
Tenang dan damai itulah yang biasa mereka lakukan sehari-harinya. Namun lihatlah sekarang, mereka berdua sama-sama melampiaskan emosi masing-masing.
Sima dengan sengaja memasukkan satu kue kering terakhir ke dalam mulut Dendi sedang Dendi berusaha untuk menghentikan tindakan kasarnya dengan cara memegang pergelangan tangan Sima.
“He-hentikan! Nanti aku— ugh!”
Krees!
Ketika kue kering itu sudah sedikit menjauh dari kerongkongannya, Dendi langsung menggigit kue tersebut. Dan sesuai permintaannya yang minta disuapi, kini Dendi memakan kue itu secara perlahan.
“Apa kamu tak tahu cara menyuapi orang lain? Terutama pada seorang kekasih?” sindir Dendi dengan pupil mata yang mengecil. Sorot matanya masih sama dan itu bukanlah Dendi polos yang dikenal oleh Sima.
“Kamu benar-benar berbeda. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa?”
“Kenapa?” Sebelum melanjutkan kalimatnya, Dendi menelan kue yang sudah dikunyah. “Asal kamu tahu bahwa aku benar-benar suka padamu,” tuturnya tanpa bermaksud untuk membohongi.
“Bohong.” Sima tak percaya.
Satu gigitan terakhir dilahapnya bersamaan dengan jari-jemari Sima. Seolah ia berniat memakannya juga, Dendi pun tak berniat melepaskan cengkraman pada pergelangan tangan Sima.
“Hei!”
Tak peduli seberapa keras Sima memberontak, Dendi selalu menggenggamnya dengan kuat seraya menjilati setiap jari yang terkena remahan roti. Dendi terlihat begitu menikmatinya.
“Cih!” Ketika Sima hanya berdecak seraya memalingkan wajah yang tersipu malu itu, Dendi lantas menyeringai.
“Ekspresimu boleh juga,” kata Dendi seraya menarik tubuh Sima ke pangkuannya.
“Hei, apa yang kamu lakukan? Hentikan candaanmu dan katakan apa maksud dari perkataan beberapa puluh tahun itu? Dendi!” ujar Sima yang terus memberontak.
“Tidak bisa. Aku tidak tahan. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku tidak bisa menahannya jika terus berdekatan denganmu.”
“Lalu kenapa kau tidak segera melepaskanku bodoh!” jeritnya dan memaki Dendi, Sima memukul-mukul punggung Dendi karena hanya itu yang bisa digapainya sebab pria ini tengah mendekapnya begitu erat.
“Beberapa puluh tahun lalu. Ketika kamu masih anak-anak sedangkan usiaku saat itu 5 tahun lebih tua darimu,” ungkap Dendi.
“Apa? Jadi.”
__ADS_1
“Jangan berpura-pura bodoh. Aku sendiri tahu siapa yang sedang menyelidiku. Namaku yang sebenarnya adalah Enji.” Kembali ia mengungkapkan fakta lain.
“Lalu, pada saat itu aku melihatmu. Melihatmu memegang senjata lalu menarik pelatuknya,” lanjut Dendi.
Jantung Sima berdebar lebih kencang dari waktu sebelumnya. Perasaan cemas, gelisah dan panik kiat mengikatnya pada hari ini dan waktu ini juga. Ia sangat takut karena terus mengingat ingatan buruk itu.
Karena enggan membahasnya, Sima menepis tangan Dendi, lalu menarik tubuhnya sendiri agar dapat menjauh sampai Sima terjatuh di lantai. Beberapa saat ia terdiam dalam kebingungan dengan terus menundukkan kepalanya.
“Kamu kaget mendengarnya? Jelas saja bukan. Karena saat itu aku ada di sana sebagai Faksi Pertama, Bos.”
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Jawablah, apa alasanmu melakukan ini padaku? Kamu sengaja membongkar identitas, apa yang kamu rencanakan dan kenapa kamu yang masih berusia remaja sudah menjadi Faksi Pertama?”
“Banyak sekali pertanyaanmu itu ya. Aku sendiri pun takkan menyangka akan hal ini terjadi. Kita berdua bertemu juga secara kebetulan dan aku ingat dengan jelas rupa ini,” ucap Dendi seraya membelai wajah Sima.
“Oh ya? Kalau begitu kita berdua tidak ada bedanya.”
“Rencanaku seperti yang kamu ketahui, Faksi Pertama akan mengambil alih Papuana. Tidak, menghapuskan nama itu dari kota D. Bahkan kamu yang adalah bosnya sekarang juga menginginkan hal itu, tentu ini akan mudah.”
