Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
032. Pengkhianatan dan Kemalangan


__ADS_3

“Daripada yang polos dan naif, aku lebih suka wanita yang licik. Sama sepertimu atau Bos Sima,” sahut Erik, menyeringai.


BUAKK!


Satu pukulan mendarat tepat ke wajahnya dengan keras hingga Erik tumbang dalam keadaan memar di wajahnya.


“Kau pikir aku tidak tahu kalau kau sengaja melakukannya? Sengaja berkhianat tepat di depanku?” Lisa kembali angkat bicara, seraya ia mengangkat wajah Erik agar mereka dapat saling bertatapan satu sama lain.


“Heh, kalau kau sudah tahu lalu kau mau apa? Bukankah seharusnya kau membunuhku daripada memantau terus seperti itu?”


Orang-orang yang berada dekat dengan mereka, ialah preman bagian dari Faksi Pertama. Tampak mereka mulai geram karena perkataan Erik pada Lisa yang seenaknya sendiri. Mereka bahkan hendak melayangkan beberapa pukulan lagi untuk Erik, tapi sayangnya Lisa menyuruh mereka untuk diam.


“Ck, aku ingin sekali menghajar wajahnya yang sombong itu!”


“Sudahlah, dia akan terima akibatnya karena bermain di belakang kita.”


“Kalian berdua masih di sini? Cepat pergi sana! Aku hanya butuh pengkhianat ini saja!” pekik Lisa, segera mengusir mereka berdua.


“Baik!”


Di ruang yang sempit dan gelap, hanya ada satu lampu untuk penerangan. Terlebih lampunya remang-remang, sungguh menyulitkan bagi Erik yang tersiksa di sini.


“ARGHHH!!”


Luka tembak yang berada di pundaknya sengaja Lisa tekan dengan kuat, dan tentunya itu menyakitkan bagi Erik. Padahal ia sudah bersusah payah untuk melarikan diri bahkan menahan rasa sakitnya yang luar biasa itu, tapi kenyataannya ia menjadi semakin lemah karena darah segar terus mengalir dari lubangnya.


***


Sima menggenggam ponsel genggamnya dengan raut wajah terkejut. Mendekatkan ponsel itu ke daun telinga dalam beberapa waktu, sesaat setelah dari seberang sana berbicara, ia kemudian menghela napas panjang.


“Brengs*k! Aku tidak akan melupakan kejadian hari ini!” Sambil memaki, Sima menutup panggilan dengan kesal.


Gura yang berada di belakang lantas terkejut, dan mulai bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


“Dia mati.” Hanya dua kata itu saja yang menjadi jawaban Sima sesaat setelah menerima telepon dari rumah sakit.


Yang berarti, salah satu bawahan Sima yang telah bersiap menjadi perisai kini telah tiada akibat peluru menggores lehernya. Sungguh keajaiban ia masih bisa bertahan hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit, namun berujung kandas akan harapan, ia tiada tidak lebih dari satu menit sampai ke sana.


“Bagian leher memang fatal, tapi tak kusangka pelakunya adalah amatir dalam penggunaan senjata api seperti itu,” gerutu Sima, duduk di kursi sembari memijat keningnya pelan.

__ADS_1


“Maafkan saya yang terlambat mengetahui.”


“Tidak, kau sudah melakukan hal yang benar. Bahkan aku tak pernah berpikir bahwa kau akan menyiapkan perisai untuk melindungiku.”


Sima beranjak dari tempat duduknya, sesaat sebelum pergi setelah ia berbalik badan untuk menuju ke suatu tempat, Sima mengatakan beberapa patah kata pada Gura.


“Gura, seharusnya bukan aku yang dilindungi oleh kalian melainkan aku lah yang melindungi!”


Gura tercekat diam, sejatinya ia tahu betul sifat keras kepala Sima yang bahkan tak luput dari segala kesalahan yang ada. Selalu berpikir untuk berkorban demi bawahannya, itu selalu menjadi kelemahan Sima yang fatal.


Tetapi, Gura tidak bisa selalu mengandalkan Sima yang kerap kali melindunginya.


“Mohon maafkan saya. Tapi kami ada berkat Bos Sima, karena itulah kami akan membayar segala hutang budi dengan nyawa kami sendiri,” sahut Gura yang bersiap akan omelan Sima.


“Bodoh! Kalian ada juga aku membutuhkan kalian. Ingat ya, tak semua mafia dipimpin oleh orang bengis. Tapi lain cerita kalau Ayahku, dia orang yang paling aku benci!”


“Mak-maksud ...”


