MAHAR CINTA

MAHAR CINTA
WANITA CANTIK


__ADS_3

SATU MINGGU KEMUDIAN


"Jelek, bawa sampah ini keluar!!" seru Desi.


"Baik mbak." jawab Farah.


"Setelah membuang sampah cepat kau bersihkan seluruh kamar mandi yang ada di rumah ini!!" seru Desi kembali.


"Mengapa kau harus menyuruhnya, Kalian kan sama-sama pembantu. Kenapa kau tidak membersihkannya sendiri!" seru Bu Lastri yang memarahi Desi.


Tentu saja Desi yang mendapat teguran dari Bu Lastri wanita itu benar-benar tidak ingin mendapat masalah dengan Bu lastri, karena Bu lastri adalah orang kepercayaan dari Pak Lukman.


"Lakukan perkerjaanmu, Desi!" seru Bu Lastri.


"I-iya, Bu." jawab Desi.


Setelah pergi meninggalkan Bu lastri tentu saja Desi tidak terima, dia terus mengomel panjang lebar karena ditegur oleh Bu lastri.


"Kenapa sih wanita itu selalu membantu wanita jelek itu, dia kan udah jelek jengkelin. Kenapa sih dia harus hidup sampai sekarang? seharusnya kalau tahu waktu lahir jelek seharusnya orang tuanya itu membunuhnya." Desi terus berkata menjengkelkan.


"April, kerjaan perkerjaanmu." pinta Bu Lastri dengan lembut.


"Iya, Bu." jawab Farah yang kemudian mengerjakan pekerjaan yang ada di tempat itu.


April selalu senang dengan sikap Bu lastri yang selalu lembut padanya, wanita itu seperti ibunya yang selalu menatapnya seperti wanita normal lainnya.


"Bu." Panggil Farah.


"Iya." jawab Bu lastri.


"Bu, terima kasih ya karena ibu selalu membantuku." ucap Farah.


"Sudah, kamu tidak usah bicara seperti itu. cepat kerjakan pekerjaanmu nanti kalau tidak dikerjakan malah pekerjaannya menumpuk." ucap Bu lastri.


"Iya, Bu." jawab Farah yang kemudian mengerjakan pekerjaannya dengan penuh semangat.


Hari penerimaan gaji pun datang, para pekerja yang ada di rumah Rudi semua begitu senang. Desi dan Fita sengaja berbuat curang kepada Farah, dengan kejam mereka berdua mengambil uang gaji Farah. kedua wanita itu menyisakan uang untuk gadis itu hanya sebesar 300 ribu saja.

__ADS_1


"Itu adalah gaji mu, sekarang kau berkerjalah dengan baik!!" seru Desi yang telah merampas uang Farah.


Gadis itu hanya diam saja, mau melawan pun akan percuma. menatap amplop putih yang berisikan gajinya, Gadis itu membuka lembaran uang yang ada di dalamnya, hanya 6 lembar uang saja 6 lembar uang dengan nominal lima puluh ribuan.


"Alhamdulillah." ucap Farah yang kemudian memasukkan amplop itu ke sakunya. Gadis itu tidak mengatakan apapun, tiga ratus ribu sudah cukup untuknya, karena dia makan minum dan melakukan apapun di rumah yang sekarang dia tinggali.


"Kalau kau berani mengatakan pada orang lain, maka kami akan terus menyiksamu!!" seru Desi dan Fita sambil menjambak rambut Farah.


"Iya mbak." jawab Farah.


Langkah kaki Farah terus menyusuri rumah besar milik Rudi, gadis berusia tujuh belas tahun itu seperti seorang wanita yang sedang kebingungan. niat hati uang gajiannya akan di tabung untuk mengambil rumahnya kembali. namun yang terjadi malah uang gaji itu di rampas oleh Desi dan Fita.


"Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang itu...," ucap Farah sambil menyeka air matanya.


Suara tangis Farah yang tertahan membuat Seorang Pria tua yang berjalan hendak ke gudang itu pun terhenti, tatapan mata Pak Lukman menatap gadis yang dulu dia tolong. Pak Lukman terus mendengarkan suara Farah yang menangis. Gadis itu benar-benar seperti sebuah alat permainan di rumah besar ini, tak ada seorangpun yang mau memberikannya belas kasihan. selalu dihina dicaci bahkan terkadang dengan seenak kepalanya mereka para penghuni rumah Rudi selalu mempermainkan Farah.


