
SATU MINGGU KEMUDIAN
"Nyonya Farah." Panggil Farida.
"Iya, Farida." jawab Farah.
"Terima kasih karena nyonya Farah mau mengajakku, Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. aku benar-benar kebingungan jika Nyonya Farah meninggalkanku di sini. lalu apa yang harus aku lakukan? Nyonya tahu... aku adalah anak yatim piatu, Aku ingin hidupku sedikit berguna bagi orang lain." ucap Farida.
"Kamu tahu kan Farida, sekarang aku ataupun suamiku bukan lagi orang kaya. kami akan hidup sederhana di tempat yang baru, aku tidak yakin kamu mau hidup susah dengan kami atau tidak. Tapi kamu ataupun Mbak Hanum masih bersedia ikut denganku, akulah yang harus berterima kasih kepada kalian." jawab Farah.
"Aku harus membalas Budi atas apa yang kamu lakukan pada keluargaku, nyonya. kamu sudah membantuku terbebas dari semua yang sudah terjadi, seandainya waktu itu kamu tidak membantuku ataupun keluargaku mungkin saja sekarang aku ada di penjara." ucap Hanum.
"Ya sudah kalau begitu kita berangkat." Farah yang kemudian masuk ke dalam mobil.
Rumah besar yang sudah 1 tahun lebih ditinggali oleh Farah dan suaminya itu kini akan ditinggalkan oleh sepasang suami istri itu.
"Maafkan aku jika aku harus mengajakmu hidup susah." ucap Arthur.
"Asalkan kamu tetap bersamaku aku ikhlas, Mas." jawab Farah.
Mobil berwarna krem itu akhirnya melaju pergi meninggalkan rumah super besar bersama beberapa pelayannya. Farah bersama dua pembantunya akan pindah ke daerah Bogor, hidup baru yang mungkin akan dijalani oleh wanita itu.
Sekitar dua jam kemudian akhirnya mereka telah sampai di tempat. rumah sederhana berlantai satu, bercat biru laut dengan pepohonan yang rindang.
"Tempatnya kelihatan asrih mas." ucap Farah.
"Semoga kamu betah di sini.'' jawab Arthur.
Tatapan mata Farida menatap rumah yang memang besar namun hanya berlantai satu, terlihat rumah itu seperti rumah lama namun beberapa bagian sudah dirubah.
"Pria ini sudah menjadi pria miskin, namun aku akan tetap melakukan semua rencanaku. aku akan menghancurkan pernikahan mereka, akan kubuat wanita itu menderita, dia sudah membuat Mas Rudi mengalami depresi karena dipenjara selama beberapa tahun. sekarang akan kubuat wanita ini merasakan penderitaan yang sama seperti yang aku rasakan." ucap Farida.
Ternyata Farida adalah indah istri dari Rudi, wanita itu begitu dendam kepada Farah karena sudah menjebloskan Rudi ke penjara dengan hukuman selama 3 tahun lebih. namun baru satu tahun setengah Rudi harus merasakan depresi yang sangat luar biasa, dia tidak mampu berpikir dengan jernih. Rudi mengalami gangguan mental di penjara, pria itu tidak mampu menghadapi krisis dirinya sendiri.
"Kenapa kamu diam saja, cepat masuk malah bengong di luar." Hanum yang kemudian menarik Farida untuk masuk ke rumah itu.
Walaupun rumah itu adalah rumah sederhana namun ketika masuk ke dalam rumah itu perabotan yang ada di dalam rumah itu masih perabotan layaknya orang kaya. di sana ada banyak ruangan bahkan beberapa ruangan juga masih kosong.
"Tempat ini ada berapa kamar, Mas?" tanya Farah.
"Mungkin ada 8 kamar, sama 4 ruang kosong serta beberapa ruangan yang sudah ada fungsinya." jawab Arthur.
__ADS_1
"Rumah ini besar juga ya Mas, rumah ini memang sederhana tapi ternyata luas banget." ucap Farah.
"Rumah ini memang tidak terlalu luas, tapi rumah ini panjang. dulu rumah ini adalah rumah yang dibangun pada zaman Belanda, jadi rumah para petinggi Belanda itu terkenal sangat mewah." jawab Arthur.
