MAHAR CINTA

MAHAR CINTA
KENYATAAN YANG MENGEJUTKAN


__ADS_3

"Tidak! Aku tidak percaya dengan kata-kata kalian!!" seru Rudi.


"Terserah Kalau kamu tidak percaya, Pergilah dari perusahaan ini kakek tidak Sudi melihat wajahmu. wajah pria brengsek yang tidak mempunyai tanggung jawab sama sekali." jawab kakek Wicaksono yang kemudian menyuruh Rudi untuk keluar dari perusahaannya.


Siapa yang akan menyangka kalau wanita yang dia kira sudah meninggal itu tiba-tiba sudah berada di depan matanya. surat kematian itu ternyata palsu, Rudi benar-benar dibohongi oleh kakeknya sendiri.


"Jika wanita itu benar-benar istriku berarti dia masih tanggung jawabku. Jika dia berani melakukan sesuatu aku pasti akan melakukan sesuatu padanya." ucap Rudi.


Di siang yang masih terik itu Rudi harus merasakan sebuah kenyataan pahit, bukan hanya pahit. Rudi harus menerima kenyataan kalau wanita yang dia kejar-kejar bahkan membuat dia tergila-gila itu ternyata istrinya sendiri. gadis bodoh yang dia tipu gadis foto yang dia celakai beberapa tahun yang lalu.


"Aku masih tidak percaya kalau dia adalah gadis bodoh itu, dia adalah gadis berpendidikan cantik dan mempunyai otak yang sangat cerdas. tidak mungkin dia wanita bodoh yang aku nikahi itu." ucap Hendrik berulang kali.


Sekitar beberapa menit kemudian Hendrik sudah keluar dari perusahaan, dia terduduk di pelataran perusahaan. otaknya tiba-tiba saja tidak bisa dia gunakan untuk berpikir semuanya seperti kebohongan, semuanya seperti kenyataan buruk yang harus dia hadapi.


"Mengapa semuanya ini seperti ini? Mengapa semuanya ini seperti kebohongan yang benar-benar sudah menekan ku." ucap Rudi.


Di dalam kantor kakek Wicaksono tiga orang itu saling menatap satu sama lain. "Ini lebih baik untuk kita semuanya dengan begitu kita akan membuat Rudi merasakan apa yang sudah dia lakukan. jika dia menyesal kita akan membuatnya semakin menderita, jika ini dia ingin mendapatkan para dia harus merasakan bagaimana penghinaan terlebih dahulu." ucap kakek Wicaksono.


"Aku yakin dia akan menggunakan surat pernikahan kami, kakek." ucap Farah.


"Itu tidak akan bisa terjadi, Farah. karena kamu ataupun dia sudah sah berpisah, namamu memang sama dengannya. tapi kamu adalah cucu adopsi dari kakek Wicaksono, dia tidak akan mempunyai bukti mengenai dirimu. Semua akta lahir dan semua mengenai dirimu itu sudah baru, Jadi jika dia ingin melakukan sesuatu kepadamu dia tidak akan bisa." jawab Hendrik.


"Apa kamu yakin, Mas?" tanya Farah.


"Tentu saja aku yakin, Aku adalah seorang pengacara aku tidak mungkin membohongimu." jawab Hendrik.


"Sudahlah, kalau begitu aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, Hendrik." pinta kakek Wicaksono.


"Iya, Tuan." jawab Hendrik.


"Kalau begitu kalian berbicara saja, Aku ingin keluar sebentar. aku ingin pergi ke tempat Mbak Rindu." ucap Farah.


"Ngapain kamu ke tempat, Rindu?" tanya Hendrik.


"Ada beberapa pekerjaan yang harus aku lihat." jawab Farah.


"Kalau begitu kamu di sini saja dulu, nanti aku akan mengantarmu ke tempat Rindu." ucap Hendrik.


"Nggak usah lah Mas, aku naik mobil saja." jawab Farah.


"Tidak usah, aku akan mengantarmu." jawab Hendrik yang masih bersih kuku.


Kakek Wicaksono dapat melihat kecemburuan di mata Hendrik, pria tua itu hanya tersenyum dengan jawaban yang diberikan oleh Hendrik.


"Ya sudah kalau begitu aku akan ikut apa maumu saja." ucap Farah yang akhirnya duduk kembali ke sofa kantor kakek Wicaksono.

__ADS_1


"Heh.., aku senang dia bersikap posesif seperti ini." ucap kakek Wicaksono dalam hati.


"Mas, ngapain sih Aku ada di sini? memangnya aku bisa membantu apa?" tanya Farah.