“Argh! Betapa menyebalkannya, kalian semua! Tujuanku mengambil kepala organisasi itu untuk melenyapkan hama di setiap sudut negara ini, tahu!” amuk Sima.


Suaranya menggema sebab ruang tamu yang besar ini begitu sepi. Puluhan bawahan yang berada di luar gerbang bahkan sampai mendengarnya dengan jelas, emosi Sima makin meningkat.


“Ngomong-ngomong, bos! Bagaimana dengan mereka?”


“Karena mereka sampah, bukankah sudah jelas? Tapi jangan menyentuh pria itu!”


“Baiklah!”


Sesuai permintaan Sima, ia anggap ini sebagai pembukaan dari penyerangan Faksi Pertama yang sampai saat ini belum diketahui jelas bagaimana pemimpin mereka.


Percuma bertanya pada preman-preman seperti mereka, sebab mereka sendiri pun tidak pernah melihatnya sendiri. Karena itulah Sima memutuskan untuk membasmi mereka selain calon tuan pembeli, yang mungkin sekarang sudah tidak berniat untuk membeli tanah karena itu hanyalah kedoknya saja.


“Oh, ya? Pria itu, bawalah dia ke kamarku.”


Lagi-lagi Gura tercengang, rasanya baru kali pertama ini Gura mendengar perintah ambigu. Tetapi tak berselang lama kemudian, Gura membalikkan fakta kotor yang ada dalam pikirannya, dengan mengubahnya menjadi;


“Bos Sima akan menghajar pria ini di dalam kamar yang kedap suara iya 'kan?” Begitulah.


“Ya, aku yakin! Karena satu-satunya cinta bos hanyalah dia!” sahut rekannya.

__ADS_1


“Kalau begitu cepat habisi sisa preman ini.”


“Kita gunakan cara apa? Dibakar hidup-hidup? Dikuliti? Ditusuk? Ditembak? Diracuni? Atau apa?” tanyanya sangat antusias.


Preman-preman Faksi Pertama yang mendengar pun merinding, mengetahui ajal mereka yang tidak lama lagi, membuatnya memohon agar dibiarkan hidup.


“Tunggu! Tolong! Jangan bunuh aku! Aku hanya disuruh!”


“Ha? Ke mana dendam yang barusan kau bicarakan? Jangan beromong kosong,” gerutu Gura seraya menyeretnya pergi menuju ke halaman rumah.


“Memalukan! Kau sendiri yang bilang akan menghabisi Papuana, tapi kenapa kau malah memohon untuk diampuni!” sahut komplotannya.


“Ck! Persetan dengan itu! Aku tidak ingin mati lebih cepat!”


“Mengobrolah di alam baka sana!” sahut Gura.


“Oh, senior! Kita apakan mereka?” Rekan yang paling dekat dengan Gura bertanya lagi.


“Hm, aku juga bingung. Mereka sama sekali tidak menyenangkan sih. Terserah kau saja ya?” ucap Gura sembari mengacungkan jempol padanya, intinya menyerahkan urusan ini lantas Gura lepas tangan.


Gura beralih pada pria yang masih terikat ini. Pria ini sudah berkeluarga, dan tampangnya seperti bau tanah. Jadi Gura kembali berpikir sembari menggelengkan kepala, bahwasanya Sima takkan tertarik dengan lelaki seperti dia.


“Pak, untuk sementara tetap aku ikat ya?”


Gura lantas menyeretnya ke lantai dua, tempat di mana kamar Sima berada.


Sima sedang mengganti pakaiannya yang sedikit lebih tipis. Tak peduli dengan seseorang yang akan masuk sebentar lagi, sebab dirinya kepanasan karena cuaca di siang hari menjelang senja ini.


“Aku turut berduka padamu. Maafkan aku yang tidak bisa langsung mengantarkanmu, tapi esok hari akan aku adakan pemakaman yang layak,” gumam Sima, duduk dengan mata terpejam.


Tok, tok!


Sembari mengetuk pintu, Gura memanggil, “Bos Sima! Saya sudah membawanya.”


“Ya, masuklah.”


Suara Sima terdengar agak serak, Gura yang menyadarinya langsung jadi khawatir.


“Baiklah.”

__ADS_1


Begitu Gura membuka pintu kamarnya, sontak saja ia terkejut dengan mata terbelalak. Tak hanya Gura bahkan pria yang sudah berkeluarga itu ikut terkejut karena tiba-tiba melihat ada wanita yang duduk di tepi ranjang dengan pakaian tipis.


__ADS_2