"Mengapa nasibmu seperti ini, bahkan tidak ada seorangpun yang mau menolong mu." ucap Pak Lukman yang terus menatap April.


Gadis muda itu menangis sambil sesenggukan, kedua tangannya memeluk erat kaki yang sudah ditekuk itu. Farah benar-benar nelangsa dengan kehidupannya selalu saja dia diperlakukan seperti sampah tak ada orang yang mau berbuat baik padanya yang ada mereka selalu mencacinya.


"Ibu, Mengapa mereka selalu menghinaku. Tak ada satupun dari mereka yang mau menganggapku sebagai manusia, hanya Bu Lastri yang mau menganggapku sebagai manusia. tak ada yang mencintaiku, tak ada yang mau mengasihi ku." ucap Farah yang menangis.


"Andai aku bisa menolong mu, aku akan menolong mu dan berusaha membuatmu lebih baik. aku juga adalah orang yang telah ikut membuatmu seperti ini." ucap Pak Lukman yang kemudian menutup pintu gudang dan meninggalkan Farah.


Dengan sangat kejamnya Rudi memberikan kamar kepada Farah di sebuah gudang tempat barang-barang yang tidak terpakai, pria itu benar-benar menganggap Farah sebagai binatang piaraan bukan sebagai manusia.


Pagi yang bersinar hari ini menampakan sebuah cahaya mentari yang begitu indah, berbeda dengan Farah. gadis itu selalu saja dipermainkan oleh orang-orang yang berada di rumah tersebut. tak ada maaf, tak ada ke pertolongan untuk gadis muda itu.


Beberapa hari kemudian Seorang wanita cantik datang ke tempat Rudi. Gadis itu adalah salah satu wanita yang selalu dibanggakan oleh Rudi. Namun sayang gadis yang bernama Rindu itu tidak pernah mau menjalin hubungan serius, karena Rindu adalah seorang artis papan atas yang tidak mau semua pekerjaannya terhalang karena sebuah ikatan.


Rindu memasuki rumah Rudi, wanita cantik itu memandang seorang wanita yang penampilannya begitu memilukan. tatapan mata Rindu terus menatap seorang gadis muda dengan penampilan seperti seorang gelandangan.


"Siapa kau!!" seru Rindu yang sudah berada di ruang tamu rumah Rudi.


Langkah kaki Farah terhenti saat ada seorang yang memanggilnya.


"Saya Nona?" tanya Farah kepada Rindu.

__ADS_1


"Tentu saja kau, siapa lagi Memangnya. apakah ada orang lain disini selain kau dan aku?" tanya Rindu yang kemudian menatap wajah Farah.


"Halo, siapa namamu?" tanya Rindu kepada Farah.


Tatapan mata Farah menatap seorang wanita cantik dengan penampilan yang begitu luar biasa. Farah begitu terenyuh dengan senyum yang di tunjukkan oleh Rindu.


"Nama saya Farah, Nona." jawab Farah sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak usah bersikap seperti itu, biasa saja." pinta Rindu yang kemudian duduk di ruang tamu bersama Farah.


Baru pertama kali di rumah itu ada seorang wanita cantik yang mau bersikap normal kepada Farah, bahkan para tamu dari Rudi selalu menatap Farah dengan tatapan yang begitu mencibir. Bahkan mereka selalu mengeluarkan kata-kata kasar juga menghina fisik Farah.


"Ya sudah kalau begitu, tolong kamu panggilkan majikanmu ya." pinta Rindu.


"Baik, Nona." jawab Farah yang kemudian mencari Pak Lukman.


Terlihat Rindu menatap Farah yang terlihat menatap gadis muda itu dengan begitu intens.


** Bersambung **


Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatanmu


- Gairah cinta isteri muda


- Gairah terlarang


- Isteri bayaran tuan Presdir


- aku mencintai isteri yang ku benci


- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)


- The royal palace

__ADS_1


- Crazy love 18+


- Mahar cinta


__ADS_2