“Hanya itu? Aku jadi tidak mengerti dengan semua sikapmu padaku selama ini. Apa rencanamu yang sebenarnya?” tanya Sima dengan memelototinya. Tampak Sima tak percaya perkataan Dendi, jelas saja.
Bagaimana ia akan percaya sementara sikap Dendi telah berubah drastis 360°. Sima kian resah namun berusaha untuk tetap tenang seperti biasa. Hasil penyelidikannya mungkin telah menjadi sia-sia karena pria ini, akan tetapi semua yang telah terjadi sudah berlalu.
“Awalnya?”
“Benar. Aku dipungut oleh Ayahmu dan niat awalnya dia membuatku menjadi pengawalmu setelah mengetahui bakat yang kau punya.”
“Ta—”
“Tapi apa kamu tahu? Bahwa insiden saat itu terjadi karena keahlianmu, bakatmu yang memicu sebagian anggota. Mereka berpikir anak perempuan sepertimu bisa saja jadi monster tapi harga diri mereka sebagai seorang lelaki, pastilah menolaknya,” sahut Dendi yang membuat Sima menelan ludah.
“Itu pemicu awalnya. Mereka tak berniat untuk menjadikanmu pemimpin. Ah, tapi itu hanya pemicunya. Bukan berarti masalah utamanya ada padamu, tenang saja,” imbuh Dendi.
“Hm, sepertinya aku mulai memahami sesuatu. Jika pemicunya adalah bakatku sewaktu kecil maka masalah utamanya ada di ayahku sendiri?” Sima menerkanya.
Dan itu benar. Dendi menyeringai, tanda bahwa ia mengakui bahwa pemikiran Sima itu benar.
“Tapi, kenapa kamu memutuskan untuk membicarakannya? Misal menghapuskan Papuana yang berarti aku juga, maka sudah sepatutnya kau—”
__ADS_1
BRAK!!
Lagi-lagi pembicaraan terutama saat Sima berbicara selalu terpotong. Kali ini, pintu ruangan didobrak. Reflek Sima berdiri dan membalikkan badan.
Melihat banyaknya pria memegang senapan yang diarahkan padanya, maka itu berarti dugaan Sima benar.
“Benar. Inilah yang ingin aku lakukan. Itulah mengapa aku mengungkapkan segalanya padamu.”
“Sepertinya kamu tidak benar-benar jatuh cinta padaku. Aku yang bodoh karena tertipu dengan wajah polosmu,” ujar Sima menatapnya sinis dengan tersenyum masam.
“Ya, benar. Kamu sangat bodoh. Tapi aku benar-benar jatuh cinta padamu. Karena itu, aku tidak langsung menyuruh mereka untuk menarik pelatuknya.”
“Ya.” Meski dalam keadaan terdesak, nampak sunggingan lebar itu tak kunjung menghilang.
“Aku berniat untuk melepaskanmu dengan syarat kau benar-benar melepas nama Papuana itu,” tutur Dendi.
“Apa kamu yakin bahwa akulah orang yang harus menerima keadaan ini secara terpaksa?” ujar Sima.
“Hei, maksudmu apa kau mencoba untuk melawan?”
“Ya, begitulah.”
“Bodoh, ya!”
PRANG!!
Tak berselang lama sesuatu terjadi di halaman depan rumah. Terjadi kericuhan dalam rumah ini dan membuat semua anggota Faksi Pertama panik. Terutama Dendi yang tidak akan menyangka kedatangan musuh di saat seperti ini.
“Kamu sendiri yang bilang bahwa aku tahu siapa dirimu, lantas kenapa tak berpikir bahwa aku selangkah lebih jauh darimu?” ujar Sima.
Ketika semua anggota yang bersenjata berbalik badan, Sima menggunakan kesempatan itu untuk mendorong tubuh Dendi dan langsung keluar dari jendela. Setelah keduanya keluar dari kamar melewati jendela yang cukup besar, suara teriakan serta baku tembak terdengar riuh di dalam sana.
“Jangan bilang anak buahmu?”
“Benar. Dan Faksi Pertama akan hangus bersama nama Papuana. Mulai sekarang, takkan ada perselisihan karena aku membuat mereka semua saling melenyapkan satu sama lain.”
Inilah Sima, saat Dendi merasakan kengerian terhadap pemikiran Sima, ia sama sekali tidak bisa bergerak dari sana. Dendi seakan berpasrah namun tak lama setelah itu ia tertawa bahak-bahak di tengah suara baku tembak yang makin menggelegar.
__ADS_1
“Sepertinya kita berdua benar-benar cocok sebagai pasangan kekasih, Sima!!”