Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
008. Perhatian = Disucikan


__ADS_3

Sima kembali ke dalam, melihat lukanya sudah diobati mereka turut senang. Sepatu hak tinggi yang ia pakai pun sudah tergantikan dengan sandal jepit warna biru.


Ia masuk ke dalam sembari membawa masuk pintu kaca yang sudah rusak itu. Berniat menyimpannya sebentar karena tak ingin pemandangan ataupun suasana toko kue jadi aneh karena pintu itu.


Yah, meski kehilangan sebelah pintu membuatnya terlihat sedikit unik.


“Hei, kamu tak apa? Sepertinya mantan pacarmu benar-benar egois, ya?” Salah seorang pelanggan menegur Sima.


Sima berkedip lantas tersenyum kecut. Enggan berkomentar terhadap apa pun yang telah terjadi sebelumnya di sini.


“Maaf karena telah membuat keributan. Bagaimana kuenya? Jika enak, silahkan tambah dua potong kue dengan gratis, anggap saja kompensasi terhadap pelanggan yang melihat drama tidak pantas,” tutur Sima menganggukkan kepala lalu pergi ke dapur belakang.


Menjumpai Dendi dan Manda. Kue bolu yang dibuat oleh Dendi juga sudah matang, terasa kuat harumnya menusuk hidung, seketika perut jadi lapar.


“Mbak Sima, sudah diobati. Apa sudah baik-baik saja?” tanya Dendi. Semula wajahnya biasa saja saat memanggang kue tapi saat melihat Sima lagi ia menjadi cemas kembali.


“Bagaimana aku akan baik-baik saja dalam waktu singkat? Tapi tenanglah, ini hanya Luka gores. Harusnya aku yang tanya, bagaimana keadaanmu?” tanya Sima seraya ia menunjuk kepala bagian belakang.


Dendi sadar bahwa kemarin Sima telah melihat perban yang menutup lukanya. Lalu ia tertawa kecil.


“Itu sudah baik-baik saja. Mbak Sima jangan cemaskan orang lain kalau Mbak sendiri saja sudah kesusahan,” balas Dendi.


“Yang benar?” tanya Sima tak percaya.


Dendi menganggukkan kepala. “Aku tak apa. Lagipula sekujur tubuhku mati rasa, semua luka yang aku miliki tak pernah sekalipun membuatku mengeluh,” jelas Dendi.


“Mati rasa?”


Hati Sima mulai berkecamuk akan kalimat Dendi barusan. Mengatakan bahwa luka yang diderita olehnya tidak terasa sakit, seluruh tubuhnya mati rasa. Itulah yang Sima dengar darinya langsung.


Tapi apakah itu tak masalah?


“Lain kali jangan pernah lakukan hal bodoh lagi.” Sebelum Dendi membalas perkataannya, Sima lantas kembali berucap, “Lalu, bagaimana kuenya? Apa dia cukup jago untuk menghasilkan banyak kue yang enak?” tanya Sima pada Manda, mengalihkan perbincangan yang suntuk.

__ADS_1


“Dia berbakat! Aku yakin dengan adanya penghasil kue darinya akan membuat toko ini semakin laris tanpa penglaris,” jawab Manda dengan penuh keyakinan dan mempercayakan Dendi sebagai pembuat kue.


“Itu bagus. Karena membuat kue sendiri pasti jauh lebih irit,” kata Sima yang setuju.


Matahari meninggi hingga di atas kepala, teriknya membuat silau dan panas yang menyeruak. Beberapa dari karyawan sedang beristirahat saat ini. Pelayanannya akan tutup sementara sampai istirahat selesai.


“Seharusnya Nyonya tidak perlu membuat jadwal untuk istirahat. Kami juga bisa bergantian shift.”


“Tidak apa. Sudah banyak pelanggan yang datang sejak pagi. Apalagi Dendi juga pasti sangat lelah,” ucap Sima.


“Dukaku memang belum berakhir sejak kemarin, Mbak. Tapi kalau terus merenung juga tidak akan membuat hati ini lega,” ucap Dendi tersenyum masam.


Sima bangkit dari tempat duduknya lantas mengambil bangku di dekat Dendi. Semua karyawan melihatnya dan berpikir bahwa apa yang ada di antara mereka benar-benar terjadi suatu hubungan istimewa.


“Sebelumnya aku minta maaf, kemarin pagi aku berkata yang bahkan itu bukan urusanku.” Tiba-tiba Sima meminta maaf.


