
Dendi kembali datang sembari membawakan makanan berupa roti hangat. Saat datang kembali, Dendi merasa ada yang sedikit berubah di antara Sima dengan anak itu.
“Apa kakak mau merawatku? Apa kakak akan jadi ibuku?” tanya anak itu dengan wajah bahagia.
“Bukan, aku tidak akan menjadi orang mulai seperti itu,” kata Sima seraya berpaling dengan menyilangkan kedua lengan ke depan dada.
“Loh, Dendi? Sudah ya?” Ia baru saja sadar ada Dendi di dekatnya.
Lantas Dendi tersenyum karena merasa atmosfer di sini sedikit lebih hangat dari sebelumnya. Ia lantas segera memberikan makanan itu padanya, ia memakannya begitu lahap. Namun ketika sudah selesai makan satu roti, ia teringat akan adiknya.
“Adikku menunggu! Aku harus berikan roti ini pada—”
“Ya, kita akan memberikannya tapi setelah hujan ini reda. Bersabarlah sedikit.”
Anak itu akhirnya diam, ia tak lagi menangis atau mengeluh, hanya saja wajahnya murung karena mencemaskan sang adik yang sampai saat ini masih belum makan dengan kenyang.
“Kakak, aku ingin seseorang merawatku.”
“Merawatmu? Bukankah kalian tidak suka, dan setiap harinya mencuri? Kamu mengatakan, semua orang lebih berharap kamu dan adikmu mati bukan?” cerocos Sima yang tak pernah disaring kata-katanya.
“Mbak Sima!!” teriak Dendi.
“I-itu memang benar.” Anak perempuan lugu ini berujar dengan sedikit terbata-bata, terlihat ia menahan tangisnya.
“Tapi, aku ingin hidup. Kata Ibu dan Ayah, kami harus bertahan hidup sampai dewasa, bersekolah lalu lulus dan bekerja demi keluarga,” lanjutnya menjelaskan.
Penjelasan itu seolah baru saja dirangkai oleh orang dewasa, tapi anak ini sudah berpikir ke depan hanya karena perkataan dari mendiang kedua orang tuanya. Sangat berpegang teguh pada pendirian, terhitung sedikit orang yang memiliki sifat positif seperti itu.
“Begitu? Lalu siapa namamu?” tanya Sima yang tak memperlihatkan wajah senangnya, justru sinis ketika ia menatap anak tersebut.
“Nama ...nama ...namaku, adikku? Aku tidak ingat.” Ia menjawabnya dengan ragu. Tampak telah terjadi sesuatu sehingga membuat mereka melupakan nama?
“Sudah lupakan. Makan saja roti itu sampai kenyang, kalau habis nanti aku belikan. Dan kemudian aku akan mengirimkan kalian berdua ke panti.”
“Eh? Tidak mau!!” jeritnya hingga membuat telinga mereka pekak.
“Aku nggak mau ke panti! Nggak mau!” teriaknya sekali lagi.
“Hah? Kenapa? Bukankah itu jauh lebih aman daripada diasuh oleh orang sepertiku? Aku ini bisa saja orang jahat, tahu!” sahut Sima makin kesal.
“Nggak, ya nggak! Aku lebih memilih orang yang menolongku!”
__ADS_1
“Hentikan, kalian berdua. Jangan bertengkar. Dan Mbak Sima, bukankah sebaiknya menuruti perkataannya saja? Aku juga merasa kasihan.”
“Di panti lebih baik, mereka akan diurus lebih baik dari kita berdua yang sibuk,” ucap Sima menjelaskan.
“Kupikir itu karena ada alasan yang tidak bisa dikatakan, Mbak. Seperti trauma atau rasa yang tidak biasa karena tinggal dengan banyak orang,” ujar Dendi.
“Hm, ya setiap orang pasti memiliki alasan yang cukup bagus untuk melarikan diri dari panti. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengabulkan permintaannya.”
“Kenapa? Padahal kakak orang baik! Aku yakin kakak—”
“Dik, Ayahku bukanlah sembarang orang. Kedatanganmu justru akan membuatmu pergi dan masuk ke dalam peti mayat,” ucapnya frontal.
“Mbak Sima! Lagi-lagi Mbak Sima mengatakan hal yang mengerikan, nanti anak ini jadi takut,” ucap Dendi memprotes.
“Kalau begitu, aku akan jadi orang kuat!” tutur anak itu seraya mengangkat kedua tangannya, bersikap seolah ia akan menunjukkan ototnya.
“Kalau kalian berdua bersikeras untuk membuatku merawat seorang anak kecil, lalu kenapa tidak Dendi saja?”
