
“Ponselmu bergetar, Sima.”
Pertama, kedatangan Lisa yang disengaja. Sejak awal ia selalu mengawasi Sima atau mungkin Dendi dari jarak jauh, tetapi pernyataan mengejutkan adalah, ketika Lisa sendiri memberitahu bahwa Faksi Pertama akan bergerak.
Ini pasti jebakan. Itulah yang dipikirkan oleh Sima saat melihat ekspresi senang dari wajah Lisa tepat setelah mengungkapkan hal tersebut.
Namun, sayangnya, panggilan dari seseorang mengacaukan perbincangan yang belum usai.
“Gura?”
[“Maaf, Bos Sima. Karena telah menganggu aktivitas hari ini.”]
“Sudah, katakan saja.”
[“Kalau begitu, saya tidak akan ragu. Begini, ada tamu yang datang, dia berniat membeli tanah di bagian rumah terbengkalai.”]
“Apa? Itu aneh.”
Setelah bercakap-cakap sebentar seraya Sima memperhatikan gelagat Lisa, ada satu hal yang cukup menganggu Sima hari ini. Panggilan dari Gura lalu Lisa yang sengaja memberitahukan panggilan itu.
“Biar aku tebak. Apakah ini karena ada hubungannya? Kau memberitahukan penyerangan kalian sebentar lagi akan terjadi karena bertepatan adanya tamu?”
“Entahlah. Tapi jika kau ingin berpikir seperti itu, maka terserahlah. Sebab aku tidak mau jika lawanku tidak sedang dalam kondisi yang baik.”
Lisa kemudian pergi, tetapi sebelum akhirnya ia menghilang, Sima bergegas untuk mengikutinya lagi.
Ada sesuatu yang hendak ia bicarakan padanya.
“Lisa! Jika benar niatmu begitu, maka itu artinya kau sedang meremehkanku. Perlu kau ingatkan, aku tidak akan lengah sekalipun pada orang yang kusukai,” ungkap Sima menegaskan.
Namun, Lisa hanya tersenyum saja. Ia kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi, seakan telah menanti hari ini. Penyerangan Faksi Pertama terhadap Sima dan bawahannya di kota D akan terjadi cepat atau lambat.
Dengan panggilan yang masih terhubung dengan Gura. Kembali Sima mengatakan sesuatu untuk Gura, “Jangan temui tamu itu lebih dulu ataupun berbicara padanya sebelum aku sampai ke rumah.”
[“Baik.”]
“Bagaimana dengan Ayah? Ah, maksudku Bos Besar?” tanya Sima.
[“Sayangnya beliau sedang menemui mitra bisnisnya.”]
“Baiklah, terserah saja!” amuk Sima sesaat setelah ia menutup panggilannya.
__ADS_1
***
Sesampainya di kediaman Papuana.
Sima menemui Gura dan beberapa bawahannya.
“Kalian sudah menyuruhnya masuk?”
“Ya. Maafkan saya, bos. Ini karena sepertinya akan menjadi perbincangan yang cukup lama. Sekali lagi maafkan saya.”
“Ya sudah, itu jauh lebih baik. Tapi di sini banyak pasang sepatu, apakah kliennya lebih dari satu?”
“Ya, sesuai yang Bos duga. Tapi klien hanya satu orang, sisanya lebih terlihat seperti pengawal.”
“Apa dia orang sepenting itu? Kalau sampai dikawal beberapa orang dan tidak hanya satu saja, mungkin saja benar dia adalah orang penting tapi aku punya firasat buruk.”
Gura tersentak, ia lantas berkata, “Saya juga merasakan hal yang sama.”
“Jika benar dia orang penting, tapi kenapa malah memilih tanah terbengkalai? Di sana tidak bisa diurus dengan baik semenjak diracun.”
Beberapa bawahannya memiliki anggapan yang sama, sebab sudah sejak awal mereka menaruh curiga pada calon pembeli itu. Terlebih Sima, yang sudah bertemu dengan Lisa yang mengatakan hal penting seolah itu adalah hal biasa.
“Lisa, jangan bilang padaku kau ...”
“Gura,” panggil Sima. Wajah Sima terlihat lebih kusut dari biasanya, menandakan bahwa ini adalah situasi yang cukup serius.
“Aku ingin yang menemaniku cukup satu orang saja. Kalau hanya kau saja itu juga tidak apa-apa, tapi aku ingin kau berjaga-jaga di luar rumah,” pinta Sima.
“Sesuai permintaanmu, Bos!”