"Ya kamu ada di sini saja jangan pergi kemana-mana." jawab Hendrik.


"Heh..., ternyata kamu sudah terjerat cinta gadis muda ini Hendrik dulu kau bisa mengingkari perasaanmu. namun sekarang aku yakin cinta yang kau miliki itu lambat laun akan membuatmu mengikat Farah." guman kakek Wicaksono dalam hati yang dari tadi melihat Hendrik begitu protektif kepada Farah.


Satu jam kemudian akhirnya Hendrik sudah selesai dengan beberapa pekerjaannya.


"Ayo kita berangkat." ajak Hendrik.


"Mau ke mana Mas?" tanya Farah.


"Katanya mau ke tempat Rindu." jawab Hendrik.


"Oh ya aku lupa." Farah yang kemudian berdiri.


"Kakek aku pergi dulu ya." pamit Farah.


"Iya, hati-hati." jawab kakek Wicaksono.


"Tuan aku mengantar Farah dulu." pamit Hendrik.


"Iya, Tolong jaga dia baik-baik, Hendrik." jawab kakek Wicaksono yang kemudian menatap kepergian 2 orang itu.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa harus seperti ini, Jika benar dia adalah istriku berarti dia adalah milikku. tapi semuanya benar-benar di luar pikiranku, pantas saja dia begitu membenciku." ucap Rudi di tengah kegalauan yang begitu luar biasa.


Rudi melajukan mobilnya dengan kecepatan besar, dia harus mencari informasi mengenai surat kematian yang dibuat oleh salah satu dokter.


*KANTOR PENGACARA*


"Pengacara." Rudi yang sudah berada di salah satu kantor pengacaranya.


"Tuan Rudi, Apa yang tuan Rudi lakukan di sini?" tanya pengacara Rudi.


"Aku ingin kamu mencari tahu mengenai surat kematian yang dikirimkan oleh salah satu rumah sakit." jawab Rudi.


"Surat kematian? surat kematian apa, Tuan?" tanya pengacara Rudi.


"Surat kematian mantan istriku, gadis berwajah jelek yang dulu menjadi istriku." jawab Rudi.


"Bukankah dia sudah meninggal, Tuan? Lalu kenapa Tuan ingin melihat surat kematian itu?" tanya pengacara.


"Apakah ada hal lain yang tidak aku ketahui?" tanya Rudi.

__ADS_1


"Maksud Tuan Rudi?" tanya pengacara.


Sebelum kematian wanita itu apakah ada surat dari pengadilan atau apa?" tanya Rudi.


"Memangnya kenapa, Tuan?" tanya pengacara yang semakin lama semakin bingung dengan perkataan Rudi.


"Aku bertemu dengan kakekku, dia bilang kalau istriku belum meninggal. dia sekarang menjadi cucu angkat kakekku, kamu tahu model yang bernama Farah Riana itu?" tanya Rudi.


"Iya, Tuan. Memangnya kenapa?" tanya pengacara.


"Dia adalah wanita yang aku nikahi. Dia adalah wanita jelek yang waktu itu." jawab Rudi yang kebingungan untuk mengatakan mengenai kenyataan yang barusan dia dengar.


"Apa Tuan yakin?" tanya pengacara.


"Tentu saja aku yakin, kalau aku tidak yakin aku tidak akan mengatakan hal ini padamu." jawab Rudi dengan emosi yang begitu besar.


"Tapi kenapa Anda harus kebingungan, tuan? anda sudah mendapatkan hak waris atas seluruh kekayaan milik Ayah tuan, Bukan? walaupun istri jelek Tuan sudah meninggal ataupun belum berkat surat kematian itu. Anda mendapatkan begitu banyak warisan." jawab pengacara.


"Bukan itu maksudku." ucap Rudi.


"Ada apa lagi, Tuan?" tanya pengacara.


"Apakah ada kemungkinan aku untuk melakukan tuntutan atas kematian palsu dari Istriku itu?" tanya Rudi.


"Tidak bisa, Tuan. itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, anda sudah menandatangani bahkan memberikan pernyataan mengenai kematian wanita itu. Jadi jika anda mencoba untuk membuka kasus itu kembali kemungkinan anda akan menjadi tersangka atas kecelakaan yang dialami oleh istri anda." jawab pengacara.


** Bersambung **


Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- Gairah cinta isteri muda


- Gairah terlarang


- Isteri bayaran tuan Presdir


- aku mencintai isteri yang ku benci


- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)


- The royal palace

__ADS_1


- Crazy love 18+


- Mahar cinta


__ADS_2