termasuk guru.
Kepribadiannya ramah, prestasinya cukup banyak dalam bidang akademis. Nilai-nilai di setiap mata pelajaran juga selalu sempurna tanpa celah. Seolah siswi ini sebenarnya adalah bot.
Suatu ketika, Dendi yang ada di sudut kantin belakang, ia termenung sendirian. Tatapan sendu yang berisyarat kesepian, membuat hati siswi itu tergerak.
“Apa ada masalah dengan kelasmu?” Siswi itu mulai berbicara padanya. Dengan senyum yang ramah dan mata yang bulat.
“Oh, iya. Aku rasa.” Dendi menjawabnya dengan ragu.
“Aku ada di kelas A. Tapi tidak pernah aku sangka kalau murid polos sepertimu dapat kelas terakhir, F.”
“Semua kelas tidak jauh berbeda, bagiku. Siapa namamu?”
__ADS_1
Perempuan itu tersenyum lalu menyentuh wajah Dendi dengan lembut. Ia berkata, “Aku Reni. Lalu kamu?” Ia balik bertanya.
“Aku Dendi. Kenapa kamu menyentuhku?” tanya Dendi merasa geli.
Setelahnya, Reni menggosokkan jari yang barusan menyentuh wajah Dendi. Ada suatu seperti bubuk.
“Kamu terluka jadi itulah mengapa kamu menutupi lukanya dengan bedak? Aku pikir itu cukup konyol,” pikir Reni sedikit tertawa.
“Aku tidak mau mendengar itu darimu. Lagipula kenapa kamu mendekat padaku? Aku yakin, aku ini bukan orang yang mudah dimanfaatkan terutama aku tak punya bakat untuk melakukan sesuatu,” tutur Dendi sedikit kasar.
“Bukan urusanmu. Aku hanya datang karena kamu merasa kesepian. Toh, sebentar lagi kita lulus, apa masalahnya bermesraan dulu ...”
“Aku nggak ada niat buat pacaran, ngerti?” ketus Dendi marah.
“Ya, ya. Aku cukup paham apa maksudmu. Aku 'kan cuman bercanda.”
Reni, siswi yang sama periangnya dengan Dendi. Namun hari ini Dendi tampak lesu tak bersemangat lantaran akhir-akhir musibah selalu menimpa kehidupannya. Itulah mengapa mood Dendi cukup buruk, bahkan untuk sekadar membalas sapaan perempuan ini.
Setelah berhari-hari, mereka berdua ditakdirkan untuk bertemu setiap harinya. Entah memang karena sudah saling mengenal satu sama lain atau memang kebetulan saja karena satu sekolah.
“Kamu tidak menguntit ke manapun aku pergi, bukan?”
“Harusnya aku yang tanya begitu.”
Setelah itu pun mereka jadi akrab. Setiap jam istirahat selalu bertemu di kantin belakang yang sepi. Sesekali murid-murid yang melihat pun pasti hanya berpikir sedang berpacaran tanpa tahu siapa mereka saat itu.
Keduanya jadi saling bertukar cerita tentang kelas mereka. Saling tersenyum dan semakin dekat satu sama lain. Berterus terang, bercanda juga kadang bertengkar.
Keakraban mereka pun mulai tumbuh benih-benih yang disebut cinta. Tapi itu hanya berlaku pada Reni. Sedangkan Dendi, ia benar-benar hanya menganggapnya sebagai sahabat saja.
Ketika Reni mengaku juga tidak membuat perubahan pada wajah Dendi hari itu. Kaku, atau mungkin lebih tepatnya tidak mengerti yang diucapkan.
“Setelah lulus, kamu mau ke mana? Kuliah atau kerja?” tanya Reni.
“Hm, mungkin kerja. Aku tidak begitu ingin kuliah tapi kalau keinginan kedua orang tuaku adalah itu, maka harus kulakukan,” jawab Dendi.
__ADS_1
“Kamu tidak begitu mementingkan perasaan sendiri?”
“Hm, tidak juga.” Wajah yang datar. Jelas jawaban itu bukan karena keinginannya sendiri.
Ekspresi yang datar, sendu dan kurang bertenaga. Reni menatapnya dengan tatapan girang, senyuman pun tersungging di wajahnya.
Reni mendekatkan wajahnya dan sekali lagi menatap wajah Dendi yang sangat berkesan baginya.
“Kalau begitu semoga kita dapat bertemu kembali ...” Reni tak hanya mengatakan kalimat itu, bahkan ia dengan berani mengecup bibirnya.
Berlangsung sangat singkat, padat dan jelas apa maksudnya. Seketika Dendi tersentak, reflek ia melangkah mundur dan menatapnya aneh.
Mulai dari itu, Dendi merasa harus menjauhi para wanita. Tetapi sekarang ...
***
“Dendi, kemarilah!”
Ada sosok wanita yang mendekatinya akhir-akhir ini. Wanita berkharisma dengan sifat yang berbanding terbalik. Supel, terang-terangan, tapi di sisi lain memang sempat membuat Dendi berpikir bahwa wanita itu mendekatinya dengan maksud terselubung.
Namun, Dendi merasa nyaman. Berbeda dengan sangat ia bertemu dengan Reni. Reni menuturkan kata-kata indah nan lembut, setiap langkah padanya sangat pelan dan berhati-hati.
Sangat berbeda jauh dari wanita itu. Sima. Sifat yang bahkan tidak bisa dibilang sebagai wanita pada umumnya.
Sekarang coba saja lihat, bagaimana cara penampilannya yang mencolok bukan seperti wanita idola namun seperti orang kampungan. Aneh, Dendi merasa sangat nyaman dengan orang yang seperti itu.
“Mbak Sima, sedang apa?”
“Aku beli bakso, nih buatmu,” ucap Sima sambil memberinya satu porsi di plastik.
Sima lalu Dendi. Entah apa yang mereka rasakan saat ini selaras atau tidak. Tapi yang pasti, keduanya merasa nyaman satu sama lain.
Meski terkadang Sima terlalu terang-terangan saat berkata, "Aku terpana!", dan kata-kata lainnya yang dengan jelas bahwa Sima memiliki ketertarikan terhadapnya.
Dendi hanya tersenyum sebagai jawaban, "Jangan terlalu berharap."
__ADS_1
“Terima kasih, Mbak. Ngomong-ngomong jangan lihat ponsel untuk sementara waktu,” ucap Dendi.