Meski banyak pengawal, Sima hanya ingin ditemani oleh satu orang saja. Bahkan jika tidak ditemani pun, Sima merasa itu tidak apa-apa, hanya saja dirinya adalah seorang wanita. Salah sedikit, mereka akan merencanakan hal lain, itulah yang ditakutkan oleh Sima.
Walau Gura dan lainnya mengiyakan permintaan Bos Sima, akan tetapi ada sesuatu yang sudah direncanakan oleh mereka lebih awal sebelum kepulangan Sima.
Setelah Sima masuk ke dalam rumah. Gura berbisik pada rekan-rekannya, “Jangan lupakan soal itu. Mengerti?”
Situasi di rumah, tiada kepala keluarga. Hanya Sima saja yang bisa mengambil alih posisi ini untuk sementara. Dalam batin, Sima memaki Ayahnya yang tidak jelas pergi ke mana lagi, Sima tetap tenang di luar wajahnya yang tengah berhadapan dengan tamu hari ini.
Ia adalah seorang pria yang membawa koper hitam, ia meletakkannya tepat di samping kaki kirinya. Terhitung 5 pengawal yang berdiri di belakang kursi sofa, tempat duduk pria itu.
'Aku jadi tidak yakin, apa dia orang penting? Rekan Bos Besar? Mana mungkin,' celetuk Sima dalam batin.
__ADS_1
“Tuan, maafkan saya yang datang terlambat untuk menemuimu. Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya Sima.
“Seperti yang saya bilang sebelumnya pada pria itu. Saya ingin membeli tanah yang ada di ujung barat, kudengar itu terbengkalai tapi itu tidak jadi masalah,” kata pria itu dengan ekor mata yang selalu bergerak ke kanan dan kiri secara bergantian.
“Oh, begitu rupanya. Tapi saya khawatir jika itu tidak akan sesuai dengan yang Anda minta. Sebab tanah itu sudah tercemar dan kering. Tidak cocok untuk—”
“Cepatlah! Jual saja tanah itu padaku!” Mendadak pria ini menyahut perkataan Sima dengan berteriak.
Sontak saja Sima dibuat terkejut dan beberapa bawahan langsung Sima yang sudah sejak awal telah bersembunyi di beberapa bagian tempat, sudut-sudut terpencil yang mereka gunakan untuk bersembunyi juga untuk menyergap bilamana akan terjadi sesuatu pada Sima nanti.
“Namamu?” Sima tak lagi memperpanjang lebar. Ia langsung bertanya kembali, mengenai namanya.
“Nama? Tidak perlu! Jual saja, aku membawa uang muka!”
“Nama diperlukan, seluruh identitasmu,” tegas Sima.
Pria itu sama sekali tidak menjawab, ia hanya berpaling dari tatapan Sima yang menukik tajam. Lalu, berdecak kesal.
'Semakin lama, semakin mencurigakan. Aku yakin salah satu atau mungkin semua pengawal bohongannya akan menyerang.' Sima membatin.
Firasat buruk terjadi tepat setelah Sima menduga bahwa inilah yang dimaksud oleh Lisa, terkait pernyataannya; Faksi Pertama akan menyerang.
“Sekarang,” gumam pria itu lirih.
Lantas semua pria yang berada di belakangnya pun menodongkan senjata api pada Sima.
“Kalau sudah begini, aku tidak bisa mengulur waktu lagi! Maafkan aku, Papuana! Ini semua demi keluargaku!! Agar mereka selamat!”
DOR! DOR!
Tak hanya dua tembakan saja yang terdengar, berturut-turut mereka melepaskan tembakan ke arah yang sama. Hanya saja itu semua tidak mengenai Sima sama sekali, sebab ada 3 orang yang berdiri dan sengaja memasang badan sebagai perisai untuk Sima.
“Kalian semua! Apa yang kalian lakukan?! Kenapa berada di sini?!” jerit Sima.
Ia sangat terkejut mendapati anak buahnya mengorbankan diri, padahal Sima sendiri bisa saja menghindari semua tembakan itu dengan mengumpat di balik kursi sofa.
Tapi apa yang mereka lakukan? Mereka sudah seperti ini bahkan hanya dalam sekejap sesaat sebelum akhirnya musuh mengeluarkan taring.
“BOS SIMA!”
Gura dan lainnya langsung ikut masuk dan menyergap mereka semua, membekukan banyak dari musuh tak terkecuali dengan calon pembeli tanah itu.
__ADS_1
“Kenapa ...kenapa setiap bos selalu pergi untuk bersenang-senang atau bahkan bertemu dengannya, pasti akan terjadi masalah seperti ini,” gerutu Gura.