Sebelum mendengar jawaban dari Dendi, Sima berjalan mendekatinya lantas berbisik, “Aku yakin Dendi akan lebih cocok merawat anak-anak daripada diriku.”
“Ta-tapi ...ini anak perempuan. Aku ...aku jadi—”
“Tidak usah gugup, aku akan membantu soal mandinya dia untuk berjaga-jaga kalau dia tidak bersih nanti. Sisanya aku serahkan padamu!” Sima mengacungkan jempol, percaya pada Dendi.
Sepertinya pengurusan anak akan diserahkan pada orang yang lebih mahir dan percaya. Anak ini mungkin terlihat dewasa tapi usianya masih sangat kecil, sekitar 5 tahun. Yang berarti adiknya yang laki-laki berusia 4 tahunan.
***
Kembali ke kediaman keluarga Papuana. Sima datang setelah mengantarkan dua anak ke rumah baru mereka yakni rumah Dendi. Sementara Sima harus mengurus sesuatu yang penting di sini.
“Gura, hacker itu sudah kau tangkap?”
“Ya. Ada di dalam.”
Begitu masuk ke dalam, ia terkejut karena mendapatkan sambutan berupa mayat terbaring bersimbah darah.
“Kalian membunuhnya?” tanya Sima pada anak buahnya.
“Tidak, Bos! Kami bersumpah!”
Merasa ada yang aneh, Sima lantas mendekati pria yang tengah berbaring itu. Setelah dilihat lebih jelas, tak ada bau amis di bercak merah ini.
__ADS_1
“Kau ini pintar sekali bersandiwara ya?” ujar Sima, berpikir bahwa pria ini tengah berpura-pura menjadi mayat.
“Usahamu sia-sia, bocah!” pekik Sima seraya menendang bagian perutnya.
“Argh!!” Erangan sakit pun lolos dari mulutnya, akhirnya ia mengakhiri sandiwara menyedihkan itu dalam sekejap.
Ketahuan karena berpura-pura, pria itu mendadak menyeret tubuhnya mundur dan menjaga jarak dari Sima. Tapi ia lupa bahwa sekelilingnya masih ada bawahannya.
“Ah, gawat! Aku gagal melarikan diri!”
“Melarikan diri?”
Melihat trik atau tipuan dengan cara menjadi mayat, atau berpura-pura telah mati, sungguh ini di luar dugaan Sima. Bahkan ia terkecoh hanya karena melihat ada genangan warna merah di tubuh hingga ke lantai, sehingga pria itu terlihat benar-benar sudah mati.
Dengan melihatnya saja sudah tahu, bahwa mungkin saja selama ini pria itu selalu tertangkap tapi dengan mudahnya melarikan diri dengan trik murahan.
“Bocah, kau mahir bersandiwara ya? Aku tidak menyangka kau bisa melakukan itu selain peretasan,” ucap Sima memuji.
“Eh, tidak. Tidak masalah. Ya, hahaha! Aku memang berbakat!” katanya dengan senang. Ternyata ia haus pujian juga.
“Kalau begitu aku takkan berbasa-basi lagi. Sebelumnya kau memadamkan listrik hotel, apa yang sebenarnya kau rencanakan?” tanya Sima.
Lelaki ini berpaling dari Sima. Ia tampak enggan menjawabnya.
“Jawab atau kau ingin mati betulan!”
“Y-ya! Aku melakukannya untuk mencuri benda berharga dari banyak orang yang kebetulan berkumpul dalam suatu acara,” jawabnya lugas.
“Hm, begitu. Lalu, aku akan memintamu bekerja di bawahku bagaimana? Aku rasa peranmu sangat cocok,” kata Sima.
“Kau bermaksud untuk membuatku bekerja di bawahmu? Itu, bayarannya mahal loh, bibi.”
“Siapa yang kau panggil bibi? Aku masih muda dan belum menikah. Dan ini tentang Faksi Pertama, apa kamu tahu tentang itu?”
Gura menjadi ketar-ketir karena Sima langsung mengungkapkan niat aslinya.
“Sepertinya aku pernah dengar, tapi di mana ya?” Lelaki itu masih mencoba untuk berpikir.
“Kelompok mereka, dan kemudian selidiki tentang keluargaku, Papuana. Termasuk seluk-beluk dari keluarga ini, bagaimana?”
Tiba-tiba lelaki itu diminta untuk menyelidiki tentang kliennya sendiri. Permintaan yang tidak masuk akal.
__ADS_1
“Kenapa aku harus menyelidiki keluargamu yang seharusnya bibi sendiri lebih tahu?” tanya lelaki muda itu.