Namun sebaliknya Dendi berkata bahwa kemarin adalah salahnya jadi Sima tak perlu merasa bersalah. Dendi juga tahu kalau Sima punya niat baik hanya saja membuat orang salah paham.


“Aku lah yang salah.”


“Em ...baiklah ini salah kita berdua,” ucap Dendi dengan wajah berkeringat.


Mereka saling menyalahkan diri sendiri lalu berakhir dengan mengakui bahwa ini adalah kesalahan mereka bersama. Tak sedikit karyawan yang berpikir bahwa sepasang berkicau itu benar-benar unik.


Di sekeliling mereka terlihat seperti ada efek berbunga-bunga. Terang berwarna cerah seolah sedang bermesraan. Mereka yang melihatnya pun menghela napas panjang bersamaan.


“Nyonya tidak pandai meluluhkan hati seorang pria.”


“Dia memang begitu. Ingin terlihat lemah tapi tak bisa.”


Banyak dari mereka yang sedang asik bergosip sendiri. Beruntung Sima ataupun Dendi tidak mendengar gosipan mereka di belakang. Sebab mereka sedang asik berbincang.


“Mbak Sima, pernyataan tadi hanya pura-pura benar?” tanya Dendi memastikan.

__ADS_1


“Ya, benar. Apa kamu ingin itu betulan terjadi?” pikir Sima yang berniat menggodanya.


“Eh, tidak!” Nadanya meninggi karena kaget. “Mana mungkin berani. Tapi ...kalau Mbak Sima diganggu lagi, aku siap membantu kapan saja,” jelas Dendi dengan suara yang lebih tenang.


Saat ini Sima puas menggoda Dendi, melihat reaksi yang polos seperti anak sma seperti baru diajak kencan oleh seorang wanita.


Senyum tipis itu kini tersungging ke harapan Dendi seorang. Dendi pun mengalihkan pandangan dengan mengerjap-ngerjapkan kedua mata.


“Kamu tidak keberatan kalau aku menghubungimu untuk minta bantuan?” tanya Sima.


“Iya, kalau situ nggak apa-apa,” tukasnya tanpa melirik.


“Aku berharap kepura-puraan menjadi nyata apa adanya.”


Sima berharap di lubuk hatinya yang terdalam, tak berselang lama ia kemudian menyadari bahwa pikirannya yang kacau tiba-tiba terlintas.


Ia kemudian menepuk-nepuk kedua pundak. “Aku mikir apa, sih?” gumam Sima dengan merasa heran sendiri.


“Mbak kenapa? Sepertinya luka Mbak masih terasa sakit, dan akan lebih baik jika Mbak pulang ke rumah dan beristirahat. Kalau ada apa-apa, hubungi aku kalau memang diperlukan,” ucapnya.


Hati Sima serasa ditusuk ribuan jarum. Kepincut entah karena memang wajah polosnya atau mungkin karena cara ia bertindak dengan lebih sopan.


Dendi mengkhawatirkannya namun enggan menyentuh tangan seorang wanita. Terlihat ia ragu, mungkin sedang berpikir kalau wanita tak suka disentuh sembarangan.


Namun ekspresi khawatir itu jelas nampak, sekilas terasa berakting tapi lama-kelamaan Sima berpikir bahwa inilah sifat aslinya. Sifat murni yang polos tanpa polesan sejak lahir, mendengarnya khawatir saja sudah seperti disucikan.


“Kalau pria lain, pasti akan memegang tanganku lalu berkata, "Aku khawatir padamu, mari kita periksa apakah ada sesuatu ...", dan dengan muka sok khawatir. Aku tahu betul mana yang palsu dan mana yang asli kalau soal ekspresi seseorang,” celetuk Sima membatin seraya mengangguk-ngangukkan kepala.


“Anu ...Mbak?” Dendi justru semakin cemas, ada pada dengan wanita yang sedari tadi bersikap aneh sambil melirik ke arahnya.


“Ah, maaf. Dendi, aku hanya terpana,” ucap Sima dengan tersenyum. Tanpa basa-basi Sima berbicara seolah tertarik dengannya, seketika semua karyawan mengangga terkejut.


Sedangkan Dendi yang sedikit tidak mengerti apa yang barusan Sima bicarakan pun hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa.

__ADS_1


Sekali lagi Sima berkata, “Aku akan menghubungimu kalau aku butuh bantuan. Dan kalau kamu juga butuh, maka jangan sungkan untuk menghubungiku.”


“Terima kasih,” kata Dendi dengan sedikit merasa tak enak.


__ADS_2