"Kira-kira di sini ada hantunya nggak, Mas?" tanya Farah.
"Nyonya ini ngomong apaan sih, kok malah ngomongin hantu di siang bolong seperti ini." ucap Hanum.
"Ya nggak gitu mbak Hanum, Mbak Hanum tahu sendiri kan rumah peninggalan Belanda itu rumahnya angker-angker loh... apalagi rumahnya ini panjang banget, Lalu kamar buat Mbak Hanum sama Farida di mana Mas?" tanya Farah.
Di sisi lain dari kamar kita, jika kamar Kita ada di bagian kanan maka kamar Mereka ada di bagian kiri. dua kamar yang ada di depan itu kamar tamu jadi kamar mereka nomor 3 sampai seterusnya." jawab Arthur.
Tiba-tiba saja semilir angin yang ada di ruangan itu sedikit berhembus kencang.
"Kok tiba-tiba anginnya membuat bulu kudukku merinding ya, Mas." ucap Farah.
"Sudah kamu jangan bilang seperti itu, Nanti kamu malah nakutin Farah sama Hanum." jawab Arthur.
"Siang den." tiba-tiba saja ada suara yang muncul di belakang tubuh Farah.
"AAAAA!!"
teriak Farah dengan begitu kencang karena tiba-tiba di belakangnya sudah ada suara.
"Kamu ini kenapa sih?" tanya Arthur.
"Ada setan, Mas." jawab Farah.
"Setan apaan, itu nenek Fatimah dan kakek Sobirin. mereka adalah penjaga rumah ini dari dulu." jawab Arthur.
Farah menatap sepasang suami istri yang sudah berumur itu, sedangkan Farida dan Hanum juga nampak menatap dua wanita sepasang suami istri yang sudah tua renta itu.
"Lepasin nggak usah peluk-peluk." Hanum yang kemudian mendorong tubuh Farida.
"Lagian siapa yang peluk kamu, aku tadi cuma kaget spontan memeluk semua yang ada di depanku." jawab Farida.
"Selamat datang den Arthur," kakek Sobirin dan nenek Fatimah yang menyambut Arthur dan yang lain.
"Selamat siang, nek, kek. Bagaimana kabar kalian?" tanya Arthur.
"Alhamdulillah, kabar kami baik." jawab kakek Sobirin.
__ADS_1
"Oh ya kek, aku akan tinggal di sini untuk waktu yang tidak tahu sampai kapan. aku sudah menelpon kakek waktu itu kan? jadi kami akan tinggal di sini tanpa batas." jawab Arthur.
"Alhamdulillah kalau kamu akan tinggal di sini, lagi pula rumah Ini kan rumah almarhum ayahmu. jadi pria turunan Belanda itu akhirnya bahagia karena putranya mau tinggal di sini." jawab kakek Sobirin.
Farah menatap suaminya dengan tatapan yang begitu kaget.
"Ternyata kamu itu keturunan orang Belanda ya, Mas?" Farah yang begitu penasaran.
"Memangnya kenapa Sayang." jawab Arthur.
"Pantesan aja wajahmu itu bule banget, Ternyata kamu turunan Belanda." Farah yang kemudian berjalan-jalan di sekitar rumah itu.
"Ya sudah kalau begitu kakek bawa kopermu masuk dulu ya, setelah itu biar nenek Fatimah buat makanan untuk kalian." ucap kakek Sobirin.
"Kami akan bantu kek," Hanum yang kemudian mengikuti kakek Sobirin.
"Masukin dulu pakaian kalian, setelah itu akan ku perlihatkan bagian-bagian rumah ini. nanti kalian kesasar malah kakek bingung." jawab kakek Sobirin yang kemudian memberikan kunci kamar untuk Farida dan Hanum. "Kalian mau kamar yang besar atau yang kecil?" tanya kakek Sobirin.
"Yang kecil aja kek nggak usah besar-besar, kalau kabur biar cepet." jawab Hanum sembari menahan senyum.
** Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Gairah cinta isteri muda
- Gairah terlarang
- Isteri bayaran tuan Presdir
- aku mencintai isteri yang ku benci
- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)
- The royal palace
- Crazy love 18+
__ADS_1
- Mahar cinta